Hujan Dan Kamu

Hujan Dan Kamu
LAGI LAGI DIPERTEMUKAN


__ADS_3

💌 HUJAN DAN KAMU 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Setelah selesai rapat dengan para dokter-dokter muda, Levin langsung pergi ke bagian urologi yang diikuti oleh Desmond. Ia duduk menunggu namanya di panggil sesuai urutan list nama-nama pasien yang tertulis di sana. Levin tetap mengikuti prosedur sesuai aturan rumah sakit. Walau sebagai orang kalangan elit, ia tetap memilih antri dengan para pasien lainnnya, yang terbilang cukup banyak hari ini.


Desmond melangkah dan mendekat ke arah Levin.


"Tuan, anda bisa langsung menemui dokter Mark di ruangannya. Anda tidak harus ikut antrian panjang seperti ini." Ucap Desmond kembali memberikan pendapatnya. Dokter Mark adalah dokter yang biasa memeriksa kondisi kesehatan tuan Horald.


Levin tak menjawab, ia tetap fokus dengan tablet yang dipegangnya. Ada beberapa email masuk yang lebih penting dari itu.


Karena tidak ada jawaban. Desmond mengembuskan napas memilih pasrah. Ia diam dan terus mencari ide agar tuannya bersedia bertemu dengan dokter Mark.


Levin tetap fokus dengan tabletnya. Tampangnya saat ini begitu serius. Wajahnya mengerut menatap tablet itu dengan sedikit bergumam. Ia memeriksa ulang bahkan berkali-kali. Tak ingin terjebak dengan situasi canggung seperti ini. Desmond kembali mendekat ke arah Levin. Ia menunduk sejenak, memberikan rasa hormatnya.


"Permisi tuan, sembari menunggu dokternya datang. Apa ada yang bisa saya lakukan untuk anda? Apa anda membutuhkan sesuatu? Apa saya perlu membelikan minuman untuk anda?"


Levin seketika mengangkat wajahnya melihat ke arah Desmond yang ternyata sudah berdiri di depannya. "Sepertinya itu ide bagus." Ucap Levin tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Jadi anda ingin minum apa, tuan?"


"Aku tidak tahu minum apa, terserah kamu saja."


"Baik, kalau begitu, bagaimana jika satu cub capuccino?" usul Desmond. Ya hanya capuccino yang bisa ia dapatkan di rumah sakit ini.


Levin menunjukkan gestur berpikir. "Hmmm. Bisa juga." Jawab Levin kembali menatap tabletnya.


"Baik tuan. Anda akan mendapatkan capuccino secepatnya." Ucap Desmond menunduk.


"Terima kasih, Desmond." Levin memalingkan sebentar wajahnya dan kembali menunduk.


Desmond hanya mengangguk tersenyum sebagai bentuk konfirmasi darinya. Ia pun melangkah meninggalkan tuan Levin di sana.


Desmond berjalan menyusuri setiap koridor rumah sakit mencari vending mesin, sebuah mesin pembuat minuman otomatis. Wajah Desmond seketika berbinar saat melihat mesin minuman yang dicarinya ada disudut ruangan di lantai satu. Ada dua vending mesin di sana. Ia segera berjalan cepat dan menukar uang koin agar bisa mendapatkan minumannya.


Desmond berdiri di depan mesin. Namun, sebelum memasukkan uang koin yang ada di tangannya, tiba-tiba uang koin jatuh dan menggelinding di bawah mesin satunya. Desmond menoleh ke belakang. Nampak seorang wanita panik sambil berlari menuju vending mesin. Ia mencoba mengambil koin yang terjatuh di bawah mesin itu. Namun ia tak bisa mengambilnya.


Tak ingin melihat gadis itu sedih, Desmond melangkah mendekat.


"Kau memerlukan ini?" Ucapnya tersenyum manis, ia memperlihatkan kedua lesung pipinya yang begitu menarik perhatian. Matanya berbinar berwarna cokelat gelap. Wajahnya terlihat putih bersih layaknya kulit campuran orang Asia.


Samantha mendongak ke samping, menatapnya dari atas kepala hingga ke ujung kaki.


"Sepertinya kau benar-benar memerlukan koin ini. Aku bisa memberikannya untukmu." Desmond mengulurkan tangannya memberikan sisa uang koin yang ditukarnya tadi.


Samantha bangun berdiri, ia melihat tiga koin yang masih mengulur ke arahnya. Samantha menatap pria itu kembali. "Anda sungguh-sungguh memberikan koin itu untukku?"


Desmond kembali tersenyum ramah kepada gadis itu. "Tentu saja, anda bisa mengambilnya. Ambillah!"

__ADS_1


Samantha melepaskan senyumannya dan mengangguk. "Terima kasih, tuan. Ternyata di di dunia ini masih ada orang baik seperti anda."


Desmond tersenyum bangga. Ia juga mengakui bahwa dirinya memang baik. "Senang bertemu dengan anda, nona Samantha." Desmond mengulurkan tangannya ke arah Samantha.


Samantha menyambut uluran tangan pria itu dengan ekspresi bingung. "Heuh? kau sudah tahu namaku?"


Desmond menahan senyumnya sambil menunjuk ke arah id card Samantha.


"Oh, jadi kau membacanya?" Tanya Samantha sambil mengangguk. "Lalu kamu? Siapa namamu?"


"Aku Desmond Rich." ujar Desmond singkat, padat dan jelas.


"Ohhh, senang bertemu dengan anda, tuan Rich." sahut Samantha melepaskan jabatan tangannya.


Setelah perkenalan singkat itu. Mereka pun segera mengisi koin ke dalam mesin. Cappucino hangat keluar dari mesin tersebut, dengan menggunakan cup sekali pakai dari bahan kertas.


"Terima kasih banyak tuan Rich, bisakah kau tinggalkan nomor teleponmu, agar aku bisa mengganti ini?"


"Boleh, tunggu sebentar. Bisa bantu aku pegangkan ini sebentar." Desmond melirik ke arah cub yang ada di tangannya.


Samantha tersenyum dan meraih salah satu cub yang ada di tangan Desmond. Desmond dengan cepat mengeluarkan kartu nama dari dalam dompetnya dan memberikannya kepada Samantha.


"Oke, tuan Rich. Sekali lagi terima kasih atas bantuannya." Samantha memberikan kembali cub yang dipegangnya.


"Oke, nona Samantha. Sampai bertemu kembali."


Samantha pun pergi dengan tergesa-gesa. Sementara Desmond mengembuskan napasnya dan meninggalkan mesin pembuat minuman otomatis itu. Ia meninggalkan lantai satu dan kembali menyusul bosnya itu.


"Tuan, ini minuman anda." Ucap Desmond mengulurkan minuman di tangannya.


"Maaf tuan, tadi mesinnya sedikit gangguan." ucap Desmond berbohong. Ia tidak mungkin menceritakan pertemuannya dengan Samantha. Bisa-bisa Levin akan bertambah marah.


Levin kembali berucap. "Baiklah, Kau bisa kembali kantor. Habis makan siang, aku langsung menyusul ke kantor."


"Baik tuan." Ucap Desmond tegas. Ia segera membungkukkan badannya, lalu pamit undur diri. Desmond meninggalkan Levin yang masih tampak sibuk memeriksa tabletnya.


⭐⭐⭐⭐⭐


"Bapak Levin?" Terdengar suara seorang perawat yang memanggil nama itu. Ia tengah memegang papan berisikan list nama-nama pasien.


Levin bangun dari duduknya. Seketika perawat yang yang memegang papan list itu tersipu malu. Bagaimana tidak, pria yang berdiri di depannya itu begitu tampan, sebening embun. Wajahnya bersih dengan rambut yang rapi. Bibirnya merah muda sehat. Ia mengenakan kemeja putih dan rapi, nampak mahal dan begitu pas di badannya yang padat berotot ramping. Benar-benar menggoda. Perawat itu menggigit jarinya. Ia mengedip dan tak sadar saat Levin sudah berdiri di hadapannya. Sang perawat kini bahkan bisa melihat jelas keseluruhan badan Levin. Termaksud detail jam tangan hitam bergaris emas dan sepatu pantofel dari kulit asli. Sejenak perawat bingung saat melihat penampilan lelaki itu mengantri di tempat pasien umum. Padahal biasanya rumah sakit memberikan fasilitas khusus untuk orang-orang kaya seperti ini.


"Apakah dia benar-benar orang kaya? atau jangan-jangan dia berlagak orang kaya? tapi gayanya kenapa melebihi konglomerat." Ucap sang perawat mengumpat Levin dalam hatinya. Namun gadis itu tak bisa berbohong, kalau pria yang berdiri di depannya itu memang sangat tampan.


Saat melihat sang perawat yang menatapnya lama dan tak berucap. Levin mulai kesal dan berkata. "Apa anda akan terus menatapku seperti ini?"


Si perawat mengerjap, "Ah, maaf, pak. Silakan masuk!"


"Bagaimana saya bisa masuk, anda menghalangi jalanku." protes Levin.


"Oh, ia, benar juga." si perawat tersenyum sambil menunjukkan deretan giginya. Ia benar-benar salah tingkah. Sang perawat kemudian mempersilakan pasiennya masuk dan menutup pintu itu kembali.


Sementara itu.


Samantha sedikit berlari dengan langkah-langkah tergesa-gesa. "Maaf aku terlambat," Ucapnya kepada perawat yang menggantikan tugasnya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, aku bahkan berterima kasih kepadamu."


Samantha menatap bingung. "Mengucapkan terima kasih? untuk apa?"


"Aku bisa cuci mata hari ini, semua itu berkat kamu." Matanya berbinar bahagia sambil mencengkram tangan Samantha begitu erat karena begitu antusias.


Samantha mengerutkan keningnya, "Apa maksudmu? Cuci mata apa?"


"Kasih tahu gak ya???"


Sang perawat tersenyum, wajahnya benar-benar seperti bertemu pangeran yang memberikan sepatu kaca kepadanya.


"Hei, jangan buat aku penasaran. Apa kau melihat pangeran tampan?"


"Kau tidak perlu tahu. Aku pergi dulu, iya!"


"Hei...tunggu dulu! ini sudah pasien ke berapa?"


"Kau bisa lihat sendiri." Ucap sang perawat melambaikan tangannya.


Huffff.... Samantha mengembuskan napasnya. Temannya sudah pergi dengan langkah-langkah kecilnya. Samantha hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Ia kembali melihat list nama-nama pasien yang sudah melakukan pemeriksaan hari ini. Namun sepersekian detik, mata Samantha terbelalak saat melihat Nama pasien terdaftar di dalam bukunya.


"Levin Horald."


"Astaga.....!!!" Mata Samantha membulat sempurna sambil menutup mulutnya. Samantha memutar kepalanya untuk melihat ke arah pintu yang masih tertutup rapat itu.


Sementara di dalam ruangan.


Saat pintu terbuka. Levin mengerutkan keningnya saat melihat tidak ada orang di meja dokter. Dan ternyata Alessa tak sengaja menjatuhkan name tagnya. Ia cepat-cepat berdiri dan menaruh tag tersebut di atas meja. Ia tak sempat memasang. Pasien sudah keburu masuk. Pelayanan adalah hal yang utama.


"Se....."


Sepersekian detik, Mata Alessa terbelalak sempurna. Ia begitu terkejut saat melihat sosok lelaki yang berdiri di depannya. Badan Alessa seketika terasa kaku, ia menelan salivanya berulang kali. Alessa diam mematung dan masih shock. Debaran jantungnya terpompa kencang seperti genderang, terpukul begitu kuat di dalam rongga dadanya.


DEG


DEG


DEG


Pandangan mereka saling bertemu dan kedua mata mereka saling mengunci begitu dalam.


"Selamat pagi dokter, Alessa!"


BERSAMBUNG.....


^_^


Maaf buat my readers tersayang, saya gak bisa update setiap hari, karena jadwal anak-anak sekolah sangat padat. Dan terima kasih masih setia membaca karya-karya saya.😘😘😘😘


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku 😍


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^

__ADS_1


__ADS_2