
💌 HUJAN DAN KAMU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
.
DUA JAM SEBELUMNYA.
Pagi hari, bahkan matahari belum beranjak dari peraduannya. Monika sudah bersiap-siap berangkat ke rumah sakit Charlett dua jam lebih awal dari rapat yang telah dijadwalkan. Monika membawa mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia baru saja mengirimkan pesan kepada salah satu bagian operasional rumah sakit. Hari ini rencananya harus berjalan dengan baik.
Suasana pagi masih begitu sepi. Monika menatap lurus, memandang ke arah jalan dengan tatapan dingin. Ia menginjak pedal gas untuk mempercepat laju mobilnya. Sebelum rapat dimulai, ada misi yang harus dijalankannya untuk membatalkan pencalonan Alessa sebagai direktur utama rumah sakit Charlett. Rasa penasaran benar-benar mengganggu pikirannya sejak tadi malam. Dia masih terus mencerna perkataan mommy-nya. Pikirannya terus berkecamuk, sampai ia tak bisa tidur. Ternyata Alessa bukanlah anak dari Aunty Jenny dan Uncle Alexander. Jika itu terbukti, itu akan memudahkan langkahnya menduduki posisi direktur. Sudut bibir Monika semakin melengkung sempurna.
"Kita lihat saja Alessa, setelah kau mengetahui kebenaran ini, apakah kau masih bisa tersenyum?"
"Cih... sungguh menyedihkan hidupmu?"
Monika semakin mempercepat laju kendaraannya dan akhirnya ia tiba di rumah sakit Charlett. Monika memarkir mobilnya dengan baik. Lalu ia keluar dan melangkah cepat melalui jalur khusus. Rumah sakit masih tampak sepi, yang terlihat di sana hanyalah dokter jaga, beberapa perawat dan cleaning service sedang melaksanakan tugasnya.
"Selamat pagi, dokter Monika," Sapa seorang lelaki cleaning service menyapa hormat kepada Monika.
Monika hanya tersenyum samar sambil mengangguk pelan dan terus berjalan dengan pandangan lurus. Ekspresinya saat ini datar dan kaku. Langkahnya menggema di bagian di koridor yang di jalaninya. Seorang lelaki sudah menunggunya di depan pintu bagian operator.
"Selamat pagi, bu." Sapa petugas bagian operator menunduk hormat. Lalu menegakkan punggungnya. Ia memberikan senyum terbaiknya.
"Maaf mengganggumu pak," kata Monika dengan posisi berdiri tegap sambil menoleh ke kiri dan ke kanan.
"Tidak masalah bu, ini sudah bagian pekerjaan saya. Kapan saja ibu membutuhkan saya, saya siap, bu." ucapnya dengan sopan.
"Terima kasih atas kerjasamanya, pak." kata Monika tersenyum.
"Sama-sama, bu."
"Apa kau menemukan sesuatu?" Tanya Monika melangkah lebih dulu dan diikuti pria itu.
__ADS_1
"Saya sudah memeriksa dokumen yang anda diminta. Tapi saya tidak menemukan apa-apa."
Dahi Monika mengernyit. "Anda tidak menemukan apa-apa?" tanyanya lagi.
"Benar bu, saya tidak menemukan dokumen yang anda minta. Tapi untuk memastikan kembali, anda bisa memeriksa kembali, bu."
"Baiklah. Saya akan memeriksa sendiri." lanjut Monika.
"Silakan masuk, bu. Komputer sudah saya nyalakan, anda tinggal memasukkan nama password rumah sakit." ucap petugas itu membukakan pintu untuk Monika.
"Baiklah. Kamu tunggu di sini, jika aku memerlukan bantuanmu. Aku akan segera memanggilmu."
"Baik bu." Ucap pria itu mengangguk sambil menutup pintu kembali.
Monika langsung masuk dan menutup pintu itu kembali. Ruangan itu dipenuhi komputer. Hanya ada satu komputer yang menyala di sana. Monika menarik napasnya, lalu melangkah cepat mendekat ke arah meja komputer dan duduk di sana.
"Pasti rahasia besarmu ada di komputer ini Alessa. Data-data kelahiranmu akan terlihat di sini." Dengan cepat tangannya mengetik nama password yang biasa digunakan pihak rumah sakit. Ia melakukan berulang-ulang yang muncul hanya 'forgot your password'. Monika membuang napas sekaligus sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Ia menggigit jarinya dengan frustasi. "Apakah nama Uncle?" Monika mencobanya. Namun, tidak berhasil. Ia juga mencoba nama aunty Jenny. Hasilnya masih sama.
Sepersekian detik, ia teringat nama Alessa. Dan benar saja, password langsung terbuka. Monika tersenyum puas. Ia mulai berkutat di depan komputer. Mencari file yang diperlukannya untuk menjatuhkan Alessa. Tampangnya saat ini begitu serius. Wajahnya mengerut menatap komputer itu dengan sedikit bergumam. Ia memeriksa ulang bahkan berkali-kali. Namun, tidak menemui apa-apa. Monika mengeram kesal sambil menggebrak meja.
"Sialan, aku tidak menemukan apa-apa di sini." Monika mengusap wajahnya dengan kasar.
"Tidak ada, ini hanya dokumen salinan yang tidak dipakai lagi. Untuk apa dokumen ini masih di simpan di sini? ini tidak penting. Ini juga..." Monika mengacak-acak semuanya. Wajahnya terlihat tegang, rahangnya mulai mengencang.e
"Aku juga tidak menemukan di sini." Monika mengembuskan napas panjang dengan pipi mengembung. Ia berkacak pinggang melepas rasa kesalnya. Kilatan marah memancar di bola matanya. Sudah satu jam Monika berada di ruangan ini. Tapi, tidak menemukan apa-apa.
⭐⭐⭐⭐⭐
Sebelum pemilihan direktur utama rumah sakit Charlett dimulai. Mereka harus memberikan materi untuk presentasi progam rumah sakit ke depannya.
Prok...prok...prok...!
Riuh tepuk tangan menyambut akhir presentasi Alessa. Ia berdiri di sana. Di depan para pimpinan dengan senyuman menawan. Sementara Monika menatap tajam dengan tangan mengepal kuat.
"Terima kasih." Alessa menundukkan kepalanya dengan santun.
Begitu tepuk tangan berakhir, Alessa pun mempersilakan sesi diskusi. Bagian yang tentu saja sangat dinanti dan diwaspadainya. Benar saja, Monika menatap tajam lalu mengacungkan tangannya ke atas.
__ADS_1
"Ya, silakan Dokter Monika!"
Senyuman tipis, penuh ambisi terulas di wajah Monika Mark. Ia mengedip pelan sambil memperbaiki posisi duduknya. Alisnya sedikit terangkat.
"Presentasi yang bagus Dokter Alessa. Saya sangat suka dengan program kerja anda jika anda terpilih menjadi direktur rumah sakit. Tapi, bisa anda kembali ke slide dua belas?" Monika melayangkan telunjuknya, ke layar pantulan proyektor.
Alessa tersenyum sambil sedikit menunduk. Lalu menampilkan slide yang diminta Monika.
"Di slide ini, pemakaian tempat tidur pada satuan waktu tertentu. Indikator ini memberikan gambaran tinggi rendahnya tingkat pemanfaatan tempat tidur rumah sakit. Nilai parameter BOR yang ideal adalah antara 60-85%. Kenapa bisa menurun, apakah pelayanan rumah sakit kurang? Apa anda bisa menjelaskannya?"
Saat mendengar pertanyaan Monika, terdengar bisik-bisik antara dewan petinggi yang ada di sana. Mereka awalnya mengapresiasi, langsung beralih mempertanyakan.
"Dan pertanyaan yang kedua." Monika menunjukkan angka dua jarinya. "Kepada dewan petinggi. Tolong diperhatikan dengan baik. Pada slide yang kelima belas di sana persentase penduduk sakit yang menjalani rawat Inap di rumah sakit atau klinik yang menyediakan tenaga medis tidak dijelaskan berupa angka atau grafik. Coba jelaskan kembali dimana konsep definisi perbandingan antara jumlah penduduk sakit dan menjalani rawat inap di rumah sakit pemerintah atau swasta, praktek dokter, klinik dan praktek petugas kesehatan dengan jumlah penduduk yang sakit?" Monika mengakhiri ucapannya dengan senyuman angkuh. "Silakan dijawab." Ia menundukkan kepala dan membuka tangan.
Kini tidak hanya terjadi aksi bisik-bisik antara peserta rapat. Namun, juga anggukan kepala beberapa dewan, menyatakan setuju sekaligus takjub dengan pengamatan dokter Monika. Anggukan kepala-kepala tersebut sedikit memicu debaran jantung Alessa. Namun, itu tidak akan membuat dirinya jatuh dan goyah dengan mudah. Ia sudah siap menjawab pertanyaan tersebut.
"Terima kasih pertanyaannya dokter Monika. Sebelum saya menampilkan ini, saya sudah melakukan riset selama satu bulan. Untuk yang pertama kami di sini menggambarkan tingkat pemanfaatan sarana kesehatan untuk rawat inap dan pemanfaatan tempat tidur. Untuk menggambarkan tingkat penanganan kesehatan yang terjadi di suatu daerah. Untuk menggambarkan tingkat kemampuan masyarakat dalam melakukan pengobatan terhadap penyakit yang dialami dan keterangan tambahan variabel untuk menghitung indikator persentase penduduk PSRI selain dari susenas juga diambil dari Riskesdas." Alessa tersenyum, menjeda sambil mengangguk. Video berputar di slide yang tertampil. Alessa lanjut bicara.
"Dalam Interpretasi ruang lingkup pembangunan kesehatan selain upaya promotif dan preventif, di dalamnya juga terdapat pembangunan kesehatan bersifat kuratif dan rehabilitatif. Rumah sakit merupakan pelayanan kesehatan pada masyarakat yang bergerak dalam kegiatan kuratif dan rehabilitatif. Rumah sakit juga berfungsi sebagai sarana pelayanan kesehatan. Sebagai tempat rujukan dan sarana pelayanan kesehatan sekaligus, pilihan untuk berobat didasari pada jenis dan bobot penyakit. Besarnya indikator pelayanan kesehatan di tingkat dasar dan lanjutan, menunjukkan bobot angka kesakitan dan jenis penyakit yang diderita oleh masyarakat." Fasih. Tangkas. Percaya diri. Itu yang terlihat dari cara bicara Alessa Charlett berbicara.
Monika menarik napas dengan tangan mengepal saat semua pertanyaannya dijawab dengan baik. Gelisah mulai timbul di dadanya saat kembali aksi bisik-bisik antara dewan atas kepiawaian Alessa menjawab. Alessa benar-benar siap dengan materinya. Monika menggeram.
Alessa tersenyum lagi. "Ah, tentu saja, semua gagasan ini perlu bukti riset, video klip dengan konsep yang sama dengan yang saya ajukan. Semua ada niat yang baik untuk membangun rumah sakit Charlett agar lebih maju kedepannya."
Kembali para dewan menghadiahi Alessa dengan tepuk tangan. Sementara Monika? Kini rahangnya benar-benar mengencang dan kepalan tangannya mengetat. Buku-buku jarinya memutih beberapa saat.
Rapat panas ini pun usai. Alessa akhirnya terpilih menjadi direktur utama rumah sakit Charlett setelah ia mendapatkan voting terbanyak. Alessa siap menjalankan program untuk jabatan baru yang didudukinya.
Monika pun berjalan mendekat ke arah Alessa dengan tatapan angkuh. "Tidak buruk untuk pemula sepertimu Alessa." Monika tersenyum sinis di sana. "Kita lihat saja apa kau masih bisa tersenyum seperti ini? Aku harap, kamu tidak sampai depresi saat mengetahui kebenaran tentang dirimu."
Alessa tersenyum tipis lagi. "Aku rasa tidak. Yang aku takutkan kamu. Aku harap kamu tidak depresi saat tidak terpilih menjadi direktur rumah sakit Charlett."
"Apa?" Monika menggeram. Sorot matanya semakin menajam, harga dirinya seperti diinjak-injak. Ia segera meninggalkan ruangan itu dalam keadaan marah. Rencananya benar-benar gagal hari ini.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku 😍
__ADS_1
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^