
💌 HUJAN DAN KAMU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
.
Samantha nampak mondar-mandir di rumah Alessa. Ia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Hatinya berkecamuk dengan segala perasaan bingung. Sejak pulang dari gereja, Alessa menghilang begitu saja. Handphone dan tasnya tertinggal di dalam mobil. Samantha menarik napas dalam-dalam. Ia mengambil tissue dan menyeka air mata di pipinya. Samantha benar-benar takut jika sesuatu terjadi pada sahabatnya itu.
"Apakah Alessa diculik? Ahhhh....." Samantha menggeleng cepat menepis prasangka buruk. Saat ini, ia harus berpikiran jernih. Mungkin Alessa sedang bersama Jordan. Ya, Alessa saat ini sedang bersama Jordan. Samantha meyakinkan dirinya sendiri.
Dddrrrttt.... Dddrrrttt... Dddrrrttt!
Tissue masih menempel di hidung Samantha saat ia terkesiap mendengar bunyi getaran handphone milik Alessa yang ia letakkan di atas meja. Samantha menarik napas dalam-dalam saat melihat kilatan cahaya yang menyala di layar pipih digital. Samantha pun mendekat dan mengambil handphone milik Alessa. Dilihatnya nama sang pemanggil.
My love is calling....
Samantha mencoba mengatur suaranya agar bisa mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Hallo, Sayang," Sapa Jordan mendahului begitu bunyi nada sambung berakhir.
"Ha-hallo?" Jawab Samantha serak.
Jordan mengernyit di balik handphone. Itu bukan suara Alessa. Ia terdiam sejenak.
"Hallo, dokter Jordan. Ini aku Samantha." Samantha mengembuskan napasnya lagi setiap kalimat yang berhasil ia ucapkan.
"Samantha? Hai Samantha, bagaimana kabarmu? Sudah pulang gereja ya? Dimana Alessa?" Kata Jordan di ujung telepon.
"Heuh? Alessa?"
"Iya, Alessa. Kenapa kamu mengangkat teleponnya?" Kata Jordan tak suka.
"Maaf dokter Jordan. Apa Alessa tidak bersamamu?" Samantha malah balik bertanya.
Jordan semakin mengerutkan dahi. "Bersamaku? Bukankah aku sudah bilang siang ini aku ada acara seminar yang tak bisa aku tinggalkan dan acara itu sampai sore."
Deg....deg....deg...!
Jantung Samantha terpukul kencang. "Jadi kemana Alessa?"
"Samantha ada apa? bukankah Alessa bersamamu?"
"Dokter serius? Alessa tidak bersamamu?" Tanya Samantha lagi dengan nada serius.
Jordan mengembuskan napas kesal. "Kalau Alessa bersamaku, untuk apa aku menelpon. Dimana Alessa?"
Jantungnya semakin memacu tidak karuan. Ia mengkhawatirkan Alessa. Sangat mengkhawatirkan Alessa. Mata Samantha kembali berkaca-kaca dengan perasaan takut. Aliran listrik seakan memenuhi sekujur tubuhnya.
__ADS_1
"Samantha?" Panggil Jordan lagi saat mendengar Samantha hanya terdiam dengan napas menggebu.
"Dokter Jordan...." Suara Samantha gemetar. "Sepertinya kita harus mencari Alessa."
"Heuh?" Jordan mengernyit. "Apa yang terjadi dengan Alessa?" Jordan membentak serius.
Samantha tidak menjawab. Hanya suara napas terbata-bata yang di dengarnya dibalik telepon. Seketika rasa panik ikut menjalar semakin menjadi, menyeruak dari debaran jantung Jordan.
"Samantha, kamu dimana?"
"Di perumahan Flower."
"Tunggu di sana! Aku akan segera ke sana."
TIT!
Panggilan langsung dimatikan Jordan dengan sepihak.
⭐⭐⭐⭐⭐
Di sisi lain. Hari sudah berganti malam. Alessa berjalan gontai dan tidak tentu arah. Ia berjalan terus untuk menenangkan pikirannya. Udara malam ini begitu dingin. Hembusan angin malam semakin membekukan suasana. Jalanan mulai sepi malam ini. Ia larut dalam perkataan Monika. Ia sudah berjanji tidak ingin menangis. Namun tidak bisa, ia tidak bisa menutupi rasa gejolak yang ada di dalam hatinya. Perasannya hancur berkeping-keping. Jordan dan Monika sudah memiliki anak? Kenapa Ia tidak pernah menyadari itu?
Alessa berjalan sambil menunduk. Semua terasa menyakitkan. Malam penuh kepedihan bagi Alessa. Dua minggu lagi hari pernikahannya. Kebenaran yang ia dapatkan. Kebenaran yang meruntuhkan benteng hatinya, yang membuatnya lari dari kenyataan yang pahit. Ia masih mencoba mengerti.
Langkahnya terus menyusuri jembatan dengan tarikan napas yang panjang, Alessa tiba-tiba berhenti. Angin malam berhembus membelai wajahnya. Air matanya kembali menguasai dirinya. Air mata yang sedari tadi terkumpul, tergelincir begitu saja membasahi pipinya. Ia mencengkram pagar jembatan dengan kuat. Kakinya lunglai seakan tidak mampu untuk memijak bumi lagi. Napasnya pun ikut tertahan di dada saat mengingat kembali perkataan Monika. Alessa tersenyum miris.
"Kau brengsek Jordan! Aku muak...aku muak dengan semua ini...." Alessa mengatur napasnya yang tidak stabil. Ia berusaha mengatur ucapannya dengan d*sahan-d*sahan kecil yang keluar dari mulutnya karena menahan tangis. Ia kembali melanjutkan kata-katanya.
"Apakah aku harus menghentikan pernikahan ini? Bagaimana mungkin bisa...Undangan sudah berjalan. Apa yang harus aku lakukan?Heeeksss....Heeekkksss....." air matanya terus meleleh membasahi pipinya. Ia terus memegang dadanya dan menarik napasnya dalam-dalam. Mulutnya terbuka. Bibirnya gemetar, napasnya keluar tidak stabil. Ia terus menangis, wajahnya mengerucut, mengerut, suaranya lirih dan meraung.
Alessa terduduk, tangannya masih memegang jembatan. Air matanya mengalir begitu saja. Saat ini ia membiarkan air bening terus mengalir ke dagunya. Saat ini Alessa harus lebih kuat. Walau dalam hati sesungguhnya jika mengingat itu, Alessa akan menangis kembali. Hatinya terluka dan sangat sakit.
Rintik-rintik hujan tiba-tiba turun. Alessa yang terduduk tak perduli sama sekali. Ia menunduk, pikirannya masih kalut. Cuaca dingin semakin menusuk tulang.
Alessa akhirnya bangkit walau tangannya masih memegang sisi jembatan. Ia melangkah meninggalkan jembatan. Ia tidak berlari atau pun melangkah panjang untuk menghindari hujan. Alessa hanya membiarkan hujan membasahi tubuhnya.
⭐⭐⭐⭐⭐
TININIT!
Saat mendengar bunyi password ditekan dari arah pintu luar, Samantha terkejut dan reflek berdiri. Dia yakin itu adalah Alessa dan benar saja wanita yang sejak tadi membuatnya cemas dan ketakutan itu sedang melangkah masuk dengan kepala menunduk.
"Astaga, dokter Alessa dari mana saja? kamu hampir membuatku mati ketakutan dan sekarang dokter Jordan sedang mencarimu. Apa yang terjadi, kenapa kamu berantakan sekali?" Kata Samantha begitu terkejut melihat Alessa basah. Alessa seperti orang kehilangan arah.
Alessa bergeming, ia berjalan pelan menuju kamarnya.
"Dokter Alessa, kau tidak menjawabku. Aku sangat mencemaskanmu. Apa yang terjadi? Aku hubungi dokter Jordan ya..." Samantha mengikuti Alessa yang tertunduk lesu.
Alessa membalikkan badannya. Dengan tarikan napas panjang. Ia menatap Samantha dan berusaha tersenyum walau itu terkesan dipaksakan. "Jangan hubungi Jordan. Aku mohon, jangan hubungi dia."
"Heuh?" Samantha nampak bingung. "Kenapa? Kamu tidak tahu Dokter Jordan sangat mencemaskanmu."
"Aku ingin sendiri."
__ADS_1
"Tapi..."
"Biarkan Aku mandi, nanti aku akan cerita." Ucap Alessa tersenyum. Ia kuat dan tidak ingin menangis di depan Samantha.
"Oke.. mandilah! Kamu punya utang cerita denganku. Aku menunggu." kata Samantha mencoba memahami sikap Alessa yang nampak berbeda itu.
Alessa hanya mengangguk. Ia berjalan memasuki kamarnya dan langsung menuju kamar mandi. Sesaat ia terdiam di kamar mandi. Alessa menarik napas dalam-dalam. Ia menatap dirinya di pantulan cermin. Lalu Ia menyalakan kran air.
Ssyuuuurrrtt....!
Bunyi shower sengaja dipasang full oleh Alessa. Ia berpindah ke bawah shower. Tubuhnya basah tersiram air. Alessa berharap air mengalir membawa lukanya pergi ke dalam pembuangan air. Ia mengarahkan ke dua tangannya berpegangan pada tembok. Alessa menunduk tetap menerima air yang terjatuh dari shower. Ia menarik napas panjang, walau rasa sakit masih membekas.
Alessa berharap ini adalah keputusan yang tepat untuknya. Setelah bertanya langsung kepada keluarga Jordan, mereka membenarkan semuanya. Sakit dan sangat sakit. Untuk bernapas saja, semua terasa menyesakkan.
Tak menunggu lama, Alessa sudah selesai membersihkan tubuhnya. Ia menutup kran air.
Sampai air berhenti mengalir. Alessa mengenakan pakaiannya kembali.
CEKLEK!
Pintu terbuka, Samantha sudah menyiapkan susu hangat buat sahabatnya itu.
"Sekarang duduklah! Minum susu ini sampai habis, lalu ceritakan semua padaku." Kata Samantha menagih janji kepada Alessa. Ia menuntun Alessa duduk di sofa.
"Terima kasih, Samantha. Kau selalu memberikan perhatian kepadaku. Aku sangat bersyukur memiliki seorang sahabat seperti kamu." Kata Alessa tersenyum tipis. Ia meneguk susu hangat buatan Samantha.
Samantha tersenyum. "Bukankah seorang teman harus seperti itu? yang seharusnya berterima kasih itu aku. Kau begitu baik kepada keluargaku. Sampai sekarang aku masih mengingat itu."
Alessa hanya tersenyum sambil menatap lurus ke arah lantai.
"Sekarang ceritakan apa yang terjadi? Kenapa kau tiba-tiba menghilang sejak kau minta izin pergi sebentar. Kau ingin bertemu siapa? Aku lihat kau berlari ke arah kanan."
Alessa menunduk, ia menatap gelasnya yang sudah kosong. Ia meletakkan gelas itu ke atas meja.
"Apa yang terjadi dokter Alessa?" tanya Samantha penuh selidik.
Alessa menarik napas dalam-dalam. Ia menatap Samantha dengan pandangan sayu. Tak tahan lagi, ia menyambar tubuh Samantha. Memeluk sahabatnya itu dengan erat.
Samantha sangat terkejut. "Apa terjadi sesuatu dokter Alessa?" Tanya Samantha dengan suara terendahnya.
Tidak ada jawaban. Tiba-tiba Samantha merasakan ada cairan hangat yang mengalir di pundaknya. Posisinya tepat dari bagian pelipis mata Alessa yang memeluknya. Samantha langsung menjauhkan tubuhnya. Menatap Alessa dengan sorot mata penuh tanya.
"KAMU KENAPA DOKTER ALESSA?" ucap Samantha menekan kalimatnya.
Ia menatap dalam ke arah Alessa. Yang dia tahu Alessa tidak pernah menangis. Sahabatnya itu justru paling benci melihat seseorang menangis. Alessa menilai jika melihat seseorang menangis adalah orang lemah dan cengeng. Namun yang ia lihat Alessa nampak berbeda. Dokter Alessa bukan seperti sosok yang dikenalnya. Dokter Alessa suka tersenyum dan paling ceria.
Alessa masih diam dan kembali memeluk Samantha. "Biarkan seperti ini dulu."
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku 😍
__ADS_1
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^