
💌 HUJAN DAN KAMU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Dddrrrttt Dddrrrttt
Handphone Melodi tiba-tiba berbunyi. Ia segera berlari dan mengambilnya dari atas nakas. Ia menatap layar pipih itu dan melihat siapa yang menghubunginya. Dari wajahnya terlihat jelas, ia tidak suka. Wajahnya mengerucut saat melihat nama yang tertera di layar dengan tulisan 'memanggil' itu.
Melodi mengangkatnya sebelum panggilan itu berakhir.
"Iya tuan, ada yang bisa saya bantu?"
"Kenapa lama sekali mengangkat teleponnya? Bagaimana soal kejadian hilangnya Joyce? Apa Monika curiga?" tanya Jordan memulai pembicaraan. Melodi adalah seorang wanita muda yang diperkerjakan Jordan untuk merawat Joyce. Ia sudah bekerja selama empat tahun di sana. Melodi berpura-pura melamar pekerjaan. Monika yang saat itu membutuhkan baby sitter, tanpa berpikir panjang menerima Melodi.
"Beliau tidak curiga sama sekali, tuan. Tapi...." Melodi terdiam sesaat.
"Tapi apa?" kejar Jordan tidak sabaran.
"Nona Monika saat itu panik dan langsung mengecek cctv." ucap Melodi dengan suara terendahnya.
"Bodoh! bagaimana kamu bisa ceroboh. Apa yang dia dapatkan setelah memeriksa cctv?Jangan katakan Monika melihatku."
"Tidak sama sekali tuan. Sebelum anda datang saya sudah lebih dulu merusak cctv. Semua berjalan dengan sesuai yang anda harapkan. Tapi sepertinya nona Monika benar-benar mengirim Joyce ke panti asuhan. Beliau membayar orang untuk menemukan Joyce secepatnya."
"Cih...kita lihat saja, apa dia bisa menemukan Joyce. Sekarang aku tidak mau tahu, sekarang lakukan tugas terakhirmu. Setelah semuanya beres, kau akan mendapatkan uangmu. Sekarang kau hanya perlu menjalankan semua perintahku. Setelah ini, silakan melakukan apa pun yang kau inginkan. Ah..dan jangan lupa, jika kau macam-macam kau akan terima konsekuensinya. Kau faham?" ucap Jordan berubah tegas di ujung kalimat.
"Bagaimana jika?" Melodi menjeda sebentar kalimatnya untuk menarik napas.
Pria itu mengerutkan dahi, menanti dengan tidak sabaran.
"Bagaimana jika aku tidak menjalankan rencana anda, tuan?" ucap Melodi melanjutkan kalimatnya.
Lagi pria itu duduk dengan angkuh dan tersenyum smirk. "Jangan bermain-main denganku Melodi, walaupun kau wanita. Aku tidak segan-segan untuk menyakitimu. Sesuai perjanjian awal kita, kau juga sudah menerima sebagian uang dariku. Jadi aku rasa kau tidak bisa berhenti dan aku tidak izinkan kau melakukan itu. Ingat, Monika jangan sampai mengetahui rencana ini." Ucapnya dengan pancaran garang dan penuh amarah.
"Baik tuan."
"Sekarang jawab apa alasanmu?" kilatan marah masih memancar di bola matanya.
"Sepertinya aku menyukai anak itu, bagaimana jika aku yang mengurus Joyce?"
"Terserah kau mau suka dengan Joyce. Aku tidak pernah memintamu melenyapkan anak itu. Sekarang kau hanya perlu menjalankan semua tugas yang aku perintahkan." ucapnya tegas. Ia tersenyum meremehkan.
"Bagaimana jika aku tidak berhasil? Aku tidak ingin..." Kalimatnya menggantung lagi.
__ADS_1
"Apa kau sekarang takut Monika akan membencimu? Cih.. Lakukan yang terbaik, jangan sampai misimu gagal dan dia tidak akan tahu itu."
"Baiklah, aku akan lakukan yang terbaik." ucap Melodi menghela napas singkat.
"Hmm, kerja bagus! Kau tahu, aku tidak mau dikecewakan. Jangan salahkan jika aku menyakitimu."
"Aku akan lakukan semampuku dan sesuai rencana anda dan ini misi terakhirku."
"Pastikan tidak ada yang tahu masalah ini."
"Baik tuan..." jawabnya Melodi dengan tegas.
TIT
Lelaki itu mematikan teleponnya. Jordan tersenyum penuh kemenangan. Monika sengaja merahasiakan kehamilannya dan melarikan diri keluar negeri setelah Daddynya berhasil membocorkan informasi rahasia perusahaan Daddynya. Keluarganya sempat terpuruk saat mengetahui perusahaannya bangkrut. Jadi Jordan datang ingin membalaskan dendam atas pengkhianatan Monika.
"Hahahaha..." Tawanya terdengar begitu kejam dan mendominasi ruangan. Bahkan semakin besar, di sela-sela tawanya ia berucap. "Kau akan merasakan kehancuran Monika, lihat saja semua keluargamu akan ada di genggamanku. Hahahaha..." Sorot matanya semakin gelap, sudut bibirnya langsung melengkung ke atas dan raut wajahnya berubah gahar. Ia semakin tidak sabar menunggu detik-detik kehancuran itu.
"Jordan... nak Jordan...!" Seorang wanita paruh baya memanggil Jordan.
Jordan tersentak namanya dipanggil. Ia melangkah cepat keluar dari kamarnya.
"Apa mommy sakit lagi?" ucap Jordan mendekat ke arah mommy-nya.
Wanita itu menggeleng. "Mommy hanya merindukan Alessa, bisakah kau membawanya ke sini? Berulang kali Mommy menghubunginya tapi nomornya tidak pernah aktif nak." Wajah Melda terlihat sedih.
Jordan membuang napas kasar. Ia tidak tahu alasan apa lagi yang akan ia katakan kepada mommy-nya. "Mom, Alessa sibuk dan sekarang ia mengikuti seminar keluar kota. Aku tidak bisa menggangu pekerjaannya. Ibu tahu sendiri bagaimana sibuknya dia."
"Aku juga merindukan Alessa, mom. Suatu hari nanti, Alessa akan aku bawa ke sini. Mommy tunggu saja." Janji Jordan sambil menepuk tangan wanita yang masih memiliki paras cantik itu.
"Cih .. Kenapa tidak langsung kau nikahi saja? Aku dengar Alessa seorang wanita kaya dan mandiri. Dia memiliki rumah sakit terbesar di kota A. Jadi kau tak perlu cari muka untuk mendapatkan kedudukan di rumah sakit tempatmu bekerja." Seorang gadis yang tidak lain dari adiknya Jordan tiba-tiba muncul dari pintu. Ia melempar asal tas selempangnya, lalu duduk sambil melirik Jordan.
"Heuh?" Jordan mengerutkan keningnya. Adiknya terang-terangan mengatakan yang ada di dalam pikirannya. Jordan lalu tersenyum sambil menggelengkan kepala. "Aku sama sekali belum terpikir ke tahap itu."
"Kenapa?" Matanya memicing dengan penuh selidik. Alisnya bahkan naik dari pangkalnya.
"Karena aku tidak ingin terburu-buru. aku tidak mau di nilai sebagai lelaki yang memanfaatkan Alessa. Aku ingin benar-benar siap dari usahaku sendiri. Pernikahan tidak mudah. Semuanya ada proses, ada sejumlah tahap yang harus dipersiapkan termasuk itu soal biaya."
"Kakak tahu lamaran itu tidak perlu harus mewah. Semua wanita itu menyukai lamaran sederhana. Yang penting romantis."
"Sederhana?"
"Hmm, Semua wanita menginginkan seperti itu. Sederhana dan berkesan. Itu kebahagiaan dari semua perempuan nak." Wanita paruh baya itu menimpali.
Jordan mengangguk tersenyum. "Hmm, Aku mengerti mom. Semua wanita menginginkan ketulusan cinta bukan?"
"Yuupss, betul sekali. Jadi kakak tidak perlu memikirkan lamaran mewah. Apalagi mommy menyukai Alessa. Kamu tidak main-main kan dengan Alessa?"
"Hahahaha." Jordan tertawa lepas. "Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu, aku mencintai Alessa dan secepatnya akan melamar dia. Tapi tidak dengan waktu terdekat ini. Kami masih butuh waktu untuk menikmati masa-masa berpacaran dulu."
__ADS_1
"Cih...sok romantis kamu." Ucapnya dengan senyum meledek.
"Jangan pernah sia-siakan Alessa. Dia gadis baik. Kau mengerti?"
"Pasti mom, aku tidak akan menyia-nyiakan Alessa, karena aku mencintainya." Ucapnya dengan senyum penuh arti.
⭐⭐⭐⭐⭐
Jordan meluncurkan mobilnya ke sebuah club tempat dia berpesta bersama teman-temannya. Mobil berwarna hitam memasuki area parkir. Ia memarkir asal dan keluar dari mobilnya. Jordan melempar kuncinya ke salah satu orang yang berjaga di club. Ia melangkah masuk dan melihat Edric sudah ada di sana. Jordan tersenyum smrik saat Edric melambaikan tangannya. Para gadis liar yang penggila uang langsung menyambut kedatangan Jordan. Mereka akan berpesta menghabiskan malam ini. Jordan berjalan sesekali menggerakkan tubuhnya mengikuti dentuman musik.
"Hai dude.." Edric memeluk Jordan. "Cukup lama kita tidak bertemu dude.." Suara Edric begitu keras di telinga Jordan.
"Ehm, sepertinya kau nyaman di sana. Kapan tiba di sini, kau tidak pernah menghubungiku?" tanya Jordan membalas dengan suara keras juga.
Edric terkekeh. "Sudah ada tiga hari, dude. Huffft.. Bulan depan aku harus kembali lagi ke new York melanjutkan bisnis daddy di sana."
"Sejak kapan kamu menjadi anak yang berbakti? cih dasar.." Jordan berdecak dengan senyuman smrik.
"Hahahaha." Edric tertawa renyah. "Bagaimana hubunganmu dengan Alessa? Jangan katakan sudah diambang kehancuran. Setelah kejadian beberapa tahun yang lalu kau dikhianati Monika. Apakah kau masih membencinya?" mata Edric memicing.
Jordan tidak menjawab, ia memilih duduk sambil memangku kakinya dengan memegang gelas yang berisi dry martini, minuman cocktail beralkohol.
Dua gadis cantik langsung menemaninya untuk minum. Siapa yang tidak kenal Jordan. Walau ia seorang dokter yang dikenal baik, tapi ia tidak bisa meninggalkan kebiasaan malamnya. Walau hanya sekedar minum sambil bercerita dengan teman-temannya.
Seperti biasa, para lelaki gagah selalu berhasil membuat wanita menjerit di tempat tidur. Para wanita begitu menyukainya. Wanita-wanita yang menjual dirinya demi kenikmatan sesaat. Tawa para penggila pesta memenuhi ruangan club. Seluruh pasang mata beralih fokus pada sekumpulan lelaki tampan dan kaya. Mereka berdansa mengikuti hentakan musik. Jordan masih asyik dengan minumannya walau sesekali ia melihat orang orang yang berada di club seperti kehausan hiburan saja.
"Dude, kau tidak menjawabku. Bagaimana hubunganmu dengan Alessa?" tanya Edric tidak putus asa mencari tahu.
Jordan memutar-mutar gelasnya. Mengeluarkan bunyi gemericik es batu yang saling bertabrakan dengan dinding gelas. "Hubunganku dengan Alessa baik-baik saja."
Pppffffffttt
Edrick terkejut sambil memuntahkan minuman wine yang ada di mulutnya. "Kamu serius mencintai Alessa?"
"Kau pikir aku sedang bermain-main, Edric. Aku mencintai Alessa. Kenapa kau meragukan itu?"
"Sejak kapan kamu menjadi lelaki sejati. Aku pikir sejak Monika mengkhianatimu. Kau tidak akan mencintai wanita lagi." ucap Edric masih tak percaya, ia mengambil tissue untuk menyeka bibirnya.
"Waktu terdekat ini aku akan melamar, Alessa. Kau puas?"
DEG!
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku 😍
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^