Hujan Dan Kamu

Hujan Dan Kamu
CLUB MALAM


__ADS_3

💌 HUJAN DAN KAMU 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Jordan berada di sebuah club yang sering di datanginya bersama Edric. Ia memang butuh hiburan malam ini. Meleburkan diri di antara denting gelas-gelas wiski dan kepulan asap rokok. Melihat orang-orang sedang meliak-liukkan tubuh dalam irama live music dari sudut ruang. Memamerkan wajah ceria seolah-olah tak punya masalah. Memaksa selaksa bahagia merasuk ke jiwa.


"Aku mau sebotol wiski lagi." pekik Jordan sembari mengangkat botol Redemption tinggi-tinggi. Berharap segenap emosi jiwa lesap. Terserah akan menguap bersama asap, atau lenyap dilahap malam.


Matanya terlihat merah menahan semua perasaan yang membuncah. Pedih, sakit dan kecewa. Semuanya bercampur menjadi satu. Ia sendiri tidak tahu harus bagaimana lagi. Kenyataan ini terlalu menyakitkan. Jordan berusaha tersenyum untuk menguasai perasaannya. Rasa sesak di dalam dadanya tidak bisa ia gambarkan. Ini terlalu menyakitkan.


Jordan mencoba untuk bernapas dan mencoba untuk memahami. Tapi ini terlalu nyata. Rahangnya mengencang saat mengingat wajah kakeknya yang sama sekali tidak ada belas kasihan. Napasnya keluar terbata-bata. Seakan karbon dioksida tertahan di dalam dada. Bagaimana takdir hidupnya begitu kejam? Hanya ada memori-memori yang membuatnya pilu dan terluka. Jordan kembali meneguk sisa minuman keras tanpa sisa. Mungkin dengan minum, ia bisa menenangkan hatinya.


Edric yang sedari tadi melihat gelagat Jordan, memilih mendekat ke arah sahabatnya yang sedari tadi hanya duduk itu. Dia tahu Jordan pasti ada masalah.


"Hai dude, dari tadi kamu hanya diam dan tidak bergabung dengan kami? Kau ada masalah?"


Jordan mengangkat kepalanya, memilih diam dan tak menjawab. Ia hanya menghela napas panjang dan kembali menunduk.


"Bukankah itu tipemu?" ucap Edric saat seorang gadis cantik bertubuh seksi berdiri tepat di hadapan mereka.


"Hai ..." Senyum si cantik itu seketika membuat darah Jordan berdesir. Wajahnya mirip dengan Alessa. Segar dan ramah. Kecantikannya alami. Bisa dikatakan sangat cantik. Ia memiliki senyuman yang menciptakan garis mata yang imut dan manis. Alisnya tidak tebal, tapi membingkai mata dengan indah. Bibirnya tidak tipis tapi juga tidak tebal.


Tanpa malu-malu gadis cantik itu langsung mengulurkan tangannya menjabat tangan Jordan. "Nama saya Lolita."


"Lolita?" alis Jordan naik dari pangkalnya.


Jordan tampak terkejut, tetapi hanya sekejap. Tarikan bibir gadis itu kembali membentuk senyum menawan. Hangat tangan Jordan mengantarkan sensasi. Denyut-denyut liar menjalar ke sekujur tubuh gadis itu. Melihat reaksi Jordan yang membalas ramah, Edric pun tersenyum. Salah satu matanya mengedip.


"Aku tinggal, dude." Edric memilih meninggalkan Jordan yang sudah setengah mabuk. Jordan hanya menganggukkan kepalanya.


"Aku bisa duduk?"


"Ya, Lo-li-ta. Kenapa?" Ucap Jordan menggelengkan kepalanya berulang kali, Karena tak sanggup menahan sakit kepalanya lagi.


Lolita tersenyum dan kembali berkata. "Aku bisa duduk?" ucapnya sambil melihat ke arah kursi kosong.


"Silakan." Jordan menatap sekilas, lalu menundukkan kepalanya lagi.


Jam sudah menunjukan angka satu, tapi Jordan tak juga beranjak dari duduknya.


"Kau masih single?" tanya Jordan sekilas melirik gadis itu.

__ADS_1


"Dalam proses bercerai. Suamiku selingkuh." Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir gadis itu.


"Bagaimana bisa perempuan cantik dan seksi seperti kamu diduakan?" Jordan berkata sambil menatap ke arah wanita mulai dari mata sampai dada itu.


Pujian Jordan melambungkan gadis itu, lebih memabukkan dibanding alkohol. Atau ... jangan-jangan dia memang sudah mabuk?


"Ah, peduli apa! Malam ini aku bebas berkicau, melepas semua kekesalan dan bisa memanfaatkan lelaki ini." batinnya tersenyum.


"Aku juga tak menyangka. Tiba-tiba saja suamiku berkata ingin tinggal bersama kekasih gelapnya itu."


Jordan terkekeh, meneguk minuman wine dari gelasnya, lalu berkata, "Apa perempuan itu lebih cantik?"


"Entahlah. Aku belum pernah melihat. Tapi, perempuan sundal itu pasti sudah memberikan kepuasan luar biasa. Suamiku jadi sangat dingin padaku. Sampai-sampai aku tak pernah disentuhnya lagi." Kode keras terucap juga, disertai tatapan nakal ke manik mata Jordan. Tak lupa senyum genit menggoda.


Jordan hanya tersenyum sambil menggeleng, "Apa yang kau pikirkan? Aku sudah bertunangan dan aku tak pernah menginginkan wanita penggila malam sepertimu."


"Busyet... Jelas-jelas ia tahu apa yang aku pikirkan? Apa ini sebuah penolakan? Aku merasa terhina. Aku pikir lelaki ini menginginkanku dan bakal mengiyakan. Aaargh! Buyar bubar semua bayangan pergumulan penuh gairah malam ini."


"Hahahahaha." Lolita hanya tertawa hambar sambil meneguk minuman wine sampai habis. Api dalam dada harus segera dipadamkan karena begitu direndahkan. Ia merasa terhina di sini.


Jordan menarik napas panjang, lalu membakar sebatang rokok. Dihembuskannya asap ke atas. Tak ada pembicaraan setelah itu. Lolita sudah pergi meninggalkannya sendiri.


⭐⭐⭐⭐⭐


Alessa melarikan mobilnya, saat asisten perawat menghubunginya dan mengatakan Jordan tidak kembali ke rumah sakit. Saat handphonenya dilacak, ternyata Jordan berada di club malam.


Terhitung sudah dua puluh kali Alessa menelpon Jordan, tapi tetap saja dia tidak mengangkat panggilan darinya.


Jam menunjukkan pukul dua dini hari membuat Alessa sulit menghubungi Jordan. Mungkin saja, dia sudah mabuk parah sehingga tidak mendengar nada panggilan telepon dari ponselnya.


Setelah dua puluh menit Alessa berkendara, mobil terparkir disebuah club malam.


"Apa yang terjadi? Kenapa dia tiba-tiba berada di sini. Astaga benar-benar merepotkan sekali!" Dengan ragu, Alessa memasuki tempat itu dan menelan ludahnya kasar saat merasa tidak enak dengan perasaannya sendiri.


Dia berjalan perlahan, melihat pengunjung sedang menari di dance floor sambil membawa botol minuman di tangannya membuat Alessa bergidik ngeri. Apalagi, saat melihat muda-mudi yang asik berciuman tanpa memedulikan lingkungan sekitar.


"Oh my God, mataku sudah tidak suci lagi ini." Alessa yang mengusap dada kala melihat hal itu.


Dentuman musik yang keras membuat gendang telinga Alessa rasanya akan pecah. Ia sampai menggelengkan kepalanya tak habis pikir, kenapa orang-orang bisa tahan dengan musik yang menggelegar seperti ini?


Alessa mengedarkan pandangan mencari sosok yang tanpa sadar sudah membawanya ke club ini. Seumur hidup baru kali ini Alessa datang ke tempat seperti ini. Jordan belum juga terlihat oleh sorot matanya. Entah ke mana lagi dia harus melangkahkan kaki menyusuri tempat ini. Setelah lelah mencari di lantai dansa dan tidak menemukan Jordan, Alessa melangkahkan kakinya masuk ke dalam.


"Ruangan apa ini? Di sini bahkan banyak yang sedang minum. Apa itu?!" Seperti hal yang tabu saja bagi Alessa melihat bagian bar di club ini.


Saat dia terus berjalan, Alessa memicingkan matanya menemukan Jordan di sana. Ia tidak salah lagi pasti itu Jordan. Dengan memakai piama berbahan satin yang melekat ditubuhnya, membuat Alessa sedikit risih. Pasalnya, dia tidak pernah keluar rumah hanya menggunakan baju tidur. Ini terpaksa, karena Alessa tidak sempat mengganti pakaiannya lagi.


"Apa dia mabuk? Bagaimana seorang dokter yang selalu merawat orang sakit, tapi tidak bisa merawat tubuhnya sendiri." Alessa benar-benar tidak menyangka, jika Jordan yang di hormati oleh banyak orang berada di tempat seperti ini.

__ADS_1


"Jordan, apa yang kau lakukan di sini?" Alessa menaik turunkan matanya melihat lelaki itu menuangkan minuman memabukkan ke gelas, lalu menenggaknya habis dan diulangi lagi sampai membuat matanya mengernyit saat air itu masuk ke mulutnya.


"Sekarang kita pulang!" Karena suara musik yang terdengar keras, membuat Alessa berteriak agar Jordan bisa mendengarnya berbicara.


"Sayangku, kau datang?" Jordan tersenyum sambil menangkup pipi Alessa.


"Apa yang terjadi? Kenapa kamu sampai mabuk seperti ini?" Tanya Alessa masih tak habis pikir dengan tindakan Jordan.


"Aku tidak mabuk sayang, lihat aku masih bisa tersenyum."


"Kamu mabuk Jordan. Sekarang kita pulang, ya!" Alessa masih berusaha bersikap sabar. Menghadapi orang mabuk tidak semudah yang ia bayangkan.


"Pulang? Kenapa aku pulang sayang? Aku masih di sini, kita minum bersama. Ayooo.... Kasih aku minum! " Kata Jordan setengah berteriak.


"Kau mabuk... biar ku bantu!" kata Alessa memanggil seorang pelayan untuk membantunya membawa ke mobil.


Namun, Jordan menepis tangan pelayan yang hendak membantunya. "Jangan sentuh aku! aku masih mau minum!" Teriaknya.


"Sudah Jordan, jangan minum lagi!" ucapnya memegangi bahu Jordan. "Sekarang kita pulang ya," Dia sedikit memberi penekanan dengan kata-katanya. Namun, Jordan tak juga menghiraukannya.


"Huufft." Alessa menghela napas kasar, ia pusing saat ini kala melihat tingkah Jordan yang tidak seperti biasanya. Ia memilih duduk di sebelah Jordan.


Jordan tersenyum sambil menundukkan kepala ke meja. Ia merasakan kepalanya begitu sakit.


"Jordan, apa kau ada masalah?" Tanya Alessa akhirnya.


"Aku tidak ada masalah sayang. Aku lelaki kuat, hanya hatiku yang sakit." Jordan berbicara setengah mendayu dengan posisi duduk. Namun kepalanya masih tertunduk dan mata terpejam. Jordan saat ini berusaha menahan segala perasaan yang menyesakkan dadanya. Saat ini, ia sangat berantakan.


Alessa mengernyit bingung. "Jordan, apa kau baik-baik saja?" Kata Alessa kembali.


Hiks...Hiks...Hiks... Terdengar sayup-sayup suara isak tangis Jordan. Tubuh Alessa membeku saat melihat Jordan sedang menangis.


"Jordan? Kamu menangis? Apa yang terjadi?"


"Hatiku sakit Alessa. Siapa yang harus aku percayai lagi. Keluarga sudah tak lagi memperdulikan kami. Kakek yang harusnya melindungi kami. Tak lagi menganggap kami keluarga. Apakah begitu buruknya daddy, hingga sampai saat ini keluarga sangat membencinya. Kepergian daddy yang sudah dua puluh tahun tidak mengubah apapun."


Alessa masih diam di posisinya, tubuhnya terasa kaku dan tidak bisa bergerak. Ia masih mencoba mengerti apa maksud dari ucapan Jordan.


"Haaaaahhh...aku tahu daddy salah, aku tahu kesalahan daddy tak akan bisa dimaafkan. Tapi setidaknya lihat mommy yang berjuang untuk kami. Apa yang harus aku lakukan? Hati ini sakit." Jordan menepuk dadanya begitu keras.


Mengetahui arah pembicaraan Jordan. Alessa memegang pundak kekasihnya itu. "Jordan, jangan seperti itu. Suatu hari nanti, kakek Christian akan membuka hatinya untuk memaafkan uncle."


"Aku juga berharap seperti itu. Aku berharap semua akan baik-baik saja." Kata Jordan pelan. Hingga beberapa detik kemudian, ia jatuh menyamping, kepangkuan Alessa.


"Aku harap kau juga jangan pernah meninggalkan aku, Alessa. Hanya kau yang aku punya saat ini. Hanya kau yang mampu mengobati hatiku yang sakit ini." ucapnya meracau pelan, air matanya berhasil jatuh kepangkuan Alessa.


Alessa tersentak, ia mengangkat tangan dan menatap ke pangkuannya. Jordan sudah tertidur di pangkuannya. Napasnya terdengar teratur dan berhembus lembut. Alessa kemudian memanggil pelayan untuk membantunya membawa Jordan ke dalam mobil. Mereka pun meninggalkan club itu.

__ADS_1


__ADS_2