Hujan Dan Kamu

Hujan Dan Kamu
BERUSAHA UNTUK KUAT


__ADS_3

💌 HUJAN DAN KAMU 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


.


Alessa melepaskan lamunannya. Setetes air mata jatuh kembali mengenai kepalan tangannya. Dengan cepat Alessa menyeka pelipis matanya. Tapi tampaknya semua itu percuma, air matanya bukan berhenti malah kembali menetes bahkan kini lebih deras hingga bahu Alessa bergetar. Ia tak sanggup menahan rasa sesak di dadanya.


Alessa berusaha menguasai diri segigih mungkin, tapi semakin ia menguasai diri, maka hatinya semakin bergejolak. Menentang kenyataan yang terlalu pahit untuk dirasakannya. Rasa marah, kesal, berbaur menjadi satu, yang mampu terekspresikannya melalui air mata. Ya! Hanya air mata yang mampu menjelaskan kesedihan hatinya saat ini. Hanya air mata yang mampu menjelaskan betapa ia tak terima Levin menganggap dirinya terlibat dalam kecelakaan Elana.


"Bagaimana bisa? Apakah ia sekejam itu?"


Kenyataan itu begitu menyakitkan membuatnya tak bisa bernapas lagi. Alessa seperti dijatuhkan ke jurang yang paling dalam dan tak bisa diselamatkan saat ia dituduh sengaja melakukan itu agar dekat dengan keluarga Horald. Dia menyayangi Elana dengan tulus. Tidak ada maksud lain. Alessa melepaskan napas berat. Tadi malam, ia mencoba menghubungi Levin. Tapi tidak aktif.


Saat teringat pesan yang dikirimnya kepada Levin, dengan cepat Alessa langsung mencari handphonenya. Melihat display notifikasi panggilan tidak terjawab atas nama Levin. Tidak ada? Pesan WhatsApp juga tidak masuk sampai hari ini. Alessa lagi-lagi mengembuskan napas panjang.


Ia membuka handphonenya untuk melihat foto Elana yang tersimpan di galeri. Cukup lama ia melihatnya. Bibirnya tersungging dengan seulas senyum penuh kesedihan. Meraba foto itu dengan sangat perlahan dan penuh sayang. Alessa akui ia sudah terlanjur menyayangi Elana. Elana gadis kecil yang periang.


Alessa tertunduk sedih. Lagi-lagi ia mengingat perkataan Levin. "Tapi siapakah yang sengaja mencelakai Elana? Kenapa Levin bisa yakin bahwa aku terlibat dalam kecelakaan itu?" Alessa berbicara pada foto Elana yang sedang tersenyum kepadanya.


Alessa kembali menggeser foto yang tersimpan di galeri. Ada gambar Levin di sana. Alessa menarik napasnya lagi. Ia kembali mengingat bagaimana pertemuannya dengan Levin. Entah sejak kapan ia menyukai pesona lelaki itu. Levin memang berbeda.


"Apakah aku mencintainya?"


Sangat mengatakan 'Mencintai' Alessa kembali menjatuhkan air mata.


Sekarang Alessa harus menerima semua ini. Levin sangat membencinya. Ia harus melupakan kebersamaannya bersama Levin. Lelaki yang membuatnya terluka. Semuanya terasa sakit yang ternyata benar-benar menghadirkan perih dan menyesakkan dada. Melawan segala pikiran yang perlahan terus menerus melemahkannya. Alessa berusaha menikmati kehampaan ini. Yang pada awalnya semua terlihat mudah, namun semakin lama kian menyiksa karena batin ini ingin sekali berontak. Ini terlalu menyakitkan, menyesakkan dan membingungkan. Ia sudah berusaha untuk mencoba acuhkan namun lebih sering berakhir pada tangis tertahan yang tidak pernah ia ketahui. Berujung pada rasa kebas dan memilih menyerah.


"Tak adil, aku harus bertemu Levin. Dia harus tahu kebenaran ini." batinnya.


"Aku tidak pernah terlibat dalam kecelakaan ini."


"Ya...aku harus bertemu dengannya? Tapi dimana aku harus menemuinya? Levin tak pernah ada di kantor. Dia juga sudah tidak tinggal di perumahan Flower."


Alessa tertunduk sambil menatap kedua kakinya. Tatapan hampa, sepi dan tidak karuan. Ia menarik napas dalam-dalam sampai bahunya pun ikut terangkat. "Sepertinya kau benar-benar menghindariku?"


"Setidaknya kasih aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya."


Sekali lagi pasrah adalah menjadi satu pilihan pada bagian ini. Yang inilah pilihan yang harus dijalaninya.

__ADS_1


Alessa tersenyum sendu di sana. Ia mengangkat wajahnya lagi. Menatap gulungan awan putih yang indah di sana. Alessa menarik napasnya dalam-dalam. Keadaan menyadarkannya bahwa ini takkan membawa apapun dalam hidupnya. Alessa tertunduk pasrah. Ia pasrah terhadap kelanjutan liku hidupnya yang entah bagaimana. Ia pasrah terhadap takdir Tuhan yang telah tertulis untuknya. Memang seharusnya begitu. Manusia tidak dapat hidup tanpa Tuhan. Tuhanlah yang maha mengatur, menentukan nasib, dan jalan takdir. Bahkan daun yang jatuh ke sungai pun itu adalah takdir dariNya. Hanya dengan berserah diri pada Tuhan. Alessa bisa menjalankan hidup ini tanpa beban. Ia kembali mengusap air matanya yang berjatuhan. Alessa mantap untuk berangkat hari ini. Levin tak bisa dihubungi. Setidaknya sebelum berangkat, ia bisa menjelaskan semuanya.


TING!


Satu pesan masuk ke handphonenya. Alessa menatap malas saat bunyi itu menggema dan layar handphonenya menyala sepintas. Ia meraih handphonenya tanpa mengubah posisinya. Alessa menatap layar.


"Dari nomor baru?"


Ia pun membuka balon chat dari nomor baru itu.


"Samantha! Kenapa Samantha pakai nomor baru?" Alessa mengerutkan keningnya. Tak ingin menunggu, dengan cepat ia membaca pesan itu. Sepersekian detik mata Alessa membelalak saat membaca pesan itu.


"Dokter Alessa, aku sudah menemukan rumah sakit tempat Elana di rawat. Aku kirim alamatnya ya. Kita bertemu di depan rumah sakit saja. Jangan lupa hubungi aku jika kau sudah sampai di sana."


Saat membaca pesan itu, suara bahkan napasnya tercekat di sana. Ia tak percaya Samantha bisa menemukan rumah sakit tempat Elana di rawat? Alessa tersenyum haru.


Dengan sedikit tergesa, Alessa segera membersihkan tubuhnya. Memakai pakaian casualnya. Balutan skinny jeans berwarna navy dan juga sweater cream dengan model turtle neck. Rambut ikalnya diikat satu ke belakang. Alessa menuruni anak tangga dengan cepat, ia sambil membawa tas slingnya. Ia sudah tak sabar ingin bertemu dengan Levin dan mengatakan semuanya.


"Sayang...Kau belum sarapan," ucap Jane, menghentikan langkah Alessa


"Maafkan aku bu, aku tidak sempat lagi."


"Kau mau kemana? Bukankah kau sudah berhenti bekerja, sore ini kita mau berangkat sayang."


"Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan bu. Aku tidak bisa meninggalkan kota ini, sebelum masalah ini selesai."


Alessa menarik napasnya. Menatap ibunya dengan senyuman. "Nanti aku ceritakan bu."


"Baiklah, kau punya utang cerita ke ibu."


Alessa lagi-lagi tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Kau bawa roti ini, kau bisa makan saat di jalan."


"Oh, ibu selalu yang terbaik." Ucap Alessa terharu. Ia mengigit roti itu. "Aku berangkat bu."


"Hati-hati sayang." Ucap Jenny mengingatkan.


"Oke, bu..."


Setelah melakukan ritual cium pipi kiri dan kanan. Alessa berlari menuju mobilnya. Ia langsung masuk ke dalam kemudi mobil. Roti yang dibuatkan Jenny bahkan masih menggantung di mulutnya. Alessa menekan klakson dua kali saat bertemu Alberto di depan pos security. Pak Alberto hanya melambaikan tangannya. Alessa pun dengan cepat menarik pedal gas dan membawa mobilnya meninggalkan perumahan flower.


Dddrrrttt Dddrrrttt Dddrrrttt!


Tiba-tiba ponselnya berdering. Alessa berusaha meraih tasnya yang ia lempar asal di bangku bagian belakang.

__ADS_1


"Astaga pasti itu Samantha." Alessa menoleh ke belakang untuk memastikan dimana letak tasnya. Namun tiba-tiba....


BRAKKKK


Tiba-tiba mobilnya menabrak mobil di persimpangan ke arah kanan. Tubuhnya terhuyung ke depan dan langsung menginjak rem. Alessa terkejut, sempat terdiam beberapa saat. Namun, beberapa detik kemudian ia mengembalikan pikirannya. Ia melihat ketika mobilnya sudah berciuman dengan mobil yang lain.


"Astaga..apa itu?" pekik Alessa. Ia hampir saja menangis dan memukul setir mobilnya berulangkali.


Seorang wanita keluar dari mobil dan melangkah menuju mobil Alessa. Begitu terkejutnya Alessa saat melihat siapa wanita yang sedang menepuk kaca mobilnya.


"Keluar gak? Ayo keluar!" Kata Monika tampak marah.


Alessa menarik napas frustasi. Bagaimana mungkin ia bertemu dengan Monika disaat seperti ini. Alessa pun langsung keluar dari mobilnya.


"Sekarang aku gak mau tahu ganti semua kerusakan mobil yang kau tabrak dan....." Kalimatnya menggantung saat melihat siapa wanita yang turun dari mobil. "Kau?????" ucapnya menahan geram.


Alessa menarik napasnya dalam-dalam lalu mengembuskannya bersamaan lewat mulutnya. Ia mengangkat wajahnya dan menatap malas ke arah Monika. "Aku tidak mau berurusan denganmu Monika. Sekarang kau antar mobilmu ke bengkel. Kau cukup kasih nomor teleponku ke mereka. Aku akan ganti rugi semua kerusakan mobilmu."


Monika berdecak tidak suka. "Kamu pikir, aku juga senang bertemu denganmu dan aku tidak mengharapkan uang dari wanita pengangguran seperti kamu!"


Saat mendengar kata pengangguran, Alessa tersenyum kecil. "Aku tidak ingin ribut Monika. Walaupun aku wanita pengangguran. Aku masih bisa mengganti kerusakan mobilmu." Kata Alessa tak ingin memperpanjang masalah ini. Tujuannya hanya satu yaitu bertemu keluarga Elana. Alessa pun bergegas masuk ke mobilnya. Namun, sebelum itu terjadi Monika mencegatnya.


"Kau masih bisa sombong setelah pernikahanmu gagal dan kau dipecat dari rumah sakit." Monika tersenyum sinis sambil melipat tangannya di depan dada.


Alessa menarik napas dan membalikkan tubuhnya. "Hei ..yang mengatakan sombong itu siapa? Aku bahkan tidak ingin membahas masalah itu lagi. Intinya aku bersyukur kau sudah mengatakan yang sebenarnya. Kau membatalkan pernikahanku dengan Jordan itu adalah suatu anugerah. Sekarang yang aku tanyakan kepadamu, setelah kau berhasil melakukan itu, apakah Jordan kembali kepadamu? Aku rasa tidak, Jordan bahkan menghilang dan tidak ingin bertemu denganmu." Ucap Alessa tersenyum penuh kemenangan saat wajah Monika sudah berubah.


Monika mengembuskan napas kesal. Tangannya mengepal menahan amarah. "Lihat saja, Jordan akan mengemis cinta kepadaku."


"Terserah!" Kata Alessa tak peduli, ia langsung masuk ke dalam mobil.


"Tunggu!" Monika tak terima, ia mengetuk kaca mobil Alessa dengan kasar. "Keluar kau!" Teriak Monika.


Namun Alessa tak perduli. Alessa hanya diam dan memundurkan mobilnya dengan cepat. Ia meninggalkan Monika yang nampak marah. Alessa tersenyum sambil melihat Monika dari kaca spion yang ada di tengah mobilnya. Ia semakin menginjak pedal gas lebih dalam lagi. Memacu mobilnya begitu cepat agar ia tiba di rumah sakit tempat Elana di rawat.


Sementara Monika berteriak untuk meluapkan kemarahannya. "Aaaarrrrrgggghh..!" Napasnya berhembus cepat dan tidak stabil.


"Lihat saja, Alessa. Aku akan menghancurkanmu." Ucapnya sambil menendang kaleng yang ada di depannya.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku 😍


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.

__ADS_1


^_^


__ADS_2