Hujan Dan Kamu

Hujan Dan Kamu
PEMILIHAN DIREKTUR


__ADS_3

💌 HUJAN DAN KAMU 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


.


SATU BULAN KEMUDIAN.


Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui sela-sela jendela kamar Alessa. Ia terbangun dan membuka matanya dengan pelan. Menyipitkan mata untuk melindungi retina dari cahaya yang tiba-tiba. Menyesuaikan berkas cahaya itu dengan perlahan sampai diterima baik oleh mata.


"Hmmmpppp..." Alessa bergumam sambil merenggangkan otot-ototnya dalam posisi tidur. Tadi malam, tidurnya sangat nyenyak. Apa karena lelah berbelanja, Alessa juga tidak tahu.


Sehabis pulang dari mall, ia memang memilih langsung tidur. Agar pagi hari Alessa terlihat segar dan di sekitar matanya tidak terlihat lingkaran hitam. Ia ingin tampil segar di acara pemilihan direktur utama rumah sakit Charlett.


Heeeehhh... Alessa membuang napas, lalu kembali posisi telentang di atas tempat tidur. Ia menatap langit-langit kamarnya sambil melepaskan senyum. Ia mengambil handphonenya yang ada di atas nakas. Alessa segera membuka galeri foto untuk menampilkan gambar Elana dan Levin yang sedang tersenyum.


"Selamat pagi Elana sayang, apa kabar? Aku sangat merindukan kalian berdua." Alessa tersenyum teduh saat melihat gambar itu. Namun ia fokus menatap gambar Levin. "Apa kabar Levin Horald?" Ucapnya pelan hampir tak terdengar.


"Seandainya kau percaya padaku. Mungkin saat ini aku masih berada di sana. Huffft...." Ia mengusap foto itu sambil mengembuskan napasnya.


"Sekarang aku gila memikirkanmu tuan Horald, aku menyukai semua tentangmu. Bisakah waktu diputar kembali. Tapi apa daya, semua tentangku sudah kau benci. Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk mengembalikan kepercayaanmu. Ingin rasanya membuktikan bahwa aku tidak pernah terlibat dalam kecelakaan Elana. Tapi sudahlah, semua itu sudah berlalu dan tak perlu disesali. Mari kita memulai hidup baru kita. Menjalani hari-hari indah tanpa saling menyalahkan. Jika Tuhan mengizinkan, pasti kita akan dipertemukan kembali" Ucap Alessa dengan tarikan napas panjang sambil memejamkan matanya.


Alessa tak mau mengira-ngira. Ia menghentakkan badannya ke atas hingga posisi duduk. Alessa mengusap singkat wajahnya dan berjalan ke arah jendela dan membuka gorden kamarnya. Ia menghirup udara segar di pagi ini dan segera membersihkan tubuhnya dan bersiap ke rumah sakit Charlett.


Setelah selesai membersihkan tubuhnya. Ia pun bergegas melangkah keluar kamar. Bersenandung pelan dan terus melangkah menuju dapur.


"Hmmm..." Wangi bitterballen yang dibuat jadi adonan roti dan diisi dengan daging cincang yang sudah dibumbui. Menu favorit Alessa langsung tercium oleh hidungnya. Ia langsung tersenyum bahagia dan mempercepat langkahnya menuju dapur.


Benar saja ibunya tengah sibuk mempersiapkan sarapan untuknya.


"Selamat pagi ibu," sapa Alessa memeluk Jenny dari belakang.


Jenny tersenyum dan segera membalikkan badannya. "Kamu sudah siap?"


"Hmmm," Alessa bergumam pelan sambil melepaskan pelukannya.


Jenny mengangkat alisnya sekilas, saat melihat ekspresi Alessa yang tampak cerah, bahagia dan terlihat sangat bersemangat. "Kamu terlihat bersemangat hari ini, sayang."


Alessa menatap ibunya dan tersenyum lagi. "Karena hari ini begitu spesial buatku, bu. Jadi tidurku begitu nyenyak semalam. Karena itu aku sangat bahagia menunggu saat ini tiba." jawab Alessa tersenyum sumringah.


Jenny ikut merasakan aura bahagia dari Alessa. Ia pun tersenyum sambil mengangguk pelan. "Baguslah, aku harap senyummu bisa seperti ini selalu."


"Tentu saja bu." ucapnya tersenyum.

__ADS_1


"Mungkin rapat pemilihan direktur ini akan berlangsung cukup lama." Jenny mengambil tangan Alessa dan memberikan tepukan lembut dipunggung tangan Alessa. "Ibu harap semua berjalan dengan baik." Lanjutnya.


Alessa mengangguk. "Aku sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi keluarga Mark. Monika tidak akan bisa diam, karena ia juga sangat menginginkan jabatan ini."


"Ibu mempercayaimu sayang, jangan sampai mereka memegang kendali atas rumah sakit Charlett."


"Tentu saja, bu. Aku akan berjuang untuk itu."


"Apa kamu masih memikirkan tetanggamu itu?"


Reflek Alessa tertawa saat ibunya menyebut tetangganya lagi. "Hahahaha. Bagaimana ibu bisa memikirkan itu?" Alessa lalu duduk seraya menyeruput teh hangat yang sudah tersedia di atas meja. Senyumnya begitu merekah.


"Siapa tahu saja. Selama dua minggu ini kau sakit karena memikirkan tetanggamu itu. Ibu sangat penasaran dengan lelaki itu."


Alessa tersenyum sambil menatap roti yang ada dihadapannya. "Aku juga tidak tahu, kenapa aku terus memikirkan dia, bu. Apakah karena pesonanya?" Alessa tersenyum membayangkan wajah Levin. Ia menarik napas singkat dan melanjutkan kalimatnya.


"Terkadang aku berpikir, kenapa rasa ini selalu hadir? Kenapa rasa ini hadir di saat kami sama-sama sudah memiliki pasangan? Aku mencoba ingin menepis. Tapi perasaan ini terus berkembang dan aku selalu memikirkannya. Apakah aku salah mencintainya?"


Jenny ikut duduk di samping Alessa dan memberikan usapan lembut dipunggung putrinya. "Tidak ada yang salah dalam mencintai. Ibu mengerti, saat kau menceritakan semuanya. Biar merindu, yang terpenting hatimu tetap terjaga. Karena bentuk cinta itu bukan saat kita mengajaknya untuk berpacaran, tetapi memperjuangkannya dengan cara mendoakannya."


Alessa tersenyum teduh. "Jujur mencintainya itu menyenangkan, bu. Tetapi ada luka tak berdarah. Luka yang terbentuk ketika dia mengatakan aku memanfaatkannya. Apakah aku harus minta maaf telah memiliki rasa ini?"


Jenny menggeleng. "Tidak. Tidak. Tidak perlu kau minta maaf. Jangan pernah kau menyalahkan perasaanmu, sayang. Cinta ini tidak salah, hanya saja kedatangannya di waktu yang tidak tepat."


Alessa tersenyum menganggukkan kepalanya. Ia menatap ibunya dengan pandangan nanar. "Terima kasih ibu selalu memberikan perhatian untuk Alessa."


"Hmmm. Karena kamu putri ibu. Sekarang kau fokus untuk acara siang ini. Hmmm."


⭐⭐⭐⭐⭐


Mobil yang mengantar Alessa berhenti di depan gedung rumah sakit Charlett. Alessa menarik napas dalam-dalam. Ia menjepit bibirnya lalu mengatur singkat rambutnya. Merapikan lipatan blus, tangannya terangkat untuk mengencangkan pita blouse yang menggantung di area leher bajunya. Ia melakukan ritual yang biasa ia lakukan dengan cara menarik napasnya dalam-dalam lalu mengembuskannya bersamaan. Cara ampuh untuk menenangkan hatinya.


Andreas yang ditunjuk sebagai supir Alessa keluar terlebih dulu dari mobil untuk membuka pintu untuk Alessa.


"Semoga anda berhasil nona. Semangat! " Andreas tersenyum sumringah sambil mengangkat tangannya dengan kepalan ke atas. Ia sengaja melakukannya untuk memberikan semangat.


Alessa terkekeh saat melihat aksi lelaki paruh baya itu."Terima kasih pak Andreas. Lanjutkan pekerjaanmu." ucapnya dengan seulas senyuman manis.


"Baik nona, nanti saya akan datang menjemput anda kembali." Kata Andreas tersenyum kecil sambil membungkukkan badannya. Alessa hanya menganggukkan kepalanya. Ia mundur beberapa langkah ke belakang agar mobil itu bisa memutar.


Andreas kembali masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi. Lalu menginjak pedal gas untuk membawa mobilnya ke luar dari parkiran rumah sakit.


Alessa tidak langsung bergegas masuk. Ia berdiri di depan gedung rumah sakit yang memiliki desain interior mewah itu. Baru kali ini ia datang ke sini semenjak menyelesaikan sekolah kedokterannya. Alessa mendongak ke atas menatap ke arah bangunan yang menjulang tinggi itu. Membiarkan sinar matahari pagi menyapanya. Semilir angin berhembus damai menerpa wajahnya. Alessa pun tersenyum. Sangat sejuk dan menenangkan.


Semoga hari baik ini berpihak kepadanya. Ia pun berjalan memasuki rumah sakit dengan langkah tegap ciri khasnya. Alessa mengernyit saat orang-orang berjejer rapi menyambutnya. Mereka menundukkan kepala menyambut Alessa.


"Selamat pagi ibu dan selamat datang di rumah sakit Charlett!" ucap salah satu orang pria sambil menunduk hormat.


"Selamat pagi juga. Terima kasih atas penyambutannya."

__ADS_1


"Baik, bu!" Ucap pria itu tersenyum sopan.


"Oke, kalau begitu tolong tunjukkan dimana ruangan rapat hari ini, pak?"


"Ah, baik ibu Alessa. Lewat sini." ucapnya sopan.


Langkah kaki menggema serentak mengikuti langkah Alessa, tidak cepat dan tidak lambat. Melihat kedatangan calon pemimpin rumah sakit ini, para karyawan dengan cepat menundukkan kepala seraya memberi hormat.


Bunyi sepatu heels tujuh senti milik Alessa bergema di sepanjang koridor yang di lewatinya. Seakan menambah tempo irama detak jantungnya. Entah mengapa ia begitu nervous sejak keluar dari rumah.


Tuk...tuk...tuk...


Tuk...tuk...


Tuk...


Alessa memelankan langkah kakinya saat berada di ruangan dimana akan diadakan pemilihan direktur utama rumah sakit ini. Ia menjepit bibirnya, mengatur singkat rambutnya. Pria itu segera membukakan pintu itu untuk Alessa


CEKLEK!


Pintu terbuka. Daun pintu langsung di dorong pria itu agar terbuka lebih lebar. Ia menahannya dan segera mempersilakan Alessa masuk. Alessa mengangguk sambil tersenyum kepada tamu yang sudah datang lebih dulu.


Melihat kedatangan calon pemimpin direktur rumah Charlett, para pejabat di sana langsung bangun dari duduknya. Termaksud itu wakil direktur rumah sakit Charlett. Ia berdiri dari kursinya dan langsung menghadap ke arah Alessa.


"Selamat pagi bu Alessa," Ia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


"Selamat pagi juga pak. Senang bertemu dengan anda." Alessa ikut tersenyum.


"Saya sudah mendengar tentang anda. Semoga kebaikan berpihak kepada anda."


"Terima kasih pak." Kata Alessa mempererat jabatan tangannya.


"Saya sepenuhnya mendukung anda." lanjut pria itu lagi.


Alessa hanya tersenyum dan jabatan tangan mereka pun terlepas.


"Saya bisa melihat Alexander di diri anda. Saya sangat yakin anda bisa memimpin rumah sakit ini."


"Terima kasih atas pujiannya pak."


Alessa kembali berjalan menyalami tamu undangan yang lain. Selesai menjabat tangan, sembari menunggu kedatangan Monika. Mereka membicarakan seputaran rumah sakit, yang marak diperbincangkan atau pun pendapat-pendapat lain terkait permasalahan yang sering muncul di rumah sakit ini.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku 😍


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.

__ADS_1


^_^


__ADS_2