Hujan Dan Kamu

Hujan Dan Kamu
TIDAK BISA MENGUNJUNGI


__ADS_3

💌 HUJAN DAN KAMU 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


.


Samantha nampak mondar-mandir menunggu dokter Alessa di tempat parkiran rumah sakit St. Carolus. Akhirnya yang ditunggu-tunggu pun datang juga.


"Kenapa lama sekali Dokter Alessa?"


Alessa keluar dan menutup pintu mobilnya. "Jangan memanggilku Dokter di tempat keramaian seperti ini."


"Ah..maaf Dok... maksudku Alessa. Tapi kamu kan emang dokter." Kata Samantha menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Tapi tidak di situasi seperti ini, tidak tepat sekali kau memanggilku dokter di sini."


"Baiklah kalau begitu." Kata Samantha sambil mengangkat kedua bahunya. "Ngomong-ngomong kenapa kamu terlambat? Apa jalanan macet?"


"Ada kecelakaan di jalan."


"Ha?" Samantha terkejut sambil memutar tubuh Alessa "Kamu kecelakaan? Apa kamu terluka?" Samantha nampak khawatir, ia pun memeriksa tubuh Alessa untuk memeriksa lukanya.


"Aku tidak apa-apa. Hanya mobilku...?" Alessa menunjuk dengan dagu ke arah mobilnya yang rusak.


Samantha melempar tatapannya ke arah mobil yang memang kondisinya sudah rusak itu. "Kok bisa?"


Alessa mengembuskan napasnya. "Aku tak ingin membahasnya." Katanya sambil memijit pelipisnya.


"Oke. Sekarang bagaimana, apa kita langsung masuk atau kita cari buah tangan dulu? Tidak mungkin kita masuk tanpa membawa apa-apa." ucap Samantha memberikan usul.


"Fiuhhhhhh.." Alessa menghembuskan napas gugup. "Dari mana kamu tahu Elana di rawat di sini?"


"Dari temanku yang kebetulan dirawat di sini. Ternyata kejadian pemindahan Elana menghebohkan seluruh rumah sakit yang ada di kota ini. Wartawan juga ikut mengabadikan kejadian itu."


Alessa tertegun sejenak, kemudian ia tersenyum menatap Samantha. "Baiklah. Kita ke supermarket dulu."


"Oke..Kebetulan di seberang ada supermarket, kita bisa jalan."


Alessa mengangguk tersenyum, mereka melangkah meninggalkan rumah sakit dan menyebrang menuju supermarket yang ada di pinggir jalan.


⭐⭐⭐⭐⭐


Di supermarket dekat rumah sakit.


"Samantha, apa kau belum selesai juga memilih buahnya?" Ucap Alessa dengan gelisah. Sudah belasan menit Samantha berdiri di counter buah dan berpikir sambil menggaruk pelipisnya.


"Aku bingung Dokter Alessa, buah apa yang harus aku bawa. Apakah aku harus memilih apel hijau atau apel merah?" Kata Samantha sambil mengambil lalu menimang-nimang buah yang ada di tangannya.


"Astaga... Samantha, yang aku tahu anak kecil tak suka apel hijau. Kau pilih apel merah saja."


"Ini bukan untuk Elana, tapi untuk temanku."


"Apa?"


Samantha tersenyum sambil menunjukkan deretan giginya. "Aku memilih buah ini untuk temanku yang kebetulan dirawat di rumah sakit yang sama. Jadi ini bukan untuk Elana."


"Kenapa kau tidak bilang dari tadi."


"Maaf, dokter Alessa."


Alessa menggelengkan kepalanya dan segera memilih buah untuk dibawanya ke rumah sakit.

__ADS_1


"Dok, bagusan yang mana, melon kuning atau melon hijau?" Tanya Samantha lagi.


"Terserah kamu mau pilih yang mana. Yang jelas, semua buah itu bagus untuk kesehatan."


"Tidak bisa Dokter Alessa. Saya tidak boleh salah pilih, takut buah ini tak dimakan dan ujung-ujungnya terbuang."


Alessa lagi-lagi menggelengkan kepalanya melihat sikap Samantha. "Oke, pilih melon kuning saja." Ucap Alessa akhirnya.


"Kau yakin?" Tanya Samantha ragu.


"Yakin, seyakin-yakinnya. Kalau melon hijau itu lebih nikmat jika dibuat jus karena kandungan airnya lebih banyak. Sedangkan, buah melon kuning selain dimakan langsung dan kandungan airnya yang sedikit. Jadi pilih melon kuning saja karena untuk dimakan di rumah sakit."


Samantha menggembungkan pipinya. "Benarkah aku harus membawa melon kuning?"


Alessa memutar bola matanya, mendesah sambil melipat tangan di depan dada. Ia memperhatikan Samantha yang masih bingung di sana. "Kau masih bingung?"


Samantha masih diam.


"Kalau tidak ambil semuanya. Aku yang bayar."


"Sungguh!? Ah.... terima kasih dokter Alessa. Seharusnya kamu bilang dari tadi. Jadi saya tidak akan lama."


Alessa hanya mengembuskan napas panjang sambil menggelengkan kepalanya. Ia memperhatikan Samantha memasukkan potongan buah melon ke dalam keranjang. Setelah itu, Samantha masih terdiam.


"Tunggu apalagi? Ayo Samantha."


"Tunggu sebentar, dokter Alessa. Aku ganti buah apel ini dulu. Warnanya sudah tak segar."


Alessa berusaha bersabar menghadapi sikap Samantha. Samantha tak pernah berubah. Ia selalu seperti ini. Butuh waktu berjam-jam ia di sini untuk memilih kualitas buah yang menurutnya benar-benar baik. Tak tahan lagi, akhirnya Alessa mengutarakan isi hatinya.


"Samantha?"


"Iya, Dokter Alessa?"


"Kamu tahu satu hal?" Alessa tersenyum palsu penuh kepedihan.


"Apa itu Dokter Alessa? Tapi maaf senyumanmu terlihat menakutkan."


Samantha memperlihatkan giginya dan merasa menjadi sahabat yang paling berdosa. "Hehehehe ...maaf Dokter Alessa, aku memang seperti ini. Saya hanya ingin memilih buah yang terbaik dan bisa tahan lama."


"Jadi pilih buahnya sudah selesai?"


Samantha mengangguk. Alessa segera mengambil buah yang ada di tangan Samantha. "Sekarang aku bayar ya." Ucapnya sambil mendorong keranjang belanja itu. Ia berjalan terus sambil mendorong.


"Ayo, Samantha...apa kau mau tinggal di sini?" Ucap Alessa tanpa memalingkan wajah melihat ke arah Samantha. Ia hanya terus berjalan ke depan.


"Eh!" Samantha mengerjap dan memutar tubuhnya. "Dokter Alessa! Tunggu!"


Alessa hanya menggelengkan kepala saat Samantha berteriak dan menyebut nama Dokter lagi.


⭐⭐⭐⭐⭐


Samantha dan Alessa berpisah di lobby rumah sakit. Samantha membesuk temannya, sementara Alessa membesuk Elana. Ia pun tiba di koridor kamar rawat inap eksklusif dan berkelas VIP itu. Alessa mengerutkan dahi saat melihat ada dua orang berjaga di depan pintu kamar rawat inap Elana. Langkah kakinya seiring dengan bunyi detakan jantungnya yang ikut memukul cepat. Ujung-ujung tangannya terasa dingin. Padahal ia sudah bersiap untuk menyiapkan hati untuk bertemu dengan Elana yang dirindukannya itu. Namun entah mengapa rasanya mendebarkan. Apakah karena ia berharap ingin bertemu dengan Levin, ia juga tidak tahu.


Alessa menarik napas dalam-dalam. Lalu mengembuskannya lewat mulut untuk menghilangkan rasa gugupnya. Meski demikian debaran di dada bukannya bertambah pelan. Namun, bertambah kencang. Ia berhenti tepat di depan lelaki bertubuh tegap lengkap berpakaian jas itu.


"Apa benar ini kamar rawat inap Elana?" Tanya Alessa sedikit ragu sambil memicingkan matanya.


"Benar nona, saya bodyguard yang ditugaskan berjaga di depan kamar Elana."


Alessa menarik napas pelan, lalu berkata. "Bisa saya bertemu dengan Elana?"


"Sebelumnya terima kasih atas kunjungan anda. Tapi nona kecil sedang beristirahat. Anda tidak bisa mengunjunginya saat ini." Jawabnya sopan sambil menunduk.


"Heuh? Tidak bisa di kunjungi?" Tanya Alessa dengan alis terangkat.


"Benar nona. Saat ini nona kecil dalam perawatan yang intesive. Untuk sekarang, tidak diizinkan untuk menjenguk. Kecuali, keluarga terdekat."

__ADS_1


"Tapi saya dokter yang menangani Elana di rumah sakit Mitra sebelum di rujuk ke rumah sakit ini. Mungkin jika anda mengatakan nama saya, mereka akan mengizinkan saya masuk."


"Maaf, ini adalah perintah dari keluarga Horald. Saya tidak bisa berbuat apa-apa."


"Anda belum masuk dan mengatakan saya ingin bertemu dengan Elana. Bagaimana anda bisa yakin keluarga Horald tidak menerima saya."


"Tuan Horald juga sudah berpesan tidak mau menerima tamu jika itu dari dokter mitra." Ucap pria begitu tegas.


Deg!


Jantung Alessa seketika terpukul kencang saat mendengar pengakuan pria itu. Ada rasa sakit yang tak bisa ia jelaskan.


"Mohon maaf nona. Sebelum saya bertindak lebih jauh. Lebih baik anda meninggalkan tempat ini."


Sementara asisten Levin melangkah keluar setelah pintu lift terbuka. Ia diperintahkan tuannya mengantarkan makanan kesukaan Elana. Langkah-langkahnya terdengar nyaring dari sepatu pantofel yang digunakannya.


TAP TAP TAP


TAP TAP


TAP


Desmond mengernyit menyadari sesuatu. Langkahnya mulai pelan dan tiba-tiba berhenti. Ia memastikan kembali penglihatannya. Ternyata dugaannya benar, wanita itu adalah Alessa. Desmond berdiri sambil menyandarkan salah satu bahunya dengan kedua tangan bersedekap. Memperhatikan Alessa yang terus berusaha meyakinkan dua pria yang sedang berjaga di depan kamar rawat inap Elana.


"Tolong bantu saya ..." Tiba-tiba kalimat Alessa menggantung saat mendengar suara bariton dari seorang lelaki tepat dibelakangnya. Alessa diam membeku di tempatnya.


"Apa kurang jelas? Agar anda tidak menerima tamu dari siapapun. Apalagi itu dari rumah sakit Mitra."


Deg!


Alessa segera membalikkan tubuhnya dan melihat Desmond berdiri tidak jauh darinya.


Dua pria itu dengan cepat menundukkan kepalanya. "Ma-maafkan saya pak, saya sudah mengatakan hal itu. Tapi dia sepertinya ingin bertemu dengan dengan nona kecil." ucap salah satu pria itu dengan gugup.


"Bukankah semua sudah jelas, bahwa pemindahan Elana dari rumah sakit Mitra karena keterlibatan anda dalam kecelakaan Elana."


DEG!


Jantung Alessa lagi-lagi terpukul kencang saat mendengar kata-kata itu. Ia menatap ke arah lelaki yang berdiri didepannya itu. Tatapan Desmond begitu dingin menembus jantungnya.


"Lebih baik anda meninggalkan tempat ini, sebelum keluarga Horald tahu kedatangan anda."


Alessa meremas tangannya karena begitu gugup, ia melangkah pelan mendekat ke arah Desmond. "Maafkan saya sebelumnya. Tapi saya datang ke sini ingin bertemu Elana. Saya ingin melihat keadaannya. Tolong bantu saya pak Desmond."


Desmond tak menjawab, ia hanya memasukkan tangannya ke dalam kantong celananya tanpa mengubah ekspresi wajahnya.


"Untuk kali ini saja, bisakah anda pertemukan saya dengan Elana? Tidak....tidak... sebenarnya tujuan saya ke sini ingin bertemu dengan Levin juga."


"Levin?" Alis Desmond menukik tajam.


"Hmmm, Levin Horald. Jadi, tolong pertemukan saya dengan beliau." Kata Alessa memelas sendu.


"Apa anda yakin ingin bertemu dengan beliau?"


"Saya yakin, tolong bantu saya..." ucap Alessa dengan tatapan memohon.


"Saya tidak bisa membantu anda."


Deg!


BERSAMBUNG.....


^_^


Terima kasih atas dukungannya 🤗 Mohon maaf karena tidak update beberapa ini. Karena author sibuk merayakan natal.😁


Jadi saya di sini mengucapkan Merry Christmas buat my readers yang merayakannya 🥳🥳🥳🥳

__ADS_1


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^


__ADS_2