
💌 HUJAN DAN KAMU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
.
SEMENTARA DI SISI LAIN.
Pikirannya sudah terbangun dari tidur lelapnya, tapi tidak dengan tubuhnya. Tadi malam levin tertidur sudah pukul dua pagi. Levin masih malas membuka matanya.
Kriiingggg….! Kriiingggg…! Kringgggg…!
Bunyi alarm yang menggema di dalam ruangan membuat matanya mulai terbuka, serasa tidur panjang dan lelap namun kenyataannya rasa kantuk masih menguasainya. Dari balik selimut, tangannya mencari-cari jam weker yang terus berbunyi di atas nakas. Begitu Ia mendapatkan apa yang diinginkan, segera ditekannya kencang-kencang jam weker yang mengganggu tidurnya itu. Levin mengulat lalu merenggangkan otot-otot tubuhnya. Tangannya di tarik ke atas. Melewati kepala dan menyelusup di sela-sela bantal sambil dikencangkan ke atas. Ia menyipitkan mata dan melihat ke arah jam weker yang ada di atas nakas. Pukul 09.00 wib. Waktunya bersiap. Ya, hari ini jadwal Levin menemani Elana di rumah sakit. Ia berjalan lesu ke arah kamar mandi. Mengambil odol dan sikat gigi, lalu menggigitnya pelan. Ia membuka mata sedikit lebih lebar dan memandang pantulan dirinya di kaca.
"Ya Tuhan, ngantuk sekali." kepalanya tertunduk.
Namun, sepersekian detik ia mengembalikan pikirannya. Levin harus sudah siap, sebelum Liliana menghubunginya dan marah-marah lagi. Ya, beberapa hari ini, Levin memang tak pernah mengunjungi Elana ke rumah sakit karena kesibukannya. Tak butuh lama, Levin sudah selesai membersihkan tubuhnya.
Dddrrrttt..... dddrrrttt..... dddrrrttt!
Terdengar getaran ponsel milik Levin berbunyi. Levin meraih ponselnya dari atas nakas, melihat layar handphonenya, ternyata panggilan itu dari Desmond. Levin dengan cepat menggeser tanda terima dan menjawabnya.
"Hmm, ada apa Desmond?" Tanya Levin di sana. Kepalanya dimiringkan menahan handphonenya di telinganya. Sementara tangannya bergerak mengancing kemeja yang dikenakannya.
"Mereka sudah menemukan siapa- pelaku penabrak Elana, tuan."
"Heuh, mereka sudah menemukannya?" dahi Levin mengerut.
"Sudah, tuan."
"Baiklah, hari ini saya ingin bertemu dengannya."
"Saya sudah memerintahkan mereka untuk membawanya ke tempat yang aman."
"Hmmm...amankan dia, tunggu sampai aku datang. Aku ingin tahu apa tujuannya. Berani sekali dia mencelakai Elana."
"Baik tuan." Desmond menjawabnya dengan cepat.
"Sekarang dia ada dimana?"
"Saya akan mengirimkan alamatnya lewat pesan, tuan."
"Hmm. Pastikan semuanya aman dan terkendali. Saya tidak ingin media mencium ini."
"Pasti tuan. Semuanya akan berjalan baik."
"Pekerjaan yang bagus." Levin menunduk sambil memijit pelipisnya. "Kau sudah di sana?" Tanya Levin kemudian.
"Saya masih mengurus sisa pekerjaan kemarin, tuan. Saya akan segera menyusul anda ke sana."
"Oke, aku langsung ke sana."
"Atau saya langsung ke sana menjemput anda tuan?"
"Tidak perlu, aku bisa sendiri." Potong Levin.
__ADS_1
"Baik tuan."
"Bagaimana pertemuanmu dengan pak Nuel?Apa semua berjalan lancar?"
Desmond tersenyum saat mendengar itu. "Semuanya berjalan lancar, tuan. Apalagi tamu dari London bisa menggunakan bahasa kita. Semuanya aman dan menyetujui banding profit yang kita ajukan. Jadi tidak salah tuan Horald bisa dengan cepat memenangkan negosiasi ini. Beliau sama seperti anda, tuan."
"Baiklah, terima kasih Desmond. Aku bisa mengandalkanmu."
"Sama-sama, tuan." Jawab Desmond tersenyum bangga pada dirinya sendiri.
Akhir-akhir ini pak direktur selalu memuji kinerjanya. Ada kebahagiaan tersendiri yang tak bisa ia gambarkan di sana. Desmond adalah salah satu asisten kepercayaan Levin. Ia dipilih langsung oleh perusahaan dan di sekolahkan tinggi-tinggi oleh keluarga Horald. Desmond sendiri mengangkat sumpah ketika ia terpilih menjadi orang kepercayaan perusahaan Horald company. Sampai saat ini Desmond menghabiskan seluruh hidupnya dengan kejujuran, dedikasi, dan rasa hormat untuk keluarga Horald.
Sementara Levin sudah mematikan handphone.
TING!
Satu pesan masuk dari Desmond. Levin membaca pesan itu sekilas. Lalu memasukkan ponselnya kantong celananya. Ia langsung keluar dari kamar dan menuruni anak tangga. Sudah beberapa hari ini, Levin tinggal di kediaman Horald. Ia tersenyum saat melihat Daddy dan Mommy-nya sedang menikmati sarapannya.
"Sudah bangun sayang? kau mau sarapan apa?" tanya Elisabeth bangun dari duduknya untuk mengambil piring buat Levin.
"Aku mau sarapan seperti biasa mom." Ia tersenyum menatap ke arah Elisabeth.
"Ambil ini," ucap Elisabet memberikan sarapan untuk putranya. Ia kembali duduk dan menikmati sarapannya. "Kita langsung ke rumah sakit ya."
"Maaf mom, aku tidak bisa."
Leonardo langsung mengangkat wajahnya menatap ke arah Levin. "Apa hari libur juga kau tetap bekerja?"
Levin tersenyum samar, lalu mengambil air putih di sampingnya. Meneguknya pelan dan kemudian memotong roti dengan pisau lalu memasukkan potongan roti itu ke mulutnya. "Desmond sudah menemukan siapa pelaku penabrak Elana, jadi aku ingin bertemu dengan pria itu? Setelah itu saya kerumah sakit." Kata Levin kemudian.
"Kamu serius Levin? Bukankah kasus ini sudah ditutup polisi? Karena yang saya dengar tidak ada saksi mata yang melihat saat kejadian itu."
"Hmmm, benar mom, tapi Desmond bisa menemukannya."
"Sekarang makanlah dulu," kata Elisabeth tersenyum.
Levin hanya menganggukkan kepalanya. Mereka menikmati sarapannya dalam tenang dan melakukan percakapan-percakapan kecil. Tak beberapa lama, Levin tersenyum melepaskan sendoknya secara terbalik. Menandakan ia sudah selesai sarapannya. Ia mengusap mulutnya dengan tissue, lalu bangun dari duduknya.
"Sepertinya aku harus pergi,"
"Oke, sampai bertemu di rumah sakit sayang."
"Baik mom."
"Hati-hati Levin." seru Elisabeth.
Levin mengangguk dan melangkah meninggalkan dapur. Ia hanya melambaikan tangan tanpa membalikkan badannya. Tak ingin membuang waktu, Levin langsung masuk ke dalam mobilnya. Ia menyetting GPS di mobil. Alamat yang di kirim Desmond lewat pesan WhatsApp tadi.
⭐⭐⭐⭐⭐
SEMENTARA ITU.
Tubuh seorang pria terkulai lemas, ia mendapat siksaan karena tidak mengakui perbuatannya. Ia di kurung di dalam gudang yang jauh dari pemukiman warga. Posisi tangannya diikat kuat. Kemarahan dua orang pria itu meledak saat pelaku tabrakan itu tak juga bersuara. Mereka geram dan langsung memberi pelajaran kepada pria itu. Namun pria itu sama sekali tidak takut. Ia bahkan siap mati untuk mempertahankan diamnya.
SATU JAM SETELAH PINGSAN.
Pria itu merasakan pusing yang sangat luar biasa. Pelan-pelan Ia membuka matanya lagi. Seluruh tubuhnya sakit, kakinya terluka. Di sekitar pergelangan tangannya menimbulkan rona merah dan biru. Lukanya perih terasa begitu sakit.
"Aaarghhhhh." Pria itu meraung kesakitan saat merasakan sakit yang luar biasa pada bagian kakinya yang terluka karena benda tajam.
Penampilannya begitu berantakan. Ia hanya bisa menarik napasnya dalam-dalam dan terengah. Ruangan ini begitu pengap dan lembab, membuat pria itu tak nyaman. Pria itu mengedarkan pandangannya, semua terasa gelap. Ia benar-benar tidak bisa keluar dari sini, tidak ada jendela. Hanya ada pintu dan jelas dia tahu pintu itu terkunci.
__ADS_1
Bunyi kunci pintu dibuka dan pintu tiba tiba terbuka dengan kasar.
BRAKKKK
Sontak pria itu mengerjap karena begitu terkejut. Pria bertubuh besar penuh dengan tato di lengannya, menghidupkan saklar lampu. Mata pria itu memicing dan menyesuaikan cahaya yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan itu.
"Sepertinya kau betah tinggal di sini." Ucap pria itu santai dan tenang.
Pria pelaku tabrak lari itu melemparkan tatapan tajamnya. Ia memilih diam dan malas untuk menjawabnya.
"Lebih baik kau mengakui semuanya. Dari pada tubuhmu disiksa seperti ini. Apa kau tidak kasihan pada istrimu yang tengah mengandung?"
Senyum dibibir pria itu melengkung ke atas. "Terserah kalian mau mengatakan apa, aku akan tetap diam dan tidak mengatakan apa-apa."
Pria bertato itu kemudian tersenyum sinis, Ia memberikan kode kepada temannya yang membawa satu piring nasi berisi lauk untuk sarapan pria itu. Meletakkan piring itu di lantai dan ia dengan sengaja menendang pelan piring itu, hingga tergeser sampai ke kakinya.
"Aku masih berbaik hati memberikanmu makan, besok hari terakhir mu disini. Sebaiknya kita berdamai dan jangan mempersulit keadaan, aku tidak ingin kau memancing amarahku. Mengerti! " kata pria bertato itu menekan setiap perkataannya.
"Cih...Aku tidak takut mati." Kata pria itu menatap sinis.
"Aku tidak ingin berdebat denganmu. Kematian hanya ada di tangan bos yang membayar kami." Ucap pria bertato itu seraya tertawa. "Jadi sekarang makan ini!" Ia kembali menendang piring itu dengan kasar agar mendekat ke kaki lelaki itu.
"Ingat kalian yang akan mati di tanganku."
Satu pukulan kuat mendarat di pipinya. Hingga menimbulkan keram dan pandangannya berkunang-kunang.
"Jaga ucapanmu." Jemari kuat pria bertato itu mencengkeram bajunya.
"Aku berharap kalian secepatnya di kirim ke neraka." Tidak takut sama sekali, ia bahkan tersenyum menyeringai.
Mendengar itu, membuat emosi pria bertato tersulut, ia semakin mencengkram pundak lelaki itu semakin kuat hingga terasa sangat sakit.
"Jaga mulutmu, sebelum aku merobeknya." Katanya sambil melepaskan tangannya. Mereka pun lalu meninggalkan ruangan itu. Sebelum pria itu menutup pintu, mereka melihat tuan Horald sedang melangkah masuk ke dalam ruangan itu. Dengan cepat dua orang pria itu menundukkan kepalanya memberi hormat.
"Selamat pagi tuan! Maaf, kami tidak tahu kedatangan anda."
"Dimana dia?" Tanya Levin tanpa basa-basi. Tangannya ia memasukkan ke dalam kantong celananya. Rahangnya terlihat bergaris tegas di sana.
"Di dalam tuan." Ucap pria itu dengan cepat.
"Saya ingin masuk,"
"Baik tuan." Ucap mereka tegas dan langsung memberikan jalan untuk Levin. Saat melihat keadaan pria itu, Levin tersenyum sinis.
Mereka langsung memberikan kursi kepada Levin dan mempersilakannya duduk di sana.
"Silakan duduk, tuan."
Levin menarik napas dalam-dalam, lalu menatap pria itu yang terus menunduk.
"Aku tidak ingin membuang waktuku dengan sia-sia. Apakah kamu orang yang menabrak Elana di depan sekolah St Maria?"
DEG!
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku 😍
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^