
💌 HUJAN DAN KAMU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Levin melarikan mobilnya menuju apartemen Monika. Ia kesal sudah dua minggu Monika tak ada kabar. Dihubungi, tak diangkat. Bahkan penjaga security tempat tinggalnya, mengatakan jika Monika mengikuti seminar diluar kota. Kebiasaan Monika selalu seperti ini. Namun, Levin tidak semudah itu percaya. Diam-diam Levin menyelidikinya. Jika memang Monika berbohong, Levin tidak akan memaafkannya.
Siang ini begitu terik hingga sampai menusuk ke kulit. Bercampur dengan suasana hatinya terasa panas. Sedari tadi Levin hanya bisa menggeram kesal. Wajah kaku dan dingin tergambar jelas di wajahnya. Hanya ada luka yang tidak tahu kapan sembuhnya. Selama dua minggu Monika tak memberikannya kabar. Membuatnya tak bisa menguasai rasa sakit hatinya. Cinta yang selama ini dijaganya, dianggap seperti permainan saja. Kadang hati Monika berubah-ubah tanpa jelas. Kini rasa kesal itu siap meledak, tapi Levin berusaha meredamnya. Ia masih menunggu sampai Monika menjelaskan ini semua.
Levin melarikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. "Apakah benar apa yang dikatakan Liliana? Monika tak pernah mencintainya, Monika hanya memanfaatkannya." Namun dengan cepat Levin menggeleng. Ia menepis prasangka buruk yang terus mengotori pikirannya. Monika tidak seperti itu. Ia wanita baik dan tidak akan menyakiti perasaan orang lain. Apalagi jika seseorang itu ternyata mencintainya.
Levin menarik napas dalam-dalam. Hubungannya dengan Monika sempat putus nyambung berkali-kali. Mereka bahkan sempat lost contact dan bahkan saling tak peduli selama satu tahun. Meski demikian, akhir cinta mereka pun tak terduga. Levin dan Monika dipertemukan kembali saat menjadi tenaga sukarelawan yang membantu korban atas musibah bencana alam yang terjadi di kota A. Mereka berjanji menjaga cinta ini dengan baik. Namun sering berjalannya waktu, cinta ini semakin membosankan. Apakah cinta ini layak dipertahankan? Levin mulai jenuh dengan hubungan ini.
Saat memasuki kawasan apartemen Monika. Tiba-tiba Levin mengerem mobilnya.
Ciiiiiiiitttttt!
Sampai terhuyung terhuyung maju.
"Monika?"
Levin kembali memicingkan matanya, meyakinkan dirinya bahwa wanita yang berdiri di sana adalah Monika.
"Ya, aku yakin sekali dia Monika." Batin Levin terus menyakinkan dirinya. "Tapi mau kemana dia?"
Tiba-tiba mobil berhenti di depan Monika. Nampak Monika sedang membungkukkan badannya dan tersenyum kepada pemilik mobil warna hitam itu. Monika pun masuk ke dalam mobil.
Jantung Levin langsung terpukul kencang. Ia tidak bisa melihat dengan jelas siapa lelaki yang ada di mobil itu. Tangannya mencengkram setir mobil karena perasaan yang sangat kacau ini. Tak mau menunggu, Levin akhirnya memilih mengikuti mobil hitam tersebut.
DI SISI LAIN.
Emil tersenyum dan membawa mobilnya kembali saat Monika sudah memasang sabuk pengaman. Emil adalah saudara sepupu Monika, yang baru datang dari London. Lelaki ini adalah teman curhat Monika. Semua yang terjadi dengan Monika, Emil mengetahuinya.
"Kau tidak mengajak Aunty?" tanya Emil memandang sekilas ke samping.
Monika menggeleng, "Mommy tak bisa ikut, karena dia ikut Daddy perjalanan dinas keluar negeri. Walau sebenarnya mommy ingin sekali melihat cucunya yang cacat itu." jawabnya.
Emil hanya menganggukkan kepalanya dan kembali fokus dengan jalanan.
"Bagaimana Levin, apa dia tidak curiga kau tiba-tiba tak mengangkat teleponnya dan mengatakan ikut seminar keluar kota?" tanya Emil lagi.
Monika menarik napas singkat, lalu tersenyum ke arah Emil. "Tenang saja, semua aman. Aku sudah mengatakan kepada security yang berjaga apartemen jika aku mengikuti seminar. Jadi Levin tidak akan curiga."
"Kenapa kau tidak mengakui semuanya? Kau bisa mengatakan kepada Levin bahwa kamu sudah punya anak." Kata Emil memberikan pendapatnya.
"Kau sudah gila, Levin tidak suka dibohongin. Walau sejujurnya aku sendiri juga muak dengan kebohongan ini. Aku mau cepat-cepat lepas dari beban ini!"
"Tapi kau tidak bisa membohonginya terus menerus. Suatu saat dia akan tahu kebenaran ini."
__ADS_1
"Aku tidak perduli, mau dia tahu dari orang atau dari siapapun itu, tapi jangan dari aku. Aku tak mampu mengatakan itu."
"Tapi lebih baik Levin tahu dari kamu, Monika. Aku rasa itu yang terbaik. Levin akan lebih sakit jika dia tahu dari orang lain."
"Kenapa kamu lama-lama menjengkelkan banget sih?" Monika mendengkus.
"Oh, maaf."
"Jangan pernah singgung masalah Levin lagi. Sekarang tujuanku hanya ingin menyingkirkan Joyce. Sebelum semuanya terlambat. Aku tidak mau karirku hancur hanya karena anak sialan itu."
"Bukankah dia anak dari lelaki yang kau cinta? Seharusnya kau merawatnya dengan baik."
Monika menarik napasnya dengan berat. "Tapi sampai saat ini, dia tidak tahu aku mengandung anaknya. Aku juga tidak pernah bertemu dengannya. Dia dimana, aku tidak pernah tahu."
"Apa kau masih mencintainya? dan aku yakin Levin hanyalah tempat pelarianmu."
Monika tidak menjawab, ia memilih diam dan terus menatap jalanan yang mereka lalui.
"Monika?" panggil Emil kemudian setelah beberapa menit mereka terdiam.
"Hmm," Monika menoleh dan menatap ke arah Emil.
"Bisakah kau berhenti saja?"
"Heuh?" Monika mengerutkan keningnya. Ia menatap heran dan penuh tanda tanya. "Apa maksudmu? Aku berhenti untuk apa?" tanya Monika lagi.
Emil menghela napas panjang. "Kau tidak perlu mengirim Joyce keluar negeri dan membuatnya tinggal di panti asuhan."
Kali ini ekspresi wajah Monika begitu terkejut. Ia memalingkan wajahnya dan menatap ke arah luar jendela di bagian sisinya. "Kenapa kau tiba-tiba seperti ini, bukankah kau selalu mendukungku? apa yang kau takutkan? aku hanya tidak ingin anak itu menghancurkan masa depanku?"
"Apa? kamu sudah gila ya, aku sudah berjanji kepada Kakek Christian tidak akan mengungkit masalah anak itu."
"Ya aku tahu. Tapi Joyce tidak perlu kamu kirim keluar negeri. Kamu tidak kasihan dengannya?"
"Kenapa kamu menjadi penakut seperti ini?" bentak Monika dengan mata menyalang tajam.
"Karena aku kasihan dengan Joyce."
"Terserah apa katamu. Anak itu harus tetap pergi!"
Emil menarik napas singkat dan kembali menatap ke depan. Ia tidak menduga Monika ternyata keras kepala. Sama seperti Daddynya yang kuat dengan pendiriannya.
"Baiklah, kita lakukan bersama-sama." Ucap Emil akhirnya.
Monika menarik napas singkat lalu memegang tangan Emil. "Hanya kau yang bisa membantuku dan aku tidak bisa berhenti. Jadi tetaplah seperti ini, aku mohon!"
Emil tidak menjawab, ia terus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Udara sejuk khas pegunungan langsung menyapa saat mereka saat memasuki area pegunungan. Pepohonan rindang berjajar di sisi kiri dan kanan jalan membuat suasana menjadi teduh.
Mobil mewah milik Emil memasuki pagar kokoh yang terbuka otomatis. Rumah berbahan kayu itu terlihat mewah. Emil menghentikan mobilnya dan keluar dari sana. Ia mengedarkan pandangannya. Rumah ini tak berubah sama sekali. Emil berdecak kagum. Di London juga Emil banyak menemukan rumah seperti ini.
"Kita masuk, yuk!" Ucap Monika melangkah lebih dulu meninggalkan Emil.
Mereka disambut dua orang pembantu yang berjaga di sana.
__ADS_1
"Selamat siang nona Belen." Sapa seorang pria paruh baya sambil membungkukkan badannya.
"Bapak tambah gagah saja, kalah dengan saya yang muda ini." kata Emil sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Ah, nak Emil bisa saja." Kata pria itu tersenyum hangat.
"Dimana Joyce?"
"Tadi seorang pria datang membawanya berjalan-jalan, nona."
Marcel dan Monika reflek saling berpandangan. "Seorang pria? Maksudmu siapa pak?" Ucap Monika dengan ekspresi terkejutnya.
"Saya juga tidak mengenalnya. Tapi yang biasa mengurus nona kecil mengatakan, pria itu sering datang disaat akhir pekan, nona."
DEG
DEG
Jantung Monika langsung terpicu cepat. Seorang pria selalu datang melihat Joyce. "Siapa dia?" Ia berusaha menstabilkan napasnya. Rasanya ingin pingsan.
"Pria itu siapa? Kenapa aku tidak pernah tahu." Teriak Monika begitu marah.
"Beliau mengaku dari keluarga Belen." ucap pria itu ketakutan saat melihat ekspresi wajah Monika.
"Apa mungkin Jordan? Tidak mungkin...ini tidak mungkin. Bagaimana mungkin Jordan bisa tahu soal anak itu." Monika membatin dan terus menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Sekarang aku tidak mau tahu, cari Joyce sekarang!" pekik Monika dengan emosi yang membuncah.
Emil masih bingung dengan situasi ini. "Siapa pria yang membawa Joyce pergi? bahkan Monika tak pernah tahu, jika pria itu sering mengunjungi anak itu?"
Jantung Monika masih berdetak kencang. Wajahnya menegang, mulutnya terbuka karena begitu shock. Napasnya terdengar naik turun. Tangannya ikut gemetar. Ia mundur beberapa langkah dan menggeleng. "Anak itu tidak boleh hilang?" ucapnya pelan sambil menatap kosong.
SEMENTARA ITU.
Levin masih menunggu di dalam mobil. "Apa yang terjadi, kenapa mereka ke sini. Monika tak pernah menceritakan jika keluarganya mempunyai rumah ditempat terpencil seperti ini." Ucap Levin dalam hati. Ketakutan tiba-tiba menguasainya.
"Apa jangan-jangan pria adalah penculik?"
Tiba-tiba mobil berhenti di depan pagar kokoh itu. Reflek Levin menundukkan kepalanya. Dua pria bertubuh besar masuk juga ke dalam pagar yang menjulang tinggi itu. Dengan cepat Levin keluar. Ia ingin masuk sebelum pagar itu tertutup otomatis.
"Aissssss..." Levin menggeram kesal, saat berlari cepat, pintu pagar itu sudah lebih dulu tertutup.
Levin mengusap wajahnya dengan kasar, ia hanya bisa menatap pintu yang sudah tertutup rapat itu.
"Apa yang harus aku lakukan? Monika dalam bahaya."
Levin mengembuskan napasnya berulang kali. Ia tidak bisa panik menghadapi hal seperti ini. Ia harus tetap tenang. Levin mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Desmond. Ia harus mendapatkan bantuan, untuk mengeluarkan Monika dari tempat ini.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku 😍
__ADS_1
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^