
💌 HUJAN DAN KAMU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Levin memilih kembali ke kediaman Horald. Mungkin dengan cara seperti ini, ia bisa menenangkan hatinya. Security membuka pagar otomatis dan mempersilahkan tuan muda mereka memasuki halaman rumah mewah keluarga Horald. Rumah ala Eropa yang tersaji dengan dinding-dinding terbuat dari kaca dan terlihat berkilau dengan lampu-lampu yang memantul dari luar.
Levin menarik rem tangan dan memilih tidak langsung turun dari mobilnya. Ia tersenyum sendu begitu ia menyadari hari sudah malam. Levin menarik napasnya dalam-dalam dan menatap sejenak rumah mewah itu. Ia masih belum bisa memahami semua ini, jika wanita yang dipercayainya ternyata sudah memiliki anak. Rasa sakit itu kembali datang.
Levin menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu mengusap wajahnya dengan pelan. Ia menutup wajahnya sebentar untuk menenangkan perasaan getir di dalam hatinya. Setelah melepaskan napas panjang, akhirnya ia memilih turun dari mobil. Ia melangkah masuk ketika seorang pembantu rumah tangga membukakan pintu untuknya.
"Selamat malam tuan," sapa wanita itu menyambut Levin yang sudah beberapa bulan tidak pernah pulang.
"Selamat malam." Jawabnya singkat tanpa ada senyuman.
"Nyonya lagi tidak ada tuan, beliau sedang keluar bersama tuan..."
"Aku sudah tahu...!" Ucap Levin memotong ucapan wanita itu. Ia melangkah ke dapur untuk mengambil minuman yang bisa menyegarkan tenggorokannya. Ia meneguk minuman itu berulang kali.
"Apa perlu saya buatkan makan malam anda, tuan?" Tanya wanita itu sambil mengikuti langkah Levin.
"Tidak perlu. Aku hanya ingin istirahat." ucapnya berjalan meninggalkan wanita yang sudah sepuluh tahun bekerja di kediaman Horald.
"Tuan.. sepertinya anda kurang sehat? apa saya perlu menyiapkan obat herbal?" kata wanita itu kembali.
"Aku tidak sakit..."
"Tapi wajah anda tidak bisa berbohong tuan, apa itu hanya perasaan saya saja?"
Mendengar itu, Levin menghentikan langkahnya. Ia memutar tubuhnya menatap wanita itu dengan tajam. "Kau sudah terlalu banyak bicara. Aku tidak suka, kau mengerti." sarkas Levin dengan ketus. Suasana hatinya yang sedang tidak baik membuat Levin tak bisa menguasai hatinya.
"Maafkan saya, tuan." Wanita itu dengan cepat menundukkan kepala. Tidak berani mengangkat wajahnya lagi.
Levin tak menjawab. Ia hanya menarik napas panjang, lalu meninggalkan wanita itu. Levin melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya. Ia membuka dasinya untuk mengurangi rasa sesak di dada. Levin terduduk di lantai. Punggungnya berada ke sandaran kasur. Ia memejamkan matanya sambil membenamkan wajahnya di antara ke dua kakinya. Rasanya begitu sakit. Matanya memicing memandang ke arah nakas, sebuah foto berukuran kecil ia letakkan di sana. Gambar dirinya dengan Monika.
Levin menutup matanya dengan erat. Sakitnya masih terasa membekas, selama ini ia merasa dibohongi. Ia begitu terluka di sini. Levin tersenyum miris. Ia mengepalkan tangannya begitu kuat. Rasa marah kembali menguasai dirinya. Hatinya begitu teriris-iris benda tajam. Membuat celah bekas sayatan yang menambah lukanya begitu dalam. Kenapa Ia tidak pernah menyadarinya. Apakah menghilangkannya Monika satu tahun yang lalu karena itu? Kini Levin menyadari semuanya. Ia pun tertawa di sana. Levin sangat kecewa. Ia kembali membenamkan wajahnya di antara ke dua kakinya.
Tiba-tiba terdengar suara notifikasi dari ponselnya. Levin mengambil ponselnya. Di layar handphone-nya telah tercantum nama Elana. Anak kecil yang selalu membuat suasana hatinya membaik. Levin tersenyum sambil membuka pesan suara yang dikirimkan Elana kepadanya.
__ADS_1
Uncle dimana? kenapa tidak datang ke rumah? katanya mau datang bawa hadiah yang banyak. Elana sudah tungguin, tapi Uncle gak datang-datang juga.
Levin teringat akan janjinya kepada Elana, ada rasa bersalah menyergap dirinya. "Maafkan uncle, sayang." ucapnya dengan pelan. Pesan suara masih terdengar, Elana masih terus berbicara di sana.
Uncle akhir-akhir selalu ingkar janji, katanya mau ngundang aunty Alessa makan, kenapa gak Jadi? Aku kesal sama Uncle, Uncle uda gak sayang sama Elana lagi.
Mendengar pesan suara itu, Levin menarik sudut bibirnya untuk tersenyum.
Uncle juga uda janji mau bawa Elana berenang. Besok ajak Elana berenang ya, aku tunggu kabar dari Uncle.
"Astaga aku juga punya janji mengajak Elana berenang? bagaimana aku bisa melupakan itu?"
Huffft Levin mengembuskan napas panjang. "Baiklah sayang, uncle janji besok akan bawa Elana jalan-jalan dan kita bisa berenang sepuasnya." Levin mengirimkan pesan suara kepada Elana. kemudian ia meletakkan kembali handphonenya ke atas tempat tidur.
Levin kembali memejamkan matanya sambil mendongak ke atas. Ia menatap langit-langit kamarnya. Suasana yang sunyi menyelimuti perasaannya saat ini. Ia bangkit dan berjalan menuju balkon kamarnya. Malam semakin meranggas. Suasana malam semakin mencekam. Rasa sunyi kembali menghampiri dan membangkitkan perasaannya. Ketika hening bersentuhan dengan sebuah suasana kesedihan, banyak rasa yang entah karena apa tersembunyi dari pengakuan.
Levin kembali mengembuskan napasnya. Ia yakin pada setiap malam berlalu akan ada selalu ada harapan baru. Jiwa yang meliris selalu hadirkan suasana untuk mendatangkan kebahagiaan.
Terdengar sayu lembut angin menerpa wajah Levin. Detak jarum jam dipergelangan tangannya seakan mengikuti denyut nadinya. Levin hanya memandang kosong di dalam selingan suasana malam. Sepi terasa sangat mencekam. Memang benar, tali yang putus memang masih bisa di sambung kembali. Namun jika hati yang putus akan susah tersambung lagi.
Hidup tidak selalu bahagia, adakalanya sedih menghampiri diri. Hati yang sakit karena dikhianati, sakitnya mungkin masih terasa. Levin akan berusaha mencoba untuk mengobati luka itu dan kembali melupakan semua tentang Monika.
Levin memicing mengarah ke mobil Liliana memasuki pekarangan rumah. Tidak ada Elana. Ia melangkah meninggalkan balkon. Levin memilih untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, lalu mengistirahatkan tubuhnya.
⭐⭐⭐⭐⭐
Gelisah, Levin terus gelisah. Ia berusaha memejamkan matanya, namun tidak bisa. Yang dia lakukan hanyalah membolak-balik kan badannya ke kiri dan ke kanan. Ia terus membuang napasnya. Levin duduk lagi, tak berapa lama ia merebahkan tubuhnya lagi. Berulang kali melakukan hal sama.
"Aaarggghh" Levin mengacak rambutnya sendiri. Aktivitas gelisah di tempat tidur terjadi juga. Memeluk bantal guling dan melepaskannya lagi.
Hingga akhirnya ia keluar dari kamarnya. Mungkin minum adalah cara terbaik bisa menghilangkan rasa gundah di dalam dadanya. Malam ini ia ingin melepas semuanya dengan minum. Langkahnya melambat saat melihat Liliana tengah duduk di sofa sambil tersenyum melakukan panggilan telepon.
Melihat Levin turun, Liliana langsung melambaikan tangannya. Liliana tersenyum manis ke arah adiknya itu. Levin membalasnya dengan senyuman juga. Ia melangkah menuju dapur dan memilih menyendiri di sana tanpa mengganggu kakaknya itu.
Levin memutar-mutar gelasnya dengan pelan. Ini minuman ke dua kali ia coba, selama seumur hidupnya. Levin menatap gelasnya kembali.
"Lupakan... lupakan..." Ucap Levin menekan setiap kalimat yang dia ucapkan. "Aku benci dibohongi."
Ia kembali memegang tangkai gelas yang berisi wine. Memutar-mutar kembali gelasnya, agar aroma wine lebih keluar. Sesaat ia menghirup aroma wine itu terlebih dahulu, lalu menyesapnya dengan perlahan. Levin memejamkan matanya menikmati minuman anggur itu.
"Siapa yang ingin kau lupakan Levin?" Liliana melangkah ke arah Levin dan duduk di sana.
"Uhuuk! Uhuuk!" Levin tersedak saat meminum anggurnya. Ia menatap Liliana yang sedang tersenyum kepadanya. Levin meletakkan kembali gelas anggurnya. Lalu mengambil tissue.
__ADS_1
Liliana melepas senyumnya dengan melipat tangan ke atas meja lalu menatap Levin. "Siapa yang ingin kau lupakan? aku berharap itu Monika."
"Aku tidak pernah mengatakan itu." ucap Levin berbohong.
"Benarkah?" Kata Liliana tersenyum. Ia mencondongkan tubuhnya dan berbicara. "Tadi aku bertemu Alessa di mall. Dia juga menanyakan kabarmu."
"Uuhukkkk...! Uuhukkk...! Levin kembali tersedak, wajahnya berubah merah saat Liliana menyebut nama itu. Napasnya kembali tidak stabil. Levin mencengkeram tangkai gelasnya begitu kuat.
"Levin, kamu tidak apa-apa?" Liliana terjengkit bangun dari duduknya.Ia segera menepuk-nepuk punggung Levin dan langsung mengambil tissue dan menyerahkannya kepada Levin.
Levin masih terdiam, seakan menikmati perasaan aneh yang datang dari rongga dadanya. Seketika rasa sedihnya hilang begitu saja. "Ada apa denganku? Apakah aku benar-benar menyukai Alessa? perasaan apa ini?"
"Levin, kau tidak apa-apa?" kata Liliana sambil menyentuh lengan Levin. Ia memiringkan kepalanya untuk menatap wajah adiknya secara dekat.
"Aku tidak apa-apa. Dimana Elana, aku tidak melihatnya bersamamu?" Levin mengambil tissue dari tangan Liliana. Ia sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Sungguh, kau tidak apa-apa. Wajahmu sempat merah. Aku takut minuman anggur itu masuk ke dalam paru-parumu." bukannya menjawabnya, Liliana terus menanyakan keadaan Levin. Ia begitu mencemaskan adiknya itu.
"Aku bilang aku tidak apa-apa. Kau tidak menjawab pertanyaanku. Kenapa Elana tidak ikut bersamamu?" Keluh Levin.
"Elana ikut mommy. Oh iya, soal Alessa. Dia lebih cantik dari Monika. Wajah Alessa gak membosankan. Aku bisa melihat hatinya selembut sutra." Kata Liliana menjeda kalimatnya. Ia meneguk wine milik Levin dan kemudian melanjutkan kalimatnya. "Dua hari yang lalu aku bertemu Monika, dia bahkan tak menegurku. Jelas-jelas dia melihatku ada di sana. Astaga Levin....aku masih habis pikir denganmu. Apa sih yang kau sukai dari wanita sombong itu, Heee?"
Levin hanya menarik napasnya, tak memberi jawaban. Ia bahkan tak ingin membicarakan Monika.
"Aku lebih menyukai Alessa. Bagaimana jika kamu Pdkt dengan dia? Sepertinya Alessa masih sendiri. Aku bisa membantumu."
"Siapa bilang dia masih sendiri, Alessa sudah mempunyai kekasih." Jawab Levin ketus, tangannya kembali menuang wine ke dalam gelasnya.
"Heuh? kamu serius?"
"Hmm." Jawab Levin dengan gumaman. Ia kembali mengingat kejadian di ruang akses tangga darurat saat berkunjung ke rumah sakit mitra. Seorang lelaki mencium Alessa saat itu.
Liliana mengembuskan napas kecewa. "Sangat disayangkan, padahal aku menyukai Alessa."
Levin tak menjawab. Ia hanya diam menikmati minumannya. Hatinya kembali kacau saat Liliana kembali membicarakan soal Alessa.
"Ada apa denganku? Apakah aku benar-benar menyukai Alessa?"
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku 😍
__ADS_1
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^