Hujan Dan Kamu

Hujan Dan Kamu
AKU MENCINTAIMU


__ADS_3

💌 HUJAN DAN KAMU 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


"Maafkan aku, Samantha. Sepertinya aku harus ke toilet." Alessa melangkah meninggalkan Samantha, ia sengaja melakukannya untuk menghindari pak direktur dan tuan Horald. Ia berlari mencari persembunyian. Badan Alessa seketika terasa kaku, tak bisa bergerak. Ia diam mematung dan masih shock dibalik dinding tempat persembunyiannya.


"Astaga... kenapa lagi aku harus bertemu dengan dia?" Alessa memegang dadanya. Ia berulang kali mengembuskan napasnya untuk mengurangi debaran jantungnya terpompa kencang dan terpukul begitu kuat di dalam rongga dadanya. Kejadian malam itu sungguh memalukan. Jika bertemu lagi, mau kemana Alessa menyembunyikan wajahnya itu.


"APAKAH INI TANDA PERASAANKU YANG TIDAK ENAK ITU? AHHHH...."


Wajah Alessa mengerut ingin menangis.


"NASIBKU SELALU SIAL JIKA BERTEMU DENGANNYA. TIDAK...TIDAK...AKU TIDAK BOLEH BERPAS-PASAN DENGAN DIA LAGI. SIAPA NAMANYA...AHHHHH....LEVIN HORALD."


"Oh my God...apa mereka sudah pergi?"


Alessa mengintip dari balik dinding tempat persembunyiannya. Ekor matanya bergerak cepat mencari sosok yang menurutnya seperti hantu itu.


"Ahhhhh ... syukurlah, mereka akhirnya masuk lift juga." Alessa akhirnya bernapas lega. Tuan Levin Horald sudah tidak ada.


Alessa menyandarkan kepalanya ke dinding. Mencoba menenangkan hatinya kembali. Setelah tenang Alessa pun kembali melangkah meninggalkan tempat persembunyiannya.


Namun belum juga Alessa melangkah, seseorang tiba-tiba menarik tangannya dengan kasar, dan mengajaknya masuk ke sebuah ruang yang ternyata ialah ruang akses tangga darurat.


"Samantha, lepaskan tangan....." Suara Alessa tiba-tiba tertelan. Bibirnya terkatup rapat. Kedua matanya pun membulat sempurna saat mengetahui bahwa yang menarik tangannya bukankah Samantha, melainkan Jordan. Ya, Alessa masih kesal dengan Jordan. Ia bahkan tak mau bertemu lelaki itu untuk sementara waktu.


"Apa yang kau lakukan, lepaskan aku!" Alessa menghempas tangan Jordan. Tangannya ditarik paksa hingga meninggalkan ruam merah dipergelangan tangannya.


"Lepaskan aku?" Jordan mengulangi ucapan Alessa. "Ada apa denganmu sayang?"


Alessa memutar bola matanya. Ucapan Jordan seolah tidak terjadi apa-apa. Ia memalingkan wajahnya tak ingin melihat Jordan.


"Hei jawab aku," Jordan menangkup pipi Alessa.


"Aku lagi malas Jordan, sudahlah!"


"Aku curiga dengan sikapmu, Alessa."


"Curiga?" Kedua alis Alessa menyatu. "Bukannya seharusnya aku yang curiga? Beberapa hari kau selalu mengabaikan aku dengan alasan sibuk dan sibuk. Aku juga Dokter, Jordan. Tapi tidak sesibuk kamu." Tunjuk Alessa.


"Kau mengenal tuan Horald?"

__ADS_1


"Kenapa kau tanyakan itu?" Alessa merasa heran dengan pertanyaan Jordan. Bukannya minta maaf. Alessa bertambah kesal melihat sikap Jordan. Ia memalingkan wajahnya tak ingin melihat Jordan.


"Maaf jika kau tidak nyaman pertanyaan itu. Aku hanya merasa aneh saja, saat tuan Horald memberikan kata sambutannya, ia selalu memperhatikanmu,"


"Sudahlah, jangan mencari-cari alasan. Hari ini aku ada jadwal pemeriksaan. Aku tidak ada waktu untuk membahas hal yang tidak penting." Kata Alessa beranjak ingin meninggalkan Jordan. Namun sebelum itu terjadi tangannya lagi-lagi ditarik paksa. Tubuhnya di dorong hingga menyender sampai ke dinding.


"Apa yang kau lakukan Jordan?" Alessa terkejut.


"Kau membuatku kesal. Apa susahnya kau menjawabnya. Kau tinggal mengatakan ia atau tidak."


"Lepaskan tanganku! Sakit Jordan." Suara Alessa menggema di ruang akses tangga darurat yang menampakkan kesenyapannya tersebut. "Kau tidak sadar apa yang telah kau lakukan, Jordan?"


"Apa maksudmu? Aku tidak melakukan apa-apa." Ucap Jordan santai dan merasa tidak bersalah. Tatapannya mengunci setiap pergerakan Alessa.


Lagi-lagi Alessa jengah dengan sikap Jordan." Kau telah menyakiti hatiku, kau mengabaikanku dan membuatku seperti orang bodoh." Suara Alessa nyaris menyakiti gendang telinga Jordan.


"Jadi kau marah?"


"Ya, aku marah! Sampai kapan kau seperti ini? Kau menganggapku seperti orang lain. Bahkan lebih anehnya, kau bahkan bisa lebih dekat dengan dokter lain, tapi tidak dengan aku!" Napas Alessa naik turun begitu cepat karena begitu marah. Mengingat bagaimana Jordan selalu menganggapnya seperti orang lain. Matanya seketika berkaca-kaca. Ia muak dengan hubungan ini. Ia kesal selalu diabaikan terus. Alessa tersenyum miris.


Sesak yang menghimpit dadanya tidak bisa ia tutupi. Air bening yang sedari tadi berkumpul kini terjatuh membahasi pipinya. Alessa dengan cepat menghapusnya. Ia tidak mau menangisi lelaki yang tak pernah menghargai cintanya.


"Aku mencintaimu Jordan, aku rela meninggalkan pekerjaanku di rumah sakit Charlett dan datang ke sini, supaya aku dekat dengan kamu. Tapi apa yang aku terima? Kau mengabaikanku. Kau berjanji untuk menjemputku di bandara, tapi kau di rumah sakit untuk melakukan operasi. Kau selalu berjanji dan sekali pun kau tak pernah menepati janjimu itu. Aku muak dengan semua ini!"


Jordan menghembuskan napasnya sekaligus lewat mulut. Hati juga sakit saat melihat Alessa menangis seperti ini.


Alessa menarik napas sesaat. Menutup mata sesaat. Hatinya terlalu sakit. Ia kembali menguatkan hati. "Kau sudah terlalu sering berjanji, Jordan. Aku tak bisa seperti ini terus."


DEG


DEG


DEG


Jordan mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu sayang?"


"Semuanya sudah jelas, kita tidak bisa seperti ini terus. Aku ingin kita mengakhiri hubungan ini." kata Alessa meninggikan suaranya. Sorot matanya begitu tajam. Ia begitu terluka di sini.


Jordan mencoba bersikap tenang menghadapi Alessa. Walau hatinya tak kuat melihat Alessa tersakiti di sini. "Aku tahu, kau marah Alessa. Tapi untuk mengakhiri hubungan kita, aku tak bisa menerimanya. Aku tidak ingin berpisah. Tidak bisa!" Jordan menegaskan kalimatnya.


Heh... Alessa melepaskan napas singkat. Ia melarikan tatapan kesalnya. Ia tidak menyangka jawaban Jordan akan seperti itu. "Bukankah kau tidak menginginkan hubungan ini, Jordan. Kau tidak pernah mencintaiku. Jika kau mencintaiku, setidaknya kau memberikan sedikit perhatian untuk hubungan kita."


"Aku mencintaimu Alessa, apa kurang jelas. Aku tidak bisa mengakhiri hubungan ini." Ucap Jordan tak kalah tegas. Volume suaranya naik satu oktaf melebihi suara Alessa


"Kenapa kau tidak bisa melakukannya?" kata Alessa begitu dingin.


"Karena aku mencintaimu."

__ADS_1


Alessa menahan emosi, Ia hanya tersenyum pilu. Menunduk dan m*ndesah. "Apa kau bisa buktikan itu? Kau tak pernah mencintaiku, Jordan dan aku bisa rasakan itu."


Jordan melangkah dan mendekat ke arah Alessa, ia memegang ke dua lengan dengan hati yang terluka. "Katakan jika kamu tidak serius mengatakan itu. Aku tahu siapa kamu Alessa. Kau hanya mencintaiku. Matamu sedang berbohong. Aku sangat yakin itu."


Alessa menggeleng dan melepaskan tangan Jordan. Ia membalikkan badannya dengan cepat, Alessa tidak sanggup menatap mata itu. Ia hanya ingin membuktikannya saja. Apakah Jordan benar-benar mencintainya. Selama ini, Alessa seperti pengemis cinta. Betapa lelahnya mengharap-harap cintanya, sementara Jordan tak pernah memikirkannya. Alessa seperti menjadi pemain figuran dalam hidup-nya, yang tak pernah ia perhitungkan. Alessa sangat berharap bisa mengembangkan sayap harapan dan merengkuh hatinya. Namun apa yang diterimanya hanyalah kekalahan. Ketika Alessa mencoba melangkah, sekali lagi yang ia dapatkan hanyalah luka. Hidup seperti pemimpi yang tenggelam dalam kekosongan dan angan-angan berkepanjangan. Semakin Alessa menyadari mengejarnya hanya membuatnya semakin terjatuh dan terluka. Alessa terlalu hanyut dalam kepedihan dan kekecewaan. Alessa hanya ingin diperhatikan. Namun, semakin besar pengharapan maka semakin besar peluang kekecewaan yang ia dapatkan.


"Sayang lihat aku,"


Alessa memalingkan wajahnya. "Aku ingin kau membuktikannya." Ucap Alessa.


Mendengar itu, Jordan membuang napasnya dengan kasar. Ia mengunci tatapannya kepada Alessa. Jordan tersenyum dan berusaha bersikap tenang. Ia tahu Alessa hanya menggertak saja. "Sayang, apa kau meragukan cintaku? apa kau kurang yakin dengan perasaanku?"


Alessa tak menjawab, lagi-lagi ia tak ingin menatap Jordan.


" Oke, maafkan aku. Aku tidak akan melakukan hal itu lagi jika itu membuatmu terluka. Aku akan lebih memperhatikanmu lagi dan memberikan cintaku."


"Kau memang harus melakukan itu." Ucap Alessa dingin, tanpa melihat ke arah Jordan.


Tak ingin menunggu,Jordan melangkah maju, memegang pinggang Alessa dan mendorongnya hingga punggungnya Alessa menempel ke dinding dan menghimpit tubuh Alessa.


"Ya, aku memang harus melakukan itu. Karena aku mencintaimu dan aku tidak hubungan kita berakhir seperti ini." Ucap Jordan dengan tegas dan semakin mendekatkan wajahnya kepada Alessa.


Heeeeeee....Alessa terbelalak dan m*ndesah gugup. Jantungnya seketika terpompa lebih kencang. Napas Jordan berhembus menerpa wajahnya.


Jordan langsung mencium bibir Alessa dengan tarikan dan Lmatan yang kuat dan dalam. Napasnya juga ikut menarik aroma wajah Alessa. Jordan mengeratkan pelukannya dan mengambil semua bibir Alessa tiada ampun. Tangan Alessa seketika mengepal. Jordan mencengkeram pinggang Alessa dan kembali memainkan bibir kekasihnya itu.


Ciuman itu semakin memburu, membuat Alessa m*ndesah dan bisa merasakan nikmat ciuman itu lagi. Seluruh otot terasa mengencang dan menegang. Gemuruh di dada Alessa semakin menjadi. Tubuhnya bergetar hebat. Ciuman mereka benar-benar terasa membara.


Jordan kembali memainkan bagian terdalam milik Alessa, mengecap semua bagian bibirnya tanpa sisa. Napas keduanya semakin memburu. Jordan seolah menyatakan bahwa ia sungguh-sungguh mencintai Alessa.


Ciuman nikmat dan menggetarkan itu akhirnya terlepas juga. Jordan melepaskan ciumannya, membebaskan Alessa dari siksaan kenikmatan.


Mata Alessa sayu, tidak berani menatap Jordan. Ia berusaha mengatur napasnya yang menggebu-gebu keluar dari mulutnya. Suara terengah-engah akibat jantung yang terpicu masih terdengar seirama. Tak perduli mereka berada dimana. Hingga akhirnya Alessa menjatuhkan kepalanya di dalam dada Jordan.


Jordan pun tersenyum. Membelai punggung Alessa dengan lembut. "Aku mencintaimu Alessa. Kau adalah milikku." Ucap Jordan tegas seolah mengatakan bahwa perkataannya tidak bisa diganggu gugat.


Alessa tertunduk tidak sanggup mengatakan apa-apa. Ia masih berusaha mengatur napasnya yang memburu akibat debaran dari jantungnya.


Sementara mereka tidak menyadari, ada seseorang yang menutup pintu ruang akses tangga darurat itu kembali.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku 😍


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.

__ADS_1


^_^


__ADS_2