
💌 HUJAN DAN KAMU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Dari balik pagar rumah Levin Horald. Seorang anak kecil berlari dengan langkah-langkah kecil yang cepat.
"Elana!!!" teriak Levin yang ternyata sudah menunggunya di depan teras. Ia langsung melebarkan senyum dan berjongkok.
Melihat hal itu, Elana langsung mempercepat langkah kaki kecilnya. Berlari sekencang-kencangnya ingin memeluk Levin.
"Elana, hati-hati sayang, nanti kamu jatuh." teriak Levin mengingatkan.
Elana tak perduli. Dengan rambut kuncir dua dan tasnya yang bergambar hello Kitty di dorongnnya dengan semangat. Ia berlari mengejar lelaki yang menunggunya dengan tangan terbuka.
Levin langsung memeluk tubuh mungil Elana.
Tiba-tiba seorang lelaki paruh baya melangkah mendekat ke arah Levin.
"Selamat malam, pak direktur." Ucap Bernard dengan senyuman ramah.
"Selamat malam, pak Bernard," Sahut Levin dengan senyum merekah. Levin mengangkat alisnya sekilas. "Dimana Liliana?" Tanya Levin kemudian, saat dilihatnya Liliana tidak turun dari mobil.
"Maaf tuan, nyonya Liliana ada acara party bersama teman-temannya."
Levin mengembuskan napas singkat. "Baiklah. Bapak bisa pulang."
"Baik pak." Bernard membungkukkan badannya seraya memberi hormat. Ia kemudian melangkah masuk ke dalam mobil dan meninggalkan perumahan Flower.
"Uncle aku ingin bertemu aunty." Kata Elena merengek di gendongan Levin.
"Heuh? kau tidak merindukan Uncle?" Dahi Levin mengerut, menatap lekat ke arah Elana.
Bibir Elana mengerucut sambil menggelengkan kepalanya. "Elana datang ke sini untuk bertemu Aunty. Bukan uncle."
Levin tersenyum melihat tingkah Elana. Tangan Elana bersedekap dengan posisi kepala menunduk. Levin begitu gemas, ia mencubit lembut pipi Elana.
"Anak baik gak boleh marah, nanti kalau Elana kesal, bibirnya tambah manyun ke depan. Kamu mau?"
"Enggak... Elana gak mau!" Protesnya dengan cepat. "Elana hanya rindu Aunty...." Suara Elena terdengar sedih di sana.
Levin lagi-lagi tersenyum, tingkah Elana bahkan seperti bukan anak kecil saja. Cara berpikirnya kadang diluar dugaannya. Elana selalu berhasil memberikan kejutan.
"Baiklah, Uncle akan menghubungi Aunty, tapi Elana gak boleh sedih lagi ya."
Elana mengangguk antusias. "Elana tidak akan sedih lagi."
"Oke, tapi Elana nonton dulu ya. Uncle mau menghubungi mommy-mu."
"Bukannya Uncle mau menghubungi Aunty?"
"Uncle telepon mommy dulu, nanti baru telepon Aunty."
"Janji?"
"Hmm. Uncle janji."
Elana menganggukkan kepalanya. Levin pun menurunkan Elana dari gendongannya. Ia tersenyum saat melihat Elana berlari menuju ruang tamu.
Levin hanya tersenyum. Ia menarik napas singkat lalu melangkah ke kamarnya untuk mengambil handphonenya dan membawa beberapa berkas dari kantornya tadi. Levin kembali beranjak menuju ruang tamu. Di sama Elana asyik main puzzle. Levin duduk sambil menghubungi Liliana.
"Dia mengalihkan?" Levin menatap heran. Biasanya Liliana tidak pernah mengalihkan panggilannya. Sekali lagi Levin mencoba menghubungi seseorang diseberang sana namun hasilnya masih sama. Alisnya menukik tajam. Dia yakin Liliana pasti pergi ke klub bersama teman-temannya. Levin nampak risau. Ia tidak mau terjadi sesuatu pada kakaknya, karena Liliana pernah menjadi korban penyekapan teman prianya sendiri. Levin kembali menghubungi nomor lain. Supir yang biasa mengantar Liliana.
"Selamat malam Tuan .." sahut orang diseberang sana.
"Dimana Liliana?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Maaf tuan, nyonya Liliana sedang mabuk."
__ADS_1
"Mabuk?" Levin menggeram kesal. Ia tidak suka jika Liliana itu minum. Karena dia adalah seorang wanita. "Siapa teman yang bersama Liliana?" Tanyanya lagi.
"Teman-temannya, tuan."
Levin mengusap dahinya. "Saya tahu Liliana bersama teman-temannya. Tapi siapa?" Ia menekan kalimatnya.
"Maaf tuan, tapi saya tidak mengenal mereka."
"Kalian sekarang dimana?" Levin sudah meninggikan suaranya.
"Perjalanan pulang tuan."
"Baiklah, hati-hati. Antar dia dengan selamat."
"Baik tuan."
Panggilan langsung diputus Levin. Ia meremas handphonenya sambil menarik napas dalam-dalam. Sejujurnya Levin sangat mencemaskan Liliana, ia tidak mau kejadian beberapa tahun yang lalu terulang kembali. Liliana sempat menjalani terapi untuk menghilangkan rasa traumanya.
"Uncle, mommy nakal lagi ya?"
"Heuh?" Levin melepaskan lamunan. Ia menyadari ada Elana di sampingnya.
"Mommy nakal lagi ya, Uncle?" Tanya Elana dengan wajah sedihnya. Levin bisa merasakan energinya melebur di ekspresi seorang anak yang sedih.
"Siapa yang nakal? Mommy gak nakal kok." jawab Levin mengecup singkat kening Elana.
"Tadi Uncle sangat panik dan bilang kalau mommy itu lagi mabuk."
Levin tersenyum lagi, lagi-lagi kepolosan Elana membuat Levin begitu menyayangi anak kecil itu. "Mommy baik-baik saja, kamu tak perlu mencemaskan mommy. Oke?" kata Levin sambil membelai rambut Elana
"Bagaimana dengan janji uncle?"
"Janji apa sayang?"
"Tuh kan lupa. Katanya mau menghubungi Aunty," Wajah Elana cemberut lagi.
Levin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Astaga apakah Elana serius? Bagaimana aku bisa menghubungi Alessa, sementara nomor handphonenya saja, aku tidak punya."
"Kok Uncle diam sih? Ayo... hubungi Aunty." Elana merengek mendekati Levin karena lelaki itu tak menggubrisnya sama sekali.
"Uncle bohong! Elana gak mau, aku mau ketemu Aunty." Rengekan Elana membuat Levin bertambah bingung.
"Ayo uncle, Elana mau ketemu Aunty....." Elana menarik-narik baju Levin sambil menangis. Ia memeluk tubuh mungil Elana.
"Baiklah sayang, Uncle hubungi ya," Ucap Levin berjongkok agar sejajar dengan Elana. Sungguh ia tak bisa melihat keponakannya menangis. Levin mengembuskan napas panjang, ia mengambil handphonenya untuk menghubungi Dokter James.
"Selamat malam tuan, ada yang bisa saya bantu?" Sahut Dokter James dengan sopan di ujung telepon.
Levin menarik napasnya, ia masih ragu untuk mengatakannya. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Begini Dokter James....." Kalimat Levin menggantung. Ia begitu berat mengatakannya.
"Ya tuan, ada apa?"
Levin lagi-lagi mengembuskan napasnya. "Saya ingin meminta nomor...." lagi Levin terdiam.
"Nomor apa tuan?" James mengerutkan keningnya sambil menatap handphonenya berulang kali.
Dengan butuh perjuangan Levin pun mengatakannya. "Saya minta nomor handphone Alessa."
"Heuh? Alessa? maksud anda Dokter Alessa, tuan?"
"Ya, Dokter Alessa." Jawab Levin gugup. "Astaga, apa yang terjadi padaku. Kenapa aku gugup seperti ini?" Levin mengumpat dirinya.
"Apa anda sakit? apa yang anda rasakan? Saya bisa menghubungi dokter lain untuk memeriksa anda. Dokter Alessa hanya dokter baru, ia belum banyak pengalaman tuan." kata James menunjukkan rasa khawatirnya.
"Saya tidak sakit, dokter James. Saya hanya ada urusan dengan Dokter Alessa. Jadi .."
"Hah...urusan? urusan apa tuan? apa dokter Alessa membuat masalah?"
Levin memutar bola matanya. Belum juga selesai bicara, ucapannya sudah di potong. "Dokter James. Dengarkan aku." Levin sudah tampak kesal.
"Saya akan memberi sangsi bagi dokter yang membuat masalah."
__ADS_1
"Dokter James?" panggil Levin lagi. Kali ini tekanan suaranya terdengar begitu tegas.
"I-iya tuan."
"Dengarkan saya. Dokter Alessa tidak membuat masalah. Jadi anda tak perlu mengkhawatirkan apapun. Saya hanya minta nomor teleponnya. Jadi saya harap anda kirim secepatnya. Kau bisa mengerti?" kata Levin lagi-lagi menekan kalimatnya.
"Baik tuan, saya mengerti." ucap James gugup.
"Oke, terima kasih dokter James. Saya tunggu nomornya."
TIT
Levin pun langsung mematikan panggilannya.
TING!
Satu pesan masuk dari Dokter James. Levin dengan cepat membuka pesan itu.
huffft...! Levin berulang kali melakukan ritualnya. Menghembuskan napasnya lewat mulut. Ia mencoba menenangkan dirinya.
"Kenapa aku gugup sekali?"
Ia menatap lama handphone yang ada di tangannya sambil mengusap-usap tepian casing handphonenya. Levin masih ragu apakah ia harus menghubungi atau mengirimkan pesan saja. Tak ingin membuang waktu, Levin akhirnya memutuskan untuk mengirim pesan saja. Namun ia masih terus berpikir, kalimat apa yang akan dikirimnya.
Levin menghembuskan napasnya dengan frustasi. Sesekali matanya melirik Elana yang tengah asyik main puzzle gambar.
"Uncle sudah telepon?"
"Ini, Uncle mau kirim pesan." Kata Levin tersenyum sambil menunjukkan handphonenya. "Ya ampun, apa Elana bisa membaca pikiranku?"
Tak ingin menunggu lama. Levin dengan cepat lalu mengetik sesuatu di sana. Namun ia segera menghapus lagi pesannya itu. Dalam benaknya,
"Apakah Alessa mau datang ke sini, dengan alasan Elana merindukannya."
"Alasan apa itu? Ini benar-benar membuatku gila." Ah...soal Alessa mau datang atau tidak. Levin tidak mau ambil pusing yang penting ia berusaha dulu. Dengan semangat Levin kembali mengetik pesannya lagi, lalu menekan gambar send di pojok kanan chatnya.
TING
Satu pesan terkirim dari Levin. Dan tanpa sadar bibirnya mengulas senyuman. Ia kembali membaca pesannya.
"Selamat malam Dokter Alessa. Saya Levin Horald. Maaf mengganggu waktu anda. Di rumah ada Elana, dia ingin bertemu dengan anda. Apa anda bisa ke rumah? Elana sangat mengharapkan kedatanganmu."
Pesan itu sudah dibaca tapi Alessa tak juga membalasnya.
SEBELUMNYA, DI SISI LAIN.
Setelah selesai makan malam dan melakukan video call dengan ibunya. Alessa berencana melanjutkan sisa pekerjaan. Namun, sebelum ia melanjutkan pekerjaannya, Alessa sejenak bersantai sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Pikirannya jauh berkelana.
TING!
Satu pesan masuk ke handphonenya. Alessa menatap malas saat bunyi itu menggema dan layar handphonenya menyala sepintas. Ia meraih handphonenya tanpa mengubah posisi santainya. Alessa menatap layar.
"Dari nomor baru?"
Ia pun membuka balon chat dari nomor baru itu. Sepersekian detik mata Alessa membelalak saat membaca pesan itu.
"TUAN HORALD?!" Reflek Alessa menegakkan badannya dan mengatur rambutnya. "Astaga! untuk apa? kenapa aku gugup begini."
"Tapi, dari mana dia tahu nomorku?"
"Bagaimana ini? Aku harus menjawab apa?!" Alessa gelisah sambil mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja. Tiba-tiba ia teringat wajah Elana yang menggemaskan itu. Entah mengapa saat menyebut nama Elana, hatinya begitu senang.
"Aaaahh....aku juga merindukannya."
"Apakah aku harus ke sana?"
Alessa tampak bingung. Ia mondar-mandir dengan gelisah di sana. Ia mengepalkan tangannya berkali-kali. Memegang dagu, menjepit bibir, menggigit jari, berkacak pinggang, melepas lagi dengan frustasi. Hampir semua gerakan kebingungan ditunjukkannya. Dengan mantap Alessa memutuskan menemui Elana.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku 😍
__ADS_1
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^