Hujan Dan Kamu

Hujan Dan Kamu
DINNER KELUARGA.


__ADS_3

💌 HUJAN DAN KAMU 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Alessa menatap dirinya di cermin. Ia membuang napasnya dengan gugup lalu tersenyum melihat penampilannya malam ini. Alessa tampil cantik di acara formal yang akan menjadi sejarah dalam hidupnya. Ia menggunakan dress hasil koleksi dari Goddiva menggunakan gaun maxi dengan warna krem yang memiliki detail sulam dan terdapat rok jala mengambang sehingga penampilannya saat ini bak seorang puteri raja. Apalagi dengan ornamen yang lembut pada bagian pinggang dan potongan leher V sehingga tubuh terlihat lebih jenjang.


"Alessa, kau sudah siap sayang?" panggil Jenny dari balik pintu.


"Sebentar lagi, ibu!" ucap Alessa dengan lembut.


Jenny hanya tersenyum maklum, ia kembali duduk bersama suaminya Alexander.


Ceklek!


Pintu terbuka.


Alessa keluar dengan cantiknya. Ia menyanggul rambutnya sehingga leher jenjangnya terlihat. Dengan tas dan kalung berserta sepatu yang berkelap-kelip berpantulan cahaya. Alessa terlihat anggun dan menawan. Jenny tersenyum, bangun dari duduknya.


"Wow...cantik sekali kamu sayang." Kata Jenny memegang tangan Alessa dan memberikan usapan lembut di punggung tangannya.


"Dia mirip seperti kamu, sayang." Kata Alexander tersenyum hangat.


Alessa tersenyum gugup, wajahnya merona. "Benarkah? apakah ayah begitu mengagumi ibu?"


"Tentu saja. Aku mencintai ibumu sepenuh hati." Sahut Alexander tersenyum menggoda.


Terdengar gelak tawa dari Jenny yang diikuti Alessa. "Terima kasih karena mencintai ibu dengan tulus, ayah. Aku mengagumimu. Ayah mencintai keluarga dan aku bisa merasakan itu."


"Sudah..sudah, kalau cerita dengan ayahmu gak akan ada habisnya. Kita bisa terlambat, sayang."


"Oke, sekarang kita pergi." kata Alexander bangun dari duduknya.


Alessa kembali menarik napasnya dalam-dalam hingga bahu dan dadanya terangkat. Mereka lalu masuk ke mobil menuju restoran ternama di kota A untuk melakukan pertemuan keluarga.


SEMENTARA DI SISI LAIN.


Jordan nampak gugup dan berulang kali mondar-mandir di dalam ruangan VIP.


"Duduklah sayang!" Kata Melda tersenyum lembut melihat Jordan berdiri dan selalu melihat jam yang ada di tangannya. Kegugupan Jordan terlihat jelas di sana.


"Sebentar lagi Alessa sampai juga kak, apa kakak takut Alessa tidak datang?" kata Jian terkekeh.


"Duduklah dulu, kau terlihat sangat gugup sekali." Ucap Melda lagi. Walau sesungguhnya ia sangat mengerti situasi yang dialami Jordan, pasti ia sangat nervous.


Melda kembali mengingat bagaimana dulu pertemuan keluarganya dengan keluarga Lutfhi. Saat itu ia begitu terluka. Keluarganya tidak disambut hangat oleh keluarga Luthfi. Bahkan acara belum selesai, mereka sudah meninggalkan restoran. Jordan menyentuh tangan mommy-nya dan tersenyum teduh. Jian mengernyit melihat ekspresi kakaknya yang tiba-tiba berubah itu. Namun Jordan hanya mengangguk pelan dan kembali tersenyum teduh. Setelah percakapan lima menit itu, mereka kembali larut dalam pikirannya.


Jordan membuka ponselnya karena terdengar bunyi notifikasi dari WhatsApp nya. Ia membuka chattingan yang pengirimnya adalah Melodi. Ia mendengkus dan menatap malas. Melodi meminta sisa pembayaran kemarin, yang bahkan pekerjaannya belum diselesaikan wanita itu. Melodi bahkan mengancam akan membongkar semua rahasianya.

__ADS_1


CK.. Jordan berdecak sinis, ia kembali menyimpan ponselnya, memilih tidak membalasnya. Saat ini ia hanya fokus untuk acara keluarganya saja.


Saat mereka tengah asyik berbicara. Alessa masuk ke ruangan. Matanya Jordan mengedip cepat dan menatap serius. Alessa datang bersama orangtuanya. Malam ini, ia cantik sekali dengan balutan gaun indah.


Wanitanya sudah datang dengan menggunakan gaun maxi dengan warna krem yang jatuh hingga mata kaki. Penampilannya saat ini bak seorang puteri raja, cantik dan terlihat elegan. Jordan bergeming dan terus menatap Alessa. Matanya sama sekali tak berkedip. Jika ia berkedip takut wanita pujaannya itu akan menghilang. Cih...sungguh lucu tentunya jika Jordan berpikiran seperti itu. Cara berjalannya menampakkan keelokan seorang wanita yang elegan dan sempurna bagi Jordan.


Melda langsung berdiri yang di ikuti Jian dan Jordan. Mereka tersenyum menyambut kedatangan tamu istimewa malam ini. Alessa tersenyum ke arah Jordan.


"Ternyata Jordan tampan juga. Tapi benarkah aku ingin menikah?"


Jordan juga seperti itu, Ia tetap fokus memandang Alessa dengan tatapan serius tanpa berkedip. Perasaan bahagia bercampur haru berkecamuk di dada Jordan.


"Kau akan milikku Alessa, aku tidak akan membiarkan Levin mengambilmu dariku." Batin Jordan.


Alexander memberikan jabatan tangan kepada Melda. Mereka saling tersenyum. Jenny memeluk singkat tubuh Melda. Penyambutan dengan rasa sayangnya. Begitu juga dengan Melda disambut hangat oleh Jenny. Sementara Alessa melempar senyum kepada Jian yang membuka tangannya untuk memeluk Alessa. Pelukan yang hangat dan menciptakan keakraban.


"Kakak ipar?" Kata Jian dengan balasan pelukan hangat dari Alessa. "Kau cantik sekali, aku yakin Jordan sudah tidak sabar ingin menciummu." Bisik Jian kepada Alessa.


Alessa hanya terkekeh, melepaskan pelukannya dari Jian. "Terima kasih Jian, kau juga cantik sekali malam ini." timpal Alessa dengan tersenyum lembut.


Jordan berpindah dan menyambut wanitanya. Ia menunduk dan mencium tangan Alessa dengan lembut. Ia mendekat dan berbisik. "Kamu cantik sekali sayang, aku sudah tidak sabar ingin memilikimu."


Alessa mengulum senyuman malu. Ia mengangkat alisnya sedikit, lalu membalas berbisik. "Kamu juga sangat tampan Jordan,"


Jordan tersenyum dan membawa Alessa duduk di sampingnya. Ia tidak sedikit pun melepaskan tangan Alessa. Mereka mengambil tempat duduk masing-masing dan saling melempar senyum.


TOK....TOK...TOK ..!


"Permisi tuan, makanan akan segera disajikan." Ucap pelayan dengan sopan.


Para pelayan melangkah masuk ke ruangan kelas VIP menyajikan makanan handalan restoran itu.


Jordan sendiri memilih menu makanannya Bubble & Squeak. Makanan ini berbahan dasar daging, kentang dan kubis. Sayuran dan daging dingin di cincang dan kemudian digoreng. Itu adalah makanan handalannya. Menu yang selalu di pesan jika ia makan di restoran ini.


Sementara Alessa memesan Roast meats, makanan yang lezat yaitu daging panggang. Pelayan membuka botol wine dan menuang ke gelas mereka masing masing. Mereka berbicara hal-hal kecil yang terkadang mengundang tawa. Suasana yang menciptakan kehangatan antara kedua belah pihak.


"Terima kasih atas kedatangan kalian, undangan keluarga untuk menjalin kedekatan antara kita." kata Melda mengarahkan gelasnya ke arah Jenny dan Alexander.


"Sama-sama nyonya Mark. Saya sangat bersyukur Alessa mengenal lelaki baik dan dia akan menikah dengan pria yang dicintainya." ucap Alexander mengarahkan gelasnya. Begitu juga Melda mengarahkan gelasnya kepada Jenny. Mereka berbicara dengan elegan dan terlihat seperti berbisik-bisik.


Jordan juga mengarahkan gelasnya dan mengetuk ke gelas Alessa.


TING !


Permukaan gelas mereka bertemu, berdenting menghasilkan suara yang merdu.


"Terima kasih sayang, kau cantik sekali hari ini." Bisik Jordan masih terlihat gugup. Alessa hanya memberikan senyumannya.


"Silahkan nikmati makanannya dengan baik! " Kata Melda kepada keluarga Charlett.


"Terima kasih atas jamuannya." Balas Jenny lagi.


Mereka kembali menikmati makanan sesuai dengan urutan makanan yang di sajikan para pelayan. Jordan sendiri menikmati makanannya dalam diam, rapi dan tenang.

__ADS_1


Tangannya tidak mau lepas dan bersembunyi di bawah meja. Jordan terus menggenggam lembut dan mengusap-usap tangan Alessa dengan jempolnya. Namun tangan kanannya tetap memegang sendok dan makan dengan elegan dan sopan.


Acara makan malam bersama berlangsung dengan baik. Mereka membicarakan rencana pernikahan. Walau Jordan terkadang tidak konsentrasi. Ia di panggil berulang kali karena ia terus fokus memegang tangan Alessa. Namun mereka paham bagaimana rasanya jatuh cinta. Sesuai rencana pembahasan pernikahan, mereka membahas tipe acara, perkiraan tanggal, seberapa besar skala acara yang ingin digelar, dan ritual pernikahan yang di ikuti. Alexander tetap membiarkan Jordan dan Alessa ikut andil dalam mengurus masalah pernikahan mereka.


⭐⭐⭐⭐⭐


Hari yang melelehkan untuk hari ini. Pekerjaan Levin akhirnya selesai juga. Levin menarik napasnya dalam-dalam, kemudian mengusap wajahnya. Ia mendesah saat melihat jam tangan. Ada satu berkas lagi yang harus ditandatanganinya.


Huffft... ternyata hari sudah malam.


TOK....TOK...TOK...!


Desmond mengetuk pintu. lalu masuk ke dalam ruangan Levin. Begitu melihat gagang pintunya berbunyi dan bergerak. Levin segera mendongak. Ia melihat Desmond melangkah masuk. Seperti biasa hanya ada ulasan senyum tipis yang terukir di wajahnya.


Desmond berdiri tepat di depannya dan segera membungkukkan badan.


"Selamat malam tuan,"


"Ehmmm,"


"Mobilnya sudah siap, tuan."


"Tunggu sepuluh menit lagi."


"Baik, tuan." Desmond menjawab dengan anggukan singkat. Ia diam dan hanya bisa menunggu. Jarak mereka tidak terlalu jauh.


Levin menyelesaikan pekerjaannya dan menutup berkas terakhir yang sudah selesai ditandatanganinya. Ia kembali menyandarkan punggungnya menatap ke atas langit-langit kantornya sambil memijit hidungnya.


"Desmond.." Panggil Levin dengan suara terendahnya.


Desmond maju dua langkah lagi, "Iya, tuan."


Levin menarik napasnya dalam-dalam lalu menatap ke arah Desmond yang siap menunggu instruksi darinya.


"Bagaimana soal lelaki yang menabrak Elana? Apa kau sudah mencari tahu?"


"Saya sudah membayar seseorang untuk mencari tahu siapa pelaku penabrak Elana."


Levin mengerutkan keningnya, "Sampai saat ini belum ada titik terang?"


Desmond dengan cepat menundukkan kepalanya. "Maaf tuan, cctv di tempat lokasi kejadian sepertinya sengaja dimatikan."


Levin menaikkan alisnya, menatap Desmond dengan ekspresi terkejutnya. "Jadi kecelakaan itu sudah direncanakan?" tanya Levin dengan mata memicing tajam.


"Benar tuan," Jawab Desmond dengan cepat.


Levin menarik napasnya yang terasa sesak. "Siapa yang sengaja ingin mencelakai Elana?" Raut wajahnya berubah menegang. Selama ini keluarga Horald tidak pernah punya masalah kepada orang lain. Mereka benar-benar memperhitungkan kembali dengan sangat hati-hati jika itu benar-benar menyangkut masalah kerjasama bisnis. Ia akan melihat lawannya terlebih dahulu. Levin takut akan melukai orang-orang yang sangat disayanginya.


"Tapi jika benar-benar ini masalah bisnis? siapa yang berani melakukan itu? Kenapa sasarannya harus Elana?" Batin Levin.


"Saya tidak mau tahu dalam satu minggu ini, kau harus bisa mencari siapa pelakunya."


Desmond mengerti maksud ucapan Levin. "Baik tuan, saya akan usahakan." ucap Desmond dengan tegas.

__ADS_1


Levin bangun dari duduknya dan kembali mengenakan jasnya. Ia berjalan pelan dan keluar dari ruangannya yang di ikuti oleh Desmond dari belakang. Mereka tiba di depan pintu depan perkantoran Horald company. Sebuah sedan mewah berwarna hitam berhenti di depan mereka. Levin masuk dan membawa mobilnya meninggalkan perkantoran. Sementara Desmond menggunakan kendaraan dinas dan mengikuti mobil sedan mewah itu.


__ADS_2