
💌 HUJAN DAN KAMU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
BEBERAPA HARI KEMUDIAN.
Pagi hari matahari mulai bersinar terang, Sebagian cahaya hangatnya masuk melewati celah jendela yang tertutup gorden.
Pikirannya sudah terbangun dari tidur lelapnya, tapi tidak dengan tubuhnya. Tadi malam Alessa tertidur sudah pukul tiga dini hari. Ia tiba-tiba dihubungi pihak rumah sakit karena banyaknya pasien UGD hari ini. Tim dokter, paramedis, dan suster terus menerus berlarian dari satu ranjang ke ranjang lain. Ada pasien yang datang dalam keadaan patah tulang, ada yang terluka parah. Selain itu, ada juga pasien yang ternyata meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit. Tapi tidak terlihat ayah dan ibunya. Hari ini benar-benar melelahkan untuknya.
Ya...karena profesi yang bersifat mulia ini lah, Alessa mau tidak mau harus bersedia mengorbankan kepentingan pribadinya, termasuk hari liburnya. Ia dituntut harus selalu dalam keadaan siaga dan konsentrasi penuh meski sudah bekerja melebihi jam kerja normal.
Kriiingggg….! Kriiingggg…! Kringgggg…!
“Ya, Tuhan baru aja aku tertidur..!” umpat Alessa dengan mata terpejam. Dering jam weker ini seperti menertawakannya. Dari balik selimut, tangannya mencari-cari jam weker yang terus berbunyi di atas nakas. Begitu Ia mendapatkan apa yang diinginkan, segera ditekannya kencang-kencang jam weker yang mengganggu tidurnya itu.
Alessa masih bergulung diri di dalam selimut dan kembali membenamkan wajahnya di antara bantal. Ia masih malas membuka matanya. Serasa tidur panjang dan lelap namun kenyataannya rasa kantuk masih menguasainya.
Dddddrrrrr....dddrrttttt..... dddddrrrrr!
Tiba-tiba handphonenya berbunyi lagi yang ia diletakkan di atas nakas.
"Astaga, apa lagi ini?" umpat Alessa saat mendengar bunyi panggilan itu. Ia tidak pernah mengharapkan telepon dari siapa pun di jam seperti ini.
Panggilan itu masih saja terus berbunyi. Alessa dengan malas menggeser tubuhnya ke arah nakas di samping ranjang tempat tidurnya. Ia buru-buru merengkuh handphonenya. Wajahnya masih sangat kepayahan. Dia sangat berusaha untuk mengumpulkan sisa kesadaran yang habis melakukan tugas yang tak diharapkan pada saat hari liburnya.
Alessa menatap tajam ke arah jam yang ada di dinding kamarnya yang menunjukkan pukul 07.10 wib. Alessa meraih handphonenya yang terus bergetar. Ia mengganti posisi tidurnya dengan telentang, menggeser tanda terima pada handphonenya dan meletakkan ponselnya di telinga. Alessa kembali memejamkan mata.
"Halo," ucapnya malas, suaranya terdengar serak bangun tidur.
"Bu dokter, anda masih tidur?" tanya Samantha, si asisten yang bekerja dengannya.
"Astaga, kamu masih bertanya aku masih tidur? tentu saja aku masih berada di kasurku yang empuk, setelah kalian menyuguhiku banyak pasien tadi malam dan aku benar-benar lelah sekali." sahut Alessa dengan nada kesal.
"Hehehehe." Samantha tersenyum diujung telepon. "Maaf, bu dokter. Tapi kali ini aku benar-benar mengganggu tidur anda lagi."
"Apa maksudmu?" Suara Alessa pelan namun menusuk.
"Tapi ini sangat mendesak bu dokter."
__ADS_1
"Apa pasien gawat darurat lagi?" Alessa bisa menebak itu.
Samantha tersenyum getir saat mendapat ledekan yang tak enak dari bu dokter yang cantik itu. "Bukan begitu, bu dokter. Tapi hari ini benar-benar mendesak sekali. Hari ini, dokter Mark tak bisa masuk karena salah satu keluarganya meninggal."
"Terus?"
"Jadi, dokter yang berjaga hari ini tidak ada, bu. Dan kebetulan hari ini adalah jadwal pemeriksaan rutin tuan Horald."
"Siapa tuan Horald itu? Apa jadwalnya tidak bisa diganti?"
"Tidak bisa dok. Bisa gawat jika kita mengatur jadwalnya."
Alessa menggeleng tak percaya. "Astaga, apakah dia orang penting? Sampai jadwal pemeriksaannya saja tidak bisa diganti?"
"Kita bisa ditegur pak direktur jika sampai berani mengganti jadwalnya. Karena yang aku dengar dari perawat lainnya, beliau adalah pemilik saham terbanyak di rumah sakit ini."
Alessa lagi-lagi mengembuskan napas dengan pipi mengembung. "Samantha, masih banyak dokter. Kenapa harus aku? Dua hari berturut-turut kau menghubungiku. Aku bahkan tidak bisa bernapas lagi."
"Bu-bukan seperti itu dok. Tapi ini benar-benar penting. Jika jadwal pemeriksaannya sudah selesai, anda bisa pulang, dok."
Alessa mengusap wajahnya dengan tangan satunya. "Baiklah. Pukul berapa?"
"Pukul delapan bu,"
"Apa? kamu sudah gila ya?" Teriak Alessa.
Sementara Alessa mengernyitkan keningnya, Ia menatap ponselnya yang sudah mati.
"Astaga, apa mereka pikir aku robot?" keluh Alessa sambil melempar handphonenya dengan asal.
Ia segera turun dari kasur dan berlari ke kamar mandi. Ketika sampai di pintu kamar mandi, Ia hampir saja terpeleset karena tidak memperhatikan jalan. Beruntung Ia tidak jatuh, hanya saja jantungnya yang berdebar sangat kencang dan mengumpat segala kecerobohannya.
BRAKKKKKK!
Lagi-lagi Alessa menutup pintu dengan kasar. "Aku bisa gila...!" Teriak Alessa di sana.
Ia membersihkan tubuhnya dengan cepat, tak butuh lama, Alessa keluar dari kamar mandi. Ia sudah menggunakan bathrobe.
Blouse berwarna peach lengkap dengan ikatan berbentuk pita di kerah baju. Bawahannya menggunakan rok model pencil skirt warna abu-abu. Tak lupa ia menggunakan parfum beraroma bunga yang memberi kesan segar dan juga elegan. Dengan cepat Alessa menyemprotkannya ke beberapa titik tertentu. Sesaat ia memiringkan wajahnya untuk menatap dirinya di depan cermin. Alessa menghembuskan napasnya lewat mulut. Tiga puluh menit ia sudah selesai. Jantungnya terpukul kencang. Apa karena terburu-buru, ia juga tidak tahu. Alessa meremas tangannya yang terasa dingin.
Tak ingin berpikiran macam-macam, Ia menyisir rambutnya dengan rapi. Menjepit setengah rambutnya bagian atas kebelakang dengan jepitan mengkilap warna gold. Terlihat manis dan juga elegan. Alessa berpenampilan rapi, segar dan cantik. Tak lupa ia memberikan sedikit polesan ke wajahnya. Hari ini ia tidak bisa berlama-lama hanya untuk melakukan make up saja. Ia benar-benar terlambat.
⭐⭐⭐⭐⭐
Alessa dengan cepat masuk ke dalam mobil dan membanting pintu mobil dengan terburu-buru. Tidak tahu berapa kecepatan yang di tempuh Alessa saat ini. Ia mengejar waktu agar cepat sampai ke rumah sakit. Ia bahkan menyalip beberapa mobil yang di rasa menghalangi jalannya.
__ADS_1
Samantha nampak mondar-mandir menunggu Alessa di depan pintu rumah sakit. Ia benar-benar takut jika dokter Alessa tak datang. Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Mobil mewah milik Alessa memasuki sebuah parkiran rumah sakit. Samantha melangkah menyusulnya di halaman parkiran yang lumayan jauh jika berjalan.
"Selamat pagi ibu dokter," Samantha menyambut dengan senyuman ramah.
Tak ada sahutan, Alessa menutup pintu. Mengarahkan kunci remote ke arah mobilnya dan memencet tombol kunci.
TIT !
Alessa melangkah yang diikuti Samantha. "Apa tuan Horald sudah datang?"
"Kedatangannya diundur satu jam."
Alessa reflek menghentikan langkahnya. Menatap tajam ke arah Samantha. "Kamu bercanda?"
"Maaf bu, asistennya baru mengabari. Beliau masih berada di rumah."
Alessa mengembuskan napas kesal. Ia memilih diam dan tak ingin memperpanjang masalah ini. Toh ia juga sudah berada di rumah sakit.
"Dok, apa perlu aku menyiapkan sarapan untuk anda?" Tanya Samantha berusaha mengimbangi langkah panjang Alessa.
"Hmmm." Alessa hanya menjawab dengan gumaman saja.
"Baik bu." Kata Samantha dengan semangat. Alessa melangkah menuju pintu masuk, sementara Samantha melangkah menuju kantin. Memesan menu sarapan sehat untuk bu dokter yang cantik itu.
Tap...tap...tap..tap...!
Langkahnya begitu cepat memasuki lobby rumah sakit. Putih, hanya putih yang terlihat mendominasi warna pada tiap lorong bangunan ini. Dinding, lantai dan pintu, semua berwarna putih dengan kaca-kaca bening pada tiap jendelanya. Bersih, kesan itulah yang didapatkan saat melihat keadaan dari tiap kamar yang ada di lorong-lorong bangunan ini.
Selain kamar, para pegawai tempat ini juga memakai pakaian serba putih berlalu lalang melewati lorong bersama dengan orang-orang lainnya. Senyum terlukis pada wajah mereka kepada tiap orang yang lewat, terkadang mereka juga khawatir, takut maupun iba pada orang-orang yang ada di setiap kamar setiap kali mereka memasuki kamar tersebut.
Ini adalah rumah sakit Mitra, tempat orang-orang mengobati dirinya, tempat orang-orang yang berharap kesehatan dari para pekerja di sana. Selain warna khas dari tempat ini yang putih, bau obat-obatan juga begitu kental tercium dari segala penjuru. Namun orang-orang sepertinya sudah biasa dan tak begitu memikirkan bau yang setiap saat selalu ada di manapun orang berjalan.
Jadwal pagi seperti ini biasanya masih merupakan jam operasional dari rumah sakit, di mana akan banyak orang yang datang dan pergi memasuki ataupun keluar dari ruang kamar setelah mengunjungi keluarga atau pun temannya yang dirawat. Dokter-dokter juga masih banyak yang bertugas, kadang wajah mereka terlihat terburu-buru untuk sampai ke suatu ruangan. Kadang juga mereka terlihat santai setelah keluar dari suatu ruangan. Ada juga beberapa pasien yang dirawat terguling di atas kasur yang di dorong sampai ke ruangan khusus tempat operasi. Banyak kegiatan di rumah sakit yang setiap harinya akan selalu seperti itu.
Alessa mengembuskan napas panjang, ia melangkah elegan dengan jas putih yang dikenakannya. Hari ini ia menunggu tuan Horald yang melakukan pemeriksaan setiap bulannya.
BERSAMBUNG.....
^_^
Jika ada kesalahan dalam tulisan ini, harap dimaklumi ya...Karena saya bukan dokter, saya hanyalah ibu rumah tangga yang mengurus anak saja 😂😂😂
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku 😍
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^