
💌 HUJAN DAN KAMU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Levin menurunkan Elana dari gendongannya. Elana segera berlari mendekat ke arah Alessa yang sejak tadi diam terpaku di tempatnya.
"Aunty kenapa diam, uncle Levin sudah datang. Kita sudah bisa makan, kan? Elana lapar nih," Rengek Elana dengan wajah memelas sambil memegang perutnya.
Alessa menyambutnya dengan senyum. Ia menangkup pipi Elana. "Maaf sayang, sepertinya aunty tidak bisa menemanimu makan."
Bibir Elana mengerucut. Mata indahnya langsung berkaca-kaca. "Kenapa aunty? bukannya aunty sudah janji? Uncle sudah pulang dan kita bisa makan spaghetti buatan aunty." Elana sedih. Ia bahkan memalingkan wajahnya, tak ingin melihat Alessa.
Alessa semakin bersalah. Ia mencoba membujuk Elana dan memberikan pengertian kepada anak itu. "Lain kali kita bisa makan bersama, aunty janji, hhhhmm."
Elana menggeleng dan menangis. "Elana gak mau, Elana mau hari ini." Air matanya terjatuh membahasi pipi.
Alessa menghela napas. Sekali lagi diingatnya bahwa alasan utama ke sini hanyalah membuatkan makanan untuk Elana. Bagaimana mungkin Alessa bisa makan bersama dengan lelaki yang tak punya perasaan ini. Ini mimpi buruk baginya. Membayangkan itu saja membuatnya bergidik ngeri. Tapi melihat wajah Elana yang bersedih, Alessa sungguh tak tega. Perasannya campur aduk saat ini. Antara takut dan gugup melihat lelaki kaku itu, atau kasihan dengan Elana? Alessa tidak bisa membedakannya lagi. Darahnya seperti mengalir cepat hingga membuatnya panas dingin.
Sementara Levin hanya diam menatap Elena yang merengek di sana. Levin menunggu di posisinya sambil memasukkan tangan ke dalam kantong celananya. Ia tersenyum tipis melihat tingkah Elana. Levin benar-benar menikmati pemandangan itu.
Dengan cepat Alessa berjongkok agar sejajar dengan Elana. Ia menghapus air mata Elana yang terjatuh membahasi pipi. "Maafkan aunty sayang, aunty....."
"Gak mau ... Elana gak mau makan jika aunty pulang!" Tangisan Elana semakin pecah di sana.
Tak tahan melihat Elana menangis, Levin melangkah mendekat ke arah Alessa. Ia menarik napas singkat menatap wanita yang masih berusaha membujuk Elana itu. "Sebelumnya saya minta maaf atas kelakukan Elana yang terlalu memaksakan diri. Tapi untuk kali ini, bisakah anda memenuhi permintaannya?"
"Heuh?" Alessa mengangkat wajahnya menatap pria angkuh itu sudah berdiri di depannya. Tapi tunggu dulu,
"Kenapa aku tidak menemukan tatapan angkuh dan sok berkuasa itu?"
"Sayang, jangan menangis lagi." Levin mencoba membujuk Elana.
"Gak mau! mommy juga seperti itu, selalu sibuk dan gak pernah nemani Elana."
Levin menarik napasnya dengan berat. Ia kembali menatap Alessa. "Aku sangat berharap kamu bisa menemani Elana makan. Sebenarnya Elana paling susah akrab dengan orang lain. Tapi kamu berbeda. Kamu berhasil mencuri hati Elana. Jadi aku berharap kamu bersedia."
Alessa menelan salivanya berulang kali. Ia melarikan pandangannya saat tatapan mereka bertemu lagi. Levin sesaat memandang ke arah Elana yang masih menangis, lalu menatap ke arah wanita itu kembali.
"Apakah kamu bersedia?" Tanyanya lagi.
"Aunty mau ya...." Elana merengek sambil menarik tangan Alessa.
"Baiklah. Ini aku lakukan demi Elana bukan untuk kamu." Ucap Alessa akhirnya.
Levin melepaskan senyumnya. "Terima kasih. Uncle tinggal dulu ya sayang, kau bisa makan bersama aunty." Levin membelai singkat rambut Elana. "Jangan nangis lagi ya."
Elana tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Levin kemudian melangkah meninggalkan dapur. Sementara Alessa menarik napas, mencoba kembali berpijak pada tingkat kesadaran yang nyata.
"Apakah dia benar-benar lelaki yang pernah aku temui? Lelaki arogan yang bahkan tak punya hati? Dia bersikap seperti mengenalku. Dasar sialan!" Alessa mengumpat tak percaya. Ia terus menatap punggung pria itu meninggalkan dapur.
⭐⭐⭐⭐⭐
__ADS_1
Levin menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Hari ini benar-benar melelahkan. Desmond sudah kembali ke rumah setelah Levin memastikan ternyata Elana baik-baik saja. Lagi-lagi Ia tersenyum saat mengingat tingkah laku Elana hari ini. Elana begitu dekat dengan wanita yang baru dikenalnya. Sementara dengan Monika, Ia itu tak pernah sedekat itu.
Levin memejamkan matanya dengan meletakkan tangan pada keningnya. Masih dengan kemeja yang ia kenakan tadi. Levin melihat jam di tangannya sekilas. Ia menarik napas singkat dan mengambil ponselnya dari saku celananya. Ia melakukan panggilan kepada Monika. Tidak adil rasanya sampai saat ini Monika belum memberikan kabar. Apakah dia sesibuk itu? Sampai mengirimkan pesan saja, ia tidak ada waktu?
PANGGILAN TERSAMBUNG.
Seperti biasa, Levin harus menunggu sampai beberapa kali panggilan. Tidak ada jawaban. Ia berusaha untuk menghubunginya. Tetap tidak ada jawaban dari Monika. Ia menatap lama handphone yang ada di tangannya. Levin memutuskan untuk mengirim pesan. Namun Levin belum tahu kalimat apa yang akan ia kirimkan. Levin menghembuskan napasnya dengan frustasi. Ia mengusap-usap tepian casing handphonenya. Lalu jempolnya mulai mengetik sesuatu di sana. Dengan semangat Levin kembali mengetik pesannya lagi, lalu menekan gambar send di pojok kanan chatnya.
TING
Satu pesan terkirim dari Levin. Ia tersenyum sejenak, membaca kembali.
"Sayang, apa kabarmu? Dari kemarin, kamu tidak bisa dihubungi. Apa kamu tidak merindukanku?"
Begitu mengirimkan pesan itu, Levin melangkah keluar menuju balkon, ia menengadah wajahnya ke atas menatap langit. Langit tiba-tiba berselimut mendung, gelap nan pekat. Tak perduli dengan kilatan cahaya itu. Rintik-rintik hujan pun kembali berjatuhan. Levin kembali masuk untuk membersihkan tubuhnya. Hari sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam.
Levin keluar dengan handuk yang melingkar di pinggangnya. Wajahnya sudah terlihat segar. Tetesan air di ujung-ujung rambutnya masih terjatuh. Otot-ototnya yang bidang terlihat menonjol dan sedikit basah. Sepertinya air nakal dari rambutnya belum ingin lepas dan mengalir dari pelipis hingga ke dada. Levin mengunakan pakaian santai untuk hari ini.
Dddrrrttt dddrrrttt dddrrrttt.
Panggilan itu mengalihkan perhatiannya. Ia berjalan mengambil handphone yang ada di atas nakas. Levin tersenyum di sana saat melihat siapa yang memanggilnya.
"Levin, bagaimana kabar anakku?" Seperti biasa tidak ada basa-basi.
Levin tersenyum di ujung telepon. "Kau sudah sampai?"
"Ini baru sampai di hotel. Hei...yang aku tanyakan bagaimana kabar Elana. Tadi dia menangis saat aku tinggal di pos security. Hatiku tak bisa tenang selama di pesawat."
"Elana sedang makan bersama...."
"Monika?" potong liliana tak suka.
"Jadi siapa kalau bukan Monika?"
"Elana bersama seorang wanita, dia tetangga baruku."
"Apa kamu yakin dia baik? banyak modus penculikan anak akhir-akhir ini."
"Yang jelas dia baik. Buktinya Elana menyukainya."
"Elana memang anak pintar. Dia tahu, siapa wanita yang baik dan yang tidak baik."
"Apa maksudmu?"
"Cih... sudahlah, jangan terlalu polos, Levin. Aku tahu Monika hanya menyukai uangmu. Dia tidak pernah mencintaimu."
"Astaga Liana?..." Levin membuang napas kesal. "Jangan berpikir negatif terus dengan Monika. Dia bukan wanita seperti itu." sambungnya lagi.
"Kita lihat saja, siapa diantara kita yang benar." Ucap Liliana tersenyum sinis. "Oke, aku mau istirahat. Sampaikan salamku kepada Elana."
Levin tak menjawab, ia langsung mematikan handphonenya dengan sepihak. Ada rasa kesal saat Liliana terus berbicara buruk mengenai Monika. Ia melempar asal ponselnya ke atas kasur. Dengan tarikan napas panjang, Levin akhirnya memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaannya. Levin beranjak menuju ranjang mewahnya dan duduk bersandar ke kepala ranjangnya yang empuk.
⭐⭐⭐⭐
Dua puluh menit kemudian.
Levin memilih keluar dari kamarnya. Dari atas Ia terus menatap wanita itu yang sedang membacakan dongeng sambil menepuk-nepuk punggung Elena yang tertidur menghadapkannya. Melihat pemandangan itu, Levin tanpa sadar tersenyum. Aktivitas itu seperti sebuah film yang menarik untuknya. Ya seperti ibu dan anak. Levin menuruni anak tangga dengan langkah pelan.
__ADS_1
"Apa Elana sudah tidur?" Ucapnya pelan dan berhasil mengagetkan Alessa.
Alessa mengerjap dan reflek bangun dari tidurnya. "Maaf...." Alessa menundukkan kepalanya, Ia tak nyaman saat kepergok tidur bersama Elana.
"Tidak apa-apa." Levin tersenyum saat melihat ekspresi terkejut wanita itu.
"Karena Elana sudah tidur, aku pamit undur diri dulu." kata Alessa melangkah mengambil tas sling bag yang ia letakkan di atas meja.
Karena belum mengucapkan terima kasih dengan baik. Levin dengan cepat menghentikan langkah Alessa. "Sebagai ucapan terima kasihku. Apa anda mau minum kopi bersama saya?" ucap Levin dengan lantang.
Alessa menghentikan langkahnya. Ia meremas tangannya karena begitu gugup. Ia berbalik melihat ke arah pria itu. Tiba-tiba Jantungnya berdegup kencang. Ujung-ujung jarinya terasa dingin saat pria itu melangkah berjalan pelan ke arahnya. "Ada apa denganku?"
Levin mengulurkan tangannya, memperkenalkan dirinya. "Perkenalkan, nama saya Levin Horald."
Alessa mengulurkan tangannya dengan ragu. "Saya Alessa Charlett." Jabatan singkat, namun berhasil menggelitik hati Levin.
"Apa anda bersedia minum dengan saya, nona Alessa?" ucap Levin kembali.
Tak ada jawabannya. Alessa semakin meremas tangannya dengan erat.
Melihat ekspresi ragu Alessa, Levin tersenyum. "Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasihku telah memperlakukan Elana dengan baik."
Alessa mengembuskan napas singkat, menatap lelaki itu kembali. "Baiklah, tapi saya tidak bisa lama."
Levin tersenyum penuh wibawa. Ia mengangguk mengiakan. Levin melangkah lebih dulu yang diikuti oleh Alessa.
"Silahkan duduk!" Levin menunjuk ke arah kursi yang ada di dapur.
"Tidak perlu repot-repot." ucap Alessa cepat saat Levin mengeluarkan beberapa makanan dari kulkas. Ia merasa tidak enak, karena Alessa baru mengenalnya hari ini.
Levin lagi-lagi tersenyum di sana. Sementara Alessa memilih pasrah.
"Soal pertemuan kita di taksi, aku minta maaf karena bersikap sedikit kasar kepadamu." ucap Levin tak memandang Alessa. Ia membuat kopi bubuk ke dalam gelas dan menambahkan air panas, kemudian mengaduknya sampai rata.
"Anggap saja itu tidak pernah terjadi." kata Alessa singkat.
"Jadi, apa kita bisa berteman?"
Deg!
Berteman?
Berteman bagaimana?
Alessa tiba-tiba tak bisa berpikir dengan baik. Pikirannya blank saat ini.
.
.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku 😍
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^