
💌 HUJAN DAN KAMU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Alessa melangkah memasuki pagar kokoh perumahan Flower. Ia tertunduk sambil berjalan dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jas dokter yang masih dikenakannya.
"Selamat malam nona cantik!" Sapa seorang security menyapa Alessa yang sedang tertunduk lesu.
Alessa mengangkat wajahnya dan membalas senyuman hangat dari pria yang menyapanya. "Selamat malam juga pak." Sapa Alessa balik.
"Tadi nona Samantha mampir dan menitipkan ini." lelaki paru baya itu memberikan sebuah bungkusan untuk Alessa.
"Samantha datang?" Batin Alessa berbicara dalam hati.
"Ini nona." Ia menyerahkan kepada Alessa. "Beliau berpesan agar anda menghabiskan makanan itu." Kata pak security tersenyum.
"Oh, terima kasih pak."
"Sama-sama nona,"
"Kalau begitu saya permisi dulu pak. Selamat malam." Kata Alessa sedikit membungkukkan badannya.
Alessa pun kembali berjalan memasuki taman mini menuju rumahnya. Jalan setapak yang di setiap pinggirnya dipenuhi bunga-bunga cantik. Taman yang memiliki rumput luas yang besar, ditutupi dengan jalan batu yang melengkung, sehingga Alessa bisa mengambil beberapa langkah untuk menikmati suasana taman yang asri pada malam hari yang indah itu.
TININIT!
Bunyi dari pintu berbunyi ketika Alessa membuka dengan mengetikkan password yang berupa angka untuk membuka pintu kunci digital rumahnya. Alessa membuka kenop pintu dan mendorong daun pintu agar terbuka sempurna. Ia membuka sepatu dan menyimpannya di tempat biasa. Rumah yang ditempatinya menggunakan lampu otomatis pada ruangan depannya. Lampu akan menyala saat ada orang disekitarnya, dan mati begitu orang tersebut pergi.
Alessa memasuki ruangan dan melempar tas sling bagnya dengan asal. Hari ini ia begitu lelah, ingin mengistirahatkan tubuhnya. Ia melepas napas panjang dan melangkah menuju dapur dan meletakkan bungkusan yang di terimanya dari security di atas meja. Ia membuka jas putih yang dikenakannya. Dan melangkah mengambil minuman dari lemari pendingin. Alessa kembali menuju sofa. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dan meletakkan tangannya ke dahi seraya memejamkan mata. Hari yang begitu melelahkan. Ia menarik napas panjang dan menghembuskan napasnya kembali.
Tak beberapa lama, tiba-tiba ada panggilan masuk dari handphonenya. Alessa segera mengambil benda pipih yang ditaruhnya di dalam tas. Ternyata Samantha yang menghubunginya. Ia melakukan panggilan video call. Alessa tersenyum lalu menggeser tanda terima.
"Dokter sudah menerima kirimanku?" Awal kata yang diucapkan Samantha diseberang.
"Hmm. Terima kasih Samantha. Kau tidak pernah berubah ya, selalu mengirimkan makanan. Apa kau sengaja melakukannya agar badanku gemuk, begitu?" Bibir Alessa mengerucut.
Samantha tertawa saat melihat ekspresi wajah Alessa. "Dokter mau makan banyak juga gak ngaruh. Jadi dokter gak usah memikirkan itu. Tenang saja,"
"Cih...banyak alasan kamu. Kamu sendiri sudah makan belum?"
__ADS_1
"Bagaimana aku bisa makan, dokter Alessa? Kau memberiku banyak pekerjaan." Samantha mengetuk dua kali layar handphonenya dengan telunjuknya, memindahkan kameranya ke tampilan kamera belakang. Memperlihatkan tumpukan pekerjaan yang ada dia atas meja.
"Astaga...aku memang memberikanmu pekerjaan, tapi bukan berarti kamu mengabaikan makan malammu."
Samantha terkekeh dan kembali memindahkan kameranya ke kamera depan dan mengarahkan ke wajahnya. Ia tertawa renyah di sana sambil memperlihatkan susunan giginya yang rapi dan bersih. "Bercanda, Dokter Alessa. Aku memang tak biasa makan malam."
"Tak biasa, atau memang takut gemuk..." ledek Alessa.
Samantha semakin terkekeh saat mendengar ucapan Alessa. "Oh, ya, dok. Akhir-akhir ini aku lihat Dokter banyakan diam lho, apa pekerjaan rumah sakit memberatkanmu?" ucapnya mengalihkan pembicaraan.
"Apa terlihat seperti itu?"
"Hmm. Dokter juga banyak melamun."
Alessa melepaskan tawanya. "Benarkah?"
"Apakah ada hubungannya dengan dokter Jordan?"
"Aisss, kenapa kau menghujaniku dengan pertanyaan-pertanyaan aneh?" protes Alessa.
"Emang terlihat seperti itu dok, saat aku melihat perubahan yang aneh itu, aku bisa merasakannya. Aku mengenal anda cukup lama, jadi anda tidak bisa menyembunyikan dariku."
"Aku tidak apa-apa dan aku baik-baik saja. Apalagi menyangkut pekerjaan. Aku enjoy kok."
"Astaga... lama-lama kamu seperti polisi saja."
"Hahahaha..." Samantha tertawa awkward. "Jika tidak terjadi apa-apa, aku bisa tenang, dok."
"Cih.. sejak kapan kamu seperti ini? Sudah ah...aku mau mandi dulu."
"Dokter Alessa, jangan lupa makanan tadi dihabiskan ya."
"Oke, beres."
"Bye...." Keduanya saling melambaikan tangan dan panggilan video pun mati.
Alessa menarik napas, lalu mengembuskannya secara bersamaan, sampai kedua bahunya ikut turun. Ia mencoba memaksa bibirnya untuk tersenyum, walau wajahnya terlihat jelas menunjukkan kekecewaan itu. Ada rasa sakit yang mencengkram dadanya. Layaknya tangan besar yang meremas hancur hatinya dengan sengaja. Hatinya terasa tercabik-cabik mendengar perkataan Jordan yang sengaja mempermalukannya di depan pelayan saat mereka makan malam. Saat itu Alessa hanya diam membatu di depan Jordan tanpa mengucapkan apa-apa. Ia hanya meremas tangannya erat-erat, rasanya ingin menangis tapi ia tak bisa melakukan itu. Kekecewaan hatinya tak bisa digambarkan saat itu. Ia menarik satu-satu napasnya yang keluar tidak stabil dari mulutnya. ini adalah pengalaman yang paling menyedihkan semenjak ia menjalin hubungan dengan Jordan.
Alessa menarik napas singkat sambil melepaskan lamunannya. Ia mencoba untuk tidak mengingat kejadian malam itu lagi. Alessa memijat punggungnya yang terasa pegal. Ia memutarnya berulang-ulang agar otot-ototnya tidak tegang lagi. Alessa pun pergi ke kamar mandi. Membasuh lelah tubuhnya dengan air hangat. Bulir-bulir air shower mengguyur kepala Alessa hingga mengalir deras ke kaki. Ia sengaja membesarkan volume air yang keluar. Hingga perlu membuka mulut agar dapat menarik oksigen untuk bernapas. Alessa mengusap sabun ke wajah dan seluruh tubuhnya sambil memejamkan mata. Tak ingin berlama-lama. Ia pun membersihkan tubuhnya dengan air hangat. Tubuhnya jauh lebih segar. Alessa segera memakai handuk piyama.
Seperti biasa sebelum tidur, Ia selalu melakukan perawatan wajah. Biar tetap terlihat cantik dan fresh. Setelah melakukan perawatan pada wajah. Alessa memilih mengistirahatkan tubuhnya setelah selesai menikmati makanan yang diberikan Samantha.
⭐⭐⭐⭐⭐
Di sisi lain.
__ADS_1
Setelah bertemu dengan Mr Julian. Levin langsung pulang dan memilih tidur. Ia bahkan masih menggunakan kemeja yang dipakainya dari kantor. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Levin berulangkali mengerjapkan matanya. Ia meringkuk dan bersembunyi di balik selimut. Ia merasa tak sanggup untuk keluar dari sana. Rasa ngilu pada bagian tubuhnya dan sakit pada bagian kepalanya begitu menyiksanya. Perasaannya seperti lilitan ketat di sekitar kepala, berdenyut-denyut dan begitu berat.
Elana yang dari tadi merengek, tak digubrisnya. Levin hanya ingin tidur untuk mengurangi rasa sakit pada bagian tubuhnya. Sampai akhirnya Elana tertidur di sampingnya.
Musim dingin yang tiba-tiba hujan akhirnya membuatnya jatuh sakit juga. Levin pilek hebat. Kepalanya sakit, berdenyut-denyut seperti di pukul palu berkali-kali. Ia bahkan bersin puluhan kali. Levin merasakan hidungku panas dan merah. Ini benar-benar menyiksanya.
"Haaacimmmm"
Wajahnya terlihat merah karena suhu tubuhnya yang tinggi. Ia meringis menahan rasa sakit luar biasa di bagian kepala. Rasanya ingin memanggil seseorang. Tapi tidak ada siapa-siapa kecuali Elana. Ia tidak mungkin minta bantuan dari Elana. Walau ia tahu, Elana paling bisa diandalkan. Kedua kakinya ia angkat dengan posisi tidur dimiringkan dan tangannya ia lipat di depan dada. Levin merasa kedinginan. Berharap dengan begitu rasa menggigilnya bisa hilang atau setidaknya mereda. Sudah begitu lama Levin tidak sakit. Terakhir ketika ia duduk di bangku sekolah menengah atas.
"Dasar lemah kau Levin." Batinnya berbicara, ia berusaha mencoba menahan tubuhnya yang menggigil.
Sensasi berdenyut, seperti ditusuk-tusuk dan seperti diikat pada bagian kepalanya semakin menyiksanya. Ia mengeluarkan sedikit kepalanya dari balik selimutnya untuk melihat jam. Huftt... Levin membuang napas panjang. Ia keluar dari selimutnya. Mencoba keluar dari kamar untuk mencari obat yang biasa dipersiapkan Desmond di rumah. Pertolongan pertama untuk mengurangi rasa sakitnya. Hanya dalam sekejap, semuanya menjadi semakin sunyi. Butuh perjuangan.
"Astaga kepalaku rasanya mau pecah!" Levin memijit pelipisnya. Ia melangkah pelan menuju dapur. Pandangannya dengan cepat menangkap sebuah kotak obat yang ada di dalam lemari. Ia pun membuka lemari itu. Ia tetap menahan rasa tubuhnya yang kedinginan karena menggigil.
Prangggg....!!!!!
Suara kotak obat terjatuh, sedikit mengacaukan kesunyian malam. Levin mengernyit sambil memejamkan mata dengan erat.
"Uncle...." panggil Elena dengan suara serak bangun tidur. Elana terbangun saat menyadari Levin tidak ada di sampingnya.
"Elana, kenapa kamu bangun sayang?" Sakit pada bagian kepala terasa berdenyut-denyut. Tetesan keringat dingin kembali mengucur di dahinya. Dengan nafas sedikit menderu terputus-putus, dia mulai mengambil kotak yang terjatuh dari tangannya. Tangannya yang mulai gemetar tak lagi cekatan seperti lelaki super.
Elana berlari mendekat Levin, ia melihat Levin kesakitan. "Uncle sakit, kenapa gak hubungi Aunty saja?"
"Uncle tidak apa-apa, sayang. Kamu tidur lagi ya," ujar Levin mencoba kuat di depan Elana.
Elana berlari lagi masuk ke kamar. Levin tidak tahu, Elana kembali ke kamar untuk menghubungi Alessa.
Levin mengambil obat dan beruntung obat itu tidak sampai berantakan. Ia langsung meneguk air putih yang ditelannya bersamaan dengan obat. Semoga ini berhasil mengurangi sakit kepala dan menurunkan suhu tubuhnya yang panas sampai membuatnya menggigil. Levin kembali masuk ke dalam kamarnya. Ia menarik selimutnya kembali untuk menutupi tubuhnya sampai ke atas kepala. Tidur adalah pilihan yang terbaik saat ini. Semoga saja besok ia sudah sehat kembali.
Namun tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi. Levin keluar dari balik selimut menatap ke arah Elana. Mata mereka saling berpandangan.
"Apa mungkin itu mommy-mu, Elana?"
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku 😍
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^
__ADS_1