Hujan Dan Kamu

Hujan Dan Kamu
KECEWA


__ADS_3

💌 HUJAN DAN KAMU 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Levin mengusap wajahnya dengan kasar, ia hanya bisa menatap pintu yang sudah tertutup rapat itu.


"Apa yang harus aku lakukan? Monika dalam bahaya."


Levin mengembuskan napasnya berulang kali. Ia tidak bisa panik menghadapi hal seperti ini. Ia harus tetap tenang. Levin mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Desmond. Ia harus mendapatkan bantuan, untuk mengeluarkan Monika dari tempat ini.


Belum lagi Levin menghubungi Desmond. Tiba-tiba seorang lelaki keluar dari pagar besi kokoh itu. Levin begitu panik hingga menjatuhkan handphonenya ke dalam selokan.


"Shiiittt!" Levin mengumpat geram tanpa mengeluarkan suara. Ia meringkuk di balik mobilnya. Bersembunyi adalah pilihan yang tepat saat ini dari pada memikirkan handphonenya yang terjatuh. Saat ini yang dia pikirkan hanyalah bagaimana bisa menyelamatkan Monika. Itu saja! Levin begitu mengkhawatirkan Monika. Apa motif mereka sampai berani menculik Monika? Jika penculik itu menginginkan uang tebusan. Levin bisa memenuhi semua permintaan mereka.


Levin mengembuskan napas panjang. Setelah dirasa semua aman, Ia mulai bergerak untuk mengintai pergerakan pria itu. Berharap semoga pria itu tidak mengetahui jejaknya. Levin bisa gagal menyelamatkan Monika.


Levin menoleh ke kiri ke kanan. Pria yang dilihatnya tadi sudah tidak ada. Kedua alisnya mengerut. Ia masih bingung.


"Kemana pria itu?" Wajah Levin masih terlihat bingung. Ia tidak perduli, Ini adalah kesempatan besar untuknya.


Matanya memicing melihat ke arah pagar yang mulai bergeser tertutup. Levin terbelalak panik. Saat itu juga Ia bangkit dan melangkah cepat masuk ke dalam, sebelum pagar kokoh itu tertutup. Seperti gerakan slow motion, Levin memiringkan badannya, tinggal hitungan detik ia akan terjepit di pagar itu. Dan berhasil, Levin tersenyum saat dirinya berhasil masuk ke dalam. Di saat itu juga pintu pagar sudah tertutup sempurna.


Levin melangkah pelan untuk melihat keadaan sekitarnya. Saat ini ia seperti seorang pencuri yang mengendap-endap mencari barang curian. Kakinya melangkah cepat sedikit membungkuk. Saat ini dia memikirkan bagaimana caranya ia masuk ke dalam rumah itu. Walau sekalipun ia harus mengorbankan dirinya. Levin berlari ke arah belakang. Berbahaya jika ia terlalu lama berdiri di sana. Ia harus mencari amannya dulu. Sebelum mereka mencurigainya. Levin menyenderkan punggungnya ke dinding berbahan kayu itu. Sekilas bayangan hitam tanpa sengaja melintas dengan cepat di depan matanya saat Levin mengintai ke dalam ventilasi yang ukurannya sangat kecil. Levin sangat panik dan kembali menundukkan kepalanya.


"Huffft...." Levin mengembuskan napas panjang. Seumur hidup baru ini dia melakukan hal seperti ini.


Levin kembali melihat ke kiri dan ke kanan. Dirasanya aman, ia perlahan menaiki tangga menuju balkon. Namun tiba-tiba terdengar pintu dibuka dengan paksa. Reflek Levin turun dan menyenderkan punggungnya untuk bersembunyi, agar ia tak terlihat. Dan ternyata itu Monika. Tiba-tiba dahi Levin mengernyit saat mendengar pembicaraan Monika lewat telepon.


"Monika? dengan siapa dia bicara, kenapa dia begitu panik?"


Sepersekian detik, Levin diam membeku saat mendengar semuanya. Ujung-ujung jarinya tiba-tiba terasa dingin. Jantungnya terpukul kencang. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha tenang. Namun perasannya tak juga tenang.

__ADS_1


"Anak? anak siapa maksudnya?"


Jantung Levin semakin terpukul kencang. Saat mendengar Monika mengatakan mereka harus menemukan anak cacat itu. Monika tidak mau masa depannya hancur karena anak sialan itu. Levin semakin sulit bernapas. Ia berusaha mengambil pasokan oksigen untuk memenuhi paru-parunya tapi hasilnya masih sama. Levin memejamkan matanya dan memegang dadanya yang terasa sakit.


"Aku tahu mom, aku tahu Joyce adalah anakku. Tapi aku juga tidak mau, dia menjadi penghalang masa depanku. Aku ingin menyingkirkannya dan mengirimnya keluar negeri. Tapi aku tidak tahu kemana anak itu pergi. Cctv sengaja dimatikan. Siapa pria yang sengaja membawa Joyce." Pekik Monika histeris. Ia begitu frustasi di sana.


"Anak siapa yang kau bicarakan, Monika?" Levin sudah berdiri tidak jauh dari Monika.


Monika sangat terkejut sampai menjatuhkan handphone yang ada di tangannya. Wajahnya menegang kaku. Jantungnya terpukul kencang. Napasnya berembus cepat keluar dari mulutnya. Seakan karbondioksida tertahan dan terbakar oleh keterkejutannya. Untuk menelan salivanya saja ia begitu susah. Posisi Monika masih memunggungi Levin.


"Siapa anak yang kau maksud Monika?"


Monika menarik napasnya dalam-dalam. Ia berusaha bersikap tenang dan berbalik memandang ke arah Levin yang sudah berdiri dihadapannya. Tangannya terlihat gemetar karena begitu terkejut.


"Kenapa kau ada di sini, Sayang?" Tanya Monika mencoba mengalihkan pembicaraan.


"SIAPA ANAK YANG KAU BICARAKAN?" Lagi tanya Levin sambil menekankan intonasi bicaranya. "Katakan padaku siapa anak yang kau maksud?"


Monika meremas tangannya begitu gugup. Emil berlari ke balkon karena mendengar suara keributan. Ia ikut terkejut melihat Levin sudah ada di sana. Emil hanya bisa menarik napas panjang, memilih diam dan tidak mau ikut campur.


"Apa anak itu adalah anakmu?" Levin mencoba menahan segala rasa sakit di hati saat mengucapkan itu.


"JAWAB AKU MONIKA!" Levin kembali menekan kalimatnya.


Monika hanya menatap Levin dengan tatapan nanar dan berkaca-kaca. Kedua sudut bahunya mengerut dan melengkung ke depan. Mulutnya terbuka dan ia pun bicara.


"Ya Joyce adalah anakku. Dia anak yang aku lahirlah enam tahun yang lalu." Ucapnya pelan hampir tak terdengar.


DEG!


Jantungnya berdetak begitu kuat. Wajahnya menegang, matanya membulat sempurna dengan mulut yang terbuka. Napasnya terdengar naik turun. Levin meremas tangannya begitu erat. Wajahnya sudah terlihat pucat. Fakta yang menyakitkan, Ia mengetahui kebenaran bahwa Monika mempunyai anak. Levin tersenyum hampa, di sini ia merasa dibohongi. Setiap tetesan air mata ini tidak dapat mengobati rasa sakitnya. Ia mengembuskan napasnya yang terasa sesak.


"Maafkan aku sayang, aku tidak bermaksud untuk merahasiakan ini semua, aku hanya takut kau tidak terima anak itu."


"Kau tahu aku tidak suka dibohongin. Untuk kali ini aku tidak akan memaafkanmu. Awalnya, setiap kau bilang maaf, maka saat itu juga aku memaafkanmu. Aku pikir dengan memaafkanmu, kau dapat belajar dari kesalahan dan tidak akan mengulanginya lagi. Ternyata sepertinya aku sudah salah mengira. Dengan memaafkanmu satu kali, maka kamu berpikir bahwa aku akan memaafkanmu lagi? tidak Monika, aku sudah sangat kecewa." Levin tersenyum getir di sana.


"Tapi itu semua masa lalu, Levin. Aku juga tidak pernah mengharapkan anak itu." Monika mencoba membela diri.

__ADS_1


"Masa lalu? Aku tidak melihat itu kesalahan kecil atau besar, tetapi tentunya kesalahan yang kamu buat telah membuatku sakit. SANGAT SAKIT! Kau tidak jujur, Monika...." gigi Levin saling bergesekan menahan emosi.


"Tapi kita bisa memulai dari awal lagi. Anggap saja anak itu tidak pernah ada."


"Apa?" Levin tersenyum getir sambil membuang wajahnya. "Bagaimana seorang ibu tidak mengakui anaknya. Dimana hati nuranimu, Monika? Apa kamu pikir jika kau mengirimnya keluar negeri. Aku akan menerima maafmu? Tidak! kau salah! Kau jauh lebih buruk dari dugaanku."


"Apa kau sekarang mengguruiku, Levin? Aku tidak pernah menginginkan anak itu. Jangan coba-coba mengajariku masalah ini."


Levin tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Matanya terlihat merah menahan segala perasaan yang membuncah. Pedih, sakit dan kecewa. Wanita ini benar-benar tidak pernah menyadari kesalahannya. "Sedikit pun kau tak menyesali perbuatanmu, kau telah membohongiku dan sekarang ingin membuang anakmu?" Levin menunduk dan memegang dahinya. Ada rasa sesak yang tidak bisa ditutupinya.


"Aku tidak pernah bersalah. Hanya takdir anak itu yang salah, kenapa ia terlahir menjadi anak cacat. Kehadiranmu menjadi petaka dan membuat jalan hidupku seperti ini."


"Aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini." Ucap Levin akhirnya. Ia ingin menguatkan hatinya, namun ia semakin tidak mampu. Luka itu semakin menggores hatinya yang paling dalam. Ia tak bisa mendefinisikan rasa sakit di hatinya.


"Apa maksudmu?" Kata Monika dengan wajah menegang.


"Lebih baik kita akhiri hubungan ini, kita tidak bisa seperti ini. Aku kecewa dengan sikapmu Monika. Kau benar-benar tidak pernah menyadari kesalahanmu."


"Sayang jangan seperti ini." Monika mendekat dan memegang tangan Levin. "Aku mencintaimu."


Levin mengepalkan tangannya begitu kuat. Ia memejamkan matanya sesaat dan dengan sinis, ia menatap kembali ke arah Monika.


"Aku tidak bisa." Ucap Levin mantap. Ia melangkah meninggalkan Monika yang terus berteriak memanggil Levin. Namun tidak ada sedikit pun kesedihan dan ada air mata yang menetes di pipinya. Hanya senyum menyeringai yang terukir diwajahnya.


Sementara Levin terus berjalan dan memandang ke depan, Ia berusaha mengendalikan diri dan meredam emosinya. Embusan napas panjang Ia tumpahkan saat ia sudah berada di depan mobilnya. Levin segera masuk dan membanting pintu mobilnya dengan keras. Dengan cepat Ia memundurkan mobilnya, matanya hanya memandang spion dan membanting setirnya.


Levin menancapkan gas mobilnya. Dengan kecepatan penuh, Ia melarikan mobilnya dengan penuh emosi. Tidak perduli dengan keadaan yang sedang terjadi. Levin meremas setir mobilnya. Rahangnya mengencang. Perasannya hancur lagi. Sepertinya tidak ada jalan lagi untuk hubungannya. Berkali-kali hati ini terluka tapi bodohnya ia selalu memaafkannya. Levin menarik napas dalam-dalam. Memejamkan matanya sesaat dan menyadari sesuatu.


Proses panjang dalam hubungan percintaan bagaikan sebuah labirin pada cerita dongeng, terlihat mudah untuk dimasuki namun terlihat sulit untuk keluar. Perumpamaan seseorang sebagai labirin bukanlah tanpa sebab karena memang cukup sulit bagi kita untuk memahami seseorang. Namun terkadang tidak semua hubungan percintaan itu sesuai dengan yang di harapkan. Hubungan percintaannya dengan Monika, tidak pernah ada kenyamanan. Monika terlalu egois dan ingin menang sendiri. Levin menyadari bahwa ia mencintai orang yang salah. Monika terlalu obsesi dengan kehidupan yang ia miliki dan menghalalkan segala sesuatu untuk kepentingannya dan merugikan banyak orang. Termaksud itu anaknya sendiri. Sekarang Monika sudah menjadi masa lalunya.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku 😍


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.

__ADS_1


^_^


__ADS_2