Hujan Dan Kamu

Hujan Dan Kamu
PERPISAHAN


__ADS_3

πŸ’Œ HUJAN DAN KAMU πŸ’Œ


Β 


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


.


Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Semenjak terakhir pertemuannya dengan Levin, sudah satu minggu waktu itu telah berlalu. Alessa banyak merenung. Ia duduk di tepi ranjang sambil menatap lurus ke depan. Begitu sunyi, sangat sunyi sesuai dengan perasannya saat ini. Napasnya ikut tertahan di dada. Saat mengingat sosok Levin memenuhi pikirannya. Ia berusaha untuk bernapas. Ia tersenyum getir sambil sesekali menarik napasnya yang terasa berat. Rasanya benar-benar kosong dan tidak berguna. Ia kembali mengingat perkataan Levin. Matanya seketika berkaca-kaca. Hidungnya merah. Alessa mencoba menahan air matanya agar tidak keluar.


"Apakah waktu bisa aku putar kembali?"


"Heeee ...apa yang aku harapkan? Jangan bodoh, Alessa! Levin sudah membencimu. Selamanya akan membencimu karena kesalahpahaman itu." Gumam Alessa pada dirinya sendiri.


Ia pun kembali menarik napasnya. Alessa tak akan memikirkan hal-hal yang membuatnya sedih. Ia akan berusaha menikmati kesendiriannya. Yang pada awalnya semua terlihat mudah, namun semakin lama kian menyiksa karena batin ini ingin sekali berontak. Cinta ini terlalu menyakitkan, menyesakkan dan membingungkan. Alessa menunduk sedih. Ia mengangkat wajahnya lagi. Menatap gulungan awan putih yang indah di sana. Ia menarik napas dalam-dalam untuk menguatkan hatinya.


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


Malam ini, hanya seperti malam biasa bagi kebanyakan orang. Tapi tidak bagi Alessa malam ini adalah malam terakhirnya tinggal di kota ini. Setelah ibunya membatalkan keberangkatan mereka. Ibunya membiarkan Alessa menyelesaikan masalahnya yang ada di sini. Tak terbendung air matanya, saat Alessa bangkit mengambil koper yang ada di atas lemari. Ia mengambil pakaian dan menyusunnya di dalam koper. Ia mengepak beberapa barang yang diperlukan saja. Sisanya Samantha akan mengirimkannya.


Alessa menarik napasnya dengan wajah tenang saat memasukkan lipatan-lipatan bajunya ke dalam koper. Ia kembali lagi ke lemari memasukkan bajunya. Alessa tertegun saat melihat lipatan baju couple yang sama dengan Elana saat mereka menghabiskan waktu di mall bersama Levin. Alessa tersenyum tipis lalu menariknya. Mengusap baju itu hingga lipatannya tergerai ke bawah. Matanya tiba-tiba mengkristal. Namun, Alessa segera memasukkan cairan bening itu kembali. Ia memeluk baju itu, melekat erat di dadanya. Menutup mata dan menikmati setiap kenangan indah yang dilewatinya bersama Elana.


"Apa kabar kamu Elana? Semoga operasi keduamu berjalan dengan baik ya sayang. Jika Tuhan mengizinkan, aunty yakin kita akan bertemu lagi." Ucapnya tersenyum sambil menatap baju itu.


Alessa kembali melipat baju itu. Ia menatap sejenak, lalu memasukkan kembali ke dalam lemari. Alessa memasukkan kembali pakaiannya yang lain dan menaruhnya kembali ke dalam koper. Ia terdiam, menarik napas. Menutup mata dan mendesah lewat mulut hingga bahunya ikut turun. Alessa berdecak, mengumpat kecil dalam hatinya. Ia kembali ke lemari, mengambil kaos itu kembali dan memasukkannya ke dalam koper.


"Aku tidak bisa meninggalkanmu di sini." Ucap Alessa sambil mengembuskan napas panjang. Ia kemudian mengambil foto yang ia gantung di dinding kamarnya. Foto ini tidak bisa tinggal, karena hanya foto ini memiliki kenangan bersama Elana saat pertama kali Alessa masak spaghetti di rumah Levin. Setelah semua beres ia menutup dan mengunci kopernya.


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


Pagi ini, Alessa sudah terbangun seperti biasa namun dalam suasana yang jauh berbeda. Pagi yang selalu mengajarkannya bahwa Ia harus selalu bersyukur. Walau embun terkadang tidak terlihat, namun masih bisa merasakan kehadirannya. Kebahagiaan itu memiliki arti dan ketulusan yang datang tanpa di rencanakan.


Alessa tidak langsung bangun, ia menyandarkan punggungnya kesandaran kasur. Alessa memeluk lututnya, menatap ke arah luar jendela. Ia tersenyum samar. Hari ini adalah jadwal keberangkatannya menuju bandara. Semuanya sudah siap. Surat-surat dan tiket pesawat sudah di tangannya.


Alessa sudah selesai membersihkan dirinya. Ia mengenakan pakaian terbaiknya. Alessa memandangi pantulan dirinya di cermin, setelah dirasanya rapi.


"Sekarang waktunya berangkat!" ucapnya dengan satu kali tarikan napas singkat sambil menarik kopernya keluar dari kamar.


Samantha menarik napas saat melihat Alessa terhuyung menarik koper besar menuju mobil taksi yang sudah menunggunya. Walau ia berusaha mencoba tersenyum kuat, namun wajahnya masih terlihat muram tergurat sisa pilu yang masih membekas di antara tatapan mata hampa. Garis tawa yang selalu terlihat melintang manis di pipi, kini seolah sirna tak tertinggal.


"Kamu sudah siap, Dokter Alessa?" Tanya Samantha ketika Alessa merandek di ambang pintu depan rumah.


Alessa melirik sesaat, lalu melepas pegangan gagang koper lanjut lalu menyandarkan diri di dinding. "Hmm."


"Dimana Aunty?"


"Ibu sudah berangkat kemarin, tiba-tiba ayah sakit." Jawab Alessa lagi.

__ADS_1


"Kau benar-benar meninggalkanku?" Suara Samantha bergetar menahan diri agar ia tidak menangis.


Alessa tersenyum tipis, meraih pundak Samantha agar duduk di kursi yang ada di teras rumahnya. "Aku tidak bisa di sini Samantha, aku harus meneruskan rumah sakit Charlett. Karena Monika ikut mengincar posisi direktur rumah sakit. Dia membuat keributan juga."


"Tapi bagaimana dengan aku, kau tidak memikirkan aku?" Air mata yang ditahannya akhirnya jatuh juga.


"Maafkan aku Samantha. Seharusnya aku mengajakmu ikut bersamaku."


Samantha tersenyum sendu, mendekat dan memeluk tubuh Alessa, sahabat baiknya itu. "Jangan lupa menghubungi aku. Ingat jangan pernah menangis lagi. Apalagi menangisi hal yang tidak penting. Semua lelaki memang tidak berguna." Samantha memberikan nasehat. Seakan mengerti jika sampai di sana pasti ada kesedihan. Ia mengusap pundak Alessa dengan lembut.


Alessa mengangguk dan membalas pelukan dari Samantha. "Pasti. Kamu juga jaga kesehatan ya. Jika aku butuh asisten, kau harus siap melepaskan pekerjaanmu yang di sini." Kata Alessa tersenyum simpul.


"Hmmm. Pasti, aku lebih memilih kamu dibandingkan bekerja di sini. Semua akan terasa sepi jika tidak ada kamu." Kata Samantha melepaskan pelukannya dan menatap Alessa begitu dalam.


Alessa turut merasa haru, ia tersenyum dengan mengeluarkan d*sahan tawa dengan mata berkaca-kaca. Ada lengkungan kesedihan di sana.


"Ini hadiah untukmu." Samantha memberikan paper bag ke tangan Alessa.


"Hadiah untukku?" Tanya Alessa dengan mata berbinar. Ia menggigit bibir bawahnya dengan bersemangat.


"Tentu saja, ini hadiah untukmu. Aku ingin kau selalu mengingat persahabatan kita saat kau menggunakannya."


"Waaahhhhh terima kasih Samantha, ini keren sekali!" Ucap Alessa sambil mencocokkan ke tubuhnya. Ia memiringkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan.


"Cocok sekali untuk untukmu. Kamu ramping sekali, Dokter Alessa." puji Samantha.


Alessa menaruh tangannya di pinggang sambil tersenyum. "Benarkah?"


"Ah....kamu bisa aja." Alessa tersenyum lebar. "Terima kasih, Samantha sayang. Kamu selalu yang terbaik." Alessa membuka tangannya untuk memberi pelukan perpisahan.


Samantha pun segera maju dan memeluk Alessa. "Jaga dirimu baik-baik di sana, Alessa. Jika tidak ada pasien, kau harus istirahat. Ingat itu! Jangan jadi pahlawan kesiangan. Kau suka sekali menggantikan jadwal piket dokter lain."


"Hmm...tentu saja Samantha." Sahut Alessa dengan suara menggeram karena memeluk erat tubuh Samantha. Mereka pun saling melepaskan pelukan.


"Mungkin tugasmu akan semakin berat. Jangan lupa menghubungiku." Kata Samantha menatap Alessa dengan tatapan sendu.


"Hmmm." Alessa tersenyum sambil mengangguk lagi.


Samantha mengembuskan napas panjang. "Heeee ...aku masih belum rela melepaskanmu."


"Sama. Aku juga belum rela meninggalkanmu. Tapi aku harus pergi."


Mata Samantha seketika berkaca-kaca. "Baiklah, aku tidak mungkin menahanmu."


"Hmmm. Jika kau menahanku lagi, ayahku akan membunuhku."


"Hahahaha!!!!!" Tawa Samantha seketika lepas.


Alessa juga ikut tertawa. "Aku berangkat ya," ucapnya lagi.


"Maafkan aku tidak bisa mengantarkanmu sampai ke bandara."

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Samantha."


Mereka berjalan mendekat ke arah mobil dan melihat supir taksi sudah menghidupkan mesin mobil. Sekilas Alessa melihat rumah Levin. Seperti biasa, sepi dan tak berpenghuni. Alessa menarik napasnya dalam-dalam.


Alberto yang berjaga di depan pos security, langsung melangkah mendekat ke arah Alessa.


"Sudah mau berangkat, nona Alessa?" Sapa Alberto dengan sopan.


Alessa membalikkan badannya dan tersenyum menyapa lelaki paruh baya itu. "Ah...pak Alberto. Iya pak, aku berangkat hari ini. Maaf, aku harus meninggalkan perumahan ini." Kata Alessa dengan wajah sedihnya.


"Kami akan kehilangan sosok wanita yang ramah seperti anda nona Alessa."


"Mohon maaf, jika selama ini merepotkan anda pak."


"Tidak masalah nona, ini sudah bagian tugas saya."


"Pak, titip salam buat pak Levin ya. Saya tidak pernah melihatnya di perumahan Flower."


"Saya dengar, tuan Levin sementara ini tinggal bersama orangtuanya, nona Alessa."


"Ohhhh, begitu ya."


"Kau masih menanyakan lelaki s*alan itu." Bisik Samantha kesal.


Alessa seketika melepaskan senyumnya. "Baiklah, sepertinya saya harus berangkat." Alessa menatap ke arah Alberto dan Samantha.


"Hati-hati membawa mobilnya pak. Jangan lupa antar sampai ke bandara, ya!" Kata Samantha mengingatkan.


"Tentu saja, tidak mungkin aku mengantarnya sampai ke terminal." Goda supir taksi dan seketika tawa mereka pecah di sana.


Alberto dan Samantha mengangguk sambil tersenyum teduh. Pandangannya berubah sayu. "Hati-hati ya, jaga kesehatanmu." kata Samantha lagi.


"Hmmm." Alessa melambaikan tangannya dan langsung masuk ke dalam mobil taksi. "Kita berangkat, pak." ucap Alessa pelan. Ia menarik napas panjang.


Mobil taksi berjalan perlahan dan meninggalkan perumahan flower. Alessa menarik napas dengan mulut terbuka saat melihat Samantha melompat-lompat sambil melambaikan tangannya. Ada rasa sesak yang tak bisa ia tutupi. Alessa kembali larut dalam pikirannya. Mengingat semua yang pernah ia lalui di perumahan Flower ini. Rasanya terasa sangat berarti dan penuh makna. Alessa akan merindukan semuanya.


"Selamat tinggal tuan Horald, aku harap kamu akan selalu baik-baik saja."


Sementara itu, saat melihat mobil Alessa meninggalkan perumahan flower, Samantha langsung membawa mobilnya menuju kantor Horald company. Dia ingin menemui lelaki brengsek yang berhasil membuat sahabatnya bersedih itu.


BERSAMBUNG.....


^_^


Happy new year buat my readers πŸ₯³πŸ₯³πŸ₯³πŸ₯³


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku 😍


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^

__ADS_1


__ADS_2