
💌 HUJAN DAN KAMU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Getaran ponsel di saku Alessa membuyarkan lamunannya. Pasti itu dari Samantha yang mengiriminya pesan. Cepat-cepat ia mengambil benda pipih dari dalam tasnya dan membuka aplikasi WhatsApp. Benar saja, sudah ada dua pesan dari Samantha itu.
"Dok, hari ini jangan lupa ya, di tempat biasa di cafe Value."
"Jangan lupa juga bawakan pesananku. Tidak ada alasan lupa-lupa lagi. Aku sudah ingatkan dari kemarin. Sampai bertemu di cafe value, dokter cantik."
Alessa tersenyum membaca pesan itu. Semenjak ia mengenal Samantha, ia masih tetap wanita sama yang selalu rutin mengiriminya pesan meskipun Ia sedang berada di luar negeri.
Cepat-cepat ia mengetik balasan untuk Samantha yang sudah dianggap seperti adiknya itu.
"Oke, aku gak lupa kok. Tunggu saja di cafe value, seperti janji kita kemarin."
"Kemungkinan aku terlambat tiga puluh menit. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan dulu."
"Aku juga sudah membawa pesananmu. Jadi tak perlu khawatir, oke!"
Balasan dari Samantha datang beberapa detik kemudian.
"Oke, mau terlambat satu jam juga gak apa-apa. Aku maklum kok dok, hehehehehe..."
"Kamu memang dokter yang bisa diandalkan. Terima kasih, dokter cantik."
Setelah mengirimkan balasan hanya gambar stiker saja. Alessa kembali memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas.
Sudah hampir tiga puluh menit berlalu sejak ia duduk di lobi rumah sakit ini, menunggu Monika menyelesaikan operasinya. Alessa baru tahu, ternyata Monika tinggal di kota yang sama dengannya. Dia tahu kabar itu dari mommy-nya. Rasa bosan dan kantuk sejak tadi sudah menghampirinya. Apalagi semalam ia hanya bisa tidur tiga jam.
Selain karena harus menyelesaikan beberapa tugas rumah sakit, ia juga disibukkan dengan jadwal operasi yang padat. Tentu saja membuat Alessa tak bisa lagi menikmati liburannya. Jangankan memikirkan liburan, untuk menikmati tidurnya saja, Alessa tak bisa.
Alessa kembali melirik jam bermerek yang ada di pergelangan tangannya, lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa yang ada di lobi. Ia tidak tahu berapa lama lagi harus menunggu. Mau ke cafe dulu, tidak mungkin. Ia sudah keburu membuat janji dengan Monika. Dia tahu betul sifat Monika. Jika ia pergi begitu saja. Bisa jadi, Monika kecewa dan tak mau bertemu dengannya lagi. Alessa mengembuskan napas lewat mulut, mengeluarkan handphone dari tasnya, lalu mengotak-atiknya.
"Kau masih di sini?"
Suara Monika membuat Alessa memalingkan wajahnya melihat ke samping. Monika sudah berdiri di sampingnya dengan tangan ia masukkan ke dalam kantong jas putihnya. Penampilannya tak berubah. Ia selalu tampil anggun dan fashionable. Kaos fashion item yang branded dari Chanel, berpadu dengan jas putih yang dikenakannya dan celana jeans yang digunakannya dari merek Louis Vuitton. Benar-benar menyempurnakan penampilannya hari ini.
"Monika?" Alessa segera berdiri dan ingin memeluk sepupunya itu.
Namun Monika menolak, "Maaf Alessa, aku habis melakukan operasi. Kau mungkin sudah mengerti itu."
Alessa melepaskan senyum tertahan. "Oh, maaf."
"Dari mana kamu tahu aku bekerja di rumah sakit ini?"
"Dari mommy."
"Dari Aunty?" tanyanya dengan dahi mengerut.
"Hmm." Alessa mengangguk, lalu melepaskan senyum manisnya. "Apa kabar Monika?"
__ADS_1
"Seperti yang kau lihat, aku sehat." ucapnya datar tanpa melihat Alessa.
"Monika, bagaimana kalau kita bicara di cafe terdekat yang ada di sini? Kita bisa bicara sambil minum atau makan, mungkin." Ucap Alessa dengan seulas senyum di bibirnya.
Monika menarik napas singkat. "Tidak, terima kasih. Kita langsung saja, bukankah ada yang ingin kau sampaikan Alessa?" tanya monika to the point.
"Aku rasa bicara di sini kurang tepat, Monik. Kita bisa cari cafe yang terdekat saja. Ada banyak hal yang perlu kita bicarakan." Alessa berucap lembut.
"Aku tidak bisa menghabiskan waktuku hanya untuk sekedar makan saja, Alessa. Jadi sekarang katakan, apa yang ingin kau sampaikan? Saya yakin itu sangat penting, sampai kau melakukan panggilan berulang kali. Bukankah begitu?" Ucap Monika datar. Sorot matanya seakan mengunci Alessa. Posisi mereka masih berdiri.
Alessa tersenyum sambil mendesah, "Maaf, jika membuatmu merasa tidak nyaman, Monika. Tapi, kita baru bertemu. Setidaknya untuk makan saja, bagiku itu tidak memakan waktu. Anggap saja ini perayaan kecil untuk pertemuan kita."
"Dasar tak berubah, selalu pemaksa." Monika lagi-lagi menarik napas singkat dan tak menjawab.
"Monika, ini adalah pertemuan pertama kita setelah sekian lama. Apa kamu tidak merindukanku?"
"Cih...apa dia pikir aku suka dengan pertemuan ini? Apa? merindukan?" Monika berdecak malas.
"Dan kau tidak pernah membalas pesanku."
"Itu tidak penting Alessa, sekarang apa yang ingin kamu bicarakan?"
Alessa mendesah lewat mulut yang terbuka. "Ini masalah anak yang pernah kau ceritakan."
"Masalah itu jangan dibahas lagi. Aku tidak mau mengingat kejadian itu. Semuanya sudah berlalu." Monika mulai kesal.
"Tapi aku ingin tahu Monika. Bisakah kau menceritakannya? Siapa anak yang kamu maksud itu? apakah anak itu ada hubungannya dengan keluarga Charlett?" tanya Alessa menatap Alessa dengan penuh harap.
Monika memutar bola matanya. "Kau datang hanya untuk menanyakan itu, aku masih tak percaya,"
"Monika..." Alessa mengambil tangan Monika, namun dengan cepat Monika menepisnya.
"Tak ingat? Saat itu kau menangis dan meminta bantuan daddy."
Monika mengembuskan napas kesal. "Semua itu tidak ada hubungannya denganmu, kamu kenapa sih?"
"Aku hanya penasaran Monika. Semua itu kulakukan karena aku peduli."
"Kau tak perlu melakukan itu. Aku juga tak butuh perhatianmu."
"Kenapa kau seperti ini Monika? kau tidak seperti Monika yang aku kenal."
Monika menunduk sejenak. Lalu menatap Alessa kembali. "Sudahlah, aku masih ada pekerjaan lain. Jangan menggangguku lagi."
"Apa?" Alessa sangat terkejut. "Ada apa denganmu Monika?"
"Kau ingin tahu kenapa? Karena aku muak dengan sikapmu."
"Apa???"
Monika menghembuskannya napas panjang. Lalu menatap Alessa kembali. "Karena aku tidak suka. Bukan...bukan...lebih tepatnya, aku tak ingin bertemu denganmu."
DEG
Jantung Alessa langsung memicu dan berdebar begitu kencang. Napasnya tertahan. Ia bahkan tidak bisa berkata. Kenapa Monika tak ingin bertemu dengannya.
Sementara Monika diam tanpa ekspresi.Ia tersenyum sinis saat melihat ekspresi Alessa yang terdiam seperti orang bodoh.
__ADS_1
"Kau terlalu serakah."
Tidak ada jawaban. Alessa diam sesaat dengan kepala menunduk. Ia menarik napas dan kembali menatap Monika. "Apa maksudmu Monika?"
"Sudahlah, jangan pura-pura tidak tahu. Kau wanita serakah yang sangat menginginkan jabatan direktur, bukan?"
Alessa tidak terima saat mendengar ucapan Monika. Ia tampak kesal, ia memejamkan matanya sekilas lalu menatap Monika dengan sorot mata tajam. "Kau pikir aku menginginkan itu?"
Monika tersenyum kecut sambil berdecak. Ia mulai jengah dengan sikap Alessa. "Aku sudah tahu semuanya dari mommy. Aku tidak akan diam, jika kau berada di posisi itu."
"Terserah kau menilaiku seperti apa, yang jelas aku tidak pernah menginginkan jabatan itu.
"Jangan bohong, aku tahu betul seperti apa kau."
"Jika kamu menginginkan jabatan itu. Ambil saja, aku tidak pernah gila dengan kekuasaan."
Kalimat itu ia rasa menggelikan hatinya. Spontan Monika tertawa. Lalu sepersekian detik sorot matanya berubah tajam, senyumnya berubah sinis. Alisnya menukik tajam. "Kau pikir aku akan mempercayai semua itu?" Sepersekian detik ia tertawa hambar sambil menatap Alessa lagi. Sungguh senyum Monika terlihat sangat aneh dan menyeramkan. Lengkungan sudut bibirnya menajam di ujung bibirnya.
"Aku tidak akan percaya Alessa, selagi kau tidak mengatakan langsung di depan semua orang."
"Terserah kau mau percaya apa tidak. Tapi yang jelas aku kecewa dengan sikapmu seperti ini. Awalnya aku sangat senang kau bekerja di kota yang sama denganku. Tapi kini aku salah. Aku salah menilaimu!" Ucap Alessa menahan diri untuk tidak emosi. Tangannya mengepal kuat. Setelah mengatakan itu, Alessa segera meninggalkan Monika dengan perasaan campur aduk.
⭐⭐⭐⭐⭐
Monika tiba di kediaman Belen. Butuh waktu satu jam ia ke sana. Ia menginjak rem lalu menarik rem tangan mobilnya. Dengan cepat ia mematikan mesinnya dan turun membawa rasa kesal. Monika menggeram dalam hati. Terus berjalan membawa amarah yang bergejolak di setiap langkah kakinya.
"Selamat malam nona, Monika." Sapa seorang security yang berjaga untuk memasukkan mobil Monika ke garasi.
Monika tetap diam dengan aura gelap yang terpancar di wajahnya. Ia melempar kunci mobil itu tanpa sepatah kata.
Monika terus meyakinkan dirinya bahwa ia tidak akan mudah terjebak dengan tipuan wajah Alessa.
"Dia memang bermulut manis. Cih.. Kau pikir aku akan percaya.. Dasar brengsek. Arrggggghhh!!!" Monika terus menggeram. Amarah di wajahnya benar-benar berkobar-kobar. Ingin segera diluapkan.
Mendapat alarm dari pos security, seorang wanita paruh baya melangkah untuk membukakan pintu. Dengan dilingkupi emosi, Monika masuk ke ruangan keluarga.
"Selamat malam nona Monika?" Sapa Wanita itu menunduk dengan senyuman ramah. "Apa saya perlu buatkan susu hangat?" Tanyanya sekilas menatap jam dinding model ukiran yang menunjukkan pukul delapan malam.
Monika tidak melirik sedikit pun, apalagi menjawab. Ia hanya terus berjalan dan memandang ke depan. Melewati wanita paruh baya itu begitu saja tanpa balas menyapa.
"Heuh?" Wanita itu menatap bingung, pandangan beserta badannya berbalik mengikuti Monika. Walau sesungguhnya ia tahu sifat dari nona Monika yang terkadang tidak begitu bersahabat. Namun untuk menyapa, nona Monika akan tetap melakukannya. Wanita itu hanya bisa menatap punggung Monika yang melangkah menaiki anak tangga.
Monika terus berjalan menaiki tangga. Langkahnya tergesa-gesa. Di saat yang sama juga, ia berpapasan dengan sarah yang kebetulan keluar dari kamar untuk membuatkan teh jahe yang biasa ia buatkan sebelum tidur.
"Sayang? Kau pulang?" panggil sarah tersenyum menyapa.
Hening, Monika tak menjawab. Tak juga berekspresi apa-apa. Tak tersenyum, tak merespon. Hanya diam dan tak kunjung memandang mommy-nya sama sekali. Sarah menarik kembali senyumnya. Wajahnya berkerut penuh tanya.
"Apa yang terjadi?" Gumamnya menatap punggung putrinya itu.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku 😍
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^