Hujan Dan Kamu

Hujan Dan Kamu
MENGHINDARI DESMOND


__ADS_3

💌 HUJAN DAN KAMU 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


.


LIMA BELAS MENIT SEBELUMNYA.


Samantha minta izin ke toilet. Ia melangkah anggun menuju toilet yang lumayan jauh ke arah belakang rumah sakit Charlett. Ia berjalan dengan tempo teratur dan elegan.


Di dalam toilet, Samantha membiarkan air berjalan begitu saja. Ia memasang wajah sinis sambil menatap pantulan dirinya di cermin. Sudut bibirnya tiba-tiba melengkung ke atas.


"Tuan Horald...tuan Horald, apa yang anda pikirkan? Setelah satu bulan berlalu, anda berani menunjukkan diri. Aku tidak akan mengizinkanmu bertemu dengan dokter Alessa. Jangan pernah bermimpi untuk itu. Alessa sudah banyak terluka dan aku tidak ingin dia terluka lagi." tangan Samantha mengepal kuat di atas wastafel.


Setelah puas memaki lelaki yang menyakiti hati sahabatnya itu. Samantha mengembuskan napas, lalu tersenyum. Ia merapikan rambutnya kembali sambil mengamati dirinya di depan cermin, memeriksa penampilannya.


"Oke, sudah rapi.."


Setelah mengatakan itu, Samantha keluar dari toilet melangkah tegap menuju tempat peresmian gedung. Saat mengenali sosok yang berjalan ke arahnya. Samantha terbelalak panik dan langsung memutar badannya. Ia berlari mencari persembunyian. Badan Samantha seketika terasa kaku, tak bisa bergerak. Ia diam mematung dan masih shock dibalik dinding tempat persembunyiannya.


"Astaga... kenapa dia ada di sini?" Samantha memegang dadanya. Debaran jantungnya terpompa kencang seperti genderang, terpukul begitu kuat di dalam rongga dadanya. Kejadian satu bulan yang lalu kembali menari-nari dalam benaknya. Setelah pertemuan terakhirnya dengan Desmond, mereka masih terus menjalin hubungan lewat telepon. Hingga suatu malam, mereka dipertemukan kembali di acara ulang tahun temannya di hotel ternama di kota A.


FLASH BACK ON.


Di tempat Karaoke kelas VIP di hotel ternama, kini musik dan telivisi menyanyikan lagunya sendiri. Para penghuni di dalamnya sudah puas bersenang-senang selama tiga jam bernyanyi. Mereka tertawa bersama. Bahkan sedih bersama sesuai dengan emosi lagu. Bergantian dinyanyikan sesuai dengan sejuta ekspresi wajah.


Saat semuanya memilih pulang, Samantha masih tetap bernyanyi. Ia menyanyikan lagu sesuai dengan perasaannya saat ini. Awalnya Desmond menikmati lagu yang di nyanyikannya. Namun di akhir kalimat, ia tercengang dan saling berpandangan dengan tamu lainnya. Samantha benar-benar sudah mabuk. Akhirnya, ia membawanya ke dalam kamar yang memang sudah disiapkan bagi tamu yang ingin menginap. Namun, saat berada di kamar. Samantha bahkan mengajak Desmond kembali minum-minum lagi. Hingga akhirnya mereka mabuk dan tidak sadarkan diri.


Pagi yang cerah, sang surya hangat menyinari semesta alam. Hotel yang langsung berhadapan dengan pantai membuat pikiran menjadi tenang. Dua orang insan manusia mengurung di bawah selimut yang menutupi seluruh bagian tubuh mereka.


Samantha mulai gelisah, ia berusaha menyingkirkan selimut itu. Samantha tidak pernah menggunakan selimut jika sedang tertidur. Selimut itu seperti terlilit di bagian tubuhnya. Ia merasa tidak nyaman masih berada di bawah selimut tebal itu.


Panggilan yang berulang kali mengusik tidurnya dan membuatnya harus mendengkus kesal. Tangan Samantha berusaha meraih ponselnya yang ada di atas nakas. Namun panggilan itu mati lagi. Samantha menghentikan tangannya untuk meraba-raba keberadaan handphonenya. Tangannya kembali menyelusup masuk ke dalam bantal dan wajahnya dihadapkan ke arah kanan. Samantha mengerjap beberapa kali. Tiba-tiba matanya membulat sempurna ketika mendapati Desmond ada di tempat tidurnya. Sontak saja Samantha terduduk dan berteriak histeris.


"Desmond, apa yang kau lakukan di kamarku?" Bentak Samantha tidak melepaskan rasa terkejutnya.


Mendengar teriakan itu, Desmond perlahan-lahan membuka matanya. "Astaga, Samantha kau ribut sekali."


"Apa yang kalau lakukan di kamarku?" Ucap Samantha kembali, kali ini intonasi suaranya begitu tegas. Reflek ia memeriksa bagian bawah tubuhnya. Oh.. semua masih lengkap.


"Apa yang kau pikirkan?" Ucap Desmond dengan mata memicing.

__ADS_1


"Aku tidak memikirkan apa pun." Kata Samantha salah tingkah. "Sekarang jawab, kenapa kau berada di sini?"


"Astaga, apa kau lupa?" Keluh Desmond duduk masih dengan wajah lesu.


"Melupakan apa? yang aku tahu kau datang menyusulku ke kamar ini."


"Iya dan kita mabuk bersama, Samantha. Kau mabuk dan terus mengatakan lelaki itu brengsek. Siapa maksudmu lelaki itu?" Rasa penasarannya tiba-tiba mencuat, sesungguhnya Desmond ada hati dengan Samantha. Apakah dia benar-benar putus cinta? Desmond juga tidak tahu.


"Iya, itu memang benar. Aku memaki lelaki brengsek yang berani-beraninya hanya menyakiti hati wanita."


"Tidak semua lelaki seperti itu. Aku salah satu lelaki yang baik dan tidak pernah menyakiti perasaan wanita."


"Cih...yakin sekali kau." kata Samantha tersenyum geli.


"Itu memang kenyataannya."


"Sekarang, yang jadi masalahnya kenapa kau tidur di sini? Kenapa kau tidak pulang?" Sela Samantha.


"Aku juga mabuk, Samantha. Kau mau aku pulang sendiri dalam keadaan mabuk. Bagaimana jika ada seseorang menculikku?"


"Siapa juga yang mau menculikmu. Sekarang kau keluar dari sini. Aku mau tidur lagi."


"Aku juga mau tidur Samantha...Kau tahu, pukul berapa kita tidur? pukul 3 pagi. Jadi biarkan aku tidur sampai siang. Please! " Kata Desmond menjatuhkan dirinya di tempat tidur dan memeluk bantal guling kembali.


Samantha hanya bisa membuang napas panjang. Ia terpaksa membiarkan Desmond berada di tempat tidurnya. Ia beranjak dan mengambil handphonenya yang ada di atas nakas.


"Astaga...! aku melupakan sesuatu." ucap Samantha ketika melihat layar handphonenya dipenuhi tanda notifikasi panggilan. Samantha menepuk dahinya.


FLASH BACK OFF.


Samantha mengintip dari balik dinding tempat persembunyiannya. Ekor matanya bergerak cepat mencari sosok lelaki yang pernah tidur satu kamar dengannya.


"Heuh? Kemana dia?" Ucap Samantha seperti seorang detektif di sana.


"Huffft...." Samantha akhirnya bernapas lega. Desmond sudah tidak ada. Samantha menyandarkan kepalanya ke dinding. Mencoba menenangkan hatinya kembali. Setelah tenang Samantha pun melangkah menuju peresmian gedung rumah sakit Charlett sambil mengubungi Dokter Alessa.


"Samantha, apa yang kau lakukan di sini?"


Dalam hitungan detik, handphone Samantha terjatuh dari tangannya. Wajahnya menegang kaku saat mendengar suara yang tak asing di telinganya. Samantha langsung membelalak dengan mulut yang merekah terbuka.


"Kau selalu mengalihkannya panggilanku. Apa kau sengaja menghindariku?"


Samantha masih terdiam dengan posisi memunggungi Desmond.


"Jawab aku, Samantha!"


Samantha meremas tangannya dengan erat. Perlahan ia membalikkan badannya dan menatap Desmond yang bergeming kaku tanpa ekspresi.

__ADS_1


"Aku yang seharusnya bertanya, kenapa kau ada di sini?" Samantha balik bertanya. Walau ekspresi wajahnya terlihat jelas begitu gugup.


"Saya tanya apa yang kamu lakukan di sini?" Kali ini penekanan suara Desmond begitu tegas. Ia bahkan tidak melepaskan tatapannya dari Samantha.


GLEK!


Samantha menelan salivanya dengan wajah tegang. Sungguh ia terhantam dengan tatapan intens dari Desmond. Sekujur tubuhnya kaku, terasa berakar dari dalam dan mengunci setiap gerakannya.


Desmond menarik napasnya, berusaha bersabar. Ia menurunkan pandangannya ke bawah sejenak. "Aku berada di sini karena undangan dari rumah sakit." Jawab Desmond akhirnya melembutkan hatinya. "Kau tiba-tiba menghilang dan aku hampir gila mencarimu, Samantha. Apa kau tahu itu?"


"Apa hampir gila? Apa maksudnya?"


Samantha menundukkan kepalanya. Ia tidak berani menatap mata itu. Dengan suara pelan, Samantha bahkan balik bertanya. "Kenapa kau hampir gila, bukankah kita tidak ada hubungan apa-apa? Kita hanya sebatas teman saja."


"Apa kau menganggap seperti itu?"


"Iya, aku hanya menganggapmu sebagai teman dan kita hanya dipertemukan dengan tidak sengaja."


Samantha kembali melangkah meninggalkan Desmond, sesungguhnya ia malu saat kejadian di kamar hotel satu bulan yang lalu.


"Apa kau tidak merasakan apa-apa, Samantha?"


Langkah Samantha berhenti dan diam dengan posisi memunggungi Desmond. Samantha tercengang. Sudut matanya mengerut bingung. Ia masih diam di posisinya. Tapi ekspresi wajahnya tidak bisa berbohong, dahinya mengerut serius. Jantungnya terpukul kencang. Matanya mengedip pelan.


"Apa? Desmond menyukaiku?"


"Aku menyukaimu Samantha, aku tidak tahu kapan perasaan ini datang. Tapi kali ini aku yakin dengan perasaanku. Aku mencintaimu! Itulah yang membuatku gila, kau tiba-tiba menghilang dan tidak ada kabar." ucap Desmond dengan baik, tanpa terbata-bata.


Samantha masih tetap diam di posisinya. Sama sekali tidak membalikkan badannya.


Desmond menarik napasnya dalam-dalam. Lalu melanjutkan kalimatnya. "Aku ingin menjadi pria yang istimewa untukmu, Samantha. Maukah kau menjadi kekasihku?"


Deg!


Samantha perlahan membalikkan badannya, menatap Desmond dengan jarak beberapa meter darinya. Semuanya yang dirasakannya kepada Desmond tak bisa bohong. Ia juga menyukai lelaki yang berdiri di depannya itu. Dan jantungnya berdetak tidak karuan saat menatap mata itu. Dia sangat yakin ini adalah cinta. Perasannya berkecamuk, logikanya bertempur dengan perasaan. Samantha masih menentukan perasannya. Apakah hatinya memang untuk Desmond?


Heeeeeee... Samantha membuang napasnya sambil menutup matanya, berusaha menenangkan perasaannya. Dia juga tidak bisa menggambarkan perasaannya saat ini.


"Baiklah, aku pegang janjimu." ujar Samantha dan kemudian melangkah meninggalkan Desmond lebih dulu.


Sementara Desmond masih berusaha mencerna perkataan Samantha. Ia berlari mengejar Samantha. Dia yakin wanita itu telah menerimanya. Tanpa memandang Samantha, Desmond menelusupkan tangannya ke samping meraih tangan Samantha. Menggenggamnya dengan erat. Samantha hanya tersenyum samar, ia membiarkan tangannya digenggam oleh Desmond. Mereka berjalan beriringan dan sejajar.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku 😍

__ADS_1


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^


__ADS_2