Hujan Dan Kamu

Hujan Dan Kamu
MENGHINDARI


__ADS_3

💌 HUJAN DAN KAMU 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Jordan dan James bangun dari duduknya saat melihat Tuan Levin Horald dan pak direktur memasuki ruangan rapat. Mereka langsung melempar senyum dan berdiri menyambut kedatangan tamu istimewa hari ini.


"Selamat pagi tuan Horald, senang bertemu dengan anda." Sapa Jordan dengan senyum menawannya. Pria yang sangat ditunggu-tunggunya hari ini. Lelaki yang dikenal sukses di usia muda dan sangat mandiri itu. Levin Horald menjadi topik hangat di setiap rumah sakit, termaksud rumah sakit tempatnya bekerja. Jordan diundang langsung ke rumah sakit mitra untuk membahas segala permasalahan yang sering terjadi di setiap rumah sakit. Levin Horald adalah orang terkaya di kota ini. Beliau bahkan banyak disukai oleh wanita. Saat disebut-sebut disukai banyak wanita, sudut bibir Jordan mengukir ke atas. Ia semakin mempererat jabatan tangannya dengan Levin.


Levin membalas sapaan itu. "Selamat pagi." Ucapnya dengan senyum tipis.


Levin menjabat tangan dokter lainnya juga. Tiba-tiba muncul seorang dokter muda dan cantik di hadapan Levin. "Senang bertemu dengan anda, tuan Horald." Jesica mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Levin. "Anda jauh lebih tampan dari yang saya pikirkan, tuan."


Levin melepaskan senyumannya saat mendengar kalimat itu. "Terima kasih atas pujiannya."


"Oke, silakan duduk, tuan Horald." Jesica menunjuk kursi di samping meja meeting yang telah disediakan.


Levin dipersilakan duduk di samping direktur utama. Desmond dengan cepat menggeser kursi dan mempersilahkan tuannya duduk. Lalu ia memberikan tablet kepada Levin.


"Ini tablet anda, tuan!" ucap Desmond dengan sopan. Levin hanya menganggukkan kepala. Asistennya itu lalu mundur beberapa langkah ke belakang. Ia tidak langsung meninggalkan ruangan itu. Desmond tetap stand by di sana. Berdiri di belakang Levin dan siap menunggu instruksi jika di minta.


Rapat pun di mulai. Levin duduk dengan sikap postur tubuh tetap dijaga dengan baik. Ia sesekali melihat tablet yang diberikan Desmond kepadanya.


"Selamat pagi para Dokter yang telah meluangkan waktu. Saya ingin mengenalkan Tuan Levin Horald. Beliau adalah salah satu pemegang saham terbesar di rumah sakit Mitra. Sebelumnya tuan Benjamin Horald, yang selalu berkunjung ke rumah sakit Mitra. Tuan Levin saat ini menggantikan posisi ayahnya dan menjabat sebagai direktur utama di perusahaan Horald. Kedatangannya ke sini ingin menyapa kita semua. Saya persilahkan waktu dan tempat untuk Tuan Levin Horald." Ucap kepala Dokter yang menjadi pembuka rapat di sana.


Levin tersenyum bangun dari duduknya. Ia membenarkan jasnya dan berjalan ke arah podium yang tersedia di dalam ruangan itu. Levin sedikit menundukkan kepalanya untuk memberi hormat. Suasana seketika hening. Levin pun memulai kata sambutanya.


"Selamat pagi semuanya," ucapnya membuka kata sambutan.


"Terima kasih atas kesempatan ini. Mungkin anda bertanya-tanya kenapa tiba-tiba saya mengumpulkan semua dokter-dokter di sini. Saya ingin menyapa para dokter muda yang baru ditempatkan beberapa hari di sini. Kedepannya saya berharap rumah sakit Mitra tetap menjadi rumah sakit terbaik. Perkembangan meningkatnya kebutuhan pelayanan dunia kesehatan yang semakin berkualitas, cepat, tepat, dan akurat. Mendorong institusi kesehatan untuk berbenah diri terutama meningkatkan kualitas pelayanan, meningkatkan keberadaan alat-alat medis yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan memberikan fasilitas pelayanan yang baik, sehingga kenyamanan terhadap pasien semakin terjaga dan memuaskan masyarakat yang menggunakan jasa pelayanan rumah sakit Mitra. Karena bagaimana pun rumah sakit dan masyarakat dua sisi mata uang yang selalu menyatu satu sama lain." Levin mengatakan kata sambutannya dengan baik dan tegas. Kini pandangan Levin tertuju pada sosok wanita berambut panjang yang berbalut dengan jas dokter. Levin menyunggingkan senyum tipis saat dirinya bertatapan dengan wanita itu. Mata indah itu menjadi daya pikat Alessa pada pada malam itu.


Deg!


Jantung Alessa berdetak saat melihat sosok yang berdiri di depannya ternyata adalah tetangganya sendiri. Alessa mengalihkan pandangannya saat mata mereka saling bertemu. Ia menundukkan kepalanya tak berani menatap pria yang berdiri di depan podium itu. Kejadian memalukan pada malam itu, membuat Alessa meremas tangannya sendiri.


"Astaga kenapa dunia ini begitu sempit? Lagi-lagi aku bertemu dengan dia." Rutuk Alessa.


Demi Tuhan, saat ini Alessa tak lagi berani mengangkat wajahnya. Levin terus melirik ke arahnya. Alessa menarik napasnya dalam-dalam, mengumpulkan oksigen untuk memenuhi paru-parunya. Berusaha bersikap tenang, walau sesungguhnya jantungnya berdegup kencang.


Levin mengembalikan pikirannya. Ia tersenyum melanjutkan kalimatnya. "Dalam memberikan pelayanan anda harus berpegang pada visi, misi, tujuan dan motto yang telah ditetapkan bersama. Ini merupakan komitmen pokok yang harus di pegang untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan sehingga kepuasan pasien semakin meningkat yang bermuara pada meningkatnya kepercayaan masyarakat."

__ADS_1


Tepuk tangan terdengar di dalam ruangan itu. Tatapan haru terpencar dari wajah setiap orang yang mendengarkan perkataan tuan Levin Horald.


Levin turun dari podium. Ia melakukan tugasnya dengan baik. Disaksikan secara langsung oleh para dewan direksi dan diikuti seluruh jajaran staf dan karyawan rumah sakit Mitra.


Levin mendekat dan langsung memberikan ucapan selamat kepada dokter-dokter muda yang ditempatkan di rumah sakit Mitra. Alessa masih tak bergeming dari tempatnya. Sementara para dokter lain sudah berdiri menyambut tangan pria itu untuk berjabat tangan. Alessa mendengus tidak suka. Kenapa mereka para dokter muda bersikap terang-terangan menyukai pria itu? Sebenarnya tanpa ditanya pun Alessa sudah tahu alasannya. Tentu mereka menyukai lelaki yang memiliki kekuasaan. Tak ingin terperangkap dengan suasana itu, Alessa diam-diam keluar dari ruangan itu.


⭐⭐⭐⭐⭐


Alessa melangkah cepat, berjalan meninggalkan Samantha yang menunggunya di depan ruang rapat.


"Bu dokter,.... tunggu!"


Alessa tak perduli, Ia tetap berjalan, tidak menghiraukan panggilan dari Samantha.


"Dok, bagaimana rapat tadi? aku dengar tuan Horald itu tampan sekali. Apa benar ya dok? Astaga....Aku ingin sekali bertemu dengannya." Samantha menunjukkan rasa kagumnya, walau ia belum pernah bertemu dengan tuan Horald.


Alessa mengumpat dalam hatinya, bisa-bisanya Samantha mengatakan itu. Bahkan ia sendiri tidak ingin bertemu dengan Levin saat mengingat kejadian malam itu. Mau kemana lagi ia taruh wajahnya. Astaga, untuk mengingatnya saja, Alessa tak mau.


"Bu dokter sangat beruntung yang bisa bertemu langsung dengan tuan Horald."


Alessa mengembuskan napas panjang sampai anak rambutnya tertiup ke atas. Ia gerah dengan sikap Samantha yang selalu memuji pria berkuasa itu. "Kau ini berisik sekali, Samantha."


"Bu dokter kok marah sih," Bibir Samantha mengerucut ke bawah. "Aku kan hanya mengatakan pria itu tampan. Kok dokter jadi kesal!"


Samantha menatap curiga ."Bu dokter, apa sesuatu terjadi di ruang rapat?" Tanya kemudian saat mereka berjalan sejajar.


"Maksudnya?"


"Apa tuan Horald marah-marah? Sepertinya anda kesal sekali." Tanya Samantha lagi sambil menoleh sekilas ke arah Alessa.


"Menurutmu bagaimana?" Alessa balik bertanya.


"Anda tiba-tiba marah dan begitu kesal saat keluar dari ruang rapat. Jadi aku pikir tuan Horald marah dan memaki dokter-dokter baru."


"Tidak ada yang terjadi di ruang rapat."


"Jadi kenapa Dokter kesal?"


Alessa mengembuskan napas singkat, ia harus mengatakan kepada Samantha. "Sebenarnya aku mengenal tuan Horald. Dia adalah tetanggaku."


"Apa?????"


"Astaga Samantha, jaga suaramu! Kau bisa membangunkan orang mati dan bisa hidup kembali." Gerutuk Alessa.


Samantha bahkan tak perduli, matanya memicing mencari kebenaran dari Alessa. "Anda serius mengenal tuan Horald?" bisik Samantha masih tak percaya.

__ADS_1


"Hmmm." Alessa mengangguk. "Dia lelaki angkuh dan pernah mengatakan jika aku wanita penggoda."


"Terus?" Samantha semakin antusias mendengar cerita itu.


"Jadi aku marah dan mengatakan dia bukan tipeku."


"Anda serius mengatakan itu?"


"Ya. Apa ada yang salah?"


"Ya tentu salah dok, sekarang anda mendapat masalah besar. Sekarang tuan Horald akan selalu bertemu dengan anda. Astaga dok, kenapa anda mengatakan itu, tuan Horald tampan dan banyak wanita yang menyukainya. Anda serius tidak tertarik?"


Alessa tak menggubris. Sekarang masalahnya bukan karena umpatannya. Tapi....Ahhhh.... Alessa meringis seakan tidak ingin mengingat kejadian malam itu. Kenapa juga kancing bajunya sampai terlepas dan dadanya terlihat jelas saat itu.


"Oh tidakkkkkkk......" Batin Alessa berteriak sambil mempercepat langkahnya. Mereka berdiri di depan lift menunggu sampai pintu lift terbuka.


"Sekarang kenapa bu dokter jadi marah?"


"Marah, tentu aku marah. Dia memanfaatkan keadaan, dengan menggunakan kekuasaannya. Aku tahu, dia itu sengaja datang ke sini dan....Mmmmpppp."


Samantha tiba-tiba membekap mulut Alessa sebelum selesai melanjutkan Kalimatnya. Alessa meronta, berusaha melepaskan tangan Samantha dari mulutnya.


"Astaga dok, pak direktur ada di belakang kita. Apa jangan-jangan tuan Horald....?" bisik Samantha sambil melepaskan tangannya dari mulut Alessa.


Alessa terdiam termangu. Tubuhnya membeku, kepalanya berputar sedikit dan melirik ke belakang dengan ekor matanya.


Astaga benar, pak direktur dan tuan Horald ada dibelakang mereka. "Bisakah aku pingsan Samantha?" Bisik Alessa menekan setiap ucapannya. Ia meremas tangannya begitu erat. Sekarang masalahnya bukan karena tuan Horald ada di belakangnya. Tapi pak direktur. Ia bisa dinilai sebagai dokter tak memiliki etika yang baik.


"Apa aku bisa pingsan?" Bisik Alessa lagi.


"Jika kau pingsan jangan harap aku membantumu dok. Aku akan lebih dulu kabur." Ucap Samantha santai, pandangannya tetap lurus, seakan tidak terjadi apa-apa.


Levin tersenyum di sana. Ia tetap berdiri tepat di belakang mereka, menunggu lift terbuka di posisinya, sambil memasukkan tangan ke dalam kantong celananya. Sementara Desmond berdiri tidak jauh dari belakang Levin.


"Maafkan aku Samantha sepertinya aku harus ke toilet." Alessa melangkah meninggalkan Samantha, ia sengaja melakukannya untuk menghindari pak direktur dan tuan Horald. Ia melangkah dengan tergesa-gesa menuju toilet.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku 😍


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^

__ADS_1


__ADS_2