
💌 HUJAN DAN KAMU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Jordan berdiri tidak jauh dari Alessa dan Levin. Ia menatap lurus tanpa ekspresi. Alessa belum mengetahui keberadaannya. Jordan memang merahasiakan kehadirannya di acara ulang tahun Horald company. Ia ingin membuktikan sesuatu.
Sebelumnya dikediaman Dev. Setelah menghabisi seluruh keluarga Dev. Jordan langsung memerintahkan anak buahnya untuk membereskan kekacauan yang terjadi dikediaman Dev.
Saat ingin meninggalkan ruangan itu, tiba-tiba satu pesan masuk ke dalam handphonenya. Dahi Jordan mengernyit, karena nomor ini hanya Jian yang tahu.
"Apa mommy sakit lagi?" batin Jordan dengan cepat membukanya.
Seketika jantungnya terpukul kencang dan dan langkahnya langsung berhenti. Tangannya terasa dingin. Seakan ada aliran listrik yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Foto-foto Alessa dengan Levin terlihat jelas di sana setelah Jordan membukanya.
Jordan berusaha menenangkan diri. Ia menarik napas dalam, meski kerutan dahi tak pernah pudar. Dalam foto itu, Alessa memberikan perhatiannya kepada seorang anak kecil, ia memberikan minuman dan mengusap sisa makanan yang ada di bibir anak kecil itu. Mereka tersenyum bahagia, layaknya seperti keluarga.
"Siapa anak ini? kenapa Alessa begitu dekat dengan anak ini?"
Api cemburu membakarnya habis, napas Jordan keluar terbata-bata. Debaran jantungnya semakin terpukul kencang. Jordan memegang dahinya, mencoba untuk bernapas, mencoba untuk memahami kembali. Ia berusaha menenangkan diri dan ingin tetap tenang. Dia tidak ingin kehilangan Alessa.
"Jadi dugaanku benar, Levin menyukai Alessa."
Jordan mencoba mengembalikan seluruh kesadarannya. Ia menarik napas dalam-dalam. Lalu melepaskan napas panjang dengan mulut yang membulat, seperti melakukan meditasi. Setelah dirasanya cukup tenang. Ia lalu melangkah meninggalkan kediaman Dev. Sebelum orang tahu apa yang terjadi di sana.
Jian, adik Jordan melangkah mendekat ke arah kakaknya itu. Ia mengikuti Jordan saat tahu Alessa ternyata berada di acara ulang tahun perusahaan ternama di kota ini. Jian tidak ingin kakaknya membuat hal bodoh, sama halnya ia lakukannya kepada mantan kekasihnya dulu. Ia melirik sekilas ke arah Jordan yang diam tanpa ekspresi.
"Seharusnya kamu tanyakan baik-baik kepada Alessa, kak." ucap Jian menatap lurus.
Jordan tidak menjawabnya, ia hanya terus menatap ke arah Alessa.
"Aku rasa pria itu mencintai Alessa." Kata Jian melirik sekilas ke arah Jordan.
Jordan berdecak kesal. Ia membuang napasnya dengan kasar. "Aku tidak akan izinkan itu."
"Jangan katakan kamu datang kesini mau membuat kekacauan?"
"Aku sudah bilang, jangan ikut campur urusanku." Kata Jordan menekan setiap kalimatnya.
Dahinya mengernyit saat melihat Levin mendekat ke arah Alessa membawakan dua gelas wine. Jordan menarik napasnya dengan berat. Jian dapat merasakan itu, ia melirik kakaknya sedang mengeluarkan handphone dari saku celananya. Jordan dengan cepat mengirimkan pesan pada Alessa. Berharap Alessa berkata jujur. Minimal itu saja yang dipintanya saat ini.
"Sayang kamu dimana?"
Pesan terkirim dan Jordan menunggu dengan cemas. Alessa yang sedang memunggunginya nampak melihat handphone. Jordan dapat melihat dengan jelas gerak-gerik Alessa. Ia menelan salivanya menunggu. Jika Alessa ternyata berbohong, ia harus melakukan sesuatu. Jordan memenangkan dirinya. Entah mengapa, ia begitu takut kehilangan Alessa. Dengan perlahan Jordan mengangkat handphonenya. Ia pun membuka pesan balasan dari Alessa dengan jantung yang terus memukul kencang.
"Oh, maaf Jordan. Aku lagi di rumah sakit. Ada beberapa pasien kecelakaan masuk hari ini. Jadi aku sangat sibuk sekali. Kamu sudah makan?"
__ADS_1
Jordan membaca pesan yang dikirimkan Alessa dengan kegeraman yang terkumpul di dalam dada. Harapannya adalah Alessa berkata jujur. Namun, pesan itu meruntuhkan semuanya. Apakah Alessa berbohong demi lelaki itu?
Mata Jordan mengedip cepat. Tarikan napas panjangnya seakan tak mampu melewati hidungnya lagi. Apalagi Alessa tersenyum menyambut minuman yang diberikan Levin. Sungguh Jordan tak terima akan hal itu. Tak tahan lagi dengan semua perasaan yang bergejolak dengan cepat Jordan melangkah menuju podium.
"Kak apa yang kau lakukan?" Wajah Jian mengerut ingin menangis. Ia tak mampu menahan Jordan. Ia hanya membuang napas dan memilih meninggalkan tempat itu. Untuk saat ini, biarkan Jordan melakukan apa yang dia inginkan.
Jordan terus melangkah diam tanpa ekspresi. Jordan kembali menarik napas untuk memendam emosi. Ia naik ke podium dengan wajah tenang. Namun, dibalik dinginnya aura itu, orang yang melihatnya tidak tahu, kalau pria ini adalah seorang yang tengah penuh dengan penuh rasa amarah. Meski sudah bersikap tenang. Jantungnya masih memukul kencang. Ia tidak bisa menunggu lagi. Hari ini, Jordan harus melakukan sesuatu. Agar semua orang tahu, bahwa Alessa adalah miliknya, hanyalah miliknya.
Tiba-tiba lampu berubah menjadi temaram dan semua tamu hening. Lampu sorot dari berbagai arah tertuju ke podium. Jordan berdiri mantap di depan podium. Alessa sendiri begitu terkejut saat melihat siapa pria yang berdiri di atas podium itu.
"JORDAN?" ucapnya tanpa mengeluarkan suara. Jantungnya berdetak kencang di dalam rongga dadanya.
"Kenapa Jordan ada di sini?"
"Pesan tadi?" Alessa langsung membelalak dan mulut yang merekah terbuka. Ia bergeming kaku menyadari sesuatu. Perasaannya tiba-tiba tidak enak.
Sementara Levin diam tanpa ekspresi di sana. Matanya menatap lurus sambil menyesap wine yang ada di tangannya. Jordan meraih sebuah microfon dari MC. ia berdiri di depan tamu undangan yang masih berada di sana. Semua tamu undangan diam. Jordan seperti melakukan ritualnya menghembuskan napasnya lewat mulut dan mencoba lebih tenang. Lalu Ia pun berbicara.
"Oke, sebelum saya mempersembahkan lagu. Saya ingin mengucapkan selamat ulang tahun buat perusahaan Horald company. Semoga dengan bertambahnya usia dari perusahaan ini menjadikan perusahaan ini semakin maju dan berjaya. Memiliki kualitas pelayanan terbaik dan mengedepankan visi dan misi. Beri tepuk tangan yang meriah untuk kesuksesan Horald company." Kata Jordan dengan suara nyaring dan melihat ke arah Levin.
Terdengar tepuk tangan memenuhi ruangan dan Jordan tersenyum penuh arti di sana.
"Baiklah, di sini saya mempersembahkan sebuah lagu untuk wanita yang selalu membuat hidupku lebih berwarna. Semoga kalian menikmatinya." ucap Jordan tersenyum.
Alessa menundukkan kepalanya sejenak, melirik sekilas ke arah Levin yang diam sambil meneguk wine dari gelas bening berkaki itu. Entah apa yang dipikirkan Levin saat ini.
Terdengar dentingan piano, membuat semua orang terdiam dan fokus menikmati alunan musik dari piano yang dibawakan salah satu pianis yang khusus diundang. Jari jemari yang dimainkan di atas tuts melantunkan nada musik dari piano. Alessa masih shock di sana. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Tangannya mengepal erat untuk menutupi rasa gugupnya.
Jordan pun mulai bernyanyi, menghayati setiap bait lagu yang ia nyanyikan.
Feel like I've had long enough with you
Forget the world now we won't let them see
But there's one thing left to do
Now that the weight has lifted
Love has surely shifted my way
Marry Me
Today and every day
Marry Me
If I ever get the nerve to say
Hello in this cafe
Say you will
__ADS_1
Mm-hmm
Say you will
Mm-hmm
Alessa sama sekali tak berekspresi apa-apa. Tidak seperti wanita yang merasakan indahnya cinta saat diberi kejutan seperti ini. Walau ia tahu makna lagu ya dinyanyikan Jordan begitu mendalam.
Together can never be close enough for me
Feel like I am close enough to you
You wear white and I'll wear out the words I love
And you're beautiful
Now that the wait is over
And love and has finally shown her my way
Marry me
Today and every day
Marry me
If I ever get the nerve to say hello in this cafe
Say you will
Mm-hmm
Jordan mulai berjalan mendekati Alessa , ia menebarkan senyumannya. Ia memang sengaja melakukan itu agar Levin tahu bahwa Alessa adalah miliknya. Semua bertepuk tangan ketika Jordan melangkah pelan dan berdiri dihadapannya Alessa.
Alessa hanya bisa menarik napas gugup saat semua mata tertuju padanya. Perasannya saat ini campur aduk. Keringat dingin mulai membasahi dahinya. Padahal suhu ruangan sudah begitu dingin. Alessa menutup mulutnya saat Jordan berlutut dihadapannya. Dentingan piano mulai mengalun sendu. Seakan mengiringi perasaan Jordan saat ini untuk mengatakan perasaannya. Disaksikan semua tamu undangan.
" Aku sudah menunggu saat ini untuk waktu yang lama. Cinta berkali-kali pada orang yang sama. Yang kulakukan semua ini hanya tentangmu. Kamu yang menjadi sumber semangatku. Dan untukmu aku bermimpi sukses di sepanjang hari. Aku ingin kau menjadi yang pertama dan yang terakhir dalam hidupku. Yang selalu ada di saat aku membuka mata di pagi hari?"
Jordan mengeluarkan sebuah kotak merah kecil dari kantong celananya. Dan membuka kotak itu dan menunjukkan kepada Alessa.
"Will you marry me?" Kata Jordan menatap manik mata Alessa begitu dalam.
Alessa lagi-lagi menutup mulutnya. Ia mencoba menarik napas dalam-dalam dan mendesah dalam mulutnya.
"Terima....terima...." ucap para tamu undangan di sana.
Sementara Levin tersenyum samar. Posisinya begitu santai di sana. Salah satu tangannya ia memasukkan ke dalam kantong celananya. Entah mimpi apa ia tadi malam, hingga melihat pemandangan yang sama sekali tak diharapkan olehnya.
"Alessa, maukah kau menikah denganku?" Ucap Jordan kembali.
Alessa kembali menarik napasnya. Setelah cukup tenang, ia membalas menatap Jordan dan mengangguk pelan.
__ADS_1
Saat Alessa menerimanya. Semua bertepuk tangan. Tapi tidak dengan Levin. Ia hanya diam terpaku di tempat. Levin membuang napasnya dengan lesu, pasrah seakan melepaskan rasa cintanya. Ia berusaha menarik oksigen sebanyak-banyaknya. Namun, rasa sesak itu seakan menghimpit dadanya, membuat ia sulit bernapas. Perlahan-lahan Levin meninggalkan tempat itu.
Jordan tersenyum dan langsung memasangkan cincin itu ke jari manis Alessa. Dengan satu gerakan Jordan memeluk tubuh Alessa. Lalu mengecup erat puncak kepala Alessa. Sudut bibirnya melengkung ke atas saat melihat punggung Levin meninggalkan ruangan itu.