
💌 HUJAN DAN KAMU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
.
"Tapi rasa cinta itu sudah hilang saat aku mengetahui kebenarannya." Kata Levin dengan wajah datar. Setelah mengatakan itu, ia melangkah meninggalkan Alessa dengan sejuta rasa sakit di dada. Ia berusaha menguasai perasaannya. Rasa sesak di dalam dadanya tidak bisa ia gambarkan dengan jelas.
Sementara Alessa lagi-lagi terdiam membeku di tempatnya. Jantungnya seakan terpompa lebih kencang, ia seperti tidak sanggup untuk berdiri. Alessa masih tidak percaya dengan semua ini. Ia terus menggeleng seakan tak percaya, Levin ternyata menyukainya.
"Levin menyukaiku?" Ucapnya dengan bibir gemetar sambil melihat punggung Levin yang menghilang dibalik pintu.
Alessa pun meninggalkan rumah sakit itu tanpa menunggu Samantha. Handphonenya sengaja ia matikan agar bisa menenangkan hatinya yang sedang gundah. Alessa berjalan menyusuri jalanan sambil sesekali menyeka air matanya. Dia tidak tau sudah sejauh apa berjalan. Dia hanya ingin sendiri. Hari sudah malam, Dia bahkan tidak tahu sudah berada dimana. Udara dingin yang menusuk tubuhnya tidak dirasakan lagi. Hati Alessa sangat kacau saat ini. Matanya berkaca-kaca, penuh dengan air bening yang sudah mengkristal di kelopak matanya.
Alessa menunduk dan kembali berjalan hingga ia berhenti di sebuah taman. Ia membungkuk dan memegang lutut berusaha menstabilkan napasnya yang naik turun semakin cepat. Ia menarik napasnya berulang kali. Matanya menatap lurus ke arah langit. Biasanya jika menatap bintang-bintang di atas, hatinya akan membaik. Namun yang dirasakannya saat ini, sama sekali tidak membantu. Hatinya semakin sesak, bahkan ia semakin sulit untuk bernapas.
"Tuhan..." Tangisannya semakin terdengar. Ia menumpahkan kesedihannya pada langit malam.
"Kenapa hidupku seperti ini? apa yang salah? apakah aku tidak pantas hidup bahagia?" Ucapnya dengan lirih.
"Apa aku harus menyalahkan takdir hidupku? Setelah aku dibohongi calon tunanganku, sekarang aku mengetahui fakta bahwa seorang lelaki menyukaiku. Kenapa aku bodoh tidak menyadari akan itu?" Tangisan Alessa semakin terdengar di sana.
"Apa yang harus aku lakukan Tuhan. Aku juga mencintainya. Tapi sekarang Levin membenciku." Wajah Alessa mengerut dan mencoba memahami semuanya.
"Aku benci keadaan ini. Aku membenci kamu Jordan." Teriak Alessa. Semua rasa sesak di dada ia keluarkan di sana.
Alessa menengadah ke atas. Mengambil oksigen sebanyak mungkin untuk memenuhi paru-parunya. Mulutnya terbuka dan sulit untuk mengatakan segala yang ada di dalam hatinya.
"Hatiku sakit...hatiku sangat sakit Jordan. Kau menggoreskan luka yang begitu dalam di hatiku. Aku membenci kamu. Aku...aku..." Alessa tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Ia hanya mengeluarkan d*sahan-d*sahan kecil saat mengucapkan setiap kalimat yang keluar dari mulutnya karena menahan tangis.
Perlahan-lahan Alessa berjongkok, menutup wajahnya dengan tangan. "Bagaimana ini, aku juga mencintaimu Levin. Kini aku menyadari cinta ini begitu besar untukmu. Aku tak sanggup meninggalkan tempat ini. Kenapa aku begitu takut kau berhenti mencintaiku, Levin. Aku tidak bisa...." Alessa terus menangis di sana.
Walau sesungguhnya ia menyadari kebodohannya. Seharusnya ia tidak mengatakan itu. Malam semakin beranjak kelam. Hening diselimuti hembusan angin yang kian mendingin. Tapi Alessa tidak perduli. Ia hanya terus menikmati kesendiriannya. Meluapkan segala kesedihannya.
⭐⭐⭐⭐⭐
Alessa diam sejenak menatap rumah Levin yang tak pernah berpenghuni lagi. Ia kemudian melangkah gontai saat memasuki rumahnya. Begitu pintu tertutup, Alessa kembali bersandar di daun pintu. Ia mengepalkan tangannya, mendongak ke atas sambil menutup rapat matanya. Pikirannya benar-benar berkecamuk dengan segala gejolak. Alessa menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya dari mulut.
Jenny yang keluar dari kamar dan hendak ke dapur, terkejut melihat Alessa yang sedari tadi tak bisa dihubungi dan kini sudah kembali ke rumah. Karena itu juga, Jenny membatalkan keberangkatan mereka hari ini. Jenny berjalan dan menghampiri Alessa.
"Dari mana saja kamu sayang. Samantha menghubungi ibu, kau tiba-tiba menghilang dan meninggalkan mobilmu di rumah sakit. Kau juga tidak mengaktifkan ponselmu. Seharusnya kita berangkat sore ini, apa kamu lupa itu?" Kata Jenny meluapkan kekesalannya.
Alessa perlahan-lahan membuka matanya dan melihat ke arah ibunya. "Kebetulan ponselku habis baterai, bu. Maafkan aku."Jawabnya dengan penuh penyesalan.
"Kau meninggalkan mobilmu di rumah sakit juga. Kau membuat semua orang panik."
__ADS_1
Alessa melepaskan sepatu Keith yang dikenakannya. Menggantinya dengan sendal tipis berbahan lembut. Ia melangkah sambil melepas napas panjang melewati ibunya.
"Aku bertemu dengan teman lama di rumah sakit bu, dia mengajakku ke kafe terdekat yang ada disekitar rumah sakit. Lagian Samantha membawa mobil sendiri. Dia bisa pulang tanpa menunggu aku." ucapnya berbohong.
Tapi Jenny bisa membaca raut wajah putrinya itu. Dia tahu jika Alessa berbohong. "Apa terjadi sesuatu? Apa semua baik-baik saja?" tanya Jenny.
"Apa maksud ibu? Tentu saja semuanya baik-baik saja, bu."
"Apa kamu masih memikirkan Jordan?" Tebak Jenny. Karena yang dia tahu Alessa begitu mencintai Jordan.
"Aku sudah tidak memikirkan Jordan lagi bu. Tolong jangan membahas dia lagi." Alessa kesal saat ibunya kembali mengungkit masalah Jordan.
"Baiklah. Maafkan ibu." ucap Jenny mengikuti langkah Alessa.
"Ibu tidak perlu mengikutiku. Aku mau istirahat bu." Kata Alessa tanpa memandang Jenny.
Langkah Jenny tiba-tiba berhenti. "Apa perlu ibu buatkan susu?" tanyanya lagi.
"Tidak bu, ibu langsung istirahat saja."
"Baiklah, kalau begitu. Tapi kamu tidak memikirkan masalah pembatalan pernikahanmu kan?"
"Tidak bu." Jawab Alessa sambil menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Semoga saja." Kata Jenny pelan, seperti bergumam. Ia hanya terus menatap punggung Alessa yang terus berjalan menaiki tangga.
"Tapi, kenapa raut wajahnya sedih? Apa jangan-jangan sesuatu terjadi?" Jenny berbicara dalam hati. Ia menghela napas singkat, lalu meninggalkan ruang tamu.
"Huffft...." Alessa lagi-lagi membuang napasnya lagi sambil memandang ke arah jam yang tergantung di dinding kamarnya. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
Alessa menghempas tubuhnya dan duduk di sofa yang ada di kamar. Ia memijat punggungnya yang terasa pegal. Memutarnya berulang-ulang agar otot-ototnya tidak tegang lagi. Tiba-tiba ia teringat kepada sahabatnya itu. Siapa yang tidak cemas, saat ia tiba-tiba menghilang dan meninggalkan mobilnya di rumah sakit. Menyadari kesalahannya, ia mengambil handphone dari dalam tasnya untuk melakukan panggilan kepada Samantha.
Tut...tut...tut...
Panggilan tersambung, terdengar suara cemas menyambutnya.
"Hallo, dokter Alessa. Kau membuatku hampir gila. Dari mana saja kau?"
"Samantha, maaf." Awal kata yang ia ucapkan dengan nada penyesalan. Bibirnya mengerucut ke depan dan matanya seketika berkaca-kaca.
"Apa sesuatu terjadi? Aku mencarimu kemana-mana. Bahkan aku sampai menanyakanmu kepada resepsionis rumah sakit." Kata Samantha menunjukkan kekhawatirannya.
Tiba-tiba terdengar suara isak tangis di ujung telepon, membuat Samantha mengerutkan keningnya. Ekspresi wajahnya tiba-tiba berubah. "Dokter Alessa?"
"Samantha...Aku tidak tahu harus berkata apa lagi, Levin tidak mengizinkanku bertemu dengan Elana." Suara tangisan Alessa tiba-tiba pecah.
Samantha panik di ujung telepon, saat mendengar Alessa menangis karena tak diizinkan masuk bertemu dengan Elana. "Kenapa tuan Horald tidak mengizinkanmu masuk, bukankah kalian begitu dekat. Maksudku dekat dalam arti kata sebagai teman."
Alessa tak langsung menjawab pertanyaan Samantha. Ia hanya memainkan kukunya di sana.
"Dokter Alessa...,Jawab aku apa yang terjadi? Kenapa kau tidak diizinkan masuk." kejar Samantha tak sabaran.
__ADS_1
"Levin....." Alessa hanya bisa menyebut nama itu dengan bibir bergetar. Tangisan Alessa begitu jelas, hingga membuat Samantha ketakutan.
"Ada apa Alessa, katakanlah, apa ini ada hubungannya dengan pembatalan pernikahanmu?"
"Tidak."
"Apa ini ada hubungannya dengan pemecatanmu?" Tanya Samantha lagi.
"Heeeehhh..." Alessa mengembuskan napasnya yang gemetar dan terbata-bata. Hanya suara tangisannya yang terdengar di sana.
"Dokter Alessa....jangan buat aku khawatir, apa yang terjadi?"
Alessa mencoba menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan hatinya, agar bisa bicara dengan Samantha. "Levin membenciku,"
"Heuh? Levin membencimu? Kenapa?" Kejar Samantha lagi.
"Levin menuduhku terlibat dalam kecelakaan Elana."
"Apa????? Bagaimana Levin menuduhmu seperti itu? Apa dia sudah gila?"
"Aku juga tidak tahu, Samantha. Dia ada bukti bahwa aku bekerjasama dengan Jordan atas kecelakaan yang menimpa Elana."
"Oh my God. Jadi yang menabrak Elana adalah Jordan?" Samantha begitu terkejut di sana."
"Hmmmm."
Huffft... Samantha mengembuskan napasnya, "Apa kamu sudah menjelaskan bahwa kamu memang tidak terlibat dalam kecelakaan Elana?"
"Aku sudah bersumpah, tapi Levin tak percaya."
"Dasar lelaki bodoh, bagaimana dia bisa menuduhmu seperti itu, bukankah dia tahu kau menyayangi Elana?"
"Aku juga tidak tahu harus bagaimana lagi agar Levin mempercayaiku."
"Sudah, kau tidak perlu memikirkan lelaki sialan itu. Kau dipecat dari rumah sakit karena alasan tak jelas. Sekarang kau tenangkan dirimu. Kau bisa memulai hidup baru di kota A. Kau bisa melupakan kejadian yang ada di sini."
"Aku tidak bisa tenang, Samantha. Karena Levin selama ini menyukaiku dan aku juga memiliki perasaan yang sama dengan dia."
Mendengar itu, lagi-lagi Samantha begitu terkejut dengan mulut terbuka. "A-apa? Apa aku tidak salah dengar dokter Alessa? Kau menyukai Levin?"
"Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai menyukainya. Tapi semenjak pembatalan pernikahanku. Perasaan ini semakin kuat untuknya." Kata Alessa kembali menangis. Dadanya semakin sakit.
Samantha menghela napas berat. Ia hanya diam dan tidak bisa berkata apa-apa. Samantha hanya mendengar suara tangisan Alessa yang semakin terdengar di ujung telepon. Mungkin untuk saat ini Ia hanya sebagai pendengar saja. Dengan cara seperti itu, bisa mengurangi beban yang dirasakan sahabatnya itu.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku 😍
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^