Hujan Dan Kamu

Hujan Dan Kamu
RAPAT DADAKAN


__ADS_3

💌 HUJAN DAN KAMU 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Samantha Adalah seorang perawat yang dipekerjakan Alessa di rumah sakit Charlett. Hingga ia bekerja di rumah sakit Mitra, Samantha ikut bersamanya atas kemauan sendiri. Selain itu mereka memang benar-benar cocok dan sepemikiran. Samantha selalu mengerti apa yang diinginkan Alessa. Jadi pekerjaan Alessa benar-benar terbantu semenjak ada Samantha.


Mereka menjalin persahabatan sejak Alessa menemukan Samantha yang tengah menangis meraung dengan keadaan kacau di atas roof top. Samantha menangis karena tidak bisa membayar biaya pengobatan ibunya yang tengah sakit parah. Alessa membantu dengan membayar biaya pengobatan ibunya itu. Sejak itulah, Samantha mengorbankan dirinya bekerja dengan Alessa. Setidaknya untuk membalas kebaikan Alessa.


Alessa dan Samantha saat ini tengah duduk di kantin, sembari menunggu kedatangan tuan Horald melakukan pemeriksaan kesehatan.


"Kau tidak akan menyangka apa yang aku alami tadi malam, dok!" Samantha membuka pembicaraan.


Alessa memalingkan wajahnya menatap ke arah Samantha. "Tidak menyangka apanya, Mantha?"


"Ayah tiriku....?" Belum sempat Samantha melanjutkan kalimatnya. Handphone Alessa berdering.


Panggilan dari dokter James. "Tunggu sebentar ya," Ucap Alessa dengan gestur bicara tapi tidak mengeluarkan suara. Samantha tersenyum sambil mengangguk.


Alessa pun menggeser tanda terima sebelum panggilan itu mati.


"Halo dokter James? Ada yang bisa saya bantu?" ucap Alessa dengan sopan.


"Kamu dimana? Aku tidak melihatmu di ruangan UGD!"


"Maaf dok, saya lagi di kantin."


"Kau tidak membaca pesan di grup?"


"Pesan di grup dok?"


"Ya, sekarang kamu baca dan langsung ke sini."


"Bai-"


Tut! sambungan terputus. Dokter James mematikan handphonenya sebelum Alessa selesai menjawabnya.


Alessa segera membuka pesan grup di handphonenya. Mata Alessa seketika membelalak kaget.


"Apa ada apa, dok?" Tanya Samantha saat melihat perubahan wajah Alessa.


Namun Alessa tak menjawab. Ia terlalu fokus membaca isi pesan grup itu.


"Kenapa sih dok?" Lagi kejar Samantha saat melihat ekspresi Alessa yang berubah panik.


Glek glek glek Alessa segera meneguk kopi yang dipegangnya sampai habis. Ia masih tak melepaskan matanya membaca pesan dari grup itu.


"Pelan-pelan dok! Anda bisa tersedak kopi." cegat Samantha. "Kenapa dokter James tiba-tiba mengubungi anda dok?" Tanya Samantha lagi.


Alessa mengusap mulutnya. "Rapat dadakan yang dipimpin langsung oleh pemilik saham terbanyak di rumah sakit ini."


Samantha menatap bingung. "Maksud anda tuan Horald? bukankah beliau hanya membuat jadwal pemeriksaan saja dok? Kenapa jadi rapat?"


"Saya juga tidak tahu."


"Terus bagaimana dok?"

__ADS_1


Alessa meremas singkat tangan Samantha. "Aku harus ke ruang rapat sebelum terlambat." Ucapnya segera berlari keluar dari kantin lantai bawah.


Samantha berteriak ke arah Alessa. "Hati-hati dok!"


Samantha tidak menjawab, Alessa sudah menghilang di belokan pintu. Samantha hanya tersenyum tipis sambil menggeleng.


Sementara itu, Alessa dengan gerakan cepat dan gesit berlari menuju lift.


Tap...tap...tap...!


Langkahnya sampai bergema di dalam loby rumah sakit. Rambut dan jasnya sampai melambai ke belakang.


"Oh..tidak, aku terlambat lima belas menit. Kenapa mendadak seperti ini sih?"


Hatinya diliputi rasa panik dan resah. Ia membuang napas panjang untuk menenangkan dirinya. Apalagi dia ingat pesan dari pak James. Khusunya dokter baru, jangan sampai terlambat. Jangan sampai membuat malu rumah sakit. Alessa semakin frustasi. Mana ruang rapat ada di lantai 15 lagi. Alessa mengembuskan napas berulang kali.


LIFT KHUSUS UNTUK DIREKTUR RUMAH SAKIT.


Alessa membaca tulisan itu. Namun Ia tidak perduli, tujuannya saat ini agar cepat sampai ke lantai 15.


"Kenapa lama sekali, cepatlah... cepatlah!" Geram Alessa menatap ke atas.


Lift belum terbuka, ia menepuk kakinya gelisah.


"Kenapa juga ada rapat dadakan seperti ini?" geram Alessa, sambil sesekali ia melirik jam yang ada di tangannya.


"Apa liftnya rusak, tapi tidak ada peringatan tertulis di sini," Ucap Alessa nampak gusar. Wajahnya mengerut frustasi. Ia semakin gelisah dan menghembuskan napasnya dengan kasar sampai anak rambutnya tertiup ke atas.


"Maaf dok, lift ini sedang perbaikan." ucap salah satu pria yang sedang bersih-bersih di sana."


"Heuh, perbaikan pak?"


"Baik pak, terima kasih." ucap Alessa sedikit membungkukkan badannya.


Alessa melangkah lagi untuk menemui lelaki itu. "Tunggu pak!"


Pria paruh baya itu segera membalikkan badannya. "Anda memanggil saya, dok?"


"Ya pak. Kalau bisa saya tahu, tangga darurat dimana ya?" tanya Alessa.


"Sebelah kanan paling ujung." jawab pria itu dengan sopan.


"Terima kasih pak." Ucap Alessa tersenyum. Lalu kemudian melangkah meninggalkan Lelaki itu.


Alessa langsung berlari ke tangga darurat. Napasnya naik turun karena tak sanggup menaiki tangga lagi. Langkahnya semakin lambat. Ia menunduk mengatur napasnya yang tersengal. Huftt....!!! Hingga akhirnya Alessa tiba di lantai 15.


"Bagaimana ini jika aku benar-benar terlambat." Kata Alessa dengan nada cemas sambil terus melangkah menuju ruang rapat. Dia mengatur napas dan berusaha menenangkan diri agar tidak panik.


Alessa melangkah masuk ke dalam ruang rapat. Kali ini ia benar-benar beruntung. Ternyata rapat belum dimulai. Pemegang saham ternyata belum datang. Alessa langsung bergabung dengan dokter ahli bedah lainnya. Di sana ada Jordan juga yang tampak berbicara dengan dokter James.


Alessa tampak kesal karena Jordan sama sekali tak melihatnya. Ditambah lagi saat Jordan mengikuti seminar, Ia sama sekali tak menghubunginya. Jordan hanya mengirimkan pesan dan mengatakan ia baik-baik saja. Tentu saja membuat Alessa marah. Tangannya mengepal kuat, rasa sakit itu kembali lagi. Tujuannya pindah ke kota ini, agar lebih dekat dengan Jordan, namun nyatanya tak seperti itu. Rasanya ingin menangis, namun Alessa menahannya.


⭐⭐⭐⭐⭐


Desmond berdiri di depan rumah sakit dengan beberapa dokter yang lainnya. Mereka menunggu kedatangan Levin Horald. Jadwal yang awalnya hanya melakukan pemeriksaan kesehatan berubah menjadi rapat dadakan. Tentu saja dokter-dokter lainnya kebingungan. Kenapa rapat ini benar-benar tidak ada persiapan sama sekali. Desmond sendiri sebagai asisten pribadi Levin tidak mengerti kenapa perubahan jadwal kerja tuannya itu berubah. Levin memang dikenal sebagai sosok misterius yang bahkan orang terdekatnya saja tidak bisa menebaknya.


Levin disambut hangat oleh direktur rumah sakit ketika ia keluar dari mobil dan memasuki gedung rumah sakit Mitra. Direktur Utama dan staf lainnya sudah berjejer rapi untuk menyambut kedatangan Levin. Mereka menundukkan kepala menyambut pemilik saham terbanyak di rumah sakit ini.


Langkah kaki menggema serentak mengikuti langkah Levin, tidak cepat dan tidak lambat. Melihat kedatangan pria itu, para perawat yang berjaga di meja dengan cepat menundukkan kepala seraya memberi hormat.


"Bagaimana persiapan rapat hari ini?" Levin bertanya, namun pandangannya tetap ke depan dan langkahnya masih terdengar di koridor rumah sakit.

__ADS_1


"Semua sudah siap pak, semua dokter ahli bedah sudah menunggu di ruang rapat." Jawab seorang lelaki yang menjabat sebagai direktur rumah sakit itu dengan cepat. Langkahnya tetap mengimbangi dengan langkah Levin.


Sementara itu.


Alessa mengeluarkan handphonenya, mengirim pesan kepada Jordan. Hatinya sudah sangat kesal melihat Jordan yang sedari tadi sudah melihatnya, namun sama sekali tak menyapa Alessa.


Tak lama kemudian, seorang lelaki dengan balutan jas berwarna hitam melangkah masuk menuju ruang rapat. Sosok pria tampan dengan tubuh tegap membuat perhatian para dokter muda yang ada di sana, tapi tidak dengan Alessa. Ia asyik mengutak-atik handphonenya dan terus melihat ke arah Jordan yang duduk tepat di depannya.


"Astaga tampan sekali pria itu, apa dia dokter juga?" Bisik seorang wanita sambil menyikut lengan Alessa.


Awalnya Alessa tak perduli dengan lelaki yang sedang berbicara di podium itu. Namun tangan wanita itu tak bisa diam membuat Alessa jengah. Ia mematikan handphonenya, kini Alessa mengalihkan pandangannya ingin melihat seberapa tampan lelaki yang membuat wanita yang duduk di sampingnya itu terus memujinya.


Dia menatap sosok pria yang sedang berdiri di depan podium itu. Seketika ia mematung saat melihat siapa pria yang berdiri di depan.


"Astaga dia?" Batin Alessa tak percaya.


Ingatan akan malam itu kembali berputar di otaknya. Saat Levin menyiapkan kopi untuknya.


"Silakan di minum!" Levin memberikan kopi instan kepada Alessa.


"Terima kasih." Ucap Alessa dengan senyum canggung.


"Oh, iya..." Alessa tiba-tiba bangun dari duduknya. Ia mengambil sesuatu di dalam lemari makanan. "Spaghetti tadi masih ada, jika anda mau, anda bisa memakannya." Alessa memberikan kepada Levin.


Levin tersenyum di sana sambil menganggukkan kepalanya. Tiba-tiba ia berucap. "Hmm, sepertinya ini enak." Levin memuji masakan Alessa.


"Terima kasih atas pujiannya." Alessa tersenyum tipis. "Bagaimana bisa spaghetti yang belum di makan sudah dibilang enak?" Batin Alessa.


"Soal pertemuan kita di taksi, aku minta maaf karena bersikap sedikit kasar kepadamu."


"Anggap saja itu tidak pernah terjadi." kata Alessa singkat.


"Jadi, apa kita bisa berteman?"


Deg! Tatapan mereka bertemu, membuat Alessa mengerjap beberapa kali. Ia tak nyaman saat Levin terus menatapnya.


"Sebagai tetangga baru, sudah seharusnya kita berteman baik, bukankah begitu nona Alessa?"


"Be-berteman?"


"Ya, berteman! Apa ada yang salah dengan berteman?"


Alessa tiba-tiba tak bisa berpikir dengan baik. Pikirannya blank. Untuk menghindari kontak mata Levin, Alessa langsung bangun dari duduknya dan pamit undur diri.


"Maaf aku harus pergi." Ucap Alessa berjalan dengan cepat, meninggalkan Levin di dapur. Ia mengambil tas slingnya di atas meja. Langkahnya tergesa-gesa, hingga Alessa tak melihat ada mainan Elana berserakan di lantai. Karena kecepatan berjalannya membuat Alessa hampir saja terjatuh dan tidak bisa menyeimbangkan badannya.


"Aaahhhhh..."


Levin ikut panik dengan cepat Ia memegang pinggang Alessa agar tidak terjatuh.


Sepersekian detik, Mata Alessa terbelalak dan ia begitu terkejut saat menyadari posisi mereka. Badan Alessa seketika terasa kaku, tak bisa bergerak. Ia diam mematung dan masih shock. Pandangan mereka bertemu dan saling mengunci begitu dalam.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku 😍


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^

__ADS_1


__ADS_2