Hujan Dan Kamu

Hujan Dan Kamu
SEMANGAT UNTUK SEMBUH


__ADS_3

💌 HUJAN DAN KAMU 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Setelah Jordan membawanya jauh dari kejaran Monika. Joyce tinggal di sebuah pedesaan yang jauh dari pemukiman warga. Sudah satu bulan sejak kejadian itu. Joyce menjalani pengobatan terapi. Setiap hari Jordan mendampinginya tanpa bosan. Mendampingi si kaki lumpuh yang dibenci banyak orang. Termaksud wanita yang melahirkannya. Joyce sendiri membenci segala hal dalam dirinya. Termasuk orang-orang terdekat sekali pun, ia membencinya. Tapi tidak dengan sosok lelaki yang membawanya pergi jauh dari wanita yang melahirkannya. Joyce tidak tahu siapa lelaki itu. Dia memberi semangat setiap harinya. Tanpa lelah mendampingi Joyce fisioterapi.


"Joyce, kamu jangan menyerah. Aku yakin kamu pasti bisa pulih kembali." Katanya meyakinkan Joyce dalam ruang fisioterapi.


"Aku bosan! Tiap hari seperti ini. Aku tak bisa sembuh. Kenapa aku selalu dibawa ke sini?" Bentak Joyce pada Jordan.


"Karena aku ingin melihatmu sembuh. Kamu mau seperti ini terus, duduk di kursi roda. Apa tidak ada keinginanmu untuk bisa jalan kembali?" Jordan mencoba menenangkan Joyce. Melihat Joyce hanya diam, Jordan menarik napasnya dalam-dalam dan kembali melanjutkan kalimatnya.


"Aku yakin kamu bisa melewati semua cobaan ini, asal dengan sabar dan terus berusaha untuk sembuh." Lanjutnya.


"Tapi, apa aku tak dengar kata dokter aku tidak bisa jalan apalagi lari. Jadi untuk apa merepotkan diri datang ke sini." Ungkapnya masih penuh dengan kekesalan.


"Tak ada yang tak mungkin di dunia ini Joyce, serahkan semuanya pada sang maha kuasa, tetap sabar dan jangan menyerah. Aku akan selalu mendampingimu." Jordan memeluk Joyce sambil meneteskan air matanya.


Jordan menjadi pelatih terbaik dan penyemangat untuk kesembuhannya. Jadwal fisioterapinya yang membosankan pun tak pernah lagi Joyce lewatkan. Semua ia lakukan untuk mempercepat proses penyembuhan. Dan akhirnya kabar baik pun ia terima bahwa proses kesembuhannya begitu signifikan. Sudah banyak perubahan pada kakinya. Dan dokter mengatakan kakinya akan kembali bisa diajak berjalan dalam waktu dua bulan bahkan satu bulan lagi. Tentunya dengan latihan rutin dan disiplin kontrol ke fisioterapi.


Betapa bahagianya Joyce mendengar kabar itu. Joyce menatap Jordan. Wajahnya begitu haru, matanya berlinang dan senyumnya terpancar ke arahnya. Dia sosok lelaki yang baik untuk Joyce. Ia telah mengubah hal yang tak mungkin baginya menjadi hal yang tak ia sangka-sangka menjadi bisa. Lewat semangat, keyakinan dan doanya yang tak pernah padam darinya. Membuatnya bisa melewati saat-saat tersulit itu. Joyce sekarang bahkan lebih sering tersenyum, hanya saja ia belum berani keluar dari kamarnya. Joyce banyak menghabiskan waktunya di kamar sambil melukis.


Siang hari, seperti biasa Joyce tengah menikmati makanannya dengan tenang. Ia hanya sendiri di kamar. Pelayan dengan baik hati selalu memenuhi segala kebutuhannya. Mereka tak pernah memasang ekspresi marah kepada Joyce. Jika ia bertanya mereka menjawabnya dengan lembut dan tersenyum kepadanya. Tidak seperti orang-orang yang pernah ditemuinya di rumah yang dulu. Joyce kini menyadari bahwa Jordan adalah orang baik. Baginya pria itu seperti malaikat yang dikirim Tuhan untuk menyelamatkan hidupnya.


Joyce menghabiskan makanannya. Ia tersenyum sambil meletakkan baki di atas nakas di samping tempat tidurnya. Joyce kembali menatap pintu. Hatinya gelisah, tuan Jordan belum juga datang menemuinya. Saat pikirannya kalut, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka.


CEKLEK!


Sosok pria ramah dan baik hati itu tersenyum kepada Joyce.


"Kau sudah makan?" tanyanya sambil melangkah mendekat ke arah Joyce.


"Sudah tuan," Joyce tersenyum sumringah saat melihat Jordan.


Jordan memilih duduk di sisi ranjang, dan tersenyum teduh kepada Joyce. Jordan belum berani mengakui bahwa ia adalah ayahnya. "Bagaimana perasaanmu sekarang Joyce?"


Joyce membalas senyuman itu. "Sekarang sangat baik, tuan."


"Syukurlah, aku ikut senang melihatmu ceria kembali."


Joyce tersenyum lagi, ada kenyamanan saat ia bersama tuan Jordan. Mereka seperti terikat

__ADS_1


"Apa kau masih sering bermimpi buruk?" tanya Jordan. Pembantu yang sering mengurus Joyce pernah cerita bahwa anak ini sering mengalami mimpi buruk.


Joyce menggeleng pelan. "Tidak, tuan." jawabnya singkat. "Terima kasih sudah menyelamatkanku dari rumah itu. Aku yakin wanita itu tidak bisa menemukanku lagi." Ucap Joyce tersenyum penuh arti.


"Ehmm, kau aman di sini. Tentang masa lalumu, aku sudah mendengarnya dari wanita yang mengurusmu. Kau tidak perlu takut lagi. Aku akan melindungimu dari mereka. Sudah seharusnya kau menjalani kehidupanmu seperti anak-anak lain yang seusiamu. Jadi aku tidak akan membiarkanmu diambil wanita itu lagi."


Joyce mengernyitkan dahinya. "Maksudnya, tuan?" ucapnya gagap.


"Kau akan tinggal bersamaku. Aku akan memperkenalkanmu kepada ibu dan adikku."


Joyce membelalakkan matanya dengan mata berkaca-kaca. Apakah ia hanya berhalusinasi saja, atau jangan-jangan ia salah dengar.


"Kau akan menjadi bagian keluarga Mark." lanjut Jordan kembali.


Joyce menutup mulutnya dengan mata membulat sempurna. Ini bukan mimpi. Semua yang di dengarnya adalah benar dan benar-benar nyata. "Benarkah tuan?"


"Hmm, tentu saja." kata Jordan mengangguk.


Joyce langsung memegang tangan Jordan. Ia berucap dengan antusias. "Aku berjanji menjadi anak baik. Memiliki keluarga adalah impianku. Aku sangat bersyukur akan itu. Terima kasih tuan, terima kasih." Ucap Joyce begitu terharu.


Jordan tersenyum saat mendengar kata-kata polos dari Joyce. "Kau harus menjadi anak yang sukses. Agar orang-orang tidak memandangmu sebelah mata. Kau harus sekolah untuk mengejar cita-citamu."


Joyce mengangguk antusias. Selama ini, ia tidak pernah sekolah. Bahkan untuk memikirkannya saja tidak pernah, karena wanita itu sama sekali tidak pernah mengizinkannya. Ini serasa mimpi menjadi nyata untuk Joyce. Ia masih begitu shock dan tidak percaya.


TOK TOK TOK!


"Ini saya, pak." ucap Charles di balik pintu.


"Masuk Charles." Sahut Jordan dari dalam. Ia tersenyum tipis di sana.


Pintu di buka Charles, seperti biasa ia membungkuk badannya untuk memberi hormat. "Selamat malam, pak."


"Apa kau sudah menemukan wanita itu?" tanya Jordan tanpa basa-basi.


Charles sedikit membungkukkan badannya kembali. "Sudah, pak. Saat ini ia bekerja di rumah sakit terkenal di kota A."


Jordan mengerutkan keningnya. Sementara Joyce belum tahu arah pembicaraan mereka. Ia hanya diam tidak mau ikut dalam urusan orang dewasa.


"Dia bekerja di rumah sakit kota A? Kenapa aku tidak pernah bertemu dengannya? Apalagi ada acara seminar-seminar, pasti semua dokter dilibatkan dalam acara itu." Ucap Jordan tak percaya.


"Betul tuan, dia bekerja di rumah sakit di kota A sudah tiga tahun."


Jordan tertawa hambar di sana. "Aku tidak percaya Monika bekerja di kota yang sama denganku." Alis Jordan naik dari pangkalnya.


DEG!


Joyce terdiam kaget. Jantungnya berdegup kencang. Semua rasa takut berkecamuk dalam batinnya. Saat menyadari pembicaraan mereka ternyata mengenai ibunya.

__ADS_1


"Benar pak, soal acara seminar seperti yang anda katakan, ia selalu meminta temannya untuk menggantikannya. Karena ia ingin menghindari seseorang."


"Menghindari seseorang? apakah itu aku?" Jordan tersenyum sinis di sana.


"Apa yang harus saya lakukan pak?" Tanya Charles masih berdiri tegap di sana.


Jordan tersenyum dengan seringai tipis. Charles tahu betul yang ada di dalam pikirannya. Sudut bibirnya melengkung ke atas. "Biarkan saja dulu dia, aku ingin melihat sampai dimana perjuangannya. Jika waktunya sudah tiba, aku ingin dia merangkak dan minta maaf di kakiku." ucapnya datar tanpa ekspresi.


Joyce diam membeku di sana. Ia menatap Jordan dengan pandangan nanar. Alisnya terus melengkung ke tengah dan menggeleng cepat di sana. "Apa maksud semua ini tuan?" tanya Joyce pelan, namun Jordan masih bisa mendengarnya.


Raut wajah Jordan berubah lembut lagi. Ia seperti seorang ayah yang memberikan ketenangan kepada anaknya. Jordan tersenyum teduh lagi dan menatap ke arah Joyce yang terlihat panik. "Kau tidak perlu takut Joyce. Tugasmu belajar dan tetap menjalankan terapi untuk kesembuhan kakimu. Masalah Monika aku hanya memberikan pelajaran sedikit untuknya."


DEG...DEG...DEG...!


Lagi-lagi jantung Joyce berdetak kencang. Ia menarik satu-satu napasnya yang terbata. "Memberi pelajaran?" Joyce seperti orang bodoh di sana dan mengulangi pertanyaan itu di otaknya. Ia tidak bisa melakukan apa-apa, biarkan itu menjadi urusan orang dewasa saja. Anggap saja Joyce tidak mendengarnya.


Tiba-tiba handphone Jordan berbunyi, saat melihat siapa yang memanggilnya. Ia langsung teringat janjinya. Dengan cepat Jordan mengangkatnya.


"Oh, maaf sayang. Aku baru teringat ada janji denganmu." Kata Jordan saat panggilan tersambung.


"Kamu di rumah sakit?" Terdengar nada kesal di ujung telepon. Jika Jordan minta maaf, itu artinya dia membuat kesalahan


"Tidak, saya di rumah." jawab Jordan cepat.


"Apa acara dinner-nya di tunda saja?" Kata Alessa lagi.


"Jangan sayang, kau tidak bisa membatalkan acara pertemuan keluarga kita. Apalagi ayah dan ibumu sudah datang jauh-jauh. Aku sudah reservasi hotelnya, jadi kamu tak perlu mencemaskan hal itu. Semua sudah dipersiapkan."


Alessa menarik napasnya. "Baiklah, sampai bertemu malam ini."


"Baik sayang."


Tit!


Panggilan langsung dimatikan Alessa sepihak. Ia membuang asal handphonenya. Alessa duduk di sofa kamarnya. Memijat punggungnya yang terasa pegal. Alessa menarik napasnya, pandangannya sayu saat menundukkan kepala. Perasaan campur aduk. Malam ini adalah pertemuan keluarga pihak Mark dan Charlett. Hatinya gusar, ia terus memikirkan Levin yang terus menghindarinya.


Tak ingin terus memikirkan Levin. Alessa mempersiapkan diri untuk pertemuan keluarga nanti malam. Malam ini Alessa harus tampil cantik di depan keluarga Mark. Tanpa pikir panjang, Ia pun pergi ke kamar mandi. Membasuh lelah tubuhnya dengan air hangat. Bulir-bulir air shower mengguyur kepala Alessa hingga mengalir deras ke kaki. Ia sengaja membesarkan volume air yang keluar. Hingga perlu membuka mulut agar dapat menarik oksigen untuk bernapas. Dengan cara ini Alessa bisa melepaskan kesesakannya.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku 😍


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^

__ADS_1


__ADS_2