Hujan Dan Kamu

Hujan Dan Kamu
MENUNGGU DENGAN CEMAS


__ADS_3

💌 HUJAN DAN KAMU 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Tanpa berpikir panjang Levin langsung menghubungi James, supir kantor untuk mempersiapkan mobilnya.


"Ada apa pak?"


"Siapkan mobilku, sekarang!" Kata Levin dengan napas memburu dan langsung mematikan ponselnya dengan sepihak.


"Apa yang terjadi? Bukankah tadi pagi kamu baik-baik saja Elana? Kamu masih tersenyum dan mencium Uncle saat turun dari mobil." Kata Levin dengan suara seperti tercekat di leher.


Levin berlari sekuat tenaga menyusuri koridor kantor. Jasnya sampai melambai ke belakang karena kecepatan berlarinya, bahkan sepatunya berderit karena slip. Ia tak perduli dengan orang-orang kantor yang melihatnya panik. Ia hanya ingin cepat cepat sampai ke rumah sakit dan melihat keadaan Elana.


Ketika kunci mobil sudah di tangannya. Ia sampai menjatuhkan kunci itu beberapa kali karena gugup.


"Apa yang terjadi pak?" Tanya James mengernyit bingung melihat kegugupan pak direktur.


Namun Levin tidak menjawab, Ia masuk ke dalam mobil dan langsung membanting pintu dengan kuat, membuat James mengerjap kaget.


"Pak..pak..apa yang terjadi?" Kata James mulai mencemaskan pak direktur Horald itu.


Levin hanya diam dan memutar mobilnya dengan cepat sampai pedal gasnya diinjak terburu-buru hingga menghasilkan decitan ban yang menggesek aspal. Ia meninggalkan James yang nampak kebingungan.


Levin terus menancapkan mobilnya menuju rumah sakit Mitra. Jantungnya terpukul kencang, ikut tertahan di dada dengan segala gejolak yang muncul. Ia terus membawa mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi. Bahkan ia menyalip beberapa mobil yang menghalangi jalannya.


Tak butuh lama, Levin sudah tiba di rumah sakit. Ia memarkir mobilnya dengan asal. Dengan cepat Levin mematikan mesin mobil dan langsung memasuki lobi rumah sakit. Dua orang dokter menyambut Levin dan mengarahkannya ke ruangan tunggu bagian operasi. Langkahnya melambat melihat mommy dan Liliana di sana. Mereka sedang duduk di kursi tunggu tepat di depan ruang operasi. Mereka menunggu dengan cemas.


Levin mendekat ke arah dua wanita yang sangat disayanginya itu. Ia mempercepat langkahnya.


"Kenapa Elana harus di operasi, Liliana?" tanya Levin saat sudah berada di dekat kedua wanita itu.


Mendengar suara yang tidak asing, mereka langsung mengangkat wajahnya. Liliana bangun dari duduknya. Matanya seketika berkaca-kaca dan langsung mendekat ke arah Levin. Ia tidak bisa membendung rasa sedihnya.


"Levin?" Liliana kembali berderai air mata, bahunya gemetar dan terus menangis. Ia membuka tangannya dan memeluk erat tubuh adiknya itu.


Levin langsung membalas pelukan kakaknya itu. "Semuanya akan baik-baik saja, jangan menangis lagi, hmmm.." Ia mengelus punggung Liliana dengan lembut dan memegang ke dua lengan Liliana. Ia melihat mata kakaknya memerah karena terus menangis.


"Aku sangat takut, Levin."

__ADS_1


Levin mengusap air mata Liliana yang terus jatuh membahasi pipi. "Apa yang terjadi kepada Elana, kenapa dia harus di operasi?" Tanya Levin kembali. Raut wajahnya mengernyit serius dengan lengkungan alis menyatu.


Bibir Liliana bergetar menahan tangisannya. Ia tidak bisa membayangkan anaknya yang masih kecil sudah berada di meja operasi. Dengan cepat Liliana mengusap air matanya tergelincir di pipinya. Ia menatap Levin dengan pandangan nanar. "Elana patah tulang, Jadi dokter mengambil tindakan untuk segera melakukan operasi. Tadi dokter sudah menjelaskan kepada mommy. Kata dokter, posisi tulang yang patah akan dikembalikan seperti semula, lalu dokter bedah akan memasang plat, sekrup, atau batang logam untuk mempertahankan posisi tulang Elana. Dokter juga mungkin akan melakukan tindakan cangkok tulang jika tulang pecah menjadi beberapa bagian dan pembuluh darah yang rusak akibat cedera juga akan diperbaiki."


DEG!


Jantung Levin terpukul kencang ketika mendengar perkataan Liliana.


"Tidak perlu khawatir sayang. Operasi ini kita serahkan kepada Dokter. Kita sudah tahu penanganan dokter di sini cepat dan kita tak perlu meragukan itu." ucap Victoria menimpali.


Levin berpaling menatap ibunya dan mengangguk untuk menutupi rasa cemasnya. "Sudah berapa jam Elana di kamar operasi?"


"Sudah lebih satu jam." ucap Liliana menunduk sedih.


Levin menarik napasnya dengan berat. Ia menelan salivanya dan menatap pintu ruangan operasi dengan rasa cemas. Ia tidak sabar menunggu dokter itu keluar dari sana.


"Dimana kakak ipar?" Tanya Levin celingukan mencari keberadaan kakak iparnya itu.


Liliana mendengkus kasar. "Aku tidak tahu."


"Kau belum menghubungi dia?"


"Aku tidak ingin berurusan dengan pria brengsek itu. Dia tidak pernah pulang dan selalu menghabiskan waktunya di club malam. Apalagi yang aku harapkan. Dia tidak pernah berubah dan aku ingin cerai."


Levin membuang napas kasar. Ia juga tidak ingin memikirkan kakak iparnya dulu, yang terpenting Elana sudah mendapatkan pertolongan pertama dari dokter.


"Jangan menangis lagi. Elana akan baik-baik saja." Kata Levin mengusap tangan Liliana dengan lembut.


"Hari ini Elana berhasil membuat aku ketakutan setengah mati, Levin. Kakiku rasa tidak memijak bumi lagi." kata Liliana dengan suara parau.


"Hmmm, aku tahu. Elana orang kuat dan aku yakin dia bisa melewatinya."


"Tadi pagi saat sarapan bersama Elana, dia masih baik-baik saja. Ia bahkan memiliki harapan ingin melihatmu menikah cepat." kata Liliana.


DEG!


Levin menutup mata dan menahan napasnya sejenak. Ia hanya diam menatap lurus di depan.


Liliana masih nampak gelisah, pikirannya kalut dan rasa khawatir. Matanya terus memandang kosong. Sesekali matanya melihat ke arah pintu. Berharap seseorang keluar dari sana membawakan kabar untuknya. Sementara Levin tertunduk dengan siku yang berpangku di atas paha. Rasanya waktu ini berputar begitu lama. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Dan terus mengembuskan napas panjang.


Tak selang beberapa lama. Dua orang perawat keluar dari ruangan operasi. Para petugas keluar dari sana termaksud itu Alessa yang menangani langsung oeprasi ini. Levin terdiam sesaat saat melihat gadis berjas putih itu. Sementara Liliana dan Victoria bangun dari duduknya dan melihat Elana di dorong dengan hospital bad.


"Bagaimana keadaan anak saya, dokter Alessa?" Tanya Liliana dengan mata penuh harap. Ia melihat ke arah putrinya yang tertidur di hospital bad.


"Kita sudah melakukan pertolongan pertama. Keadaan Elana sudah lebih baik. Nanti saya akan menjelaskannya lagi." Kata Alessa tersenyum ramah. Untuk saat ini, ia mengesampingkan perasaannya dulu. Selama operasi Alessa sangat takut, ia tidak pernah mengalami ketakutan seperti ini saat di ruang operasi.

__ADS_1


"Ah, syukurlah." Ucap Victoria bernapas lega. Mereka berdua saling menatap bahagia.


"Dokter, aku ingin bicara." Kata Levin mendekat ke arah dokter Alessa.


"Nanti kita bisa bicara, setelah saya melakukan medical check up kepada pasien-pasienku. Kita memang perlu bicara soal kelanjutan pengobatan Elana. Pak Levin bisa menemui saya diruanganku setelah tiga puluh menit. Saya akan menjelaskan semua bagaimana penanganan Elana selanjutnya." Jawab Dokter Alessa tersenyum simpul.


Levin mengangguk setuju. Kemudian memberikan jalan untuk dokter Alessa yang menangani Elana.


"Sekarang antar pasien ke ruang recovery." perintah Alessa kepada perawatnya.


"Baik, dokter...." Jawab mereka mengangguk. Para tenaga medis dengan sigap mendorong hospital bad menuju ruangan recovery untuk melakukan perawatan selanjutnya.


Levin dengan cepat mengikuti perawat yang diikuti Liliana dan Victoria dari belakang.


Elana masih belum sadar karena pengaruh anastesi. Levin duduk dan mengambil tangan Elena dengan lembut.


"Terima kasih sayang, sudah bertahan sampai saat ini." kata Levin mencium puncak kepala Elana dengan lembut.


⭐⭐⭐⭐⭐


Sesuai janji temu dengan dokter Alessa. Levin berjalan kebagian koridor rumah sakit menuju ruangan dokter. Area itu nampak sepi. Selain karena bangunan rawat yang dijaga ketat untuk kenyamanan semua pasien. Terbilang tempat ini memang akan tetap tenang dan sepi dengan pengunjung yang terbatas.


Levin melihat ruangan dokter masih kosong. Berarti itu sama artinya dokter Alessa masih melakukan pemeriksaan kepada pasiennya. Sembari menunggu kedatangan dokter, Levin berjalan ke arah bagian belakang koridor untuk menghirup udara. Dinding tempat itu terbuat dari kaca, sehingga dengan jelas Levin bisa memandang keluar. Ia berhenti untuk mengambil oksigen sebanyak-banyaknya untuk melepas kesesakan di dalam dada, lalu membuang napasnya kembali. Levin menepi dan berpegangan stainless pagar pembatas di koridor itu.


Levin menundukkan kepalanya. Setelah dirasanya dokter Alessa sudah kembali ke ruangannya, Levin pun kembali menemui dokter itu.


Tok ...tok....tok....!


Alessa menarik napasnya dalam-dalam, saat terdengar suara pintu diketuk.


Alessa menatap sekilas ke arah pintu. "Masuk!" lalu menunduk serius lagi dengan laptopnya. Cara yang ampuh untuk menutupi rasa gugupnya.


Pintu terbuka. Levin masuk menatap Alessa sedang duduk di sana dengan ekspresi serius menatap laptop yang ada di depannya. Bunyi langkah masuk semakin terdengar. Jantung Alessa semakin terpicu cepat dan ia sangat gugup saat ini.


"Selamat sore dokter Alessa." Sapa Levin dengan ramah.


Jantung Alessa berdesir, ketika mendengar suara yang tidak asing di telinganya. Suara yang entah mengapa begitu Alessa rindukan. Napas Alessa berhembus pelan dari mulut. Ia segera berdiri sambil melepaskan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya.


"Selamat sore, Levin. Silakan duduk," Dokter Alessa mempersilakan Levin untuk duduk.


"Terima kasih, Dokter." ucap Levin dan duduk berhadapan dengan dokter Alessa.


Alessa mengeluarkan amplop coklat dan memberikannya kepada Levin. "Ini foto rontgentnya. Fracture di 3 tempat dan lihat jelek sekali patahnya. Anjuran saya, Elana harus melakukan operasi sekali lagi." Kata dokter Alessa melipat tangannya di atas meja.


"Heuh operasi lagi?"

__ADS_1


"Ya. Operasi tak cukup sekali. Di operasi kedua, Kita akan melakukan perbaikan tulang dengan cara pemasangan pen sehingga fungsi tulang bisa dikembalikan secara cepat tanpa rasa sakit. Setelah operasi kedua, Elana bisa menjalani latihan rehabilitasi medik fisioterapi yang bertujuan untuk memulihkan cedera pada kakinya. Tak perlu takut, keluarga harus tetap memberi semangat kepada Elana agar bisa sembuh dengan cepat."


Levin hanya mengusap wajahnya dengan kasar. Ia terdiam beberapa saat di sana. Dia tidak tahu harus berkata apa lagi. Alessa hanya bisa menarik napasnya dengan singkat. Ia juga ingin memberikan yang terbaik untuk Elana. Operasi kedua memang jalan yang terbaik dilakukan.


__ADS_2