Hujan Dan Kamu

Hujan Dan Kamu
KEMBALI BEKERJA


__ADS_3

💌 HUJAN DAN KAMU 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


.


Bagi Alessa batal menikah ini berkah meskipun hari H sudah di depan mata.Keputusannya sudah bulat. Ia berusaha tersenyum untuk menyembunyikan tekanan. Alessa memang belum menyampaikan pembatalan pernikahannya kepada orang tuanya. Dia hanya meminta ayah dan ibunya datang ke kota A dan disinilah Alessa mengatakan semuanya. Alessa tahu, peristiwa ini akan menjadi aib bagi keluarganya. Karena pihak keluarga sudah menyebarkan undangan ke beberapa kerabat dan rekan juga.


Alessa tidak menyangka waktu akan berjalan secepat ini. Ayah dan ibunya sudah tiba di rumah. Alessa menyambutnya di depan pintu. Ia tersenyum memeluk ayah dan ibunya bergantian.


"Hhmmmm wangi sekali." Jenny mengendus bau sedap dari arah dapur.


"Aku lagi masak bu."


Jenny mengerutkan dahinya. "Kamu sedang masak?" tanya Jenny memastikan pendengarannya.


Alessa tersenyum sambil mengangguk.


Jenny m*ndesah. "Seharusnya kau tak perlu repot-repot menyiapkannya. Kita bisa tinggal pesan di restoran saja, bukankah begitu sayang?" Ucapnya kepada suaminya yang lebih dulu melangkah masuk ke dalam rumah. Jenny menggeleng saat melihat punggung suaminya sudah menghilang dibalik pintu kamar.


Alessa terkekeh. "Bagaimana mungkin ibu bisa beranggapan memasak itu repot. Aku tidak merasa repot untuk menyambut kedatangan ayah dan ibu. Sekarang mandilah dulu. Ada yang ingin aku bicarakan."


Jenny mengangguk setuju. "Ya. Memang banyak yang harus kita bicarakan."


Dengan tarikan napas panjang Alessa tersenyum. "Mandilah, habis itu langsung ke dapur, iya?"


Tak butuh lama, Jenny dan Alexander sudah selesai membersihkan tubuhnya. Mereka berjalan keluar dari kamar menuju dapur.


"Aromanya membuat ayah lapar, sayang." Alexander mendekat ke arah meja makan.


Alessa tersenyum, "Semua ini aku siapkan untuk ayah dan ibu. Sekarang duduklah!"


"Dimana Jordan?"


Alessa tak menjawab. Ia hanya tersenyum sambil membawa hasil karyanya di meja panjang itu. Mengeluarkan asap yang mengepul dengan wangi bawang dan saus yang menggugah selera.


"Hmmmm, ini benar-benar wangi sekali." Ucap Alexander menatap semua makanan yang tersaji di atas meja.


"Benarkah? Kalau begitu sekarang kita makan."


"Ya. aku sudah tidak sabar ingin menikmati makanan buatan anak ibu." Kata Jenny menarik kursinya dan duduk di sana.


Setelah melakukan doa bersama, seperti yang biasa mereka lakukan. Mereka mulai menikmati makanannya dengan tenang.


"Kau tidak menjawab pertanyaan ibu."

__ADS_1


Alessa mengangkat wajahnya menatap ke arah Jenny. "Heuh? pertanyaan apa bu?"


"Dimana Jordan, apa dia masih bekerja?"


"Hmmm." Alessa mengangguk sambil mengunyah makanan di mulutnya. "Banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya di rumah sakit." Kata Alessa berbohong.


"Jordan terlalu banyak alasan. Apa dia tidak bisa mengalihkan pekerjaannya ke dokter lain? Pernikahan kalian tinggal hitungan hari tapi dia masih sibuk bekerja."


"Yang namanya Dokter. Mereka memang harus memprioritaskan pekerjaannya." Jawab Alexander.


"Bagaimana rasanya ayah?" Alessa mencondongkan badannya ke depan untuk mengalihkan pembicaraan.


"Sepertinya ada yang berbeda dalam masakanmu hari ini." Ucap Alexander berusaha mencari tahu rasa dari makanan yang telah masuk ke dalam mulutnya.


"Tentu saja ada yang berbeda, ayah. Aku memasaknya dengan minyak Zaitun. Karena minyak ini bagus untuk kesehatan jantung dan dipercaya bisa mencegah terjadi serangan jantung juga." Kata Alessa dengan senyuman indahnya. Ia kembali memasukkan satu suapan sendok makanan ke dalam mulutnya.


Alexander mengangguk, menikmati beberapa makanan yang tersaji. Begitu nikmat, apalagi bersama dengan orang-orang yang disayanginya. Makan malam pun usai sudah. Mereka masih duduk di sana sambil bercerita.


Alessa mencondongkan tubuhnya dan menaikkan sikunya ke atas meja. Tangannya mengunci. Dagunya diletakkan di atas punggung tangannya. Ia melihat ke arah ayah dan ibunya lalu kembali tersenyum.


"Bukankah ada yang ingin kau bicarakan sayang?" tanya Jenny.


"Apa kau butuh biaya? Ayah bisa menyiapkan hari ini juga." kata Alexander menimpali.


Alessa menggeleng sendu. Ia butuh waktu untuk mengatakan semuanya. Alessa menarik napas dalam-dalam lalu menatap ke arah ayah dan ibunya secara bergantian.


"Ayah, pernikahanku dengan Jordan tidak bisa dilanjutkan." Ucap Alessa tiba-tiba membuat dua orang paruh baya itu, mengernyit dan saling berpandangan.


"Apa maksudmu tidak ingin menikah dengan Jordan? Kenapa kau berubah pikiran? Bukankah kau mencintai Jordan?" Jenny menghujani pertanyaan. Ia juga tak bisa menutupi rasa terkejutnya. Matanya membulat nanar dengan mulut sedikit terbuka.


"Aku membatalkan pernikahan ini atas keinginanku sendiri." ucap Alessa to the point. Ia mengarahkan pandangan serius kepada ke arah Alexander dan Jenny.


Begitu kata-kata itu lolos Alessa ucapkan. Jenny langsung memandang ke arah suaminya. Wajahnya terlihat terkejut di sana. Begitu juga dengan Alexander, ia nampak menarik napas dan menahannya di dada. Ia melepaskan cangkir gelas yang dipegangnya.


"Membatalkan pernikahan?" tanya Alexander meyakinkan pendengarannya.


"Hmmm, aku tak ingin menikah dengan Jordan" ucapnya dengan yakin.


"Kenapa sayang? Apa alasannya? Bukankah kau mencintai Jordan?" Tanya Jenny.


Sementara Alexander menarik lagi napasnya dan mencoba menstabilkannya dengan baik. Tangannya mengepal erat.


"Karena aku tak membangun rumah tangga dengan pria pembohong."


"Apa maksudmu?" Jenny meninggikan suaranya.


Alexander hanya diam karena ia masih sangat shock. Alexander sempat mendengar isu itu. Namun, ia mencoba menepisnya karena ia berpikir rumah sakit Charlett sedang diperhatikan publik. Banyak cara orang untuk menjatuhkan rumah sakit Charlett. Tapi kini semua terjawab sudah. Ia tidak menyangka Alessa yang membatalkan sendiri pernikahannya.


"Apa kau sungguh-sungguh tak ingin menikah dengan Jordan?" Tanya Alexander dan alisnya mengerut serius.


Alessa terdiam sejenak, ia menaruh tangannya di atas pangkuan dan menunduk lesu. "Ya ayah. Aku tak bisa menikahi Jordan. Aku minta maaf ayah."

__ADS_1


Alexander memejamkan matanya sambil melepas napasnya yang tertahan. Kabar ini membuatnya terkejut.


"Tapi kenapa kau tak ingin menikah dengan jordan. Apa alasannya?" Kata Jenny lagi.


"Tapi kenapa tidak dari awal kau menolak lamaran Jordan. Kenapa harus di hari H kau membatalkan pernikahan ini?" tanya Alexander menatap Alessa dengan serius. Tatapannya penuh penghakiman. Tajam dan mendominasi. Alexander kembali menarik napasnya dan berkata. "Apa kau mencintai pria lain?"


"Tidak ayah. Aku punya alasan untuk membatalkan pernikahan ini." ucap Alessa dengan mata berkaca-kaca


Jenny bangun dari duduknya. "Tapi apa yang membuatmu membatalkan pernikahan ini jika tidak ada lelaki lain. Apa Jordan memiliki wanita lain?" Tanya Jenny tidak sabaran.


Mata Alessa mengedip cepat dan dengan cepat air matanya tergelincir membahasi pipinya. "Jordan sudah memiliki anak." Ucap Alessa saat itu juga tangisannya pecah. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Apa??????" dua orang paruh baya itu begitu terkejut.


Jenny menarik napas dalam-dalam dan memegang tangan suaminya, agar bisa mengendalikan emosinya. Namun sepertinya Alexander tidak bisa menahan segala gejolak di dalam dadanya. "Apa maksudmu Jordan sudah menikah?"


Alessa menggeleng. "Jordan memiliki hubungan dengan mantan pacarnya dan mereka memiliki anak. Wanita itu tidak lain adalah Monika, ayah." Alessa menangis lagi.


Alexander dan Jenny begitu shock. Tubuh mereka lemas dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi jika kenyataannya seperti ini. Jenny menghela napas panjang. Ia sama sekali tak memberi komentar. Ia kembali duduk dan hanya membiarkan Alessa menangis. Membatalkan pernikahan adalah keputusan yang sangat tepat.


Mereka larut dalam pikirannya masing-masing. Sementara Alexander keluar-masuk ruangan, gelisah. Ayahnya tampak menahan amarah. Kejengkelannya dipendam dengan diam kecut di tengah pendapa. Ini adalah urusan harga diri keluarga.


⭐⭐⭐⭐⭐⭐


Pagi ini memiliki embun yang menetes tanpa harus di minta. Kebahagiaan itu memiliki arti ketulusan tanpa direncanakan. Sama halnya hati, dia memiliki cinta yang tulus dari orang yang menyayanginya. Walau terkadang hidupnya menyesakkan. Itulah yang dirasakan Alessa saat ini.


Semenjak kedatangan ayah dan ibunya. Alessa seperti mendapatkan kekuatan baru. Ia bisa bangkit dari keterpurukan. Awal pagi dengan status single. Pagi ini waktu terbaik yang Alessa miliki, ketika pagi dia merasa, ini seperti dunianya. Alessa tersenyum sendu sambil melangkah menuju balkon kamarnya. Ia membuka tangannya lebar-lebar. Menghirup oksigen sebanyak-banyaknya dari mulut.


"Ehmmm pagi yang sejuk. Begitu indah, sepi, dan damai."


"Aku akan belajar menerima dan mencintai diriku sendiri, tanpa perlu pengesahan dari siapapun." Alessa memejamkan matanya dan mendongak ke atas sambil mengembangkan bibirnya untuk tersenyum.


Ia terdiam sesaat, lalu menarik napas pelan. Alessa melipat tangannya di depan dada dan menutup matanya.


"Aku bersyukur buat hari ini. Aku masih diberikan nafas kehidupan. Thanks God." Perlahan-lahan Alessa membuka matanya dan tersenyum menatap awan yang terlihat putih dan halus seperti kapas.


"Aku hanya ingin hidup seperti awan. Bebas dan tenang." Lirih Alessa tersenyum.


Alessa pun kembali masuk dan bersiap. Dia kembali bekerja. Jadwalnya hari ini adalah memeriksa pasiennya Elana. Ia merindukan anak kecil itu.


Saat memasuki lobby rumah sakit. Alessa melihat ada keganjilan. Semua mata tertuju padanya. Karyawan yang melihat kedatangannya tiba-tiba berdiri di sana, tampak berkumpul mengadakan rapat khusus. Ekspresi mereka tampak serius. Tentunya saling mengeluarkan pendapat. Alessa bisa mengerti itu. Ini mungkin karena pembatalan pernikahannya. Ia hanya tersenyum dan terus melangkah menuju ruangannya.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku 😍


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^

__ADS_1


__ADS_2