Hujan Dan Kamu

Hujan Dan Kamu
KEHILANGAN


__ADS_3

💌 HUJAN DAN KAMU 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


.


BEBERAPA HARI TELAH BERLALU.


Setelah makan siang, Levin kembali ke kantor.


Begitu masuk ruang CEO, Ia langsung berjalan menuju kursi kekuasaannya. Sementara Desmond langsung pergi ke pantry untuk membuatkan kopi pahit untuk bosnya. Lalu ikut masuk ke dalam ruangan itu.


"Tuan, ini Kopi anda," ucap Desmond menyodorkan satu cangkir kopi pahit yang sudah disediakannya.


"Terima kasih." Ucap Levin singkat lalu memegang tabletnya untuk mengecek beberapa email penting.


Sementara Desmond berdiri tegap tidak jauh dari meja pak direktur. "Izinkan saya membaca Jadwal anda berikutnya tuan," ucap Desmond dengan sopan.


"Hmm, silakan." Sahut Levin sambil fokus dengan tabletnya. Ia tidak memandang Desmond.


Desmond mengembuskan napas sebelum membaca jadwal berikutnya. "Jam dua nanti ada meeting mingguan, bila waktu memungkinkan akan di arrange untuk lanjutan meeting evaluasi yang masih tertunda. Dan Sore ini, anda akan mengunjungi makam Elana." Desmond mengigit bibir bawahnya saat membacakan jadwal terakhir bosnya itu.


Saat nama Elana disebut, Levin menghentikan kegiatannya. Ia diam sesaat. Sudah satu bulan kepergian Elana. Rasa bersalah kembali menggerogoti hatinya. Levin memejamkan matanya sesaat, lalu kemudian ia berbicara lagi.


"Lanjut!"


"Soal undangan dari rumah sakit Charlett. Anda diminta tuan Horald untuk menghadirinya, tuan." Ucap Desmond sedikit ragu


Dahi Levin mengernyit. "Rumah sakit Charlett? Aku tidak pernah mendengar nama itu."


"Rumah sakit itu berada di kota A, tuan."


"Maksudmu diluar kota?"


"Benar, tuan." Jawab Desmond dengan cepat.


Levin lagi-lagi membuang napasnya dengan kasar. "Kenapa daddy memintaku memenuhi undangan itu?" Tanya Levin tak habis pikir dengan sikap Daddy-nya itu.


"Saya juga tidak tahu tuan."


"Kapan undangan itu?"


"Minggu depan tuan."


"Baiklah kalau begitu."


"Apa ada yang ingin anda tambahkan, tuan?"

__ADS_1


"Tidak ada, semuanya sudah oke. Nanti ingatkan saya lagi soal rapat itu." ucapnya tanpa ekspresi.


"Baik tuan," Desmond menunduk. "Apa, ada lagi yang bisa saya bantu, tuan?"


Levin memegang dagunya, lalu menatap ke arah Desmond. "Bagaimana soal yang aku minta terakhir kali? Apa kau sudah mencari tahu?"


Desmond menghela napas panjang. "Maaf tuan, sampai saat ini saya belum menemukan Samantha." Ucapnya sedikit menunduk. Ia merasa bersalah kepada bosnya itu. Ini adalah soal wanita yang pernah ditemuinya di mesin minuman otomatis. Samantha ternyata sahabat dari wanita yang dicintai bosnya itu.


Tangan Levin mengepal. "Bukankah kau pintar dalam hal ini, Desmond?" Mata Levin memicing tajam menatap ke arah Desmond yang hanya menunduk.


"Maaf tuan, saya akan berusaha mencari tahu keberadaan Samantha."


"Baiklah, saya tunggu secepatnya! Kau bisa keluar."


"Kalau begitu saya permisi tuan," Desmond menundukkan kepalanya untuk memberi hormat. Lalu memutar badannya untuk meninggalkan ruangan itu.


"Tunggu Desmond!"


Desmond dengan cepat memutar badannya. "Ya, tuan? Ada yang bisa saya bantu?"


"Bagaimana soal bunga yang akan kubawa nanti, apa kau sudah memesannya?" Tanya Levin.


"Sudah tuan, saya sudah memesan bunga mawar putih untuk anda bawa nanti."


"Oke, terima kasih. Kau bisa keluar!"


Desmond menundukkan kepalanya dengan note yang dipegangnya. Lalu keluar dari ruangan itu.


Setelah pintu tertutup, Levin mengusap wajahnya dengan kasar. Bayangan Elana tiba-tiba terlintas dalam benaknya. Levin menarik napasnya cepat. Berusaha menahan segala gejolak yang ada di dalam dadanya. Satu bulan kepergian Elana membuatnya menyesali segalanya. Hari-harinya ia habiskan dengan kehampaan. Hatinya benar-benar remuk. Seremuk kaca yang terhempas dan hancur berkeping-keping. Matanya seketika berkaca-kaca. Ia teringat kejadian dua hari sebelum Elana pergi selamanya.


Sejak itu, Levin tidak pergi menemui Alessa. Levin benar-benar terpukul. Hingga ia tidak menyadari alamat yang diberikan Samantha hilang entah kemana.


Levin menghela napas lagi, seolah-olah dengan begitu, ia bisa mengalirkan sebagian rasa sesak di dadanya ke udara bebas, membaginya dengan dunia. Namun dengan setiap helaan napas, sesak yang ia rasakan justru makin menjadi. Tenggorokannya terasa tercekat. Ia segera menelan ludah, meski mulutnya terasa kering. Levin kembali menarik napasnya dalam-dalam.


⭐⭐⭐⭐⭐


WAKTU TIDAK TERASA, SORE PUN TELAH TIBA.


Levin berjalan membawa seikat bunga mawar putih untuk Elana. Ia melangkah tegap saat Levin memasuki tempat pemakaman umum dimana Elana beristirahat untuk selamanya.


Levin berjalan menyusuri jalanan sambil membuang napas berulang kali. Gerimis tiba-tiba turun. Angin berembus menusuk ke tulang. Dingin mencekam seakan gambaran dari hati Levin saat ini. Rasa sakit akan kehilangan orang yang disayanginya membuat Levin tidak kuat untuk melangkah.


Ada hal yang disesalkan Levin, sebelum Elana masuk ke ruang operasi. Elana merengek ingin bertemu Alessa. Namun, Levin tak bisa memenuhi permintaan Elana untuk terakhir kali. Semakin ia melangkah mendekati makam Elana hatinya semakin dicengkeram. Rasa sakit di dalam dadanya membuat hatinya disayat dan terbelah menjadi beberapa bagian. Levin berdiri lama menatap batu nisan yang bertuliskan Elana. Saat meletakkan bunga ke makam itu, air matanya terjatuh begitu saja. Levin menarik napas dengan mulut terbuka. Lalu membuka kaca mata hitamnya.


"Apa kabar Elana sayang?" Awal kata yang diucapkan Levin dengan bibir gemetar. "Apa kau kesepian?" Levin tersenyum sambil menyeka air matanya yang terjatuh lagi.


"Seharusnya pertanyaan itu untuk uncle" Levin menarik napasnya lagi. "Kau tahu, uncle kesepian tanpamu. Kau tidak merengek meminta uncle membuatkan spaghetti lagi." Tak terasa air mata Levin menetes di pipi.


"Uncle merindukanmu. Uncle merindukan rengekanmu saat kau meminta ingin bertemu dengan aunty Alessa." Levin terdiam sesaat.


"Uncle sedih Elana, Kau tidak pernah menyapa Uncle dalam mimpi. Apa kau begitu bahagia di sana?" Levin memejamkan matanya saat mengatakan itu.


"Maafkan uncle tidak memenuhi permintaanmu untuk bertemu dengan aunty Alessa." Ucap Levin menunduk sedih. "Uncle berjanji, akan membawa aunty ke rumah barumu."

__ADS_1


Lama ia terdiam di sana. Setelah cukup tenang. Ia bangun dari duduknya. Levin melangkah meninggalkan makam Elana. Saat kepergian Elana, dia adalah salah satu yang paling terpukul. Levin terlihat kuat tapi sesungguhnya ia sangat rapuh. Ia mengalami shock berat merasakan duka yang benar-benar mendalam. Perasaan yang sulit untuk menahan dan menolak rasa sedih justru membuat Levin semakin terpuruk.


Dalam perjalanan, Levin larut dalam pikirannya. Ia memikirkannya semuanya, memikirkan Alessa yang tak kunjung mendapatkan alamatnya. Levin menyetir sambil memijit tengkuknya. Ia memacu mobilnya dengan kecepatan sedang.


Gumpalan awan yang bersusun-susun diiringi sinaran kilat ataupun petir yang memecah kesunyian dengan sisa-sisa gerimis yang masih setia menemani Levin dalam perjalanannya. Cuaca hari ini mewakili benar-benar perasaannya yang bersedih.


Ban mobil terus berputar, Levin terus memacu mobilnya melaju menyusuri jalan. Beberapa menit kemudian, akhirnya Levin tiba di perumahan Flower.


Levin memarkir mobilnya tepat di depan gedung itu. Ia melangkah memasuki area apartemennya sambil menundukkan kepalanya.


"Selamat malam tuan!" Sapa Alberto menyapa Levin yang sedang tertunduk lesu.


Levin mengangkat wajahnya dan tersenyum hangat. "Selamat malam juga pak." Sapa Levin balik.


"Tadi pak Desmond mampir dan menitipkan ini." lelaki paru baya itu memberikan sebuah bungkusan kepada Levin


"Oh. Iya...." Levin mendekat.


"Ini tuan." Ia menyerahkan kepada Levin.


Ada dua kotak makanan di sana. "Terima kasih pak."


"Tadi pak Desmond berpesan, makanan ini harus anda habiskan, tuan" Kata lelaki paruh baya itu menyampaikan pesan dari Desmond.


Levin tersenyum simpul. Ia kemudian mengeluarkan satu kotak makanan dan memberikannya kepada Alberto. "Ambil ini. Bapak juga harus menghabiskannya."


"Heuh? untuk saya, tuan?"


Levin tersenyum sambil mengangguk.


"Ahhhhh....terima kasih tuan, anda jadi repot-repot."


"Tidak kok, biar anda lebih bersemangat lagi."


Lelaki itu tersenyum sumringah. "Sepertinya makanan ini sudah tidak sabar untuk dinikmati."


Mendengar itu, Levin melepaskan tawanya. "Ahhhh.... silakan langsung dimakan pak."


"Terima kasih, tuan." Ucap lelaki itu sedikit membungkukkan badannya.


Levin hanya tersenyum dan kembali berjalan melangkah memasuki halaman rumahnya. Ia membuka kenop pintu dan mendorong daun pintu agar terbuka sempurna. Levin membuka sepatu dan menyimpannya di tempat biasa.


Ia menatap sejenak ruang besarnya. Menyadari bahwa dirinya sendiri. Rasanya benar-benar sepi. Biasanya Elana selalu menemaninya. Levin menarik napas untuk menenangkan perasaan getir di hatinya. Rasanya benar-benar menyesakkan.


Levin membuka jasnya dan melemparnya dengan asal. Hari ini ia begitu lelah, ingin mengistirahatkan tubuhnya. Levin melepas napas panjang dan melangkah menuju dapur dan meletakkan kotak makanan yang diterimanya dari security. Ia berjalan mengambil minuman dari lemari pendingin. Ia kembali menuju sofa. Levin menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sofa. Ia meletakkan tangannya ke dahinya dan memejamkan matanya. Hari yang begitu melelahkan. Ia menarik napas panjang dan menghembuskan napasnya kembali. Tak beberapa lama Levin pun tertidur dengan posisi duduk.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku 😍


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.

__ADS_1


^_^


__ADS_2