Hujan Dan Kamu

Hujan Dan Kamu
BAGAIKAN LILIN


__ADS_3

💌 HUJAN DAN KAMU 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


VISUAL DOKTER MONIKA BELEN.



Hari sudah berganti sore. Cahaya matahari yang oranye menyinari membuat kota terlihat oranye. Oranye seperti daun-daun yang meranggas atau daun-daun yang sudah tua. Membuat kota terlihat tua juga. Seperti lelah.


Tubuhnya masih tergolek di atas sofa. Samar-samar ia melihat mommy-nya berada di apartemennya. Monika mengerjap berulang kali. Ternyata benar, Mommy-nya sudah tiba di apartemennya. Monika kembali terpejam, rasa kantuk masih menguasainya setelah beberapa kali melakukan operasi bedah di rumah sakit.


"Bukankah hari ini jadwalmu melihat Joyce." Kata Sarah Charlett, sambil mengeluarkan bekal yang telah disiapkannya dari rumah.


"Hhmmmm." Monika menjawab dengan gumaman lesu.


"Ya sudah, bergegaslah. Ini sudah sore."


"Tunggu sebentar mom, aku masih ngantuk." jawab Monika malas. Ia kembali meringkuk dan tertidur.


Sarah tersenyum. Ia menaruh makanan yang dibawanya dan menatanya di atas meja. Setelah selesai ia kembali duduk ke sebelah Monika. Dengan perlahan memegang bahu putri manjanya itu.


"Bangunlah sayang. Sudah waktunya kamu bersiap-siap." Ucap sarah dengan lembut.


Monika mencoba untuk mengangkat kedua kelopak matanya yang sejak tadi masih terpejam, tapi masih tetap terkunci dengan sempurna.


"Ayo bangun, jangan malas." Sarah menepuk lengan Monika. Ia tetap berusaha membangunkan putrinya itu.


"Ehmmmm." Hanya itu yang keluar dari mulut Monika. Ia benar-benar sangat mengantuk. Dengan keadaan terpaksa, Monika perlahan-lahan membuka matanya. Ia duduk sambil membuang napasnya dengan lesu. "Mommy bisa-bisanya mengganggu tidurku." Keluhnya mendengkus.


"Terserah kamu, mau pergi atau tidak. Mommy mau pulang saja."


"Iya, aku akan bersiap." Monika bergegas bangun dari duduknya. Ia melihat makanan yang tersaji di atas meja. Bibirnya langsung mengulas senyuman manis. "Mommy harusnya gak usah repot-repot menyiapkan ini. Aku mandi dulu." Monika selalu terharu di saat seperti ini, mommy-nya selalu pengertian.


Sarah hanya mengangguk sambil tersenyum. Ia melihat punggung Monika yang hilang di balik pintu kamar mandi.


Tak menunggu lama Monika sudah selesai melakukan ritualnya untuk membersihkan tubuhnya. Lalu ia duduk sambil menyantap makanan yang dibawa mommy-nya. Menu sehat yang selalu disukainya.


"Bagaimana pembicaraan Daddy dengan keluarga Charlett?" awal kata yang diucapkan Monika disela menikmati makanan kesukaannya.


"Masih tetap sama, tidak ada perubahan." jawabnya ringan.

__ADS_1


Monika menghentikan kegiatan makannya. "Sampai saat ini?" alisnya menukik tajam.


"Hmm."


"Astaga... apa yang mereka rencanakan? Aku gak mau sampai Alessa yang memegang kekuasaan penuh dengan rumah sakit Charlett. Ini impianku menjadi direktur rumah sakit, mom. Jika semua rencana kita gagal. Aku tidak akan bisa diam."


Sarah menarik napas singkat, menatap penuh sayang kepada putrinya. "Jika Alessa menginginkan posisi itu, dia tidak mungkin pindah ke rumah sakit lain, sayang."


"Aku tahu siapa Alessa mom, dia itu licik."


Sarah tersenyum sinis. "Jika dia menggunakan cara licik, kita juga bisa menggunakan cara itu. Aku yakin kita akan menang sayang."


"Apa maksud mommy?" Monika tak mengerti.


"Tunggu saja sampai tiba waktunya, aku yakin Alessa akan mendapat tamparan hebat saat mengetahuinya."


Alis monika semakin mengerut. "Apa yang mommy rencanakan? Apa mommy yakin bisa menjatuhkan Alessa?"


"Tentu saja sayang." Ucapnya dengan seringai iblis. "Jadi jangan pikirkan hal-hal yang menganggu kesehatanmu. Cukup kau merawat dirimu dengan baik, masalah Alessa biar mommy yang menanganinya. Kamu mengerti?"


Monika tersenyum seraya mengangguk cepat. Ia pun melanjutkan makannya. Ada rasa bahagia tak bisa ia gambarkan. Kehancuran Alessa yang selalu ia tunggu-tunggu. Keluarga Charlett selalu memuji Alessa, sementara dirinya tak pernah sekalipun diperlakukan dengan baik. Walau ia selalu mendapatkan prestasi yang baik. Tapi keluarga tidak pernah mengakuinya. Monika semakin menyempurnakan lengkung bibirnya. Kini semua rencananya akan berjalan lancar.


⭐⭐⭐⭐⭐


Monika membawa mobilnya dengan kecepatan sedang, pikirannya jauh melayang saat mengingat kejadian malam ulang tahun Kakek Christian. Monika galau dan cemas saat melihat wajah tenang dari lelaki tua itu. Senyumnya tampak berbeda di sana. Monika menggeleng, ia menepis prasangka yang tidak baik yang terus menari-nari di otaknya. Kakek Christian sangat menyayanginya. Dia tahu semua dengan masa lalunya.


"Selamat sore, nona." Sapa pelayan menunduk sopan, ia maju beberapa langkah mengambil bahan makanan yang dibawakan nona besarnya.


Dengan cepat Monika memberikan beberapa bahan makanan yang dibelinya. "Dimana Joyce?" Tanya Monika melangkah masuk ke ruang tamu.


"Ada di kamar, nona."


"Apa dia sudah makan?"


Pelayan itu lagi-lagi menundukkan kepalanya. "Maaf, nona. Nona kecil dari kemarin tidak menyentuh makanannya."


Monika menarik napas panjang, "Oke, hari ini biar aku yang mengurusnya."


"Baik nona."


Monika langsung menuju dapur. Menyiapkan makanan kesukaan Joyce. Sudah tujuh tahun Monika menjalani ini tanpa diketahui Levin. Walau ia sama sekali tidak menginginkan kelahiran Joyce. Tapi ia masih memiliki hati untuk mengurus anak cacat itu. Ada satu hal yang membuat Monika tetap berharap dengan harapan, karena ia percaya dengan keajaiban. Perasaan yang tak pernah lelah meski seringkali dihajar kalah. Sakit bukanlah hal yang harus dijelaskan. Hanya saja Monika dipaksa harus menjadi lebih kuat yang tak mampu dijabarkan. Sesuatu yang tak tampak, namun membuat bertahan meski berulangkali jatuh bangun. Meski sesak memenuhi ruang hati. Namun, ia percaya itulah yang disebut kehidupan. Harus tetap bertahan, walau apapun yang terjadi. Sekarang Joyce sudah umur tujuh tahun. Anak itu dinyatakan lumpuh, jadi Joyce harus menggunakan kursi roda.


Matahari baru terbenam tiga menit yang lalu, tapi Joyce tak juga keluar dari kamar. Sudah seharian dia berada di sana. Apa dia tak lapar? Entahlah. Yang jelas pasta yang Monika sajikan di meja sudah dingin tak tersentuh.


"Joyce..." Monika memanggilnya lagi sambil berdiri tepat di depan pintu kamarnya. Mungkin untuk yang ke seratus kalinya. Tapi ia tak juga menampakkan batang hidungnya.


"Apa kau tidak lapar, huh?"

__ADS_1


"Kau mau makan apa? Sebut saja, aku akan membuatkannya untukmu." Kata Monika berlagak jago masak. Padahal Ia hanya bisa memasak pasta. Itu pun bisa ia lakukan semenjak masuk kuliah kedokteran.


Sudah lewat sepuluh menit, tak ada jawaban darinya. Monika ragu apa dia baik-baik saja. Ah, dia pasti baik-baik saja. Tapi bagaimana kalau dia sakit?


"Joyce!! Cepat buka pintunya!" Monika mulai tak bisa menahan emosinya. Tangannya terus menggedor-gedor pintu kamar. Anak usia tujuh tahun itu sudah pintar menyulut hati. Monika mengembuskan napas kesal. Kembali mengetuk pintu itu berulang kali. Lalu, akhirnya, Joyce membuka pintu.


"Aku tidak mau makan, jadi pulanglah! Kau tidak perlu repot-repot melakukan itu." Ucap Joyce sambil menggerakkan kursi roda melewati Monika.


Kalimat pertama yang diucapkannya menambah kekesalan Monika. Di tambah kamarnya yang berantakan membuat Monika bertambah kesal.


"Ada apa denganmu? Kenapa kau mengunci diri dalam kamar? dan kamar ini, kenapa berantakan sekali?"


Joyce tak menanggapi pertanyaan wanita yang dianggapnya orang lain itu. Dia terus mendorong kursi rodanya menuju dapur mengambil segelas air minum.


"Hah, haus juga dia rupanya." Batin Monika.


"Kau pasti lapar. Tunggu sebentar, aku akan membuatkan makanan untukmu." Dengan gerakan cepat, Monika menyiapkan piring dan menaruh pasta yang dimasaknya tadi.


"Tidak perlu. Lebih baik kau cepat pulang sebelum malam semakin larut. Aku tidak ingin melihatmu di sini."


"Lama-lama kau semakin tidak sopan ya, kau tidak tahu siapa aku? Aku...."


"Aku tahu siapa kamu, kau wanita jahat yang tega membuangku ke tempat terpencil seperti ini."


Mata Monika terbelalak. Ia tak percaya mendengar perkataan Joyce. Anak tujuh tahun tak ada sopan santunnya sama sekali? Bagaimana bisa?


"Tadi kau bilang apa?" Monika berjalan dan mendekat ke arah Joyce. "Seharusnya kau bersyukur dibuang ke tempat terpencil seperti ini." Monika mendorong kursi roda Joyce dengan pelan.


Joyce shock saat kursi rodanya di dorong ke belakang. Ia terdiam sambil menatap tajam ke arah Monika.


"Harusnya kau jadi anak yang baik. Belajar dengan baik, bukannya seperti ini. Apa kau merasa sudah hebat. Aku justru menertawakan kebodohanmu. Dasar anak cacat!" Monika menekan setiap perkataannya. Halus namun sudah menembus jantung Joyce. Kata cacat itu diulang-ulang Monika.


Joyce reflek menutup ke dua telinganya. Ia menggeleng dengan mata berkaca-kaca. Napasnya terdengar naik turun begitu cepat saat Monika mengatakan anak cacat.


"Terserah kamu mau makan atau tidak. Kau urus saja dirimu yang cacat itu." Ucap Monika meninggalkan Joyce yang terus menangis.


Joyce mencengkram kursi rodanya. Mulutnya terbuka dan gemetar. Ia menarik napasnya lagi. Hatinya terlalu sakit. Joyce sangat membenci Monika. Pancaran kebencian itu jelas menyala di wajahnya bersama dengan amarahnya. Yang di isi dengan sesak dari emosi. Joyce memejamkan matanya, menahan napasnya sesaat. Joyce bagaikan lilin yang habis batangnya karena dilelehkan api dan sekarang ia tidak berguna. Joyce sangat tidak berguna. Wanita itu selalu bilang jadilah anak yang berguna walaupun keadaan fisiknya seperti ini. Namun apa yang dapat ia lakukan? Tidak ada, Joyce hanya dapat duduk di kursi roda ini.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku 😍


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^

__ADS_1


__ADS_2