
π HUJAN DAN KAMU π
Β
π HAPPY READING π
.
.
.
Setelah keputusan yang dibuatnya. Akhirnya Samantha mendatangi langsung kantor Horald company untuk menemui Levin. Ia menatap perkantoran itu dengan penuh keyakinan. Tanpa perduli jika ada tamu, wajib lapor dulu. Samantha ingin memberi perhitungan kepada lelaki yang tidak punya hati nurani itu. Lelaki yang berhasil melukai perasaan wanita yang lemah lembut seperti Alessa. Karena tuduhan lelaki itu, sahabatnya juga dipecat dari rumah sakit. Mengingat itu, emosi Samantha semakin meledak. Dua orang security langsung mengejar Samantha, ketika ia menerobosnya masuk. Samantha melangkah panjang sampai tidak perduli dengan teriakan dua orang security itu.
"Nona, apa yang anda lakukan?" Teriak security dengan lantang.
Samantha tidak perduli. Ia sengaja melalui tangga khusus dan mencari ruang kerja direktur utama itu. Ia membanting pintu itu satu per satu. Tidak ada di sana. Ia kembali melalui jalur khusus. Akhirnya Samantha menemukan ruangan yang berbeda dengan karyawan lainnya. Dan memang di khususkan untuk ruangan pak direktur utama Horald company.
Dengan langkah cepat dalam keadaan kesal Samantha melangkah mendekati pintu itu. Sekretaris yang duduk di luar ruangan pak direktur utama langsung menyadari ada orang ingin menerobos masuk dan ia mencoba menghalanginya. Lagi-lagi Samantha tidak perduli.
BRAAAAKKKKK!!!!!
"Nona, anda tidak bisa masuk seenaknya seperti ini." cegah seorang wanita yang ikut masuk keruangan pak direktur.
Levin tengah bersiap mengikuti rapat hari ini. Ia bahkan sudah mengenakan jasnya. Saat mendengar pintu dibuka dengan paksa, ia segera berbalik dan melihat seorang wanita masuk dengan wajah gaharnya.
Napas Samantha masih tersengal karena kecepatan berlarinya. Ia menatap Levin dengan geram. Samantha akhirnya bisa bertemu dengan pria sombong itu. Dua orang security langsung menerobos ikut masuk.
"Maaf pak, kami tidak bisa mencegahnya. Dia tidak bisa dihentikan dan langsung menerobos masuk." Kata security menyadari kesalahannya.
"Siapa dia? Kenapa dia bisa masuk ke ruangan ini?"
Mendengar itu, Samantha tersenyum sinis. "Anda ingin tahu siapa saya?"
Dahi Levin mengernyit saat melihat keberanian wanita itu.
"Aku tidak pernah berurusan dengan kamu. Sekarang bawa wanita ini keluar dari sini!" Perintah Levin tegas.
"Saya tidak akan keluar, sebelum saya bicara."
Levin menarik napasnya dengan kesal. "Apa yang kalian tunggu? Bawa dia!"
Dua orang security maju dan mendekat ke arah Samantha. Namun, sebelum itu terjadi Samantha menolaknya dengan tegas.
"Anda tidak perlu memerintahkan mereka membawaku dari sini. Aku bisa keluar sendiri, jika aku sudah selesai bicara. Saya juga tidak ingin berlama-lama di sini."
Levin membuang napas dengan kasar. Bagaimana mungkin ada seorang wanita tidak punya etika seperti ini. Ia kemudian menatap security dan sekretarisnya.
"Kalian bisa keluar. Dan kamu Liana, tunda rapat tiga puluh menit. Nanti aku akan menghubungimu kembali."
Liana membungkukkan badannya memberi hormat. "Baik pak, Kalau begitu saya permisi dulu." Kata Liana pamit undur diri dan meninggalkan ruangan itu bersama dua orang security.
"Waktumu hanya 15 menit. Sekarang apa yang ingin kau bicarakan?"
"Tidak perlu 15 menit, saya rasa 10 menit cukup untuk menyadarkan lelaki angkuh seperti kamu."
"Apa?" Kata Levin dengan tatapan tajamnya. Ia memang sengaja tak mengizinkan Samantha duduk. Mereka masih tetap posisi berdiri.
__ADS_1
"Apa anda tidak merasa bersalah setelah memecat sahabatku?"
Mengerti arah pembicaraan wanita itu, wajah Levin berubah tanpa ekspresi. "Apa Alessa yang memintamu datang ke sini?" Ucap Levin dengan wajah tenang.
Mendengar itu, Samantha mengencangkan rahangnya. "Bagaimana anda bisa berpikir seperti itu, anda benar-benar tidak waras."
"Jaga ucapanmu!" Levin memberi peringatan.
Samantha mencoba mengendalikan emosinya, ia sadar tengah berhadapan dengan orang besar. Tangannya ditekuk di pinggang menatap Levin. Suaranya kini lebih tenang.
"Apa yang anda lakukan? apa anda tidak sadar, dia menangis tersedu saat anda mengatakan teman saya terlibat dalam kecelakaan Elana. Bagaimana anda bisa menuduhnya seperti itu? Aku mengenalnya dengan baik. Dia bukan wanita seperti yang anda tuduhkan."
Levin hanya menatap dengan datar.
"Setidaknya anda bisa melihat, bahwa Alessa menyayangi Elana dengan tulus. Apa sedikit pun anda tidak merasa kasihan dengannya?"
Levin tetap hanya diam, mulutnya terkatup. Tidak ada satupun jawaban dari mulut Levin. Ia hanya menatap ke arah lain.
Mata Samantha berkaca-kaca. "Perlu anda ketahui, Alessa tidak pernah terlibat dalam kecelakaan itu. Jika Alessa benar-benar terlibat, bagaimana ia bisa membatalkan pernikahannya dengan Jordan."
Levin sedikit mengernyitkan dahinya. "Alessa membatalkan pernikahannya?"
Samantha mendongak ke atas. Memasukkan kembali cairan bening itu agar tidak keluar. Ia tidak mau menangis di depan pria brengsek ini. Dengan tarikan napas panjang, Samantha kembali melanjutkan kalimatnya.
"Setelah anda berhasil membuatnya jatuh cinta dan saat itu juga anda berhasil melukai hatinya. Anda pengecut, anda benar-benar pengecut." Samantha semakin mendekat ke arah Levin. Ia menatap mata abu-abu itu dari dekat dengan tatapan tajam. "Suatu hari nanti, anda akan menyesal setelah memfitnah orang tak bersalah. Karena aku tahu, Tuhan akan membalas orang angkuh seperti anda. Anda akan terkena karmamu, tuan Horald. Karena fitnah lebih kejam dari apapun itu. Anda membuat Alessa terluka. Suatu saat nanti, anda akan menyesalinya."
Samantha langsung meninggalkan Levin yang tampak tegang. Saat pintu tertutup dan tubuh wanita itu sepenuhnya keluar. Levin langsung melepaskan napas yang tertahan di dadanya. Tangannya mengepal kuat, lalu menunduk.
βββββ
Samantha tersenyum puas saat berhasil memaki pria itu. Sementara dari arah pintu masuk, Desmond melangkah memasuki lobby perkantoran Horald company. Desmond mengernyit saat seorang wanita berjalan sambil menundukkan kepalanya. Ia sangat mengenali wanita itu. Desmond menghentikan langkahnya tepat di depan Samantha.
Samantha terkejut saat melihat sosok lelaki yang ditemuinya di rumah sakit. "DESMOND?"
"SAMA...." Kalimatnya menggantung, Desmond membuat gestur berpikir berusaha mengingat kembali nama wanita itu. Dia adalah wanita yang pernah ditemuinya di rumah sakit saat membeli minuman di depan Vending Machine.
"Saya Samantha." ucap Samantha menyambungkan kalimat sepenggal dari Desmond. Mereka pun tertawa sambil berjabat tangan dengan erat.
"Apa kabar?" tanya Samantha dengan senyum sumringah. Ia tidak menduga akan bertemu dengan Desmond di kantor ini. Apa jangan-jangan dia karyawan di sini?
"Sangat baik," jawab Desmond membalas senyuman Samantha dan kemudian jabatan tangan mereka terlepas.
"Kau ada urusan ke kantor ini?" Tanya Samantha.
"Ohhhh, saya bekerja di sini, kau sendiri?" Desmond balik bertanya.
"Saya datang ke sini untuk melabrak seseorang." Jawab Samantha dengan enteng.
"Heuh? Melabrak seseorang?"
Samantha mengangguk sambil melipat tangannya di depan dada. "Saya datang ke sini memberi perhitungan pada pria angkuh itu." Tatapan Samantha begitu dingin dan membekukan. Seolah lawannya adalah Desmond.
"Apa kau bisa menyebut namanya? Saya mengenal seluruh karyawan di sini."
Samantha mendekat dan berbisik. "Kau tidak perlu tahu. Jika kau berurusan dengannya, yang ada hidupmu akan bertambah rumit. Jadi biarkan saja." Ucapnya tersenyum sambil mengedipkan salah satu matanya.
"Ohhh," Melihat ekspresi Samantha, Desmond menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
"Senang bertemu denganmu di sini, bagaimana kalau kita minum kopi dulu. Setidaknya untuk merayakan pertemuan ini?" ucap Desmond kemudian.
"Dengan senang hati." Samantha menjawab cepat sambil melepaskan tawanya. Di saat hatinya sedang campur aduk, mungkin ia butuh teman untuk berbicara.
"Di seberang ada cafe, kita bisa jalan."
Samantha mengangguk tersenyum, mereka melangkah meninggalkan kantor Horald company dan menyebrang menuju cafe yang ada di seberang jalan.
Kringβ¦
Bel secara otomatis berbunyi nyaring ketika pintu kaca di dorong. Alunan musik jazz terdengar lembut membuat suasana cafe terasa damai. Pengelola cafe langsung menyambut kedatangan Desmond dengan hangat dari balik meja bar. Sementara Samantha sudah mengambil tempat duduk di pojok yang langsung menghadap jalan.
"Selamat siang tuan? Ini buku menunya," Sapa seorang wanita dengan ramah sambil menyodorkan buku menu kepada Desmond. Desmond tersenyum sambil melihat buku menu yang ada di tangannya.
"Mau pesan apa tuan?" Wanita itu ikut melihat menu yang masih di bolak-balikkan Desmond.
Desmond masih nampak berpikir, tak beberapa lama ia akhirnya menjatuhkan pilihannya. "Mmmm...aku pesan ini, terus ini dan ini..." Desmon menunjuk ke tulisan cokelat hangat dan sandwich yang tertera pada buku menu.
"Tidak seperti biasanya tuan?" Ucap wanita itu sambil melemparkan senyumannya. "Biasanya anda memilih menu steak dan Milk Tea untuk minumannya."
"Aku memesan untuk wanita yang duduk di sana."
"Baiklah, saya akan membawa pesanan anda secepatnya."
Desmond hanya mengangguk dan segera menghampiri Samantha.
Mereka asyik berbicara sambil menyeruput minuman yang ada di depannya. Sesekali meniup sejenak dan kembali menyeruputnya tanpa melepaskan senyum di bibirnya. Kemudian Samantha melepaskan lagi cangkirnya ke tempat semula dan memandang ke arah Desmond.
"Kau sudah lama bekerja di perusahaan itu?" Tanya Samantha, tanpa melepaskan tatapan ke arah perkantoran Horald company.
Desmond mengangguk. "Hmmm. Lumayan lama, sampai aku lupa memikirkan hal yang penting dalam hidupku."
"Hal yang terpenting, contohnya?" Tanya Samantha bingung.
"Soal percintaan."
GLEK!
Samantha menelan salivanya sambil menatap ke arah Desmond. "Kau belum memiliki kekasih? Sama dong! Apa mungkin kita berjodoh?" Kata Samantha menepuk tangan Desmond berulang kali sambil melepaskan tawanya.
Melihat ekspresi lucu Samantha, Desmond tertegun. Ia menikmati tawa bahagia yang tak pernah dilihatnya dari wanita yang pernah dikenalnya.
Melihat respon Desmond, tawa Samantha seketika hilang. "Maaf, aku hanya bercanda."
Desmond lagi-lagi tersenyum. "Apakah benar, aku berjodoh denganmu?" Ia juga tidak tahu, yang jelas Desmond merasa nyaman saat berbicara dengan Samantha.
Untuk menutupi rasa gugupnya Desmond kembali menyeruput coklat hangat yang ada di atas meja. Ia mengernyitkan keningnya, menyadari minuman yang ada di cangkirnya sudah habis. "Hmm, sepertinya minumanku sudah habis. Aku harus kembali bekerja. Lain kali aku traktir minum lagi."
Samantha menatap jam yang ada di tangannya. Ternyata sudah pukul satu siang. Waktu tidak terasa. "Baiklah, " Samantha tersenyum lalu bangun dari duduknya.
Mereka meninggalkan cafe, setelah berjabat tangan. Ada perasaan bahagia yang tak bisa dijelaskan.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku π
__ADS_1
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^