Hujan Dan Kamu

Hujan Dan Kamu
PENGOBATAN ELANA.


__ADS_3

💌 HUJAN DAN KAMU 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Pagi ini cuaca sangat cerah. Mentari bersinar terang dan lalu lalang kendaraan bermotor telah menghiasi jalanan kota. Di rumah sakit, Alessa pun memulai aktivitasnya. Ia bersiap-siap untuk mengunjungi pasien-pasiennya. Orang pertama yang di kunjunginya adalah Elana.


TOK....TOK....TOK....!


CEKLEK!


Mata Liliana langsung tertuju ke arah pintu. Seorang yang berpakaian jas putih lengkap menggunakan kaca mata masuk bersama perawatnya. Mereka tersenyum ramah. Siapa lagi jika bukan Alessa Charlett.


"Selamat pagi, Elana sayang," Sapa Alessa melangkah anggun mendekat ke ranjang rumah sakit yang ditempati Elana.


Terdengar suara sesenggukan dari Elana, sepertinya dia habis menangis. Sementara Liliana tersenyum menyambut dokter Alessa.


"Kamu gak menyapa Dokter Alessa? Bukankah dari tadi kamu mencari dokter cantik itu?" Ucap Liliana tersenyum melihat ke arah putrinya.


Elana memalingkan wajahnya saat mendengar suara yang tidak asing di telinganya. Matanya terbelalak tak percaya saat melihat dokter cantik itu berjalan ke arahnya. "Aunty....? Mom, itu benar aunty?"


Alessa semakin melengkungkan senyum manisnya. Namun, melihat Elana ingin bergerak duduk dengan cepat Alessa mencegatnya. "Sayang, jangan banyak bergerak dulu,"


"Dengar kata Aunty, Elana gak bisa banyak gerak dulu." Liliana menimpali.


"Aku merindukan Aunty." Wajah Elana mengerucut sedih.


Alessa duduk di tepi ranjang sambil memeluk tubuh mungil Elana. "Aunty juga merindukan Elana."


Melihat pemandangan itu, Liliana tersenyum. "Aunty Alessa sibuk sayang. Dokter harus rajin memeriksa pasiennya. Bukankah begitu dokter?"


"Hmmm. Aunty harus rajin memeriksa pasien-pasien yang dirawat di sini. Termaksud itu kamu." Alessa mengacak rambut Elana karena begitu gemas. "Bagaimana perasaan Elana pagi ini?" tanyanya lagi.


"Kakiku sakit aunty. Aku gak bisa gerakin."


"Tadi pagi Elana muntah?" timpal Liliana.


Alessa sedikit terkejut melihat ke arah Liliana. "Muntah?"


"Ya dok, Elana juga mengeluh sakit kepala."


"Berapa kali muntahnya?"


"Empat kali dok."


"Kepalanya masih sakit?" Alessa menyentuh kening Elana.


"Masih sakit, Aunty."


Alessa menarik napas singkat, menatap Elana dengan wajah khawatir. Kemarin mereka memang tidak mengecek seluruh bagian luka Elana. Alessa hanya fokus dengan luka di bagian kaki saja.


"Kita periksa dulu ya." Kata Alessa mengarahkan stetoskop ke dada Elana untuk melihat kondisi jantung pasien, sementara perawat memeriksa tekanan darah Elana.


"Lumayan lama juga Elana sadar dok." kata Liliana.


"Itu mungkin karena pengaruh anastesi. Bagaimana perasaan kamu sayang?"

__ADS_1


"Kepala dan kaki masih sakit dok." Jawab Elana dengan lemah.


Dokter Alessa menganggukkan kepalanya. "Elana masih ingat kejadian itu?" tanyanya lagi.


Elana sedikit berpikir untuk mengingat kejadian yang terjadi saat seorang supir menjemputnya. "Yang aku ingat, tiba-tiba dari arah depan ada lelaki pakai jaket hitam menggunakan helm tertutup. Dia membawa motornya dengan cepat dan langsung menabrak Elana."


Liliana memejamkan matanya sesaat, membayangkannya saja membuat dadanya sesak.


"Apa pria itu sengaja melakukannya? Kenapa dia mengincar Elana?" Alessa melemparkan pertanyaan itu kepada Liliana.


Liliana menggeleng pelan. "Aku juga tidak tahu, tapi Levin sudah mencari tahu siapa lelaki yang sengaja menabrak Elana."


"Ya. Lebih cepat lebih bagus, dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya."


"Apa lelaki itu membenciku mom? Apa karena Elana nakal?" Elana menunduk sedih.


Alessa dan Liliana saling berpandangan. "Siapa bilang, Elana anak mommy paling baik, kami semua sayang Elana. Bukankah begitu dokter Alessa?" kata Liliana melihat sekilas ke arah Alessa dan menciumi putrinya itu.


Alessa lagi-lagi dibuat tersenyum melihat tingkah Elana. Cara berpikirnya terkadang diluar dugaannya. Ia membelai rambut Elana dengan sayang. "Elana sayang, sekarang kita fokus untuk kesembuhanmu dulu ya. Elana mau jalan-jalan lagi kan dengan Aunty?"


Wajah Elana langsung berbinar, ia mengangguk cepat. "Mau Aunty. Aku maunya jalan-jalan dengan Aunty."


"Boleh, tapi Elana harus mau diperiksa ya. Kamu sudah siap diperiksa?"


"Diperiksa dok?" Tanya Liliana dengan kerutan dahi.


"Hmm. Kita harus melakukan pemeriksaan EEG untuk Elana. Mungkin dengan pemeriksaan ini kita bisa tahu kenapa Elana muntah."


"Baik dok." Jawab Liliana dengan cepat.


"Elana mau periksa apa mom?"


Liliana tersenyum sambil mengusap rambut putrinya. "Bagian kepala Elana mau diperiksa Dokter Alessa. Biar Elana gak pusing lagi."


"Baik dok." Liliana menyetujui.


Perawat langsung mendorong ranjang rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan berikutnya.


Liliana menarik napas dengan mata terpejam, ia mengigit bibir bawahnya karena begitu khawatir. Ia pun mengikuti langkah perawat itu.


"Oke, silakan duduk, sementara saya periksa Elana dulu." kata Alessa mempersilakan Liliana duduk


Liliana mengangguk. Matanya menatap sekeliling.


Saat Elana masuk ke dalam ruangan itu. Elana ketakutan. Bagaimana mungkin, ia yang masih kecil sudah dihadapkan dengan ruangan yang menurutnya menakutkan itu.


"Elana, takut sekali Aunty. Apa Elana sakit parah?"


"Tidak sayang, Elana gak usah takut. Aunty ada sini."


"Apa semuanya akan baik-baik saja aunty?" tanya Elana lagi.


"Tentu saja, Elana harus sembuh dan kita bisa bermain lagi."


Elana berusaha menenangkan hatinya. Dokter Alessa menutup gorden dan mulai melakukan pemeriksaan.


"Oke Elana, kalau begitu kita bisa mulai ya." Alessa memberikan kode kepada perawat yang berdiri di sampingnya.


Dokter Alessa masih berdiri di samping Elana, Ia sedang memperhatikan asisten pribadinya memasangkan elektroda-elektroda pada kulit kepala Elana untuk merekam aktivitas elektrik pada berbagai tempat di kepala. Elana terlihat tenang dan mulai memejamkan matanya untuk mendapat hasil yang baik. Selama proses berlangsung, aktivitas otak akan terekam pada selembar kertas Ensefalogram.


"Tidak perlu takut sayang, kita hanya melakukan pemeriksaan EEG enam puluh menit saja."

__ADS_1


Elana hanya mengangguk, ia mengepalkan tangannya. Dalam hati Elana sebenarnya sangat takut. Siapa yang tidak panas dingin jika dihadapkan dengan alat-alat seperti ini. Elana kecil hanya terus mengucap doa. Semoga hasilnya baik-baik saja.


"Sayang, kamu bisa tidur, karena beberapa gelombang otak abnormal hanya terlihat jika saat Elana tidur. Kamu harus tetap tenang dan jangan takut, agar hasilnya baik." Kata dokter Alessa mencoba menenangkan Elana. Ia tersenyum melihat Elana menutup matanya hingga garis mata dan hidungnya sampai terlihat.


"Tolong perhatikan Elana. Saya keluar menemui keluarganya."


"Baik dok." Ucap perawat itu mengangguk.


Ia pun keluar menemui Liliana. Liliana dengan cepat bangun dari duduknya saat melihat Alessa datang menghampirinya. Dokter Alessa duduk bersandar, Ia tersenyum ramah kepada Liliana.


"Sebenarnya saya ragu mengatakannya. Tapi biar kita puas, lebih baik kita menunggu hasil pemeriksaan ini saja."


"Kenapa dok, apa keadaan Elana parah? Tapi yang saya lihat Elana kuat, buktinya operasi kakinya bisa berjalan dengan baik dan dia gak rewel. Setelah dia ditabrak, Elana sebenarnya tetap sadar. Dia sempat duduk, namun kemudian jatuh pingsan. Elana langsung dibawa ke rumah sakit. Bahkan Elana tidak menangis saat itu. Dokter jangan membuatku takut, aku yakin Elana akan baik-baik saja."


"Betul sekali. Seperti yang kita lihat, Elana bisa melaluinya dengan baik." Alessa menarik napas singkat kemudian melipat tangannya di depan dada. "Sebelumya, saya sudah menjelaskan kepada Levin, Operasi tak cukup sekali. Di operasi kedua, Kita akan melakukan perbaikan tulang dengan cara pemasangan pen sehingga fungsi tulang bisa dikembalikan secara cepat tanpa rasa sakit. Setelah operasi kedua, Elana bisa menjalani latihan rehabilitasi medik fisioterapi yang bertujuan untuk memulihkan cedera pada kakinya. Tak perlu takut, keluarga harus tetap memberi semangat kepada Elana agar bisa sembuh dengan cepat."


"Tapi yang saya takutkan bagian kepala Elana. Aku takut terjadi sesuatu kepadanya. Apalagi dia mengeluh pusing. Apa jangan-jangan Elana gegar otak, dok?"


Sesungguhnya itulah yang ditakutkan Alessa. Ketika Liliana mengatakan Elana muntah, pusing, dan mengantuk terus. Alessa mulai cemas dan langsung melakukan pemeriksaan EEG.


"Apakah Dokter sepemikiran dengan saya?" Tanya Liliana saat melihat Alessa hanya diam saja.


"Saya tidak bisa mengatakan seperti itu. Saat melihat luka di bagian kepala Elana, itu hanya memar dan benjol saja. Kau tidak perlu panik. Tidak semua cedera kepala itu berbahaya. Gejala-gejala tersebut bukanlah pertanda pasti anak mengalami gegar otak. Ada baiknya kita tunggu hasilnya saja, karena benjol atau memar sebagian besar disebabkan pendarahan di antara kulit kepala dan tulang tengkorak."


"Ya. Menunggu adalah pilihan yang tepat untuk saat ini." Sahut Liliana mengembuskan napas singkatnya.


⭐⭐⭐⭐⭐


Liliana kembali duduk diruang dokter setelah Elana selesai melakukan pemeriksaan EEG. Liliana menunggu dengan hati yang gelisah. Ia mencengkram tangannya yang sudah mulai basah karena berkeringat. Alessa menatap hasil dari selembar kertas yang terekam melalui ensefalogram.


Dokter menarik napasnya dan tersenyum kepada Liliana. " Sudah siap Elana sayang?" Alessa memperbaiki posisi duduknya dan kembali menatap kertas untuk membaca hasilnya.


"Sudah dok." jawab Liliana dengan senyum tipis. Walau gemuruh di dalam hatinya seperti berperang melawan musuh.


"Kami menemukan darah yang membeku di dalam otak Elana, itulah yang membuat Elana muntah disertai sakit kepala yang luar biasa."


Mata indah Liliana sudah berkaca-kaca, penuh dengan air bening yang masih terkumpul dikelopak matanya. Ia masih menunggu penjelasan dokter Alessa dengan perasaan was-was.


"Tidak perlu khawatir, karena gumpalan darah ini hanya bekuan Vena terbentuk di pembuluh darah, dan berkembang perlahan dalam jangka waktu yang lama."


"Apa yang harus saya lakukan dokter?" wajah Liliana terlihat mengerut serius. Apapun ia lakukan untuk kesembuhan putrinya.


"Kita akan membuat rencana terapi, tapi sebelumnya kita menentukan jenis terapi pengobatan yang sesuai dengan kondisi Elana."


"Apa Elana akan benar-benar sembuh dok?" Tanya Liliana.


"Tentu saja. Saya akan berikan resep obat untuk dikonsumsi. Obat ini berupa suplemen vitamin untuk membantu penyembuhan dan bulan depan kita melakukan pemeriksaan lagi."


"Baik dokter."


"Ada lagi yang mau ditanyakan?" tanya Alessa.


"Sepertinya tidak ada, dok."


" Oke, saya rasa cukup sampai disini." Alessa selesai mencatat resep obat yang akan diberikan kepada Elana. "Sekarang pindahkan Elana ke ruangannya lagi."


"Baik dok," Ucap dua orang perawat Alessa yang berdiri sejak tadi di sana.


"Terima kasih, dokter Alessa. Saya pamit undur diri." Liliana mengulurkan tangannya dan berjabat tangan dengan Alessa.


Perawat membuka pintu untuk Liliana. Ia tersenyum begitu elegan kepada perawat yang tersenyum dengannya.

__ADS_1


Benar kata dokter Alessa, ia tidak perlu khawatir tentang apapun juga, Ia harusnya lebih percaya dalam segala hal keinginan dan menyerahkan kepada sang pencipta dalam doa.


__ADS_2