Hujan Dan Kamu

Hujan Dan Kamu
SENYUM MENGGODA


__ADS_3

💌 HUJAN DAN KAMU 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Setelah mendapat informasi dari rumah sakit bahwa hari ini adalah jadwal pemeriksaan kesehatannya. Levin langsung membawa mobilnya menuju rumah sakit Mitra. Ia memarkir mobilnya dengan baik. Levin keluar dari mobilnya sambil membenarkan jasnya. Ia seorang diri, tanpa ditemani Desmond. Kebiasaan yang akhir-akhir ini Levin lakukan.


"Selamat pagi tuan Horald," Sapa salah satu security yang sedang berjaga di pos menunduk sopan.


Levin tak menjawab, ia hanya tersenyum lalu menunduk sebagai bentuk konfirmasi. Levin melangkah dengan tarikan napas panjang lalu berjalan memasuki gedung rumah sakit itu. Langkah kakinya terdengar menggema. Ia berjalan melewati meja resepsionis. Dua gadis cantik itu terkejut dan langsung bangun dari duduknya. Mereka tersenyum gugup menyapa lelaki tampan dan sekaligus pemilik saham terbanyak di rumah sakit ini.


"Selamat pagi tuan Horald," sapa mereka dengan senyuman.


"Selamat pagi, " Sahut Levin tersenyum singkat.


"Izinkan saya mengantar anda ke ruangan dokter Mark, tuan." Kata petugas resepsionis keluar dari mejanya. Mereka tahu hari ini ada jadwal pemeriksaan tuan Horald.


"Tidak perlu. Saya bisa sendiri." Levin menolak dengan halus.


Petugasnya resepsionis itu berkedip pelan, lalu tersenyum. "Baik tuan." Ucapnya kemudian.


Fuhhhh! gadis itu mengembuskan napas lewat mulut dengan pelan sambil menatap punggung Levin yang masuk ke dalam lift.


"Siapakah wanita yang beruntung mendapatkan hati tuan Levin Horald?" Batin gadis itu dengan senyuman khayal.


Sementara di dalam lift, Levin menarik napasnya dalam-dalam. Ia memejamkan matanya sesaat. Ternyata tak selamanya sendiri itu menjenuhkan. Ada hal baik yang bisa dipelajarinya. Sepi ini tak akan membunuhnya. Justru sepi ini adalah inspirasi bagi Levin sendiri. Dia nyaman melakukan semua hal yang bisa ia lakukan. Terutama kebebasan. Levin suka kebebasan, kebebasan tanpa ia harus merugikan diri sendiri dan orang lain. Kebebasan untuknya melakukan hal-hal yang tidak dilakukan orang lain.


Aaahhhhh... Levin menghembuskan napasnya lewat mulut. Semua yang terjadi pada hidupnya adalah bagian dari rencana Tuhan dan ia harus tetap mensyukuri hal itu.


Awalnya Ia merasa putus asa, terlalu takut mungkin kata itu yang tepat menggambarkan perasaannya saat itu. Sekarang Levin tidak perlu takut lagi. Bahagia adalah segalanya. Dan tujuan hidupnya adalah untuk mencari kebahagiaan itu. Kenyataannya, ia sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Hidup adalah pengendaraan yang gila dan tidak ada yang menjaminnya. Dia bisa saja berencana untuk menghabiskan waktu dengan siapa dan seperti apa. Tapi Levin tidak bisa menjaminnya. Maka dari itu ia akan menikmati kehidupan yang dia miliki saat ini.


TING


Pintu lift terbuka. Levin menegakkan badannya, mengangkat wajahnya lalu keluar dari lift.


Namun tiba-tiba Levin memperlambat langkahnya saat melihat seorang gadis keluar dari ruangan Dokter Mark. Ia mengurungkan niatnya dan memilih memperhatikan gadis itu sambil menyenderkan punggungnya di dinding. Posisi tangannya bersedekap di depan dadanya. Levin tidak mau melewatkan pertunjukan yang menurutnya menarik itu. Di tambah cuaca pagi yang mendukung saat ini. Membuat Levin bertambah semangat. Apa karena wanita itu Alessa. Ia juga tidak tahu.


Levin tersenyum simpul, mengusap dagunya, sambil menaikkan alisnya setengah. Ia mengulum senyumnya, mulai merasa lucu memperhatikan gerak-gerik Alessa yang bertingkah aneh itu. Levin mengepalkan tangannya di depan mulutnya. Ia menjepit bibirnya berusaha untuk menahan tawanya, agar Alessa tidak menyadari dia ada di sana. Gadis itu benar-benar mencuri perhatiannya sejak awal pertemuan mereka. Awalnya Levin mengira kalau Alessa adalah wanita yang sengaja memanfaatkannya. Namun, entah mengapa ia semakin menyukai Alessa.


Ia masih terus mencoba mengamati gadis itu. Tiba-tiba Levin melepaskan tawa singkat dan mengangkat setengah alisnya. Ia masih berdiam dengan posisinya, menunggu reaksi Alessa, saat melihat, ternyata ada orang di sana.


"Selamat pagi, Dokter Alessa." Sapa Levin sengaja mengundang perhatian Alessa.


Benar saja Alessa dengan cepat memalingkan wajahnya. Melihat lelaki yang begitu dikenalinya sedang tersenyum sambil menyenderkan punggungnya di dinding dengan posisi bersedekap.


DEG!


Pandangan mereka bertemu. Alessa tersentak, matanya membulat sempurna.


"Astaga...sejak kapan dia ada di sana? apakah dia melihat semuanya..?" Batin Alessa dalam hati. Reflek ia menutup mulutnya.


Levin tersenyum lagi. Kali ini ia tidak bisa menutupi rasa tertariknya kepada Alessa. "Selamat pagi Alessa. Sepertinya perasaan kamu tidak baik hari ini." Levin kembali mengulang sapaan paginya dengan senyum penuh arti.

__ADS_1


"Ahhhh...maaf tuan Horald. Saya tidak melihat anda di sana. Ada yang bisa saya bantu? Tidak ..tidak, maksud saya, apa anda ingin bertemu dokter Mark?" Alessa tersenyum gugup saat Levin mengunci tatapannya. Walau senyumannya itu terkesan sangat di paksakan. Dia takut karena tindakan bodohnya, tuan Horald menganggapnya tidak profesional melakukan tugas. Bisa dipecat dia dalam hitungan jam.


Senyum Levin berubah hangat sambil berjalan ke arah Alessa. "Apa sesuatu terjadi di ruangan itu? Gerak-gerik anda mencurigakan saat anda keluar dari sana." Levin mencondongkan tubuhnya, ia menunjuk arah pintu sambil tersenyum usil. Levin juga memperlihatkan deretan giginya yang putih dan bersih.


"Eekmmm...!" Alessa berdehem keras dengan tangan mengepal di depan mulut. Pura-pura serak, "Ada yang bisa saya bantu, tuan?" Tanya Alessa lagi. Ia tetap bersikap profesional. Seperti tidak terjadi apa-apa.


"Hmmm, kau belum menjawabku dokter Alessa."


"Astaga, ada apa dengan dia, kenapa dia bersikap perduli seperti itu? Dia bukan seperti Levin yang di kenal."


"Apa Dokter Mark memberatkan pekerjaanmu?"


Alessa terkesiap. Matanya membulat. "Tidak...tidak seperti itu tuan." ucap Alessa sambil mengibaskan tangannya dengan cepat.


Levin terus tersenyum merasa berhasil membuat Alessa salah tingkah. "Jika dokter Mark memberatkan anda, saya bisa mengatakan langsung kepada dokter Mark."


"Heuh..?" Mulut Alessa terbuka kaget. Alisnya ikut terangkat.


Melihat ekspresi itu, Levin tertawa. "Bagaimana dokter Alessa?" Levin semakin mendekatkan dirinya.


Alessa mendesah dan membuang napas panjangnya. "Ada apa dengan tuan Horald, kenapa dia bertingkah aneh seperti ini? apa jangan-jangan dia salah makan obat? Kenapa ia sok begitu akrab begini? Dan jantungku? kenapa kamu gak bisa diam sih?"


Lagi-lagi Levin tertawa. "Soal malam itu, terima kasih dokter Alessa sudah merawatku."


Mata Alessa mengedip cepat sambil melepaskan senyum manisnya. "Sama-sama tuan, saya melakukan itu karena saya adalah seorang dokter." Ucapnya dengan ulasan senyum sopan.


"Kalau begitu, apa saya bisa bertemu dokter Mark?"


"Tentu saja tuan, beliau ada di dalam ruangannya." Alessa berjalan ke arah ruangan dokter Mark.


TOK TOK TOK


"Selamat pagi tuan Horald," Sapa dokter Mark tersenyum menyambut tamunya pagi ini.


"Selamat pagi dokter Mark," Levin balik menyapa. Ia tersenyum melangkah masuk ke ruangan tersebut. Mereka saling berjabat tangan. Sementara Dokter Alessa sudah kembali ke ruangan. Tadi ia ada urusan dengan dokter Mark. Namun ia kesal karena dokter Mark tidak mengizinkannya dengan alasan ia dokter baru di rumah sakit ini.


"Silakan duduk!" Mark mempersilahkan Levin duduk. Mark dan Levin bisa dikatakan cukup dekat. Hanya di depan para pegawai di rumah sakit ini, mereka tetap menunjukkan sikap profesional.


"Apa kabar Levin? aku dengar kamu sakit?"


"Seperti yang kau lihat aku sudah sehat berkat dokter Alessa."


"Benarkah?"


"Elana yang menghubunginya." Jawab Levin tak ingin Mark curiga.


"Bukankah dia cantik, Levin?" Mark tersenyum menggoda.


"Maksudmu dokter Alessa?"


"Hmmm, dokter Alessa. Bukankah dia cantik?"


Levin terkekeh, "Kalau menurutmu bagaimana?"


Mark tergelak. "Kalau menurut aku, Alessa benar-benar cantik dan cocok untukmu." bisik Mark.


Levin hanya tersenyum sama sekali tidak merespon ucapan Mark. "Saya datang ke sini untuk mengundangmu dan seluruh dokter yang bekerja di rumah sakit ini."

__ADS_1


"Mengundang seluruh dokter?"


"Iya, seperti biasa perusahaan Horald merayakan ulang tahun setiap tahunnya. Jadi saya datang ke sini untuk mengundang seluruh Dokter untuk menghadiri acara itu."


"Heuh?" Mark menatap heran. Levin tak pernah ikut campur dalam urusan seperti ini. Semua urusan ini biasanya ia serahkan kepada Desmond.


"Kenapa ada yang aneh?" Levin mengernyit melihat perubahan wajah Mark.


"Bukan seperti itu Levin, biasanya kau tidak pernah mengurus hal ini. Dimana Desmond? apa dia tidak bekerja denganmu lagi?"


"Banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya. Dan kebetulan hari ini adalah jadwal pemeriksaanku. Tidak salahkan saya mengundangmu langsung."


Mark hanya menganggukkan kepalanya, walau sejujurnya ia belum bisa memahami sikap Levin. "Apakah saya bisa membawa pasangan?" tanya Mark kemudian.


"Hmmm, tentu saja bisa. Membawa pasangan itu lebih bagus."


"Bagaimana denganmu? sampai saat ini aku gak pernah mendengarmu mempunyai pacar. Bagaimana kamu ingin meriahkan acara itu jika kamu sendiri tidak memiliki pasangan?"


Levin menarik napas berat. "Aku baru saja putus."


"Hah? Putus? Kamu serius?" mata Mark membeliak karena terkejut.


"Hmm." jawab Levin dengan gumaman saja.


Mark masih belum percaya, ia menatap Levin untuk mencari kebenaran. "Serius kamu single?"


Dahi Levin mengerut menatap Mark. "Apa ada yang salah dengan status single?"


"Maaf. Tapi hanya aneh saja, kenapa lelaki mapan seperti kamu bisa menyandang status single?"


"Cih...jangan samakan aku denganmu. Hari ini dan besok, kau bisa membawa pasangan yang berbeda."


TOK TOK TOK


"Saya membawakan kopi Anda, dokter." ucap salah satu pelayan kantin dari luar pintu.


"Iya, masuk." ucap Mark memberikan Izin.


CEKLEK!


Seorang lelaki paruh baya membuka pintu dan masuk dengan senyuman ramahnya dan meletakkan kopi itu di atas meja.


"Terima kasih, pak." ucap Levin tersenyum.


"Kalau begitu, saya permisi dulu dokter." Pria itu menunduk ke arah Levin dan Mark.


Mereka kembali melanjutkan pembicaraan sambil melakukan pemeriksaan yang biasa dilakukan Levin setiap bulannya. Mereka sesekali tersenyum mengingat kejadian saat mereka duduk di bangku sekolah menengah ke atas.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku 😍


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^

__ADS_1


__ADS_2