
💌 HUJAN DAN KAMU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
.
SEMENTARA DI SISI LAIN.
Hari yang melelehkan untuk hari ini. Pekerjaan Levin benar-benar padat dan menumpuk. Untuk merenggangkan otot-ototnya saja terkadang tidak ada waktu. Levin menarik napasnya dalam-dalam, kemudian mengusap wajahnya. Ia mendesah saat melihat jam tangan.
"Huffft..." Ia kemudian menatap berkas yang ada di atas meja. Sebagian berkas masih diperiksanya setengah. Masih banyak list pekerjaan yang belum terselesaikan dan semua menunggu di periksa dengan benar. Levin tidak boleh asal tanda tangan. Ia harus benar-benar teliti memeriksa semua pekerjaannya. Levin akhirnya memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya di rumah.
TOK...TOK...TOK....!
Ceklek!
Carina terlihat mengintip di ujung pintu. "Permisi pak direktur,"
"Silakan masuk Carina." Sahut Levin menutup berkas yang sudah ditandatanganinya.
Wajah Carina nampak getir, ia meremas tangannya dan belum siap untuk bicara.
Levin mendongakkan kepalanya dan menangkap ekspresi itu. Ia langsung melepaskan berkas yang dipegangnya, lalu melipat tangannya di atas meja. Memberikan ruang kepada Carina untuk bicara.
"Ada apa Carin?" tanya Levin menatap Carina dengan serius.
Carina nampak gugup sambil mencengkram tangannya. Ia menggigit bibir bawahnya. Memandang pak direktur sekilas, lalu melarikan lagi pandangannya lagi.
"Ada apa denganmu?" tanya Levin mengulang pertanyaan yang sama. Ia masih tetap sabar hingga Carina bicara.
Carina menarik napas sambil memejamkan matanya. "Bagaimana aku harus mengatakan ini?" Ucapnya dengan ekspresi bingung dan resah.
Levin mengernyitkan dahi. "Ada apa Carin, katakanlah...apa kau sakit?"
Carina menggeleng cepat.
"Apa sesuatu terjadi di perusahaan ini?" Levin mulai tak sabaran. Alisnya menukik tajam.
Carina meringis semakin tak sanggup untuk mengatakannya. "Sebenarnya....tadi....tadi....? Ahhhhh....." Ia m*ndesah lesu sambil membuang wajahnya. Rasanya tak sanggup untuk mengatakannya.
Levin semakin mengerutkan keningnya, ia bangun dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah Carina sekretarisnya itu.
"Jangan buat aku marah Carin. Katakanlah, apa yang membuatmu khawatir seperti ini?" tanya Levin dengan tegas.
Carina mengusap wajahnya dengan kasar. Ia menatap gugup ke arah pak direktur. "Tadi saya menghubungi security yang berjaga di perumahan Flower."
"Heuh? kau menghubungi Security? Untuk apa?" Dahi Levin mengernyit. Kurang kerjaan sekali hingga sekretarisnya mengubungi security tempat tinggalnya.
Carin kembali menarik napas gugup. "Maaf pak. Saya benar-benar lupa menyampaikan pesan dari nyonya Liliana. Tadi sore sekitar pukul tiga sore, Elana di titip ke pos security dan meminta anda agar segera pulang. Dan...dan...maaf, saya baru teringat pak. Dengan cepat saya menghubungi security dan mengatakan bahwa Elana tidak ada di sana."
__ADS_1
"Apa?" Levin mengerjap kaget saat Carin mengatakan itu.
"Ma-maaf pak, saya benar-benar lupa menyampaikan pesan itu. Karena saat itu anda sedang mengikuti rapat, jadi saya....."
Desmond tiba-tiba masuk ke ruangan itu. Ada hal penting yang ingin disampaikan mengenai kerja sama besok bersama dengan perusahaan asing.
Levin melangkah mendekat arah Carin. "Kenapa kau tidak Katakan! Jadi kemana Elana?" Teriak Levin menggema di dalam ruangan. Ia sudah tampak marah, rahangnya mengeras dan matanya memancarkan emosi.
Glek! Desmond begitu terkejut bercampur tegang melihat situasi ini.
"Kenapa pak direktur marah?" yang ia tahu pak Levin tak pernah semarah ini.
Sementara Carin menelan salivanya begitu susah. Ia sampai mundur beberapa Langkah. Suara pak Levin begitu menggelegar seperti suara bom yang dijatuhkan, ruangan itu seketika berubah horor. Menyeramkan, pokoknya pak Levin benar-benar menunjukkan kemarahan yang luar biasa.
"Aku bisa gila...Kenapa kau begitu bodoh sekali." Levin mengusap wajahnya dengan kasar. Pikirannya langsung kacau, Ia benar-benar blank.
"Kau sudah menghubungi pak Arnold?"
"Su-sudah pak," Ucap Alessa begitu takut.
"Apa yang terjadi pak?" Tanya Desmond mencoba mencairkan suasana. Tapi tak ada jawaban.
"Kau!" Levin mengarahkan jari telunjuknya ke wajah Carin. "Jika Elana tak ditemukan, kau siap dipecat!" Gertak Levin berjalan menyambar lengan Carin sampai membuatnya terhuyung ke belakang.
Carin meremas tangannya sambil menundukkan kepalanya. Desmond tak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti langkah Levin dengan ekspresi tegang.
Levin dengan cepat berjalan keluar dari ruangannya. Ia terus berlari sekuat tenaga menyusuri koridor kantor. Jasnya sampai melambai ke belakang karena kecepatan berlarinya. Bahkan sepatunya terdengar menggema disepanjang koridor kantor. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam,
"Aku bisa gila," Batinnya saat menyadari hari ternyata sudah malam.
DEG DEG DEG
Desmond hanya bisa diam di sana. Saat ini ia sangat ketakutan karena melihat aura wajah pak direktur yang begitu menakutkan. Tangannya berpegangan pada bagian atas mobil. Ia membuang napasnya, bersikap tetap tenang agar emosi pak Levin tidak tersulut.
"Elana. Kamu kemana sayang? Aku harap kamu baik-baik saja. Uncle sangat menyayangimu. Jangan buat uncle ketakutan seperti ini." Kata Levin dengan suara seperti tercekat di leher.
"Pak, Elana anak pintar, kita berdoa semoga Elana bermain di taman perumahan Flower." Desmond mencoba menenangkan pak direktur.
Levin tak menggubris. Ia semakin menancapkan mobilnya. Jantungnya terpukul kencang, ikut tertahan di dada dengan segala gejolak yang muncul. Ia hanya terus membawa mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi. Bahkan ia menyalip beberapa mobil yang menghalangi jalannya.
"Apakah aku harus menghubungi ayah? tidak....tidak... mungkin. Bisa-bisa mereka akan membunuhku." Batinnya.
Bagaimana pun caranya, Elana harus ditemukan sebelum keluarga mengetahuinya. Levin tidak ingin mommynya tahu masalah ini. Karena itu akan menjadi pemicu traumanya datang kembali. Karena kakaknya Liliana pernah menjadi korban penyekapan oleh oknum tak bertanggung jawab.
⭐⭐⭐⭐⭐
Tidak butuh lama Levin sudah sampai di depan perumahan mewah tempatnya tinggal. Levin menarik rem tangan dan keluar dari mobilnya dengan terburu-buru yang di ikuti oleh Desmond.
Arnold membungkukkan badannya untuk memberi hormat. Saat hendak menegakkan badannya lagi. Levin melangkah panjang dengan rahang mengeras. Ia menarik kerah baju Arnold dengan emosi.
"Mengurus anak kecil saja kau tidak bisa, sekarang kau harus bertanggung jawab atas kehilangan Elana."
"Saya...."
Levin melepaskan kerah bajunya dan mendorong tubuh kurus itu.
__ADS_1
"Saya tidak mau tahu, sekarang cari Elana." Mata Levin terbakar dengan kemarahan. "Dasar bodoh! Bagaimana bisa Elana hilang, hah!” teriak Levin pada lelaki itu.
“Maaf tuan...."
“Maaf kau bilang, sekarang yang aku tanya bagaimana dengan Elana, Apa kau bisa mencarinya? Elana anak kecil berusia empat tahun. Bagaimana mungkin kau tidak bisa mengurus anak kecil." Mata Levin mendelik tajam.
"Tapi tuan?...."
"Kau masih bisa santai setelah dua jam Elana dinyatakan hilang. Sekarang, aku tidak mau tahu dimana titik terakhir Elana bermain." Lagi-lagi Levin tak memberi waktu kepada Arnold untuk menyelesaikan kalimatnya. Levin terlalu marah, sampai untuk bernapas saja Ia tak sanggup. Bagaimana Liliana jika tahu hal ini, bisa-bisa semua keluarga menyalahkannya. Levin menarik dasinya untuk mengurangi sesak di dada.
"Begini pak, saya tidak tahu apa-apa mengenai Elana." Ucap Arnold memberanikan diri. Sementara Desmond sejak tadi diperintahkan untuk mengecek cctv.
"Apa? kau tidak tahu apa-apa? apa maksudmu? Jangan membuatku marah Arnold. Bagaimana kau tidak tahu apa-apa mengenai Elana." Emosi Levin tersulut lagi.
"Pukul tujuh saya sudah pertukaran shift dengan pak Brady. Kemungkinan pak Brady tahu masalah Elana."
"Pak Brady? Sekarang hubungi dia,"
Desmond tiba-tiba berlari ke arah Levin. "Pak direktur, saya sudah periksa cctv."
"Apa yang kau temukan?"
Desmond menunjukkan video yang baru dikirim pihak perumahan kepadanya. Kejadian dua jam yang lalu. Jelas sekali Elana sedang menangis dan seorang wanita membawanya pergi. Wajah wanita itu tak terlihat sama sekali karena posisinya sedang memunggungi kamera cctv.
"Apa dia penculiknya?" Wajah Levin sudah tampak marah, rahangnya mengeras dan matanya memancarkan emosi.
"Sepertinya begitu pak." Ucap Desmond.
Heeeh....Levin bernapas dari mulutnya. Mencoba memasukkan sebanyak mungkin oksigen ke paru-parunya. Levin mengusap wajahnya dengan frustasi. Elana benar-benar diculik. Video ini jelas-jelas bahwa Elana dibawa oleh seorang wanita.
"Bagaimana pak? apa kita harus lanjut ke kantor polisi?" Tanya Desmond lagi.
"Maaf pak, ini pak Brady ingin bicara." Ucap Arnold memberikan handphonenya kepada Levin.
Levin mengambil ponsel itu sedikit kasar. Energi emosi beraura hitam memenuhi setiap jengkal pembuluh darah Levin. Tekanan darah seketika terpompa kuat menghantar pasokan nutrisi untuk bala tentara setan di pikiran.
"Kau adalah salah satu yang bertanggung jawab atas penculikan Elana!!!" Ucap Levin tanpa basa-basi.
Brady tertawa di ujung telepon. "Apa maksud bapak, siapa yang hilang?"
Bagai gelegar mengajak perang saja, ucapan pria itu malah menyulut emosi Levin yang siap meledak bak letusan gunung merapi.
"Kau masih bisa tertawa di saat Elana diculik!" Teriaknya.
"Maaf pak... dengarkan saya! Elana tidak diculik. Elana sekarang berada di rumah bapak dengan wanita....."
Belum lagi Brady selesai bicara, Levin sudah berlari menuju rumahnya yang diikuti oleh Desmond. Ia ingin melihat sendiri, apa benar Elana ada di rumah.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku 😍
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^