
💌 HUJAN DAN KAMU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Waktu bergulir begitu lambat untuk hati yang sedih. Masalah masih benar-benar menggerogoti pikirannya. Menekan batin begitu dalam. Lingkar hitam di sekitar mata Alessa bahkan terlihat jelas. Berat badannya bahkan ikut turun. Perlahan-lahan masalah pernikahannya pun bisa diatasi dengan baik. Itu berkat bantuan sang ayah yang tak putus memberikan semangat kepadanya. Alessa pun bisa tersenyum dan bangkit kembali.
Sementara Jordan tiba-tiba menghilang, saat awak media meminta klarifikasi dari pihak keluarga Mark. Mereka menghilang bak ditelan bumi. Alessa juga tidak pernah berharap memendamnya. Namun, selalu itulah yang terjadi, berulang kali merasa pasrah dan tidak bisa berlari menghindar. Tak ingin terpuruk dalam kesedihan, Alessa pun memilih masuk kerja. Ya, bekerja bisa membantunya untuk melupakan.
Pagi-pagi sekali Alessa sudah siap dengan penampilan terbaiknya. Ia menyisir rambutnya dengan rapi. Menjepit setengah rambutnya bagian atas kebelakang dengan jepitan mengkilap warna gold. Terlihat manis dan juga elegan. Alessa berpenampilan rapi, segar dan cantik. Hari ini Ia siap memulai awal baru sebagai pemacu semangat. Dan kegagalannya itu menjadi bahan perenungan dalam perjalanan hidupnya.
Mobil berwarna silver milik Alessa berhenti di depan gedung rumah sakit mitra keluarga. Alessa menarik napas dalam-dalam. Ia menjepit bibirnya lalu mengatur singkat rambutnya. Merapikan lipatan blus, tangannya terangkat untuk mengencangkan pita blouse yang menggantung di area leher bajunya. Ia melakukan ritual yang biasa ia lakukan dengan cara menarik napasnya dalam-dalam lalu mengembuskannya bersamaan. Cara ampuh untuk menenangkan hatinya. Alessa turun dan berjalan memasuki lobby rumah sakit dengan langkah tegap ciri khasnya.
Bunyi sepatu heels milik Alessa bergema di sepanjang koridor yang di lewatinya. Seakan menambah tempo irama detak jantungnya. Entah mengapa ia begitu nervous sejak keluar dari rumah. Lirikan berpasang-pasang mata melihat ke arahnya. Membuat Alessa mengernyit bingung. Sesaat ia terdiam dan melihat ke dirinya.
"Apa ada yang salah dengan penampilanku?" Batin Alessa melihat dirinya sendiri dari atas sampai ke bawah.
Mereka tampak berkumpul mengadakan rapat khusus sambil berbisik-bisik. Ekspresi mereka tampak serius. Tentunya saling mengeluarkan pendapat. Alessa menyadari sesuatu. Ia pun bisa mengerti itu. Ini mungkin karena pembatalan pernikahannya.
Alessa tersenyum sambil menaikkan alisnya setengah lalu mengangkat kedua bahunya dan terus berjalan tanpa memperdulikan tatapan mata ke arahnya. Alessa hanya terus melangkah menuju ruangannya.
Tuk...tuk...tuk...
Tuk...tuk...
Tuk...
Alessa memelankan langkah kakinya saat mendekati ruangannya. Tidak ada Samantha. Kemana Samantha?
Alessa masuk ke dalam ruangannya. Ia duduk sambil menghembuskan napasnya. Tak beberapa lama terdengar suara ketukan pintu dari arah luar ruangannya.
TOK...TOK...TOK....!
Ceklek!
Samantha terlihat mengintip di ujung pintu. "Permisi Dokter,"
"Silakan masuk, Samantha." Sahut Alessa dan tetap fokus menatap jadwal pemeriksaannya hari ini. Tidak ada nama Elana di sana. Sesaat ia mengernyit sambil membolak-balikkan kertas. Jadwal operasi Elana juga tidak ada di sana.
"Apa kabar dokter Alessa?" Tanya Samantha tersenyum ramah. Dia tahu apa yang terjadi pada Alessa. Walau tiap malam ia sering menghubungi dan menanyakan kabar Alessa. Tapi melihat badannya kurus. Dia tahu Alessa tidak baik-baik saja. Alessa butuh waktu untuk memulihkan Hatinya.
__ADS_1
Alessa tersenyum. "Baik. Seperti yang kamu lihat. Walau saat aku turun dari mobil, semua mata melihatku. Aku seperti seorang penjahat." Kata Alessa kembali sibuk memeriksa dokumen pasien yang ada di tangannya. Namun, hasilnya sama, tidak ada nama pasien Elana di sana.
"Dokter...." panggil Samantha pelan, hampir tak terdengar. Wajahnya nampak getir, ia meremas tangannya dan belum siap untuk mengatakannya.
Alessa mendongakkan kepalanya dan ingin menanyakan langsung kepada Samantha . Namun menangkap ekspresi asistennya itu. Ia langsung melepaskan berkas yang dipegangnya, lalu melipat tangannya di atas meja.
"Ada apa Samantha? Kenapa jadwal pemeriksaan Elana tidak ada di sini?" tanya Alessa menatap Samantha dengan serius.
Samantha nampak gugup sambil mencengkram tangannya. Ia menggigit bibir bawahnya. Memandang Alessa sekilas, lalu melarikan lagi pandangannya lagi.
"Ada apa Samantha? Apa Elana sudah diizinkan pulang? Bukankah Elana masih dalam pengobatan?" tanya Alessa mengulang pertanyaan yang sama.
Samantha menarik napas sambil memejamkan matanya. "Bagaimana aku harus mengatakan ini?" Ucapnya dengan ekspresi bingung dan resah.
Alessa mengernyitkan dahi. "Ada apa Samantha, katakanlah...apa sesuatu terjadi dengan Elana?" Alessa mulai tak sabaran.
Samantha meringis semakin tak sanggup untuk mengatakannya. "Sebenarnya.... Sebenarnya... Elana....? Ahhhhh....." Samantha m*ndesah lesu sambil membuang wajahnya. Rasanya tak sanggup untuk mengatakannya.
Alessa semakin mengerutkan keningnya, ia bangun dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah Samantha. "Apa yang terjadi? Apa yang kau sembunyikan dariku?"
Samantha mengusap wajahnya dengan kasar. Ia menatap gugup kepada Alessa. "Sebenarnya, Elana sudah dipindahkan ke rumah sakit lain."
"Heuh? Elana dipindahkan? Kenapa?"
Samantha kembali menarik napas gugup. "Karena tuan Horald tidak ingin Elana di rawat di rumah sakit Mitra."
Samantha tersenyum getir, kemudian melanjutkan penjelasannya. "Tuan Horald tidak ingin anda merawat Elana."
"Apa? Tuan Horald mengatakan itu?" Alessa mengerjap kaget saat Samantha mengatakan itu.
"Benar dok. Mereka juga menarik semua saham dari rumah sakit ini. Perusahaan Horald company tidak ingin kerjasama dengan rumah sakit kita dok." Kata Samantha dengan wajah mengerut takut.
Deg!
Jantung Alessa terpukul kencang. "Tuan Horald melakukan itu?" Tanya Alessa dengan wajah menegang. Berharap apa yang di dengarnya adalah salah.
"Ya dok. Sampai sekarang rumah sakit tidak tahu alasannya."
Alessa membuang napas sambil menutup matanya. Ada rasa kecewa menggerogoti hatinya. Tapi ia berusaha menerima sesuatu yang menyakitkan ini.
"Kenapa mereka tiba-tiba memutuskan hubungan kerjasama ini dok. Bahkan Elana yang masih tahap pengobatan. Mereka memindahkan Elana pada malam itu juga. Sampai direktur rumah sakit kita tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan, semua dokter sudah minta maaf jika Elana tidak mendapatkan pelayanan yang baik dan berjanji untuk memberikan pelayanan terbaik. Tapi tuan Horald tak menggubrisnya. Karena kejadian ini, pak direktur meminta ada menemuinya sekarang. Aku semakin bingung. Apa masalah ini ada hubungannya denganmu Dokter Alessa?"
Alessa menarik napas panjang dan menelan salivanya dengan susah. Ia berusaha bersikap tenang di depan asistennya itu. walau sesungguhnya hatinya begitu sakit. Kenapa tiba-tiba Levin melakukan itu.
Alessa menutup mata dan menahan napas sejenak. "Tidak apa-apa Samantha, aku akan mengurus semua ini. Kau bisa melanjutkan pekerjaanmu."
__ADS_1
"Heuh? Ma-maksudnya dok?"
Alessa tersenyum saat melihat ekspresi terkejut Samantha. "Aku sudah bilang tidak apa-apa. Aku bisa mengurus masalah ini. Kita sudah pernah menghadapi masalah jauh lebih berat saat dirumah sakit Charlett. Aku yakin setiap masalah pasti ada jalan penyelesaiannya."
Samantha m*ndesah panjang dan mengangguk lemah. "Baik dok. Tadi aku sempat takut, dokter terkejut saat mengetahui ini. Tapi dugaanku salah. Dokter Alessa terlihat lebih tenang menghadapinya."
Alessa tersenyum lagi. "Aku pasti bisa mengatasinya. Apalagi ada kamu yang selalu memberikan semangat untukku. Kau sahabat terbaik yang aku miliki."
Alessa tersenyum lebar, Ia pun mengangguk dengan semangat. "Kalau begitu saya permisi dulu ibu dokter." ucapnya membungkukkan badannya untuk memberi hormat. Alessa lalu pergi melanjutkan tugasnya.
Alessa tersenyum dan hanya bisa mengikuti Samantha. "Samantha," Panggil Alessa sebelum asistennya itu keluar dari ruangannya.
"Ya, dok." Samantha dengan cepat membalikkan badannya.
"Sore ini untuk mengisi kekosongan jadwal operasiku. Kita bisa gantikan dengan menerima jadwal praktek untuk sore ini. Pendaftaran pasien jangan dibatasi. Aku ingin bekerja sampai malam. Dan kau bisa membawa berkas yang sudah selesai kamu kerjakan, agar aku bisa memeriksanya kembali."
"Ah..Baik, dok. Ada lagi yang bisa saya bantu, dokter Alessa?" tanya Samantha dengan sopan.
"Tidak ada, sudah ok, ingatkan saya lagi jadwal pemeriksaan sore ini, ya?" pinta Alessa dengan senyuman.
"Baik dok." Ucap Samantha sedikit membungkukkan badannya. Sebelum Samantha menutup pintu, ia mengintip dibalik pintu dan berkata. "Jangan lupa dok, anda diminta menemui direktur rumah sakit setengah jam lagi."
Alessa tersenyum sambil menganggukkan kepala.
CEKLEK!
Alessa menutup pintu ruangannya dan bersandar di daun pintu. Ia berusaha bernapas sambil memegang dadanya. Tatapan dan wajahnya berpindah dan ia terus menggeleng. Ia masih belum percaya dengan apa yang terjadi.
"Apa yang terjadi? Kenapa Levin tiba-tiba memindahkan Elana dan dia tidak ingin aku merawatnya?"
Alessa menarik napasnya dalam-dalam. Mencoba menahan perasaan yang sulit ia jelaskan.
"Levin bahkan menarik semua sahamnya dan tidak ingin bekerjasama dengan rumah sakit mitra?"
Alessa menghembuskan napas sejenak dengan tatapan kosong.
"Heeeeh." Alessa m*ndesah dan menggeleng, berusaha menepis prasangka buruk. Ia yakin Levin ada alasan melakukan itu. Wajah Alessa berubah sedih lagi. Ia tidak bisa melihat Elana.
"Apa kabar kamu Elana sayang?"
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku 😍
__ADS_1
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^