Hujan Dan Kamu

Hujan Dan Kamu
SIAPA PRIA ITU?


__ADS_3

💌 HUJAN DAN KAMU 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


SEMENTARA ITU DISISI LAIN.


Sesuai janjinya. Levin mengajak Alessa membawa Elana jalan-jalan ke mall terbesar di kota ini. Ia sedang menunggu Alessa dipos security sambil berbincang-bincang dengan Alberto di sana. Levin nampak tertawa saat Alberto sedang berbicara. Mereka tampak serius. Entah apa yang mereka bicarakan.


Sementara Alessa sendiri sudah tidak sabar, kemana Levin akan mengajaknya hari ini. Alessa memperlambat langkahnya saat melihat Levin tengah berbicara dengan Alberto. Seulas senyum manis tersungging di bibirnya. Ia akui Levin adalah pria tampan ciptaan Tuhan yang paling sempurna.


"Haaaaahh." Alessa membuang napas dan memegang dahinya tersenyum. Ia menikmati setiap debaran yang tercipta dari di dalam dadanya. Alessa kembali berkhayal sambil mengulum senyum bahagia. Entah mengapa ia menyukai momen ini. Alessa sengaja meninggalkan handphonenya di rumah. Agar tidak ada yang mengganggunya hari ini.


Levin belum menyadari keberadaan Alessa, ia berdiri sedang memunggunginya. Levin sedang menggunakan kaos berwarna putih dan celana jeans. Penampilannya terkesan sangat santai dan bergaya. Ia tampak beberapa tahun lebih muda. Levin benar-benar lelaki idaman untuk semua wanita. Alessa tersenyum lagi, saat melihat penampilan Levin tampak berbeda. Sangat jarang ia melihat Levin mengunakan pakaian santai seperti ini.


"Tuan Horald," Panggil Alessa tersenyum sambil berjalan ke arah Levin.


Levin membalikkan badannya dan tersenyum melihat Alessa melangkah mendekat ke arahnya.


"Kau sudah siap nona cantik." goda Levin dengan senyum menawan.


Saat Levin mengatakan nona cantik, seketika kupu-kupu bermacam-macam spesies berterbangan dari dalam dadanya. Wajahnya bersemu merah.


"Dimana Elana?" Ucapnya celingukan untuk mengalihkan pandangannya saat tatapan mereka bertemu.


"Elana di dalam mobil." jawab Levin tersenyum samar.


"Oh..." Alessa mengangguk untuk menutupi rasa gugupnya.


"Sekarang kita berangkat. Kami pergi dulu pak Alberto." Levin pamit kepada Alberto.


"Hati-hati tuan Horald dan nona Alessa."


Alessa hanya menunduk sopan. Kemudian ia berjalan anggun mengikuti langkah Levin. Levin lalu membuka pintu bagian depan untuk Alessa.


"Silakan masuk." ucapnya mempersilakan.


"Ahhh....anda tidak perlu melakukan itu, Tuan." Alessa mengibaskan tangannya dengan cepat. Merasa tak pernah diperlakukan seperti itu. Alessa begitu terkejut.


Levin tersenyum simpul. Tangannya masih memegang pintu mobil. "Bukankah seorang teman bisa melakukan itu?"


Alessa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Levin memang pintar mencari alasan. "Kalau begitu, terima kasih, tuan." Wanita mana yang tidak meleleh diperlakukan seperti ini. Jordan saja tidak pernah melakukan hal seperti itu. Dalam urusan terkecil pun Levin selalu menunjukkan perhatiannya.


"Aunty...." Elana menyapa Alessa saat menyadari wanita cantik itu sudah duduk di depan.


"Hei sayang, sudah lama menunggu?"


"Tidak juga aunty."


Alessa tersenyum sambil menarik seat bell dan memasangnya.


Klik! Terpasang dengan baik.


Sementara Levin mengitari mobil dan duduk di kursi kemudi. "Kita berangkat sekarang."


"Baik Uncle." Jawab Elana tersenyum antusias.


Levin mulai menyetir dan meninggalkan perumahan flower. Tidak beberapa lama, mereka tiba di mall terbesar di kota A.


"Elana mau ke sini, ya?" tanya Alessa tersenyum menatap ke arah Elana.


Elana mengangguk antusias. "Ia Aunty. Aku ingin bermain sepuasnya di sini."

__ADS_1


Alessa terkekeh saat melihat ekspresi wajah Elana. "Baiklah, sekarang kita turun." kata Alessa turun lebih dulu untuk menuntun Elana. Levin tersenyum ikut turun juga.


"Kita main itu, Aunty," pekik Elana heboh saat sudah berada di atas tempat permainan. Ia menarik tangan Alessa.


"Aku isi kartunya dulu ya," kata Levin.


"Ia Uncle." Ucap Elana dengan wajah berseri-seri. Sepertinya Elana sudah tidak sabar untuk mencoba permainan yang ada di sini.


"Kamu suka bermain di sini?"


"Hmm. Sudah lama sekali Uncle tidak membawaku ke sini. Uncle selalu bilang sibuk."


"Wah .. benarkah? Kalau Uncle sibuk, ajak Aunty saja."


"Benarkah?"


"Hmm. Aunty bisa menemani kemana Elana mau."


"Terima kasih Aunty." Ucap Elana memeluk Alessa.


Levin sudah berada di antrian kasir untuk mengisi saldo kartunya. Setelah mengisi saldo kartunya, Ia menghampiri Alessa dan Elana.


"Kau mau main yang mana?" tanya Levin lembut.


"Mau yang itu, Uncle." Elana menunjukkan salah satu permainan.


Levin dan Alessa mengikuti arah telunjuk Elana. Permainan untuk anak kecil usia di bawah sepuluh tahun ini perlu pengawasan orang dewasa. Apalagi Elana masih kecil. Komedi putar dengan segala bentuk hewan-hewan lucu yang naik turun dan berputar riang.


Alessa tersenyum saat Elana mengajaknya melakukan permainan itu, mereka berpindah ke area permainan bola ring.


“Ayo main itu lagi Aunty” seru Elana sambil menunjuk salah satu permainan.


“Ah, boleh sayang!” sahut Alessa tersenyum.


Levin hanya menggeleng melihat Elana tak mengenal kata lelah. Diam-diam ia mengambil video Alessa yang tengah asyik bermain dengan Elana. Levin mengamati video yang baru saja diambilnya. Senyumnya, lesung pipinya. Bahkan semua yang ada pada diri Alessa semuanya ia sukai. Seperti senapan anak panah yang tepat mengenai sasarannya. Ia semakin yakin dengan perasannya ini. Senang, bahagia, gembira, bercampur aduk menjadi satu dalam lubuk hatinya.


Elana menggeleng. "Kita main lagi Aunty. Aku belum puas memainkan semua permainan yang ada sini. Aku mau main ya itu!" Tunjuk Elana.


"Elana bisa main itu?" kata Alessa memandang sebuah layar monitor besar dengan varian lampu beraneka warna di setiap sisinya. Tanda panah nampak berkelap-kelip di atas lantai pijakan mesin game.


"Bisa Aunty. Ayooo....."


"Oke, siapa takut." Kata Alessa tersenyum.


Mesin langsung berbunyi saat Alessa mensetting untuk memulai. Ia mulai atur posisi dan mereka menari di atas mesin permainan. Levin menahan senyumnya saat melihat aksi menari Alessa dan Elana yang begitu lincah di atas. Elana tertawa bahagia, menari-nari sambil melambaikan tangannya kepada Levin.


Tanpa pikir panjang Elana turun membawa tangan Levin untuk naik ke atas mesin. Levin kaget saat Elana memberikan tangannya kepada Alessa. Ia tidak bisa menghindar.


"Astaga apa yang kau lakukan Elana?" Kata Levin. Alessa juga begitu terkejut. Elana hanya bisa tertawa dan membiarkan Levin dan Alessa menari di atas mesin permainan. Jantung Alessa berdetak kencang saat Levin mulai berani menuntun tangannya menginjak setiap panah yang menyala. Mereka lompat-lompat girang. Mereka tertawa bebas sampai orang-orang yang ada di sana memperhatikan mereka.


Semua permainan mereka coba. Dari time crisis, giant drop, hit a rat dan bahkan permainan hockey meja.


Setelah bermain di timezone. Mereka pindah ke kios yang menjual berbagai macam barang yang unik.


“Ini dia yang aku cari Aunty!” ucap Elana girang, menemukan sebuah barang lucu.


“Kamu suka?” tanya Alessa sambil mengerutkan dahi.


“Buat di kepala aunty,” ucapnya sambil meletakkan sebuah mahkota dengan motif bunga di kepala Alessa.


Alessa hanya menurut saja. Pokoknya mana yang membuat Elana bahagia deh...


“Aunty seperti tuan putri, cantik banget, lucu lagi."


Levin hanya tersenyum menikmati pemandangan itu. Ia hanya mengelus puncak kepala Elana dengan sayang. Elana begitu bahagia saat bersama Alessa. Ia tidak pernah melihat pemandangan itu saat masih menjalin hubungi dengan Monika.


"Apa Elana senang?" Tanya Levin memandang ke arah Elana yang tengah menyeruput minuman dinginnya.

__ADS_1


"Aku senang sekali, Uncle. Nanti aku ceritakan semuanya ke mommy Liliana."


"Ceritakan semuanya, agar mommy Liliana ikut bahagia. Sekarang kita kelantai satu dan makan di sana."


Alessa hanya mengangguk. Mereka berjalan sambil memegang tangan Elana. Di lantai bawah mereka masih terus berjalan. Levin sangat menikmati momen ini. Ia hanya terus tersenyum, saat semua mata tertuju kepada mereka. Mungkin mereka menduga Levin dan Alessa adalah pasangan suami istri yang sudah memiliki anak.


SEMENTARA ITU.


Seorang gadis cantik sedang menikmati makanannya dengan baik. Ia benar-benar lapar untuk melihat sekelilingnya saja ia tidak ingin. Ia hanya mendengar pujian-pujian dari para pengunjung yang ada di sana.


"Benarkah mereka pasangan suami istri?"


"Astaga, cowoknya keren banget. Anaknya cantik sekali."


"Ceweknya juga cantik." ucap yang lain.


"Lihat-lihat mereka ke sini. Ahhhhh...


so sweet..." ucap mereka histeris.


Kuping gadis itu terasa panas, ia menoleh ke samping dan ingin melihatnya. Penasaran enggak juga sih. Hanya ingin sekedar tahu saja. Pasangan romantis seperti apa yang membuat mereka histeris dan hampir gila itu.


DEG!


Mata gadis itu membelalak saat mengenal sosok itu. Spontan Ia memutar tubuhnya. Jantungnya berdegup kencang, napasnya keluar tidak beraturan. Gadis itu langsung berpindah agar posisinya memunggungi mereka. Mereka mengambil kursi yang tidak jauh dari gadis itu.


Mereka tampak membolak-balikkan daftar menu makanan. Kemudian pilihan mereka jatuh pada menu makanan Jepang.


"Kamu suka sushi?" tanya Alessa kepada Elana saat mereka sudah selesai memesan makanan.


"Suka sekali, aunty."


"Wah...Jarang-jarang anak seusia kamu suka makanan itu."


"Elana pernah tinggal di Jepang selama satu satu tahun." Kata Levin memberitahu.


"Wah .. benarkah? Jadi Elana suka makanan Jepang dong."


"Hmm....aku suka daging salmon dan scallop."


"Kenapa tidak pesan itu?"


"Aku baru makan aunty. Aunty sendiri suka makanan sushi?" tanya Elana


"Tidak terlalu."


"Lama-lama Aunty akan suka jika mencobanya terus menerus."


"Aunty akan coba menyukainya."


Sementara gadis memutar tubuhnya, diam-diam melihat ke arah meja mereka.


"Apakah Alessa selingkuh?" Gadis itu menggeleng tak percaya. "Tidak mungkin, tapi siapa pria itu, kenapa mereka begitu dekat?"


Tak ingin menduga-duga. Diam-diam ia mengambil beberapa foto dan mengirimnya kepada seseorang.


"Apa kamu mengenal pria ini?"


Ketika pesannya sudah terkirim, gadis itu diam-diam meninggalkan tempat itu. Ia tidak ingin Alessa melihatnya.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku 😍


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.

__ADS_1


^_^


__ADS_2