
💌 HUJAN DAN KAMU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
SEMENTARA ITU DI RUMAH ALESSA.
Drrrrttttt.... dddrrrttt.....dddrrrttt!
Tiba-tiba handphone Alessa berbunyi yang di letakkan di atas nakas.
"Hmmmmpppp." Alessa bergumam saat mendengar bunyi panggilan itu. Ia tidak pernah mengharapkan telepon dari siapa pun di jam seperti ini.
"Astaga.... apakah ini panggilan dari rumah sakit lagi?" Alessa meringis ingin menangis. Baru saja ia tertidur lelap. Ia benar-benar tidak bisa menikmati tidurnya.
Alessa menggeser tubuhnya ke arah nakas di samping ranjang tempat tidurnya. Menghidupkan lampu yang ada di atas nakas. Dia buru-buru merengkuh handphonenya. Wajah Alessa masih sangat kepayahan. Dia sangat berusaha untuk mengumpulkan sisa kesadarannya.
Mata Alessa memicing, menatap tajam ke arah jam yang ada dinding kamarnya yang menunjukkan pukul 22.05 itu. Ia berkata dengan pelan dan nada yang mengancam.
"Oh my God, aku bisa gila! Siapa pun itu yang menelepon dan alasannya benar-benar tidak penting. Saya berjanji akan memaki hidupnya. Dan ingat jangan harap aku memaafkannya." Maki Alessa dengan hati kesal.
Ia segera meraih handphonenya yang bergetar, lalu melihat layar handphonenya. Sepersekian detik, mata Alessa melotot saat melihat siapa yang menghubunginya.
"Tuan Horald? kenapa dia menghubungiku malam-malam begini?" Alisnya mengerut, lalu dengan cepat menjawab panggilan itu.
"Selamat malam tuan Horald, ada yang bisa saya bantu," ucap Alessa dengan lembut, namun giginya saling bergesekan menahan kesal.
"Aunty...." tiba-tiba terdengar suara isak tangis di ujung telepon, membuat Alessa mengerutkan keningnya. Ekspresi wajahnya tiba-tiba berubah. "Elana? Ada apa sayang, kenapa kamu menangis?"
"Aunty..." Suara tangisan Elana seketika pecah, membuat Alessa semakin bingung.
"Ada apa sayang? Apa kamu sakit?"
"......." Tidak ada suara, Elana hanya menarik cairan yang keluar dari hidungnya.
Alessa merubah posisinya menjadi duduk saat Elana tak juga bicara. Perasaannya tiba-tiba tidak enak. "Elana...? Jawab aunty sayang? Kenapa kamu menangis? Aunty tidak bisa bantu, jika kamu terus menangis. Apa sesuatu terjadi?" kejar Alessa tak sabaran.
"Uncle sakit parah Aunty...."
"Apa, uncle sakit parah?" kata Alessa sedikit terkejut.
"Hmmm. Uncle tak bisa jalan, Uncle bahkan menjatuhkan kotak obat karena tidak bisa mengambilnya. Elana takut sekali, Uncle tak bisa bermain dengan Elana lagi...." Elana semakin menangis.
Huffft... Alessa mengembuskan napasnya, ia berusaha menenangkan Elana yang terus menangis. "Elana, sayang. Jangan menangis ya, Aunty akan membantu Uncle."
"Aunty tolong bantu Uncle." rengek Elana.
"Ia, aunty sekarang ke sana ya."
"Aunty pasti datang kan?"
"Ia sayang, Aunty pasti datang."
"Terima kasih Aunty."
"Sama-sama sayang."
Alessa langsung mematikan handphonenya dengan raut wajah cemas. "Sakit parah? apakah tuan Horald sedang menderita penyakit serius?"
Alessa segera berlari membawa tas dokternya. Ia dengan cepat keluar dari rumahnya dan berlari menuju rumah tuan Horald.
⭐⭐⭐⭐⭐
Levin kembali masuk ke dalam kamarnya. Ia menarik selimutnya kembali untuk menutupi tubuhnya sampai ke atas kepala. Sakit kepalanya semakin menjadi. Tidur adalah pilihan yang terbaik saat ini. Semoga saja besok ia sudah sehat dan bisa beraktivitas kembali.
__ADS_1
Namun tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi. Levin keluar dari balik selimut menatap ke arah Elana. Mata mereka saling berpandangan. Elana segera duduk. Ia yakin itu adalah aunty Alessa.
"Apa itu mommy-mu, Elana?"
Elana hanya mengangkat kedua bahunya. Seolah ia tidak tahu siapa yang membunyikan bel rumah itu.
"Uncle tidur lagi, biar Elana yang bukakan pintu."
"Kamu bisa?"
Elana mengangguk cepat. "Bisa dong uncle, biar Elana yang buka pintu. Uncle tidur lagi ya."
Levin tersenyum sambil mengacak rambut Elana dengan asal. "Hati-hati saat turun tangga."
Elana tersenyum mengangguk, kemudian ia berlari untuk membukakan pintu.
Sementara dari balik pintu. Karena belum ada respon, Alessa kembali menekan bel itu.
TING NONG!
TING NONG!
CEKLEK!
Pintu mulai terbuka pelan. Seketika bibir Alessa mengukir senyum saat melihat siapa yang membukakan pintu untuknya.
"Elana..." Alessa segera membuka tangannya untuk memeluk anak kecil itu. Sampai tas dokternya terjatuh dari tangannya.
"Aunty...aku tidak bisa bernapas," ucap Elana tersenyum.
Alessa terkejut dan segera melepaskan pelukannya. "Maaf, sayang. Aunty sangat merindukanmu." Ucapnya sambil mencubit pipi Elana dengan gemas.
"Tidak apa-apa Aunty, sekarang kita masuk,"
"Dimana Uncle Levin?"
"Sssttthhh...." Elana meletakkan jari telunjuk ke bibirnya. "Uncle jangan sampai tahu."
"Karena Elena diam-diam menghubungi Aunty. Aku tidak mau Uncle sampai menghubungi Dokter sihir itu."
"Dokter sihir?" Alessa semakin mengerutkan keningnya karena tidak mengerti.
Elana tersenyum. "Ada dokter sihir yang jahat." bisiknya.
Alessa melepaskan senyum lebar. "Tidak ada dokter yang jahat, sayang. Semua Dokter itu baik."
Elana mengerucutkan bibirnya. "Dia memang jahat aunty, aku tidak suka dengan dokter sihir itu."
"Siapa maksud Elana?" Tapi Alessa tidak mau terlalu memikirkan ucapan Elana. Ia segera berjongkok agar sejajar dengan Elana. "Sekarang dimana Uncle? Aunty mau obati uncle Levin."
"Tapi tunggu Uncle harus sampai benar-benar tidur dulu,"
Alessa hanya mengangguk pasrah, walau ini terkesan lucu, Ia tetap mengikuti perintah Elana. Menunggu sampai Levin benar-benar tidur.
Alessa kembali melihat sekeliling rumah Levin. Perasaan aneh itu kembali lagi saat melihat foto ukuran besar terpampang di ruang tamu. Baru ini Alessa melihat foto itu. Entah mengapa hatinya berdesir. Alessa menggeleng menepis perasaan aneh itu.
"Aunty, sepertinya Uncle sudah tidur."
"Oh, iya?"
Elana mengangguk. "Sekarang ikut aku!"
"Kemana sayang?"
"Ke kamar Uncle."
Deg!
Detak jantung Alessa kembali berdetak saat mendengar itu. "Ke kamar?"
__ADS_1
"Hmm. Uncle berada di kamarnya." Kata Elana.
"Astaga, apa yang aku pikirkan? Ingat Alessa, Profesimu adakah seorang dokter, jadi jangan pikirkan hal yang bukan-bukan."
Alessa berulang kali menarik napasnya, ia pun mengikuti langkah Elana menuju kamar pria yang baru satu bulan lebih di kenalnya. Semakin ia mendekati kamar Levin, jantungnya semakin terpicu cepat dan ia terlihat gugup. Alessa menarik napasnya dalam-dalam untuk memenuhi paru-paru dengan oksigen, namun ia semakin sulit untuk bernapas.
Elana sudah lebih dulu masuk. Namun Alessa hanya bergeming di depan pintu kamar Levin. Dengan tarikan napas panjang, Alessa pun melangkah masuk.
DEG...
Jantungnya semakin terpompa berdetak lebih kencang, darahnya seperti mengalir cepat hingga membuatnya panas dingin. Ia melihat Levin tertidur dibalik selimut. Pria itu nampak lemah.
Alessa mendengar Levin menggigau. Ia seperti kesakitan. Namun matanya masih terpejam. Dengan perlahan Alessa menyentuh kening Levin.
"Astaga, suhu badannya sangat panas."
Alessa segera membuka tasnya dan mengeluarkan termometer inframerah untuk mengukur temperatur tubuh Levin. Ia mengarahkan ke dahi Levin.
Suhu tubuh Levin melebihi angka 41,1o Celsius, membuat Alessa begitu panik. Dimana kondisi ini biasanya disebut hiperpireksia. Jika suhu tubuh yang tinggi dan berkelanjutan dapat menyebabkan dehidrasi parah dan kerusakan permanen pada organ tubuh, seperti otak.
Dengan cepat Alessa keluar menuju dapur, mengambil wadah untuk tempat air. Elana hanya diam, ia tidak bertanya atau apapun itu agar tidak membuat keributan di dalam kamar. Elana hanya melihat Alessa yang tengah mondar-mandir di kamar Levin.
Dengan cepat Alessa sudah masuk ke kamar lagi. Ia mengompres Levin dengan air hangat, menaruh kain di kening Levin. Alessa melakukannya secara berulang-ulang. Ia kembali mengecek suhu tubuh pria itu. ia mengatur suhu ruangan agar kondisi suhu sejuk selalu.
Jam sudah menunjukkan pukul 23.00 wib Namun suhu badannya tidak juga turun. Alessa nampak cemas.
"Panasnya juga belum turun-turun." batin Alessa.
"Apakah aku harus menginfusnya?"
Huuuft... Alessa membuang napas berat. Ia masih berpikir. Melihat ekspresi gugup Alessa. Elana pun bertanya.
"Aunty....apa benar uncle sakit parah?" tanya Elana akhirnya. Melihat kebingungan Alessa membuat Elana ikut ketakutan.
"Heuh?" Alessa mengembalikan pikirannya. "Tidak sayang. Uncle Levin hanya demam biasa."
"Kalau Uncle hanya demam biasa, kenapa kenapa wajah Aunty cemas sekali?"
Alessa tersenyum sambil membelai rambut Elana. "Demam Uncle gak turun-turun, itulah Aunty cemas. Jadi Aunty harus melakukan sesuatu, kita harus infus Uncle."
"Infus aja Aunty, Uncle gak bakal nangis kok."
Alessa tersenyum saat mendengar itu. Ia lalu menarik napasnya. Tanpa pikir panjang, Alessa segera mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Cairan infus, plester, gunting bengkok, tourniquet, Sarung tangan yang steril, kassa, alkohol swab dan betadine juga. Semua perlengkapan infus ada di dalam tasnya. Alessa kemudian menentukan area vena yang akan ditusuk untuk menyalurkan infus. Ia paling ahli, agar pasien tidak merasakan sakit.
Wajah Levin seketika berkerut dalam. Ia sama sekali tidak menyadari ada Alessa di sana. Elana membelai kepala Levin agar pria itu tidak merasakan sakit dan bisa tertidur nyaman. Kemudian wajah Levin berubah menjadi tenang. Jarum infus sudah dipasang.
Alessa bernapas lega. Ia tersenyum melihat Elana yang masih standby di sana. "Kamu tidak tidur, sayang?" Bisiknya.
"Elana tidak bisa tidur Aunty," ucapnya dengan sedih.
"Bagaimana kalau aunty bacakan dongeng?"
"Itu ide bagus, Aunty...." kata Elana tersenyum.
"Tapi tidak di sini, di kamar Elana saja. Bagaimana?"
Elana menggeleng, "Aku mau tidur di samping uncle, aku mau temani Uncle."
Alessa mengembuskan napas singkat, kemudian tersenyum lagi. "Tapi kalau Elana tidur, Aunty langsung pulang ya,"
Elana mengangguk cepat. Alessa pun merebahkan tubuhnya di samping Elana, sesuai permintaan Elana. Posisi Elana berada di tengah. Tentu saja membuat Alessa tidak nyaman. Tak ingin berpikir macam-macam, Alessa mulai membacakan dongeng. Tak butuh lama, Elana sudah tertidur dan buku cerita yang dibacakan Alessa terjatuh. Tanpa sadar, Alessa ikut tertidur di samping Elana.
BERSAMBUNG.....
^_^
Lagi-lagi saya minta maaf, jika terlambat update. Ada urusan keluarga, yang tak bisa saya ditinggalkan 🙏
Terima kasih masih setia baca karya saya. Yang baik selalu kirimkan vote mingguan. I love you full ya 😘
__ADS_1
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku 😍
^_^