
💌 HUJAN DAN KAMU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
.
"Apa anda yakin ingin bertemu dengan tuan Levin?"
"Saya yakin, tolong bantu saya..." ucap Alessa dengan tatapan memohon.
Desmond menarik napasnya lagi. "Saya tidak bisa membantu anda. Tuan Levin saat ini berada di Jepang." ucap Desmond akhirnya. "Tolong bawa wanita itu dari sini." Perintah Desmond kepada dua orang bodyguard yang berjaga tidak jauh dari kamar Elana.
"Tolong saya pak Desmond. Kalau tidak, pertemukan saya dengan Elana saja." Kata Alessa lagi.
"Silakan ikut kami nona."
"Saya tidak akan meninggalkan tempat ini sebelum bertemu dengan Elana." Alessa berteriak. Ia menolak saat tangannya dipegang.
TING!
Levin keluar dari pintu lift yang terbuka. Ia berjalan tegap menyusuri koridor rumah sakit tempat Elana di rawat. Ruangan itu hanya ada satu kamar di gedung lantai paling atas. Elana ditempatkan di kelas super mewah di rumah sakit ini. Hanya ada satu kamar di sana. Biasanya yang menggunakan ini hanya orang-orang penting saja. Tempat ini memang tenang dan sepi. Pengunjung juga terbatas. Seperti bukan kamar rumah sakit saja. Tempat ini cocoknya seperti kamar hotel berbintang lima.
TAP TAP TAP
TAP TAP
TAP
Levin mengernyit menyadari sesuatu. Langkahnya mulai pelan dan tiba-tiba berhenti. Ia melihat Desmon sedang berdebat dengan seseorang. Levin belum menyadari bahwa di sana ada Alessa.
"Desmond, kenapa kau masih memegang kotak makanan itu?" Ucap Levin tiba-tiba menghentikan langkahnya.
Deg...
Deg...
Deg....
Jantung Alessa memukul kencang dan sangat kencang. Napasnya semakin tertahan di dada saat menyadari suara itu begitu dikenalnya.
Mata Desmond dan Alessa saling bertemu. Desmond menaikkan salah satu alisnya. Sudut bibirnya naik ke atas. Ia sengaja mengatakan Levin berada di Jepang, agar Alessa tidak memaksa ingin bertemu dengan tuan Levin. Ia segera membalikkan tubuhnya, untuk memberikan akses kepada tuannya agar bisa melihat wanita itu. Sementara Dua bodyguard segera menundukkan kepalanya memberi hormat.
"Maaf tuan. Saya memang belum mengantarkan makanan kesukaan Elana. Karena ada seseorang ingin bertemu dengan Elana."
__ADS_1
"Bukankah aku sudah memerintahkan kalian untuk tidak mengizinkan siapapun menjenguk Elana." bentak Levin.
"Maaf tuan." Dua orang bodyguard dengan cepat membungkukkan badannya. Tetap menahan kepalanya sambil mencengkram erat tangannya yang mengepal karena begitu takut. "Kami sudah menjalankan sesuai yang anda perintahkan, tuan. Tapi wanita itu masih bersikeras untuk bertemu dengan nona Elana." Mereka menegakkan punggung dan kembali melihat ke arah Levin.
"Siapa yang ingin bertemu dengan Elana?" Matanya teralihkan pada wanita yang berada dibalik tubuh Desmond.
DEG
Jantungnya berdebar kembali saat mengetahui siapa wanita itu. Wajahnya menegang, Levin diam tak bersuara. Ia dipertemukan dengan Alessa lagi, setelah ia berjuang untuk menghilangkan perasaan ini.
"Maaf tuan. Nona Alessa datang ke sini untuk bertemu dengan Elana."
Levin sama sekali tidak menjawab, ia hanya terdiam menatap lurus ke belakang Desmond. Levin menatapnya dengan pandangan nanar. Napasnya keluar terbata dan benar-benar tidak stabil. Ia hanya bisa menarik napasnya dalam-dalam. Untuk memenuhi paru-parunya dengan oksigen. Mungkin ia akan lebih sulit bernapas lagi setelah ini. Tapi kembali Levin mengingat kejadian tabrakan yang melibatkan Alessa. Hatinya kembali sakit.
Sementara Alessa juga begitu terkejut dengan mulut yang merekah terbuka. Ia tidak menduga akan bertemu dengan Levin di sini. Alessa menelan salivanya dengan wajah tegang. Ia meremas tangannya karena tak kuasa melawan debaran-debaran dari jantungnya.
Setelah menyadari kecanggungan itu, Desmond dengan cepat melanjutkan kalimatnya. "Tuan, saya sudah meminta nona Alessa untuk meninggalkan tempat ini. Jadi anda tidak perlu khawatir."
Heeeehhh... Levin mengembuskan napasnya. Ia menurunkan pandangannya ke bawah sejenak. Ia tersenyum tipis. Lalu menatap Alessa tanpa ekspresi. Hingga membuat sekujur tubuh Alessa kaku. Pandangannya terasa berakar dari dalam dan mengunci setiap gerakan Alessa. Levin kembali menarik napasnya. Ia bisa melihat jika berat badan Alessa turun. Lingkar hitam di sekitar mata Alessa terlihat begitu jelas di sana.
"Apakah sekarang dia menyesali perbuatannya? Aku rasa dia tidak bisa tidur memikirkan kesalahannya...." Batin Levin. Dia hanya diam dengan tatapan tanpa ekspresi. Levin mengeraskan rahangnya sambil meremas tangannya dengan kuat. Dan lebih-lebih ia malah menguatkan hatinya agar keyakinannya tidak goyah saat melihat wajah Alessa. Ia kembali menarik napasnya dalam-dalam.
"Suruh dia pergi dari sini!" lidah Levin akhirnya terbebas dari kebekuan.
"Heuh? Maksudnya tuan?" tanya Desmond dengan dahi mengernyit.
"Apa kau tidak mengerti. Aku tidak ingin melihatnya ada di sini. Suruh dia pergi!" Kata Levin melangkah melewati Alessa.
DEG!
"Sekarang mari ikut denganku," Kata Desmond melangkah lebih dulu.
Namun bukannya mengikuti Desmond, Alessa melangkah panjang menyusul Levin sebelum ia masuk ke dalam ruangan dimana Elana dirawat.
"Bukankah ada yang ingin kita bicarakan Levin?" Kata Alessa tegas dan berhasil menghentikan langkah Levin.
Mendengar itu, Levin membuang napasnya dengan mata terpejam. Ia masih memunggungi Alessa dan tak juga berbalik.
"Kau tidak pernah menayangkan langsung kepadaku. Apakah aku benar-benar terlibat dalam kecelakaan Elana? Kau memindahkan Elana dari rumah sakit Mitra tanpa alasan jelas." Kata Alessa dengan suara terbata-bata. Ia menarik napas panjang agar bisa melanjutkan kalimatnya dengan baik.
"Dan karena pemindahan Elana, aku dipecat dari rumah sakit Mitra. Karena alasan yang tak masuk akal itu. Sungguh itu menyakitiku. Kau melukai harga diriku. Apakah seperti itu seorang direktur? Seharusnya kau mencari tahu kebenarannya dan tidak menghindariku seperti ini." Kata Alessa dengan bibir gemetar. Ia tak sanggup menahan segala gejolak di dalam dadanya.
Levin mengepalkan tangannya. "Aku tidak perlu menjelaskannya. Karena semuanya jelas."
"Apa buktinya?" Teriak Alessa. Dan saat itu juga Levin berbalik dan mendekat ke arah Alessa.
"Sekarang kau ikut denganku," Kata Levin melangkah lebih dulu meninggalkan Alessa yang terkejut saat melihat reaksi Levin.
Alessa menarik napas menatap punggung Levin yang melangkah cepat menuju bagian atas rooftop rumah sakit.
__ADS_1
Alessa sudah melihat posisi Levin sedang menatap ke arah jalanan sambil memasukkan tangan ke kantong. Suasana seperti ini membuat Alessa semakin tidak nyaman. Ia hanya berdiri tepat di belakang Levin.
"Sekarang apa yang kau inginkan? Bukankah seharusnya kau bersyukur, kau tidak sampai aku laporkan ke polisi." Ucap Levin tanpa membalikkan badannya.
Mendengar itu, Alessa membuang napasnya dengan kasar. "Sekarang yang aku minta, mana buktinya? Kau menuduhku terlibat dalam kecelakaan Elana?"
Saat mendengar itu, Levin berbalik dan menatap Alessa dengan tajam. "Kau ingin buktinya?"
"Ya, tunjukkan semua buktinya kepadaku."
Levin tersenyum sinis. "Kau memang luar biasa. Setelah merencanakan ini semua. Kau ingin aku menunjukkan buktinya?"
Alessa mengerutkan keningnya. "Merencanakan apa maksudmu?"
"Kau dan Jordan sama-sama merencanakan ini semua. Dari awal kita bertemu di mobil taksi, pertemuanmu dengan Elana, semua adalah bagian dari rencana kalian berdua." Levin tersenyum kecil lalu menatap Alessa dengan tajam. "Dan kau berhasil. Kau berhasil melukai Elana dan berpura-pura sebagai dokter yang menanganinya untuk mencari simpatik keluarga Horald."
Alessa menggeleng tak percaya saat Levin menyebut nama mantan tunangannya itu. "Jadi yang menabrak Elana adalah Jordan?"
"Cih..kau mau mencari alasan apa lagi? semua sudah jelas bukan? Aku yang salah terlalu mempercayai wanita sepertimu."
Hati Alessa tercabik-cabik mendengarnya. Layaknya tangan besar yang meremas hancur hatinya dengan sengaja. Alessa diam membatu di sana. Meremas tangannya begitu kuat karena menahan amarah.
"Kau begitu bersemangat untuk menemui Elana. Sementara Elana sudah tahu siapa dirimu yang sebenarnya. Kau wanita yang tidak bisa dipercaya."
DEG!
Jantung Alessa semakin terpukul kencang. Wajahnya menegang kaku. Napasnya berembus cepat keluar dari mulutnya. Seakan karbondioksida tertahan dan terbakar di sana. Untuk menelan salivanya saja ia begitu susah.
Dengan perjuangan yang berat akhirnya Alessa berbicara. "Terserah kamu mau percaya atau tidak. Yang jelas aku tidak pernah terlibat dalam kecelakaan Elana. Aku bersumpah akan itu." Setelah mengatakan itu, Alessa berbalik dan ingin meninggalkan rooftop.
Namun beberapa detik kemudian. Sebelum Alessa melangkah, seperti gerakan slow motion. Levin meraih tangan Alessa. Ia menarik tangan itu agar Alessa menghadap ke arahnya dan mendorong tubuh Alessa ke pagar stainless yang ada di sana.
Alessa membelalakkan matanya saat melihat tangannya dicengkram kuat oleh Levin. Kedekatan ini membuatnya tidak nyaman. Tatapan Levin begitu mengintimidasi. Menembus relung hati yang siap membuatnya kejang-kejang.
Levin memiringkan tubuhnya, mendekat ke arah Alessa.
"Maka dari itu jangan tunjukkan dirimu. Aku tidak ingin bertemu denganmu Alessa. Aku bodoh menyukai wanita sepertimu." kata Levin dengan sejuta rasa sakit dihati. Jarak tubuh mereka cukup dekat. Tangan Levin mengunci tubuh Alessa.
Badan Alessa seketika kaku dan tidak bisa bergerak. Seluruh tubuhnya terasa panas dan gemetar. "A-apa maksudmu? Ka-kau menyukaiku?" Ucap Alessa dengan terbata.
Levin tersenyum miring. "Tapi rasa cinta itu sudah hilang saat aku mengetahui kebenarannya."
Alessa lagi-lagi terdiam membeku di tempatnya. Jantungnya seakan terpompa lebih kencang, ia seperti tidak sanggup untuk berdiri. Alessa masih tidak percaya dengan semua ini. Tubuhnya gemetar, bibirnya seakan tidak sanggup untuk berbicara. Mata mereka saling mengunci satu sama lain. Sorot mata Levin begitu tajam menembus relung hatinya.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku 😍
__ADS_1
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^