Hujan Dan Kamu

Hujan Dan Kamu
UNGKAPAN BAHAGIA


__ADS_3

💌 HUJAN DAN KAMU 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


.


Sementara itu.


Alessa masih terdiam. Detak jantungnya masih tak bisa diam di dalam rongga dadanya. Memukul kencang! Sangat kencang. Pandangan lurus menatap Levin. Sesungguhnya hatinya merindu. Rasanya ingin berlari memeluknya. Tapi ia menyadari bahwa lelaki ini sangat membencinya.


"Maafkan aku Alessa, aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Jika ada di atas kata maaf, aku sudah melakukannya untukmu. Maukah kau memaafkan aku?"


DEG!


"Maaf? Kenapa Levin minta maaf."


"Pada saat aku mengetahui bahwa kau tidak terlibat dalam kecelakaan Elana. Aku langsung ke perumahan Flower untuk menemuimu. Aku mendapat pesan dari pak Alberto, kau sudah meninggalkan perumahan flower."


Alessa terkejut mendengarnya. "Levin sudah tahu kebenarannya? Apakah itu artinya?" Alessa masih bergeming di tempatnya, napasnya keluar dengan terbata. Tanpa di undang air matanya menetes ke pipinya bahkan tanpa mengedip. Ia terdiam dengan mulut yang terbuka. Jarak mereka menyisakan sepuluh meter.


"Apakah kau mau memaafkanku? Demi Elana, aku berharap kau memaafkan aku." Ucap Levin dengan mata berkaca-kaca.


Alessa semakin tidak sanggup mendengar perkataan Levin. Apalagi jika menyangkut Elana, hatinya sakit. Tapi mengingat perkataan Levin, hatinya kembali sakit.


"Apa semudah itu mengatakan maaf Levin?" Ucap Alessa dengan tegas, tapi bibirnya gemetar. Hatinya sesak. Semua bertolak belakang dengan ucapannya. "Kau mengabaikanku saat aku datang dan mengatakan bukan aku pelaku penabrak Elana. Tapi kau tidak memercayaiku. Hatiku hancur dan sakit saat kau mengatakan aku hanyalah memanfaatkan Elana! Kau tahu? aku menyayangi Elana dengan tulus, tanpa maksud tertentu." bahu Alessa bergetar menahan tangisannya.


Levin mengangguk cepat dengan pandangan nanar. "Aku tahu Alessa, aku tahu itu! Aku sangat menyesal telah menyakitimu. Jika waktu bisa diputar kembali, aku ingin memperbaiki semuanya. Aku juga ingin Elana kembali."


Sepersekian detik, Alessa diam membeku di sana. "Apa maksudmu, kau ingin Elana Kembali?" Ucap Alessa hampir tak terdengar. Tiba-tiba ujung-ujung jarinya tiba-tiba terasa dingin. Jantungnya terpukul kencang. Alessa mencoba menarik napas dalam-dalam. Ia berusaha tenang. Namun perasannya tak juga tenang.


Levin tersenyum miris dan Alessa bisa melihatnya. Senyum itu penuh luka. "Jawab aku Levin, apa maksudmu?"


"Elana sudah pergi." Ucap Levin dengan perjuangan yang berat dan penuh kesedihan.


"Pergi?" Alessa seperti orang bodoh di sana. Walau kata pergi itu sebenarnya dia tahu artinya. "Bukankah, Elana dipindahkan dari rumah sakit mitra untuk mendapatkan pelayanan lebih baik?" Alessa semakin sulit bernapas. Ia berusaha mengambil pasokan oksigen untuk memenuhi paru-parunya tapi hasilnya masih sama. Alessa memejamkan matanya dan memegang dadanya yang terasa sakit.


Levin menarik napasnya dalam-dalam. Ia berusaha bersikap tenang, walau sesungguhnya hatinya sakit mengingat kejadian itu.


"Levin jawab aku, kenapa Elana pergi?"

__ADS_1


Levin hanya menatap Alessa dengan tatapan nanar dan berkaca-kaca. Kedua sudut bahunya mengerut dan melengkung ke depan. Mulutnya terbuka dan mulai berkata.


"Operasi keduanya gagal, Alessa."


DEG!


Wajah Alessa menegang, kakinya gemetar, dia memegang dinding untuk tumpuannya agar dia tidak terjatuh. Kenapa operasinya gagal? Bukankah rumah sakit itu dengan pelayanan terbaiknya. Apa yang salah? Akhir-akhir ini Alessa selalu bermimpi tentang Elana kini terjawab sudah. Mata Alessa berkaca-kaca. Kepalanya menggeleng masih tak percaya.


"Kamu bohong Levin, kau mengarang cerita agar aku memaafkanmu. Oke, aku memaafkanmu. Tapi aku mohon, jangan katakan Elana sudah pergi."


Levin kembali tersenyum penuh kepedihan. "Tidak Alessa. Elana sudah pergi meninggalkan kita selamanya. Operasinya gagal dan ia koma. Saat mengobati tulang belakang yang rusak, ternyata ada penyempitan di bagian tulang belakang yang menyebabkan tekanan pada saraf tulang belakang atau saraf di sekitar tulang belakang membuat Elana kesakitan dan koma. Saat itu, dokter ahli bedah langsung memutuskan menggunakan batang logam dan sekrup untuk memperbaiki tulang belakang yang melengkung atau membuat tulang belakang yang tidak stabil. Namun, tulang belakang memiliki konsentrasi saraf dan ujung saraf yang tinggi, berpotensi menjadikan Elana tak sadarkan diri. Selama dua hari Elana koma dan akhirnya memilih pergi untuk selamanya."


Alessa sangat shock saat mendengar itu. Ia memundurkan langkahnya ke belakang. "Jadi semua itu benar? Elana pergi selamanya?"


Alessa masih tak percaya. Ia terduduk dan menangis. Levin tak tahan lagi dengan segala gejolak di dalam dadanya. Ia memajukan langkahnya. Mendekat ke arah Alessa. Namun, apa yang terjadi?


Alessa menolak untuk didekati. Membuat Levin menghentikan langkahnya saat melihat reaksi Alessa. "A-Alessa?"


Alessa menggeleng, menatap nanar lurus ke arah lantai. Dengan rasa sakit yang menyesakkan dadanya. Bahkan waktu saja tidak bisa menyembuhkan hatinya yang terluka dengan irisan luka tanpa darah yang melukai.


"Seharusnya kau tidak memindahkan Elana. Kau bodoh Levin. Seharusnya Kau mencari tahu kebenarannya dulu. Kau hanya menunjukkan egomu, memutuskan hubungan kerjasama dengan rumah sakit Mitra dan Elana yang harus menanggung semua ini." Bahunya bergetar, ia terus menunduk dan memejamkan matanya.


"Aku pantas mendapatkan makian itu, Alessa. Aku tahu aku egois. Setidaknya hanya kau memaafkan aku Alessa. Agar aku bisa menebus kesalahanku kepada Elana. Sebelum ia pergi, Elana juga meminta untuk bertemu denganmu. Tapi aku mengabaikannya." Mata Levin berkaca-kaca. Hatinya sakit, jika ternyata Alessa juga tidak memaafkannya. Inilah pergumulannya selama ini. Levin selalu menyalahkan dirinya sendiri.


Aaahhhhh...Air bening yang sedari tadi terkumpul, mengalir di pipinya. Levin kali ini benar-benar menangis. Selama ini, ia terlihat kuat. Namun, di hadapan Alessa ia menangis. Sesak yang menghimpit dadanya tidak bisa ia sembunyikan. Hingga Alessa menyadari bahwa Levin sedang menangis.


Bahu Levin semakin bergetar. Ia menangis sambil menundukkan kepalanya. "Apa yang harus aku lakukan Alessa, jika kau juga tidak mau memaafkanku? Apakah aku memang tidak pantas dimaafkan?"


Deg!


Alessa terdiam kaget, mematung pilu menatap ke arah Levin yang sedang menangis. Jantungnya berdegup kencang.


"Aku tahu semua menyalahkanku, termasuk itu Liliana. Mereka selalu diam saat aku kembali ke rumah utama. Itu yang membuatku sakit!" Levin menarik napasnya, menguatkan batinnya. Apakah sesakit ini? Saat wanita yang dirindukannya tak memaafkannya juga.


Alessa terus menatapnya dengan mata berkaca-kaca dan masih terdiam di posisinya. Ia pun ikut menangis, mengerut dengan suara lirih. "Aku memaafkan Levin. Aku juga tidak bisa mengabaikanmu seperti ini, karena aku mencintaimu." ucap Alessa dengan lantang dan ikut menangis.


"Kau mau memaafkanku?" Kata Levin tak percaya.


Alessa mengangguk cepat. "Aku memaafkanmu." ucap Alessa menangis.


Mendengar itu, Levin melangkah panjang karena tidak tahan melihat Alessa menangis. Mereka sama-sama sakit dan terluka. Ia langsung menarik pinggang Alessa dan menciumnya.


Mata Alessa terbelalak saat mendapat serangan yang sangat tiba-tiba itu. Jantungnya berdegup kencang, saat Levin mengeratkan pelukannya dan membuat Alessa terhimpit oleh tubuhnya. Ciuman itu semakin dalam dan menarik semua bibir Alessa, menjelajahi setiap bagian yang tak bertulang. Beruntung saja, rumah sakit ini bangunan baru, sehingga tidak ada orang menyaksikan ciuman mereka.


Alessa reflek memejamkan matanya dan menikmati ciuman itu. Air matanya kembali menetes. Mereka seakan melampiaskan kerinduan yang membuncah di dalam dadanya. Tautan bibir itu tak juga Levin lepaskan, buliran air mata kedua insan itu menetes di pipi. Mata mereka masih saling terpejam. Alessa kini pasrah apa yang dilakukan Levin yang sangat ia rindukan itu. Bahkan Alessa menikmati ciuman yang diberikan Levin. Ciuman ini seperti obat kerinduan untuk mereka.

__ADS_1


Perlahan-lahan Levin melepaskan tautannya, keduanya terengah-engah. Kening mereka menyatu dan saling memejamkan mata. Air mata Alessa kembali terjatuh.


Mereka kembali dalam posisi saling menatap, terlihat jelas kilatan dari mata mereka menunjukkan kerinduan yang mendalam. Levin kembali memeluk Alessa, membelai rambutnya dengan sayang dan kembali mengusap punggung Alessa dan memeluknya dengan erat. Sepertinya dia tidak ingin melepaskan pelukannya saat ini, takut jika ini hanyalah mimpi.


"Aku mencintaimu Alessa, aku juga sangat mencintaimu."


Alessa melepaskan pelukannya, "Hmm. Aku tahu itu Levin."


Levin tersenyum teduh. "Aku masih tak percaya bisa bertemu denganmu di sini." Ia menatap Alessa dengan sayang.


"Aku juga tidak tahu, bahwa tamu undanganku adalah tamu istimewa yang datang dari kota A." Alessa mengerucutkan bibirnya sambil menundukkan kepalanya, tak ingin melihat wajah Levin.


"Jadi direktur yang datang terlambat itu adalah kau Alessa?"


"Hmm. Aku adalah direktur rumah sakit Charlett?"


Levin terkejut. "Nama keluargamu Charlett? Kenapa aku tidak menyadarinya?"


Alessa tersenyum. "Aku terpilih menjadi direktur rumah sakit Charlett seminggu yang lalu."


"Benarkah?"


"Hmm...."


Levin lagi menatap Alessa dengan sayang. "Kau tidak akan meninggalkanku lagi kan? Jangan pergi lagi Alessa."


Alessa mengangguk, ia memeluk Levin dan menyandarkan wajahnya di dada Levin. "Aku meninggalkan kota A, karena pengangguran."


Mendengar itu Levin tersenyum sendu. Ia menyadari kesalahannya. "Maafkan aku Alessa, maafkan aku...." kata Levin memejamkan matanya.


Alessa melepaskan pelukannya dan menatap ke arah Levin dengan sayang. "Aku merindukanmu Levin. Selama ini aku merindukanmu."


Levin kembali memeluk Alessa. Alessa membalasnya dengan pelukan erat. Mulutnya terbuka dengan wajah mengerut. Ini serasa mimpi. Kini ia benar-benar merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Levin menutup matanya dengan erat.


"Terima kasih Alessa, kau masih menungguku....."


.


.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku 😍

__ADS_1


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^


__ADS_2