
💌 HUJAN DAN KAMU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
.
Jordan mengusap wajahnya dengan kasar. Ia kembali berjalan memasuki rumah sakit. Alessa total tidak bisa dihubungi selama tiga hari karena alasan tak ingin diganggu untuk beberapa hari ini. Jordan sudah menduga ada yang tidak beres dari Alessa semenjak pulang dari gereja. Pikirannya kalut dengan berbagai pertanyaan dan asumsi. Kini Jordan sepenuhnya sadar, Alessa sengaja menghindarinya.
Aahhh... Jordan tidak bisa menutupi sesak yang menghimpit dadanya. Bagaimana mungkin Alessa berkata tak ingin di ganggu. Sementara pernikahan mereka tinggal sepuluh hari lagi. Apakah ini yang disebut mempelai perempuan harus dipingit?
Dan tiga hari berturut-turut Jordan selalu datang menemui Alessa di perumahan flower. Alessa tak pernah ada. Jordan sangat berantakan, wajahnya kusut. Ia frustasi, tidak bisa bertemu dengan Alessa. Awalnya Alessa hanya menenangkan pikiran setelah Samantha mengabari Alessa sudah pulang pada saat Alessa dikabari tiba-tiba menghilang. Tapi kenyataannya tidak seperti itu.
Jordan terus melangkah menuju ruangannya. Hari ini adalah hari terakhirnya bekerja sebelum ia mengambil cuti panjang. Wajahnya kaku dan datar.
CEKLEK!
Daun pintu terbuka dan terdorong ke arah dalam. Tatapan Jordan yang awalnya turun tiba-tiba terangkat saat melihat sosok wanita sedang duduk santai di dalam ruangannya.
"Selamat pagi sayang, Daddy-nya Joyce." Sapa Monika dengan suara merdu.
Jordan shock saat mengenali siapa wanita itu. Ia terdiam dan mematung di tempatnya. Suara bahkan napasnya sama-sama tertahan di dada. Ia masih tak percaya saat melihat Monika berada di ruangannya. Wanita yang tiba-tiba menghilang dan sama sekali tidak ada kabar.
"KAU?"
"Hei...Kenapa ekspresimu seperti itu. Setelah sekian lama, apa kau tidak merindukanku?"
Tubuh Jordan menegang saat melihat Joyce tertidur di sofa yang ada di ruangannya. Monika tersenyum melirik sekilas ke arah anak yang sedang tertidur pulas karena pengaruh obat tidur itu. Sementara Jordan tidak melepaskan tatapannya kepada Monika.
"Kenapa Joyce ada bersamamu?"
"Aku adalah ibunya, wajar saja Joyce bersamaku."
"Ibu? Sejak kapan kau menganggap dirimu seorang ibu?"
"Sejak aku mengandung Joyce dan melahirkan anak cacat itu."
"Cih..." Jordan berdecak saat Monika mengatai Joyce cacat. "Untuk apa kau ke sini?" Tatapan Jordan begitu dingin di sana.
"Untuk apa?" Monika tertawa di sana. "Menyadarkanmu."
"Bukankah kau sudah bersumpah tidak ingin menemuiku, Monika, sekarang kau datang untuk mengguruiku."
"Bersumpah? Sejak kapan aku melakukan itu?Kau tahu sendiri, aku sangat mencintaimu." Kata Monika dengan ekspresi tak bersalah.
"Jangan bohong! Jika kau mencintaiku, kau tidak akan pergi meninggalkan aku."
"Siapa yang bohong! Kakek Christian yang memaksaku harus melakukan semua ini. Demi kebaikan semua."
Jordan tertawa, tatapannya begitu tajam menatap Monika. "Kau percaya dengan kakek Christian? Semua itu dia lakukan agar memisahkan kita. Dia sengaja melakukan itu agar membuatku gila. Gila karena kau tidak pernah mengatakan bahwa kau mengandung anakku."
Deg....
Deg...
__ADS_1
Wajah Monika menegang. Tangannya mengepal kuat untuk menutupi keterkejutannya. Kepalanya menggeleng dengan tatapan lurus. "Tidak, kakek Christian tidak seperti itu."
"Kau tidak tahu seperti apa dia. Sekarang pulanglah, aku tidak ingin melihatmu."
"Aku tidak akan pergi."
Jordan menatap malas. "Sebenarnya, apa yang kau inginkan?"
"Aku ingin kita kembali seperti dulu lagi. Saling mencintai."
Mendengar itu Jordan tertawa hambar, ia melangkah mendekat ke arah Monika. "Kembali? aku tidak pernah mencintaimu lagi. Sejak kejadian delapan tahun yang lalu. Aku sudah mengubur cintaku."
"Tidak, aku mengenalmu. Kau hanya mencintaiku."
Jordan mendengkus sambil mengusap keningnya sekilas. Ia menatap Monika dengan sejuta rasa kecewa. "Kau tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan? Kehilangan itu menghantarkanku kepada keterpurukan dan kesedihan yang sangat mendalam dalam hidupku. Dimana semua harapan rasanya pupus dalam sekejap, semua mimpi bersamamu hilang dalam beberapa detik. Kepergianmu bagaikan ditelan bumi. Sosokmu yang ada hilang bagaikan ditiup angin topan. Sungguh menyakitkan pada kala itu, dimana hidup ini serasa hampa dan tidak berdaya. Melihat semua kenyataan yang telah terjadi pada beberapa tahun yang lalu. Dan kini aku sadari, kau sesungguhnya tidak pernah menghargai hubungan kita. Apalagi kepergianmu begitu mendadak dan tidak disangka membuat hati ini terpukul sangat keras karena tidak siap untuk menerima kenyataan."
Monika nunduk sedih. "Aku tahu, aku minta maaf. Semua ini salahku." Ia mengangkat wajahnya dan menatap Jordan dengan sendu. "Tidak seharusnya aku pergi saat itu. Tapi kita bisa memulai dari awal lagi. Kita memiliki Joyce."
"Semua sudah terlambat. Aku tidak pernah berharap kembali padamu."
"Apa karena Alessa?"
Dahi Jordan mengernyit saat Monika tahu nama calon istrinya. Selama ini ia sengaja merahasiakan hubungannya. "Kau mengenal Alessa?"
"Tentu saja aku mengenal Alessa Charlett. Karena dia adalah sepupuku."
Jordan lagi-lagi terkejut saat mendengar perkataan Monika.
Monika tersenyum sinis menatap Jordan terdiam seperti orang bodoh di sana. "Aku sudah mengatakan semua kepada Alessa. Bahwa kita sudah memiliki anak." Monika sengaja menekan kata KITA agar Jordan tahu bahwa hubungan mereka masih terikat. "Dan aku sudah membatalkan pernikahan kalian di gereja."
"Apa maksudmu?" Jordan sudah maju dan mencengkram baju Monika. "Jangan kau menggunakan Alessa agar kau bisa kembali kepadaku. Aku tidak akan memaafkanmu." Emosi Jordan tersulut saat Monika menyebut nama Alessa.
Monika tidak takut sama sekali. "Apa aku terlihat mengancammu? Aku tak pernah bermain-main dengan ucapanku Jordan. Aku sungguh-sungguh datang ke gereja dan membatalkan pernikahan kalian."
DEG
"Jangan macam-macam kau," Kata Jordan segera berlari keluar dari ruangannya.
Tak mau diam, Monika ikut berlari mengejar Jordan.
"Jordan....!" Panggil Monika, ia tak perduli suaranya sudah memenuhi koridor rumah sakit. Semua mata tertuju pada mereka.
Jordan hanya terus berlari dan tak peduli dengan panggilan Monika. Ia hanya terus memikirkan Alessa. Jordan sudah begitu cepat berlalu meninggalkan Monika. Punggung tegapnya sudah menghilang di balik tembok koridor rumah sakit.
Monika mengembuskan napasnya. Ia membungkuk dengan posisi memegang lutut, cara ampuh untuk menstabilkan napasnya yang naik turun begitu cepat karena berlari tadi. Monika memilih kembali ke ruangan Jordan. Itu adalah pilihan yang tepat untuk saat ini. Ia tidak mungkin meninggalkan Joyce di rumah sakit.
Jordan dengan cepat berjalan menuju mobilnya. Ia melakukan panggilan kepada Alessa. Namun tidak di angkat. Berulang kali, namun hasilnya tetap sama. Jordan terburu-buru masuk ke dalam mobilnya dan menancapkan mobilnya meninggalkan rumah sakit.
Jordan berusaha menenangkan dirinya sesaat sambil fokus menyetir. Tak ingin terjadi apa-apa, Jordan menepikan mobilnya. Ia kembali mencoba menghubungi Alessa.
"Tolong, di jawab sayang." Jordan mengusap wajahnya dengan tangan yang satu. Ia bahkan memukul setir mobilnya berulang kali. Rasanya benar-benar frustasi. Panggilan tiba-tiba masuk. Ia menatap handphonenya karena masih belum percaya.
"Hallo," Akhirnya Alessa menjawab handphonenya. Dengan posisi duduk dan bersandar di tempat tidur.
"Hallo? Alessa, sayang, aku tidak bisa menghubungimu. Aku sangat mencemaskanmu. Kau tahu, aku hampir frustasi tidak bisa menghubungimu."
Alessa tersenyum sendu di balik telepon. "Aku ingin menenangkan pikiran, Jordan."
"Menenangkan pikiran? Setidaknya kabari aku sayang, kau berhasil membuatku hampir gila."
__ADS_1
"Maaf kalau begitu."
"Aku ke sana, Alessa." kata Jordan. Hatinya bahagia mendengar suara Alessa lagi.
"......"
"Sayang?" panggil Jordan saat mendengar Alessa hanya diam diujung telepon.
"Ehmm.."
"Apa ada yang mengganggu pikiranmu?"
"Kenapa, apa kau merasakannya?" Alessa balik bertanya.
"Kau berubah setelah pulang gereja tiga hari yang lalu." Jordan berharap apa yang dikatakan Monika tidak benar.
"Kau sudah memiliki anak, bukan?"
DEG!
"Dari mana kau mengetahui hal itu?"
"Aku tahu semuanya dari Monika."
"Sayang, aku akan menjelaskan semuanya. Lebih baik kita bertemu."
"Tidak perlu. Semuanya sudah jelas dan pernikahan kita sudah dibatalkan Monika."
"Tidak sayang, kita harus bicara."
"Semuanya sudah jelas." Kata Alessa lagi.
"Sayang, jangan seperti itu." Jordan mulai takut. Suaranya terdengar gemetar.
"Jordan, maafkan aku. Aku tidak bisa menikah dengan lelaki pembohong seperti kamu dan kita harus menyudahi ini."
"Menyudahi? apa maksudmu?" Jordan mengernyitkan dahi. Ia tahu maksud perkataan itu.
"Datanglah dan minta maaflah kepada orang tuaku.Tapi, jika ingin bertemu aku tidak mau."
DEG!
Jordan meremas handphonenya. "Alessa, apa yang kau katakan, jangan lakukan itu. Aku mohon! Aku mencintaimu, sangat mencintaimu." Suara Jordan terdengar parau dan gemetar. Ia tidak bisa bayangkan itu akan terjadi pada hubungan mereka.
"Maafkan aku, Jordan."
TIT
Panggilan terputus. Telinganya seakan berdengung, bagai tamparan keras melekat tanpa sakit. Jordan sungguh tidak bisa menerima. Mata Jordan membulat nanar. Dadanya sesak, sangat sesak. Jari-jarinya terasa dingin. Hingga ia tidak dapat bernapas dengan baik. Pikirannya langsung kacau, Ia benar-benar blank.
"Aaarggghh!" Jordan berteriak untuk melepaskan amarahnya, ia menarik dasinya dan menutup wajahnya dengan tangan. Bahunya gemetar.
Jordan berusaha menenangkan dirinya. Ia menarik napas panjang. Terdiam sesaat. Dadanya masih begitu sesak. Sulit bahkan untuk menarik napas pun ia tidak mampu. Dan setelah kesadarannya kembali. Jordan menekan pedal gas dan melarikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sampai Jordan tidak perduli harus menerobos lampu merah. Ia harus sampai di rumah Alessa dalam tiga puluh menit.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku 😍
__ADS_1
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^