Hujan Dan Kamu

Hujan Dan Kamu
JAMUAN MAKAN MALAM


__ADS_3

๐Ÿ’Œ HUJAN DAN KAMU ๐Ÿ’Œ


ย 


๐Ÿ€ HAPPY READING ๐Ÿ€


.


.


VISUAL DOKTER ALESSA CHARLETT.



Alessa tampak bingung. Ia mondar-mandir dengan gelisah di sana. Ia mengepalkan tangannya berkali-kali. Memegang dagu, menjepit bibir, menggigit jari, berkacak pinggang, melepas lagi dengan frustasi. Hampir semua gerakan kebingungan ditunjukkannya. Ia lalu menghembuskan napas sejenak.


"Apa aku harus ke sana?" Tanya Alessa bermonolog pada dirinya.


"Ah tidak...tidak...! Bagaimana jika dia mengingat kejadian malam itu? Aku malu sekali..." Alessa meringis sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan."


Kejadian malam itu bahkan terus mengiang di otaknya. Senyum dan tatapannya saat itu terlihat begitu jelas. Tapi Levin tak mengucapkan apa-apa. Alessa menggelengkan kepala, mengembuskan napas lewat mulutnya. Pipinya menggembung karena mengulum udara sebelum melepaskannya keluar secara serentak.


Alessa duduk dan masih terus berpikir. Ia meremas singkat handphonenya sambil menengadah ke atas. Melihat langit-langit plafon ruangannya yang terlihat biasa saja. Rasanya sangat membosankan. Alessa menggigit bibirnya dan membaca kembali pesan singkat itu.


"Selamat malam Dokter Alessa. Saya Levin Horald. Maaf mengganggu waktu anda. Di rumah ada Elana, dia ingin bertemu dengan anda. Apa anda bisa ke rumah? Elana sangat mengharapkan kedatanganmu."


"Terserah... Aku tak bisa ke sana. Apa kata tetangga nanti. Bisa-bisa mereka menuduhku wanita..." Alessa menangguhkan kalimatnya.


"Arrggggghhh." Alessa menggeram. Ia menepuk-nepukkan handphonenya ke dahi berulang-ulang.


"Tapi Elana sangat berharap kedatanganku. Aduh aku dilema, bagaimana ini?" Sepersekian detik Alessa memantapkan pikirannya. Terserah apa kata tetangga. Alessa langsung berdiri. Menaruh rantai sling bag ke pundak dan berjalan ke depan rumah. Ia mantap ingin bertemu Elana. Alessa melangkah kakinya menyusuri taman kecil itu.


TUK TUK TUK


Entah mengapa, semakin mendekat ke rumah itu, detak jantungnya semakin terpukul kencang. Ia meremas tangannya yang terasa dingin. Pertemuannya dengan pria itu membuatnya benar-benar gugup.


"Astaga, apa yang aku pikirkan? bukankah tujuanku untuk bertemu Elana. Tapi kenapa aku terus memikirkan dia, aku gugup sekali,"


Langkah kakinya seirama dengan detak jantungnya saat ini. Perasaan berkecamuk memenuhi dadanya, kembang kempis sampai ingin keluar dari rongga dadanya. Ia mengembuskan napasnya lewat mulut. Berusaha menenangkan debaran-debaran yang tercipta di dalam hatinya.


Tap...tap...


Tap...!


Alessa memelankan langkah kakinya tepat di depan di pintu rumah Levin. Ia menjepit bibirnya, mengatur singkat rambutnya. Sebelum menekan bel, Alessa menarik napasnya dalam-dalam.


Fiiuuuuhhhh... Napas hangat keluar dari mulutnya. Alessa mengumpulkan keberaniannya. Perlahan ia mengangkat tangannya, menekan Bel rumah milik tuan Horald.


TING NONG...TING NONG...!


TING NONG...TING NONG...!


Belum ada reaksi seseorang dari dalam untuk membuka pintu untuknya. Alessa termenung menunggu pintu dibukakan untuknya. Dalam benaknya mulai bermunculan beberapa opini dan juga pertanyaan lain.


"Apa tidak ada orang? bagaimana soal pesannya tadi? atau jangan-jangan...dia memang sengaja menggunakan Elana untuk ngerjain aku?"


Alessa tidak dapat menyimpulkan. Ia tetap berdiri di depan pintu. Ya ibarat sudah terlanjur basah, ya sudah mandi sekalian. Alessa kembali memberanikan diri untuk menekan bel itu.


TING NONG!


TING NONG!

__ADS_1


CEKLEK!


Pintu mulai terbuka pelan. Jantung Alessa semakin terpukul kencang. Ia mulai merasa gugup. Alessa menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya sekaligus.


Dan kini pintu akhirnya terbuka sempurna. Levin keluar menggunakan kaos polos berwarna biru muda. Ia menggunakan celana hitam bahan berkualitas. Nampak santai dan terlihat segar. Ia berdiri tegak di antara pintu sambil memberikan senyum terbaiknya. Tangannya terbungkus nyaman di kantong celananya.


"Selamat malam dokter Alessa. Terima kasih atas kedatangannya. Silakan...." Belum lagi Levin selesai bicara, Elana tiba-tiba muncul dari balik tubuhnya.


"Aunty....." teriak Elana begitu antusias. Ia langsung menyambar tubuh Alessa. Alessa terbelalak karena begitu terkejut, ia langsung berjongkok membalas pelukan Elana. Levin pun ikut terkejut, lalu kemudian tersenyum menyaksikannya pemandangan itu.


"Apa kabar, Elana sayang?" tanya Alessa membelai punggung Elana.


Elana melepaskan pelukannya, menatap Alessa dengan senyum yang menggemaskan. Mata Elana berbinar bahagia. "Kabar Elena baik, aunty."


Melihat senyum di wajah kecil Elana membuat Alessa sangat bahagia. Bahkan ia tak bisa menutupi betapa ia menyayangi anak ini.


VISUAL ELANA GEORGE.



"Kita masuk Aunty, Uncle sudah memesan makanan yang banyak untuk kita."


"Heuh?" Alessa terkejut saat Elana menarik tangannya.


"Uncle, tutup pintunya." Perintah Elana seperti tuan rumah.


Levin terkekeh sambil menggelengkan kepalanya. Ia pun menutup pintu dan mengikuti Alessa dan Elana ke dapur.


"Wah....Banyak sekali makanan ini sayang." Kata Alessa menyaksikan semua makanan sudah di hidangkan di atas meja. Levin lagi-lagi hanya bisa tersenyum saat melihat ekspresi Alessa yang nampak bingung. Alessa menatap ke arah Levin. Tatapan mereka bertemu.


"Semua makanan ini di siapkah Uncle untuk Aunty. Kata Uncle makanan ini di pesan dari restoran terkenal."


"Uncle bukankah seperti itu? Gak bisa bohong. Anak yang baik harus berkata JUJUR."


Levin menarik napasnya. Ia mengangkat wajah dan memberikan senyuman tipis. Cara ini begitu ampuh untuk menutupi rasa gugupnya. "Apa kita hanya menatap makanan ini saja, Elana?" Levin memilih duduk lebih dulu.


Alessa tersenyum dan menatap ke arah Elana. "Kamu belum makan, sayang?"


Elana mengangguk. Alessa mengambil napas. Melarikan pandangannya dari Levin. Sungguh situasi ini membuatnya tak nyaman. "Elana makan dulu ya,"


"Baik Aunty."


Alessa menggeser kursi untuk Elana dan mempersilakan duduk di sana.


"Elana mau makan apa?" ucap Alessa lembut sambil menatap makanan yang tersaji di atas meja.


"Dia biasa makan nasi dan soup creamy carrot." Kata Levin memberitahu.


"Iya aunty, aku makan ini aja." Kata Elana menunjuk soup creamy carrot.


"Elana suka makan ini?" Ucapnya saat menyendokkan soup untuknya.


"Hmm, Elana suka." kata Elana dengan wajah imutnya.


"Elana bisa makan sendiri, kan?"


"Bisa dong Aunty. Elana kan sudah sekolah."


Alessa tersenyum, ia menaruh makanan itu di depan Elana. "Makan yang banyak ya sayang."


Elana mengangguk. "Aunty makan juga ya." seraya menjentikkan jarinya agar Alessa mendekat ke arahnya. Elana membisikkan sesuatu ke telinga Alessa. Membuat Levin mengernyit saat melihat pemandangan itu.

__ADS_1


"Kalau Aunty gak makan, Uncle bisa kecewa. Karena semua makanan ini memang khusus di pesan buat Aunty."


"Benarkah?" Kata Alessa tanpa mengeluarkan suara. Elana mengangguk cepat.


Alessa lagi-lagi tersenyum sambil mengangguk. "Baik. Aunty pasti makan semua." Bisik Alessa.


Levin semakin mengerutkan keningnya. Ia menatap Elana dan memberikan gestur yang tentunya dipahami Alessa.


Huuuuuuu. Alessa mengeluarkan napas dari mulut secara perlahan. Merasa terbebas dari situasi tegang ini. Ya mau gak mau, ia harus makan. Alessa tidak ingin mengecewakan Elana. Ia pun mengambil makanannya.


Mereka menikmati hidangan yang tersaji di hadapan mereka. Mereka layaknya seperti keluarga. Di sana Elana bercerita banyak mengenai sekolahnya. Dan Alessa sebagai pendengar yang baik di sana. Sementara Levin hanya bisa diam menikmati makanannya dan dia diam-diam mencuri pandang ke arah Alessa. Walau ia tidak berani menatap Alessa lebih lama. Getaran-getaran aneh kembali tercipta dari dalam dadanya. Getaran ini yang membuatnya tidak nyaman dan semakin ingin melihat Alessa. Saat melihat senyumnya tanpa sadar Levin ikut tersenyum seakan menikmati pembicaraan mereka.


Di sana Alessa terlihat ikut terbawa pembicaraan kecil dengan Elana, yang membuatnya ikut tertawa. Kelucuan Elana membuatnya lupa bahwa ada Levin di sana. Bahkan tanpa sadar Alessa mengeluarkan tawa lepas sambil menutup mulutnya dengan tangannya.


"Apakah aku menyukainya, kenapa semua terlihat berbeda jika hanya melihatnya tersenyum saja?" Batin Levin terus berbicara di sana. Ia mulai salah tingkah ketika melihat sisi dari Alessa. Pantulan cahaya lampu menambah kecantikan Alessa dan terlihat begitu jelas. Levin menatapnya begitu dalam dan tidak menyadari ia tersenyum karena menikmati tawa itu.


"Apakah aku jatuh cinta?"


"Apa aku menyukai dokter Alessa?" Perasaan aneh ini terus menggelitik hatinya. Levin menatap Alessa dengan lekat-lekat.


DEG....!


Tiba-tiba tatapan mereka bertemu, Levin memberanikan diri menatap Alessa lebih lama. Aliran darahnya seakan berdesir, jantungnya berdebar begitu keras sampai membuat Levin sulit untuk bernapas.


Alessa terkejut, menyadari tatapan Levin yang mampu menghujam jantungnya. Tawanya seakan hilang bersama tatapan Levin yang terus menguncinya. Ia gugup dan menunduk cepat. Menyibukkan diri menikmati makanan yang ada di piringnya.


"Astaga Tuhan. Apa yang telah aku lakukan?Kenapa aku begitu ceroboh? Tuan Horald pasti sudah menilaiku tidak ada sopan santun, tertawa di saat makan ini. Dasar gila kamu Alessa. Apa-apaan itu?! Oh...My God mau kutaruh dimana wajah ini?" Alessa merutuki kebodohannya. Ia kembali memotong dagingย steak, Alessa tetap diam menggunakan tangan kiri untuk memasukkan steak ke dalam mulutnya. Ia tidak berani mengangkat wajahnya lagi, apalagi menatap Levin.


Acara makan pun sudah selesai. Elana sudah tidur di kamarnya setelah Alessa membacakan dongeng untuknya. Alessa memilih pamit undur diri. Tak ingin dikatakan lelaki pengecut, Levin pun mengantar Alessa sebagai tanda ucapan terima kasihnya. Hari ini jam sudah menunjukkan pukul 10.


Levin dan Alessa berjalan beriringan dan sejajar, mereka menyusuri jalan. Angin malam berhembus membelai wajah dan rambut Alessa yang menjuntai indah. Hingga tibalah mereka di depan rumah Alessa.


"Tuan Horald. Terima kasih atas jamuannya dan anda sudah repot-repot mengantarkan saya."


Levin tersenyum. "Seharusnya saya yang berterima kasih. Hari ini Elana sangat bahagia."


Alessa ikut tersenyum. "Elana anak yang pintar dan menggemaskan."


"Hmm." Levin hanya menjawabnya dengan gumaman.


"Kalau begitu saya masuk dulu, tuan."


"Jangan panggil tuan."


"Heuh?" Alessa bingung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Panggil nama saja. Aku ingin kita berteman dengan baik. Jika kau memerlukan bantuan, jangan-jangan sungkan-sungkan menghubungiku."


Alessa melepaskan senyum manisnya. "Baik. kalau begitu saya masuk dulu, Le-vin." ucap Alessa canggung saat mengatakan nama lelaki itu.


Levin tersenyum sambil mengangguk. Ia masukkan tangannya ke dalam kantong celana. Berdiri dengan posisi santai. Alessa melangkah masuk ke dalam rumah. Sementara Levin masih berdiri di sana. Menatap punggung Alessa yang semakin menjauh darinya.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku ๐Ÿ˜


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^

__ADS_1


__ADS_2