
💌 HUJAN DAN KAMU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
.
SATU JAM SEBELUMNYA.
Alessa lagi-lagi dibuat tersenyum melihat tingkah Elana. Tangannya mengetikkan password yang berupa angka-angka sesuai yang disebut Elana. Kunci yang berbasis digital yang menggunakan password sebagai akses masuk pun akhirnya terbuka.
"Hore.... pintunya terbuka." Elana melompat-lompat kecil di sana. Tangannya dengan cepat membuka kenop pintu.
CEKLEK!
"Silakan masuk aunty cantik," Elana mempersilahkan dengan anggun hingga Alessa tertawa sambil menutup mulutnya.
"Hahahaha....Kamu lucu sekali sayang," Tangan Alessa bergerak cepat membelai rambut panjang Elana.
"Terima kasih atas pujiannya, aunty."
"Sama-sama sayang." Alessa mengecup singkat puncak kepala Elana. Mungkin ia tidak akan pernah bosan menghadiahi ciuman.
Elana berlari masuk lebih dulu. Alessa menarik napas panjang lalu mengembuskannya. Ia menutup pintunya dengan pelan dan melangkah ke dalam. Baru kali ini, ia masuk ke rumah orang yang bahkan belum dikenalnya. Suasana ruangan itu agak remang-remang. Tidak terlalu benderang karena lampu utama memang sengaja tidak dihidupkan. Ruangan depan dan sepanjang koridor masuknya hanya bermodalkan lampu dinding yang berpendar kuning dan menambah kesan elegan di rumah yang berkelas itu. Alessa melangkah pelan hingga mencapai ruang tamu. Ia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan. Rumah ini jauh lebih besar dibandingkan rumahnya. Alessa berdecak kagum.
Ruangan ini begitu elegan. Konsep desain interior yang hanya menggunakan satu warna atau monokrom, permainan tekstur sangat berpengaruh untuk menjadikan setiap detailnya terlihat menarik. Kemudian penggunaan kaca, serta tekstur kayu menampilkan hasil desain yang lebih ekspresif. Terlihat fresh sekaligus tidak terlihat kaku. Beda dengan rumah yang ditempatinya.
"Apakah rumah ini direnovasi ulang?" Ucap Alessa dalam hati.
Alessa melihat-lihat sekelilingnya. Seakan berkenalan dengan tempat itu. Di sana ada sebuah meja dengan kursi yang memiliki sandaran tinggi di bagian tengah ruangan. Tak lepas beberapa rak dokumen yang terlihat elegan di belakang meja. Ada beberapa lukisan yang menghias dinding ruangan itu juga. Alessa tersenyum, matanya menatap ke arah bingkai foto yang ada di dinding. Alessa melangkah dan mendekat ke arah foto itu.
"Aunty, aku lapar."
Alessa tersadar, Ia segera membalikkan badannya dan berjongkok agar sejajar dengan Elana. "Elana mau makan apa, sayang? Aunty bisa akan menyiapkannya." Ucap Alessa begitu lembut sambil menatap bola mata indah itu.
"Aku mau spaghetti, aunty."
"Heemm, Kamu suka spaghetti?"
"Ya aunty, aku suka spaghetti."
"Kamu tahu spaghetti itu sangat baik untuk pertumbuhanmu lho."
"Benarkah aunty? tapi kata uncle gak baik makan spaghetti terus menerus."
"Jika diberikan dalam jumlah terbatas, tidak masalah kok sayang."
"Aunty pintar, bisakah aunty menjelaskan itu kepada uncle?" Tatapan memohon Elana membuat Alessa semakin gemas.
"Tentu saja sayang, aunty akan menjelaskannya kepada uncle-mu."
Elana mengangguk antusias. "Terima kasih aunty."
"Sekarang kita masak ya,"
__ADS_1
"Oke aunty." Elana langsung menarik tangan Alessa menuju dapur mewah.
Fiiuuuuhhhh.... Alessa lagi-lagi mengembuskan napas lewat mulut. Kenapa perasannya tidak enak. Jari-jari tangannya serasa dingin. Ia berusaha menenangkan perasannya yang tidak enak itu. Setelah melakukan ritual menghembuskan napasnya berulang kali. Alessa bisa sedikit tenang.
Alessa mengikuti langkah Elana menuju dapur. Kitchen set yang nampak mewah dengan desain marmer yang hitam yang elegan memenuhi ruangan dapur itu. Peralatan masak telah tersedia lengkap di dalam lemari dan sebagian menggantung juga.
"Elana, kau bisa duduk di sini aja ya. Aunty akan masak spaghetti seperti yang kamu mau."
"Baik Aunty." Ucap Elana melipat tangannya di atas meja sambil memperhatikan Alessa di sana.
Alessa masih tampak bingung, ia harus mulai dari mana. Maklumlah, Alessa baru pertama kali ke rumah ini. Ia menatap belanjaan yang yang ada di atas meja sambil menggulung kemeja yang dikenakannya hingga sampai siku tangan. Ia membuka setiap laci untuk mencari celemek. Benar saja, Alessa menemukan celemek bersih berwarna hitam polos. Ia memakai celemek tersebut dan menarik talinya ke belakang dan mencoba mengikatnya.
Alessa pun memulai aktifitas masaknya. Ia seperti chef handal di sana. Demi Elana ia akan memasak spaghetti ini dengan cinta. Ia merebus pasta dengan kematangan al dente yang sangat sempurna. Masakan khas Italia tersebut dibuat khusus untuk anak kecil yang baru ditemuinya itu. Sementara Elana duduk sambil bermain sendok yang ada di atas meja.
"Aunty...." Panggil Elana.
"Hmmm." Alessa menoleh sekilas. "Ada apa sayang?" Ia kembali sibuk dengan spatulanya.
"Bisa Elana minta permen lagi?"
"Oh, Elana mau permen lagi ya?"
Elana mengangguk cepat. "Elana ingin mencicipi permen yang warnanya merah, hijau, dan putih." Ucap Elana merayu.
"Apa aunty ada beli permen warna-warni?" Tanya Alessa membuat gestur berpikir.
"Hmm. Elana tadi lihat, Aunty membelinya. Elana bisa minta?"
Alessa menghentikan kegiatan masaknya. Ia mendekat ke arah Elana. "Kalau Elana makan banyak permen, aunty takut Elana sakit," kata Alessa. "Mommy, Daddy, Uncle pasti sangat sedih bila Elana sakit. Elana gak mau kan lihat mereka sedih?"
Dengan sikap lembut Alessa menjelaskan membuat Elana diam seperti mengerti apa yang dijelaskan Alessa.
Alessa melihat perubahan wajah Elana. tersenyum dan mengangkat Elana ke pangkuannya. "Spaghettinya sebentar lagi masak. Elana bisa tunggu, kan?"
"Ini spesial buat Elana yang cantik," kata Alessa bangga. Jerih payahnya tak sia-sia. Elana terlihat senang.
"Harum sekali aunty." Ucap Alessa antusias sambil tepuk tangan di sana.
Namun tiba-tiba,
BRAKKKK...
Alessa tersentak ketika pintu di buka dengan kasar. Pandangannya teralihkan, saat suara teriakan terdengar dari arah ruang tamu. Alessa dengan cepat menaruh spaghetti di atas meja.
"Elana....Elana ..." teriak seorang pria dari arah ruang tamu.
"Apakah itu Uncle yang disebut-sebut Elana?" batin Alessa saat mendengar suara teriakan itu memekakkan telinga.
"Uncle? Itu Uncle..." Ucap Elana sambil berlari ke arah ruang tamu.
"Elana....?" Teriak Levin masih mencari keberadaan keponakannya itu.
"Uncle....Elana di sini," Elana langsung berlari kepelukan Levin.
"Astaga sayang, Uncle sangat mencemaskanmu."
Elana tersenyum. "Aku tidak diculik Uncle. Elana bersama aunty baik."
"Aunty baik?" Dahi Levin mengernyit, menatap manik mata Elana yang tampak berbinar bahagia saat menyebut 'Aunty baik'
__ADS_1
Elana mengangguk lagi. "Hmmm. Aunty baik dan cantik. Tadi Elana nangis," bibir Elana mengerucut sedih. Sepersekian detik wajah Elana berubah bahagia lagi. "Tiba-tiba Aunty itu datang dan bujukin Elana..... Elana dibawa supermarket dan beli makanan banyak "
"Benarkah?"
"Hmmm." Elana mengangguk cepat. "Aunty cantik itu berhasil buat Elana senyum dan gak sedih lagi."
"Wah benarkah? dimana dia, uncle ingin mengucapkan terima kasih."
"Ada...tapi uncle jangan marah ya,"
"Kenapa?"
"Elana minta aunty masakin spaghetti." Bisik Elena lembut ke telinga Levin.
Levin tersenyum sambil melangkah ke dapur. "Kamu menyusahkan orang yang baru kamu kenal. Apa dia tidak marah?"
Elana menggeleng. "Tidak, Aunty gak marah. Aunty itu baik. Tidak seperti aunty Monika."
"Sssstttt....anak baik, gak boleh bicara buuuu...ruk."
Elana mengerucutkan bibirnya tidak suka, ia lalu memeluk leher Levin yang terus menggendong ke arah dapur.
⭐⭐⭐⭐⭐
Saat pemilik rumah sudah datang. Alessa dengan cepat membersihkan dapur. Ia lalu mencuci alat-alat masak hasil pertempurannya tadi. Alessa mencucinya di wastafel. Melap piring tersebut dengan serbet lalu menaruh kembali di rak dengan rapi. Alessa tidak ingin lama-lama berada di sini, apalagi bersama dengan pria asing yang sama sekali tidak dikenalnya. Tatapan Alessa yang awalnya turun tiba-tiba terangkat saat melihat seorang pria yang melangkah ke arah dapur sambil menggendong Elana.
DEG
DEG
Jantung Alessa langsung terpicu cepat saat melihat sosok lelaki yang tampak serius berbicara dengan Elana. Tidak salah lagi. Dia adalah lelaki yang pernah ditemuinya di taksi. Lelaki dingin dan angkuh yang dibencinya, bahkan Ia bersumpah tidak ingin bertemu dengan pria itu lagi. Alessa terdiam di sana. Ia masih terkejut dan sangat terkejut. Ia masih tidak percaya bahwa lelaki itu adalah Uncle dari Elana. Alessa berusaha menstabilkan napasnya. Rasanya ingin pingsan.
"Tidak mungkin...ini tidak mungkin. Bagaimana aku bisa bertemu dengan pria ini lagi?" Alessa menggeleng tak percaya.
Bukannya tenang, Alessa semakin gugup, jantungnya berdebar tak beraturan di dalam rongga dadanya. Napasnya berhembus cepat dari mulutnya. Ia berusaha untuk menarik napas dalam-dalam agar bisa memenuhi paru-parunya. Namun tidak berhasil. Alessa semakin sulit bernapas.
Tap....tap....tap....
Levin menghentikan langkahnya. Ia sedikit terkejut saat melihat sosok wanita yang berdiri tidak jauh dari darinya.
"Bukankah dia?" Batin Levin.
"Itu Aunty yang aku ceritakan, uncle. Dia cantik, kan?" bisik Elana.
"Aunty....." Panggil Elana kemudian. "Ini Uncle Levin." Ucap Elana begitu antusias memperkenalkan Levin.
Tatapan mereka masih saling mengunci satu sama lain. Napas Levin berembus pelan dari mulut, namun tidak mengubah posisinya yang masih mengendong Elana. Ia masih tetap mengunci pandangannya ke arah Alessa.
"Aunty kenapa diam saja?"
Alessa tak menjawab sama sekali. Entah mengapa tatapan lelaki itu membuatnya seperti kehilangan kesadaran. Tatapan mendominasi membuatnya tak bisa bergerak dari tempatnya. Jantungnya masih terpukul sangat kencang karena begitu terkejut.
Sementara wajah Levin terlihat tenang dan tetap berwibawa. Ia tetap bersikap profesional dan gentleman. Apalagi Elana sangat menyukai wanita itu. Ia tidak akan merusak kebahagiaan keponakannya itu.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku 😍
__ADS_1
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^