
💌 HUJAN DAN KAMU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Setelah mobil Jordan meninggal perumahan Flower. Alessa pun segera melangkah menuju supermarket yang hendak ditujunya. Ia berjalan pelan menyusuri taman perumahan Flower. Setiap jalan setapak memanggil kenangan di memorinya. Banyak hal yang dilaluinya semenjak tinggal di perumahan Flower ini. Pertemuan pertama kali dengan Levin tiba-tiba terlintas di benaknya. Bibirnya langsung tersungging dengan senyuman manis. Angin sejuk berembus membawa bau pepohonan yang banyak tumbuh di sekitarnya. Hijaunya pepohonan rindang benar-benar memanjakan mata. Lampu-lampu menerangi setiap langkahnya. Alessa menikmati suasana yang tenang ini. Ia bertegur sapa dengan orang yang sedang berpapasan dengannya.
Alessa lagi-lagi menarik napas panjang. Ia menutup mata dan menahan napas sejenak. Ada rasa sesak yang tak bisa ia tutupi.
Satu bulan tak pernah bertemu Levin, membuat Alessa seperti orang kebingungan. Rumahnya tertutup rapat, seperti tidak ada penghuni. Apakah Levin memang sengaja menghindarinya? Suatu hari, mereka pernah bertemu di taman saat Levin sedang jogging bersama Elana. Alessa merasa diabaikan saat itu. Apa karena Levin selalu memberikan perhatiannya, sehingga Alessa tak siap menerima sikap Levin yang tiba-tiba menghindarinya. Alessa mengembalikan seluruh kesadarannya.
"Tapi kenapa hatiku sakit saat Levin mengabaikanku? Setidaknya aku sudah bahagia dengan pilihanku?"
Huuuuhhh .... Alessa melepaskan napas panjang dengan mulut yang membulat.
"Heh, Levin selalu memberikan perhatiannya kepadaku. Apakah dia mencintaiku...Ahhhh tidak mungkin!" Alessa segera menggelengkan kepalanya. "Apa yang aku pikirkan? mencintaiku? Kenapa aku sampai memikirkan ke situ?" Alessa kembali mengembalikan pikirannya. Alessa pun menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskan sekaligus. Melakukan ritual yang biasa ia lakukan. Alessa terus melangkah menuju supermarket.
TAP TAP TAP
TAP TAP
TAP
Tatapan Alessa yang awalnya turun tiba-tiba terangkat karena melihat sosok lelaki sedang keluar dari supermarket.
DEG!
Alessa mengedip beberapa kali dan terdiam. Ia terkejut dan sangat terkejut dan ternyata pria itu adalah Levin yang sejak tadi dipikirkannya. Langkah Alessa terhenti di depan pria yang sedang berjalan dengan jarak sepuluh meter darinya. Levin belum menyadari ada Alessa di depannya.
Perlahan Alessa memajukan langkahnya. Alessa menarik napasnya dalam-dalam. Seperti gerakan slow motion, Levin tersenyum melangkah sambil mengangkat kantong belanjaannya.
"Oke, hari ini uncle masak spaghetti untuk kamu Elana. Aku yakin pasti kamu menyukainya." Kata Levin tersenyum dan saat itu juga senyumnya tiba-tiba hilang saat melihat sosok wanita berjalan ke arahnya. Pandangan mereka bertemu. Levin tak bisa menutupi bahwa ia terkejut melihat Alessa ada di depannya.
"Alessa?" ucapnya tanpa bersuara.
Langkah Levin mulai pelan. Ia berusaha menstabilkan napasnya. Karena ia begitu gugup. Ia ingin memastikan bahwa yang di depannya itu bukanlah khayalan. Ternyata sosok itu bukan khayalan dan sosok itu benar-benar nyata. Wanita yang berhasil membuat hatinya berdebar-debar. Wanita yang menurutnya berbeda. Levin berulang kali menghembuskan napasnya lewat mulut. Mengepalkan tangannya yang terasa dingin. Pertemuan ini benar-benar membuatnya gugup. Mereka saling menatap dan tidak bicara. Levin masih terkejut dengan situasi ini. Di hadapannya sekarang berdiri sosok wanita yang sangat dicintainya, namun tidak bisa dimilikinya.
"Selamat malam, tuan Horald." Sapa Alessa mencairkan suasana.
Levin menarik napasnya dengan singkat. Ia tersenyum ramah seperti mana biasanya ia lakukan. "Selamat malam juga, Dokter Alessa."
Wajah Levin terlihat tenang dan tetap berwibawa. Namun tidak dengan jantungnya. Debaran-debaran itu semakin sulit di diamkan. Terpukul seperti genderang yang membuat keributan di dalam rongga dadanya. Mampu melumpuhkan benteng pertahanannya.
"Apa kabar, dokter Alessa? Sudah satu bulan sejak pertemuan kita di acara ulang tahun Horald company."
Alessa tersenyum sambil meremas tangannya yang mulai berkeringat. Entah mengapa ia begitu gugup saat melihat Levin bersikap seadanya dan tak seperti biasa yang sering ia lakukan. "Kabar baik tuan."
"Kenapa memanggil tuan lagi?"
__ADS_1
"Heuh?"
"Bisakah jangan memanggilku tuan lagi. Panggil nama saja. Itu lebih baik."
Alessa tersenyum simpul. "Baik, Lee-vin." ucapnya terbata. Maklumlah, ia belum terbiasa menyebut nama itu.
"Maaf, Dokter Alessa, aku tidak bisa berlama-lama. Elana mungkin sudah menunggu di rumah." Kata Levin dengan tata bahasanya sopan dan berwibawa. Tapi tatapan matanya masih tetap mengunci Alessa.
GLEK!
Alessa menelan salivanya berulang kali. Saat tatapan mereka bertemu lagi, perasaannya menjadi tidak tenang, ia gelisah.
"Oh, begitu. Silakan....." Ucap Alessa tersenyum canggung. Walau dalam hati ia berharap Levin mengajaknya bertemu dengan Elana. Ia juga begitu merindukan anak kecil itu.
"Selamat malam, dokter Alessa. Kalau begitu saya permisi." Kata Levin tersenyum. Ia lalu beranjak meninggalkan Alessa. Namun, sebelum itu terjadi, Alessa menghentikan langkah Levin.
"Levin, tunggu!"
Levin segera membalikkan badannya. "Ya, dokter Alessa?"
"Bagaimana kabar Elana?"
"Elana baik. Sangat baik."
Alessa tersenyum menganggukkan kepalanya. "Sudah lama tidak bertemu dengan dia."
Levin tersenyum lagi. "Elana mengikuti banyak kegiatan di sekolah. Dan dia juga sudah jarang ke sini. Ia lebih banyak tinggal bersama mommy-nya."
"Maaf jika selama ini Elana banyak merepotkanmu dan..."
Alessa mengibaskan tangannya dengan cepat. "Aku tidak merasa direpotkan kok. Aku memang menyukai Elana dan semua itu aku lakukan karena aku tulus."
Levin tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Ya aku tahu dan terima kasih atas semua kebaikanmu selama ini. Elana akan jarang berkunjung ke sini. Jadi kau tak perlu mencari Elana lagi."
DEG!
Mendengar itu, bagaikan tamparan yang melekat tanpa rasa sakit. Alessa diam membeku di tempatnya. Untuk menelan salivanya saja ia begitu susah.
"Sepertinya tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan dokter Alessa. Saya permisi!" Kata Levin melangkah meninggalkan Alessa yang diam membeku di sana.
Alessa mencengkram tangannya sendiri. Jantungnya memukul tidak stabil. Ia bernapas dengan kecepatan dua kali lipat dari biasanya.
"Kenapa? apa ada yang salah? kenapa kalimat itu begitu menyakitkan?" Batin Alessa merasakan hatinya seperti di cengkram oleh sebuah tangan yang besar
Alessa tersenyum getir, ada rasa sesak yang menghimpit dadanya dan tidak bisa ia sembunyikan. Rasanya ingin menangis. Tapi Alessa berusaha menahannya. Ia membalikkan tubuhnya, memilih kembali ke rumah.
⭐⭐⭐⭐⭐
KEESOKAN HARINYA DI KANTOR HORALD COMPANY.
Levin sangat cerdas soal perkonomian bisnis. Otaknya penuh dengan pengetahuan tentang bisnis. Cara berbicaranya sangat fasih, tenang dan dewasa. Ia punya semua klasifikasi seorang pemimpin yang tak bisa dipandang sebelah mata.
Sedari tadi handphone Levin berbunyi. Ia tahu bunyi panggilan itu dari Liliana. Tapi, untuk saat ini Levin mengabaikannya. Mengingat pentingnya rapat ini.
__ADS_1
Levin kembali melanjutkan rapat dengan penuh pertimbangan. Perjanjian kerja sama dengan perusahaan asing yang sungguh menguras tenaga dan pikirannya. Wajahnya terlihat serius sebelum penandatanganan kontrak kerja sama.
Mereka sebelumnya bersitegang membahas masalah banding profit. Levin sudah memperhitungkan agar tetap mendapatkan keuntungan dan tidak ingin rugi. Karena dari profit mereka bisa mengetahui bagaimana penjualan dari sebuah perusahaan itu.
Dan akhirnya setelah pertimbangan cukup matang dan akhirnya kesepakatan itu di terima. Embusan napas lega dari mereka akhirnya keluar dengan panjang. Mereka sama-sama tersenyum karena kerjasama bisnis berjalan dengan baik.
Penandatanganan kontrak pun berjalan dengan baik. Urusan bisnis pun telah selesai. Tujuh jam waktu mereka untuk membahas kerjasama ini. Luar biasa, rapat yang paling terlama baginya. Biasanya Levin hanya menyelesaikannya satu jam saja.
"Terima kasih pak Levin, senang bertemu dengan anda." Charles kembali mengulurkan tangannya dan Levin pun menjabatnya lagi. Mereka mempererat jabatan tangannya seraya melempar senyum. Lagi-lagi ia memperlakukan hal yang sama. Levin kembali membalas dengan senyuman formal. Mereka pun berpisah.
Levin sendiri kembali duduk di sana sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi beroda itu. Desmond masih standby berdiri di sampingnya. Tak beberapa lama, Levin menegakkan badannya dan bangun dari duduknya. Ada janji yang harus ditepatinya hari ini.
"Selesaikan sisa pekerjaan hari ini. Serahkan kepada saya laporan lengkap mengenai detail masalah hubungan kerja sama ini. Laporannya bisa langsung kirim melalui email saya." Kata Levin menatap ke arah Desmond.
"Baik tuan," Desmond menjawab cepat seraya membungkukkan badannya.
Levin menarik napasnya lalu meninggalkan ruangan rapat itu. Ia mengambil handphonenya dari jas, sedari tadi ia merasakan benda pipih itu berbunyi. Benar saja, panggilan itu tidak lain dari Liliana. Tak lama berpikir, Levin pun segera menelepon balik kepada Liliana.
Tut!
Baru bunyi nada tunggu yang pertama dan Liliana langsung mengangkat telepon dari Levin. Terdengar isak tangis Liliana dibalik telepon membuat Levin mengernyit.
"Ya, Tuhan Levin! Dari mana saja kau! Dari tadi aku menghubungimu, tapi kau tak angkat-angkat." Isak tangis Liliana seketika pecah di ujung telepon.
"Aku bekerja. Ada apa Liliana? Apa kakak ipar bertingkah lagi?"
"Tidak Levin, ini masalah Elana."
"Elana? Ada apa dengan Elana?" kejar Levin tak sabaran.
"Elana kecelakaan. Ia seperti disengaja di tabrak di depan pagar sekolah."
DEG!
Jantung Levin terpukul kencang dan langkahnya langsung berhenti. Tangannya terasa dingin. Seakan ada aliran listrik yang menjalar ke seluruh tubuhnya dan membuatnya takut.
"Levin, apa kau mendengarkanku? Sekarang kau harus ke rumah sakit, Elana sedang menjalani operasi." Liliana menangis tersedu.
Levin berusaha menenangkan diri. Ia menarik napas dalam-dalam. "Ya. Aku segera ke rumah sakit." Ucapnya dengan bibir gemetar.
"Cepatlah ke sini."
Levin tidak menjawab dan segera mematikan handphonenya. Ia langsung keluar ruangan berlari sekuat tenaga menyusuri koridor kantor. Jasnya sampai melambai ke belakang karena kecepatan berlarinya, bahkan sepatunya berderit karena slip. Ia tak perduli dengan orang-orang kantor yang melihatnya panik. Ia hanya ingin cepat cepat sampai ke rumah sakit dan melihat keadaan Elana.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku 😍
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^
__ADS_1