Hujan Dan Kamu

Hujan Dan Kamu
BERTEMU MONIKA


__ADS_3

💌 HUJAN DAN KAMU 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


.


TIGA HARI KEMUDIAN.


Alessa merasa kesulitan menemukan kain seragam bridesmaid yang warnanya pas untuk diberikan kepada teman sejawatnya. Ia meminta Samantha menemaninya memilih warna gaun untuk dipakai di hari pernikahannya nanti.


Alessa merapikan rambutnya kembali. Ia kembali memastikan penampilan riasan di wajahnya sebelum keluar dari kamar. Dengan lengkungan senyum ia melangkah membuka pintu.


CEKLEK


Pintu kamar terbuka. Wajahnya berbinar cerah. Alessa melangkah dengan tegap menuruni anak tangga. Bahkan goyangan pinggulnya saat berjalan terlihat hot dan seksi. Dentuman heelsnya menambah keanggunannya.


Samantha tersenyum menggeleng, saat melihat Alessa turun dari anak tangga. Hmmm...Kini aku menyadari ternyata jomblo itu tidak enak. Apalagi disaat Alessa selalu meminta untuk menemani mereka. Wah, itu sama dengan bunuh diri. Di satu sisi, Samantha merasa tidak tega untuk menolak ajakan teman baiknya itu. Di sisi lain, berada di antara mereka berdua tentu membuat ia merasa tidak nyaman.


"Apapun yang terjadi kita harus tetap pergi bersama. ingat itu!" Kalimat itu terus terngiang di otaknya.


"Astaga, tak bisa ku bayangkan aku jadi obat nyamuk saat mereka pacaran." Samantha mengembuskan napas lesu, menerima nasibnya.


Samantha lagi-lagi menggelengkan kepalanya. Matanya memicing mengikuti langkah Alessa yang tersenyum tanpa dosa.


"Samantha," panggil Alessa tersenyum sambil melambaikan tangannya. Ia benar-benar seperti artis yang ditunggu fansnya.


"Dia masih bisa tersenyum? Astaga, benar-benar tidak merasa bersalah ya..."


"Hehehehe...Maaf membuatmu menunggu." Alessa tersenyum sambil menunjukkan deretan giginya yang putih dan bersih.


"Kenapa lama sekali? Aku sudah menunggumu satu jam dokter Alessa yang cantik jelita." Samantha mencoba menekan di ujung kalimatnya. Agar Alessa tahu ia sedang kesal. Ha? kesal? mana bisa Samantha kesal. Alessa selalu pintar membuat mood-nya kembali.


Alessa tersenyum cengengesan. "Tadi calon kakak iparmu menghubungiku. Dia tidak bisa ikut bersama kita karena ada acara penting yang tidak bisa ia tinggalkan siang ini."


"Heuh? Kenapa tidak bisa? bukankah acaranya siang nanti."


Alessa mengembuskan napas singkatnya. "Kau tahu sendiri, aku tidak bisa memaksanya karena tadi malam ia melakukan operasi dua kali. Jordan pulang dari rumah sakit sudah pukul tiga pagi. Mungkin dia masih ngantuk."


"Alasan!" Samantha mengerucutkan bibirnya sambil bersedekap.


"Gak... aku serius." Alessa mengangkat ke dua alisnya bersamaan. "Kamu bosan ya?"


"Aku di sini kayak orang bodoh. Hampir saja aku berubah jadi patung Hachiko."


"Hei, itu patung anjing yang dikenal dengan kesetiannya." Alessa terkekeh saat Samantha mengatakan akan berubah menjadi patung Hachiko. "Kamu mau jadi patung?"


"Cih..." Samantha tersenyum mengeluarkan suara decakan.


"Jangan marah dong? kamu tambah imut deh." Alessa memeluk pinggang Samantha dari belakang. Kebiasaan yang sering ia lakukan saat Samantha kesal.


"Siapa yang marah? Aku hanya kesal. Ini sudah jam berapa?"

__ADS_1


"Iya aku tahu. Kau adalah teman yang paling baik dan paling mengerti aku. Jadi jangan marah lagi ya, ya! sekarang kita langsung ke gereja. Habis pulang gereja. Kita bisa langsung pilih kain seragam bridesmaid-nya dan makan sepuasnya. Bagaimana?"


"Bukannya tadi malam kamu sudah ke gereja?"


"Aku tidak bisa. Tadi malam Elana menangis dan merengek. Ia tidak mau diperiksa dokter lain dan aku harus datang malam itu juga."


"Tuh...kan? Semua rencana jadi berantakan."


"Nah... nah...marah kan? Jangan marah dong." Ujar Alessa tersenyum menggoda Samantha.


"Baiklah, sekarang kita berangkat, sebelum gereja tutup."


Alessa tertawa. "Gereja gak pernah tutup. Gereja selalu terbuka untukmu, apalagi yang dosanya sudah menumpuk kayak kita." Kata Alessa kembali tertawa. Ia tahu Samantha sangat kesal karena terlalu lama menunggu. Samantha adalah tipe orang yang tidak suka menunggu karena dianggap membuang waktu berharganya. Selain itu, menunggu itu sangat membosankan jika tidak memiliki kesabaran yang tinggi. Mereka pun melangkah keluar dari rumah Alessa.


"Tapi bukankah seharusnya dokter Jordan ikut. Ini Pengumuman pernikahan kalian yang pertama kali. Seharusnya ia ikut untuk mendengar pengumuman pernikahan kalian. Jordan terlihat aneh, apa kau tidak merasakannya?"


Dahi Alessa mengerut menatap Samantha. "Apa maksudmu?"


"Dokter Alessa, kamu sadar tidak semua urusan pernikahan kamu yang mengurus sendiri. Dokter Jordan selalu ada alasan. Dia sedang operasi-lah, ada rapat penting lah. Sementara masalah pernikahan ini harus diurus bersama oleh kedua pasangan dan kamu berdua harus dihadirkan. Sebelum pernikahan dilangsungkan, harusnya tidak ada satu hal yang menghalangi peneguhan pernikahan. Dan melalui penyelidikan kanonik diharapkan bisa diketahui status bebas masing-masing calon, ada tidaknya halangan dan larangan serta pemahaman minimum tentang arti dan tujuan perkawinan ini. Dan yang aku lihat, kamu ini seperti menikah sendiri. Bukankah dokter Jordan yang mendesak harus mempercepat pernikahan ini? Sampai-sampai tanggal pernikahan saja dia yang tentukan sendiri."


Alessa menarik napasnya. Ia memilih tak berkomentar. Walau semua yang dikatakan Samantha benar adanya. Alessa larut dalam pikirannya, membawa mobilnya menuju gereja tempat acara pemberkatan mereka nantinya.


⭐⭐⭐⭐⭐


Mereka mengikuti acara perayaan ekaristi dengan khusyuk. Mereka juga mendengarkan pengumuman pernikahan Alessa dan Jordan. Ini pengumuman pernikahan mereka yang dibacakan pertama kalinya. Itu artinya dua minggu lagi acara pernikahan Alessa dan Jordan akan dilangsungkan.


Alessa pun pun berinisiatif menyalami pastor yang akan memberkati mereka nantinya. Saat Samantha tengah asyik berbicara. Alessa melihat Monika sedang berbicara dengan seorang suster di sana. Ekspresinya terlihat serius.


"Samantha, aku izin sebentar ya," Ucapnya setengah berbisik.


Alessa melangkah menghampiri Monika. Dia sepertinya sudah selesai bicara dan hendak melangkah menuju parkiran yang ada di sana. Tak ingin kehilangan jejak Monika, ia pun mempercepat langkahnya.


"Monika..." Panggil Alessa dengan lantang agar Monika mendengarnya.


Saat namanya dipanggil, Monika membalikkan badannya dan melihat ada Alessa di belakangnya. Sudut bibirnya melengkung ke atas.


"Akhirnya kita bertemu lagi." Batinnya dengan seringai iblis.


Alessa tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa dengan pertemuan mereka terakhir kali. Monika adalah saudara sepupunya, sebisa mungkin Alessa tetap memperlakukannya dengan baik. "Kamu gereja di sini?"


"Tidak, aku datang ke sini ingin bertemu pastor." ucapnya dingin.


"Ohhhh ..." Alessa mengangguk. "Seharusnya kamu menghubungiku, kita bisa pergi bersama."


Monika tak ingin melihat ke arah Alessa. Ia hanya diam sambil melipat tangannya di depan dada.


"Apa kabar Monika?" Alessa ingin memeluk Monika, namun Monika menolaknya.


"Jangan sentuh aku."


Deg!


Jantung Alessa berdegup kencang saat Monika mengatakan itu dengan tegas. "Kamu kenapa Monika? Bukankah kejadian kemarin seharusnya sudah berlalu." ucapnya pelan.


"Aku hanya tidak ingin melihatmu. Aku muak melihat tampangmu seperti itu."


Alessa mengembuskan napas singkat. "Monika, kita ini Keluarga. Apa yang membuatmu begitu membenciku? Jika ada kata-kataku yang salah kemarin, oke... aku minta maaf. Hmmmm, Maafkan aku ya!" pinta Alessa.

__ADS_1


Monika menarik napas singkat, lalu membuang mukanya tak suka.


"Lihat aku Monika. Jangan seperti ini terus. Kita ini keluarga dan semua orang tahu itu." Kata Alessa lagi.


Monika mengigit bibir bawahnya, lalu melemparkan tatapan tajam ke arah Alessa. "Dari dulu aku tidak pernah menyukaimu Alessa. Aku membencimu. Segalanya kau ambil dariku. Termasuk itu kekasihku." volume suara Monika naik satu oktaf.


Deg!


"Mengambil kekasihmu? Apa maksudmu?"


"Jordan tidak pernah cerita?"


"Jordan?" Wajah Alessa menegang, jantungnya terpukul kencang. "Cerita apa? aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau katakan." Kata Alessa dengan alis mengerut serius.


Monika tersenyum sinis. Mengembuskan napasnya dengan pipi mengembung. Ia mulai jengah dengan sikap Alessa yang sok baik hati dan pengertian itu. "Aku datang ke sini untuk membatalkan pernikahanmu."


Kata-kata itu seperti tamparan melekat tanpa rasa sakit. Begitu sakit sampai menghantam ke dadanya. "Apa maksudmu? Kau datang ke sini untuk membatalkan pernikahanku?"


"Ya, aku datang ke sini untuk menghentikan pernikahan kalian. Karena Jordan adalah kekasihku."


"Heuh?" Alessa mengembuskan napas tidak teratur, Ia terkejut saat mendengar itu. Alessa menggeleng tak percaya. "Tidak mungkin! Jordan tidak pernah mengatakan itu." Tangan Alessa terasa dingin. Jantungnya semakin terpukul kencang.


"Ngapain juga Jordan harus mengatakan itu? kau bodoh atau bagaimana sih? Dan bukan hanya itu, Jordan adalah ayah dari anakku. Kami sudah memiliki anak. Anak itu adalah hasil buah dari cinta kami."


Waktu terasa berhenti. Alessa shock saat mendengar itu. Kalimat itu begitu cepat menyelusup masuk ke dalam sanubarinya. Kepalanya menggeleng cepat.


"Tidak mungkin." Ucapnya dengan pandangan kosong. Kakinya gemetar. Alessa berusaha bersikap tenang, ia memandang ke arah Monika yang tersenyum sinis di sana.


"Apa kau pikir, aku akan percaya dengan semua itu? Itu tidak mungkin!"


"Terserah kamu mau percaya atau tidak, tapi yang jelas Jordan mencintaiku dan kami sudah memiliki anak. Jadi hentikan pernikahan konyol itu."


Alessa menutup mulutnya. Ia memundurkan langkahnya ke belakang, kepalanya menunduk dan menggeleng pelan, ia masih tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Ekspresi wajahnya semakin menegang.


"Jadi sadarlah, jangan pernah merampas kebahagiaanku. Jordan mencintaiku dan hanya mencintaiku!" Monika menekan kalimatnya agar Alessa tahu semuanya.


Rasanya ingin menangis. "Jordan mencintai Monika? Mereka sudah memiliki anak? Kenapa aku tidak pernah tahu masalah ini?" Alessa terus melangkah mundur. Matanya memandang tangannya yang gemetar. "Aku tidak percaya."


"Aku tidak memaksamu untuk percaya Alessa. Tapi kau harus sadar, itulah kenyataannya dan kau harus terima itu."


Alessa tak ingin mendengar, ia menutup telinganya dengan cepat sambil terus melangkah mundur. Emosinya hampir meledak. Lalu dengan cepat membalikkan tubuhnya dan berlari cepat tanpa sepatah kata pun. Alessa masih begitu shock.


"Kenapa Jordan tak pernah mengatakan ini? Setidaknya Jordan tahu bahwa Monika adalah saudara sepupuku."


Alessa masih terus berlari. Ia ingin meluapkan semua. Alessa menarik napasnya yang terasa begitu menyesakkan. Hari indahnya ditukar dengan rasa sedih yang mendalam.


"Apakah aku harus bertanya? Ahhhh....tapi kenapa begitu sakit?"


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku 😍


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^

__ADS_1


__ADS_2