Hujan Dan Kamu

Hujan Dan Kamu
PERESMIAN GEDUNG


__ADS_3

💌 HUJAN DAN KAMU 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


.


Acara peresmian gedung baru di rumah sakit Charlett dilaksanakan hari ini tepat pukul sepuluh. Levin sudah menggunakan setelan jas berwarna abu-abu dan celana yang berbahan yang sama dengan setelan jasnya. Levin menggunakan sepatu Oxford yang mengkilap. Ia terlihat smart dan profesional di setiap penampilannya.


Levin dan Desmond memasuki lobby rumah sakit Charlett. Gedung baru rumah sakit Charlett ini akan digunakan sebagai sarana penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta penapisan teknologi bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan dengan etika ilmu pengetahuan bidang kesehatan. Dengan bertujuan agar ke depannya rumah sakit Charlett bisa mengembangkan rumah sakit yang lebih cerdas dan lebih terkoneksi, untuk mendukung komunikasi, agility, transparansi, dan resiliensi yang lebih baik untuk meraih keberhasilan, bahkan dalam situasi yang penuh ketidakpastian. Semua alur kerja, baik yang klinis maupun non-klinis, serta pasien harus dirancang dengan baik bahkan kalau bisa serba otomatis. Rantai pasokan layanan kesehatan, supply room di rumah sakit, dan lingkungan perawatan kritis, harus dikelola dengan lebih baik lagi.


Tap...tap...


Tap...!


Levin dan Desmond melangkah memasuki tempat peresmian gedung itu.


Melihat kedatangan direktur dari perusahaan Horald, para pejabat di sana langsung bangun dari duduknya. Termaksud itu wakil direktur rumah sakit Charlett. Ia berdiri dari kursinya dan langsung menghadap ke arah Levin dan asistennya.


"Selamat pagi, tuan Horald," Ia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


"Selamat pagi juga pak. Senang bertemu dengan anda." Levin ikut tersenyum.


"Terima kasih atas kehadiran anda, saya sendiri yang mengundang Alexander untuk menghadiri acara ini."


"Seharusnya saya yang mengucapkan terima kasih, pak." Kata Levin sedikit menunduk dengan hormat.


"Saya sudah mendengar tentang anda dari Alexander. Selama anda menjabat sebagai direktur, perusahaan Horald tak pernah menghadapi krisis keuangan. Anda bisa memajukan perusahaan Horald dengan sangat baik. Tentu saja itu tidak mudah. Pasti butuh perjuangan dan kerja keras."


"Terima kasih pak, semua itu berkat bantuan dari kerjasama semua karyawan yang bekerja di kantor Horald. Hingga perusahaan Horald bisa terus berkembang dengan baik." Kata Levin mempererat jabatan tangannya.


"Usaha memang tak mengkhianati hasil dan terbukti anda memang pekerja keras sama seperti ayah anda."


Levin tersenyum. "Anda terlalu memuji saya pak. Setiap pekerjaan jika kita lakukan dengan sungguh-sungguh pasti usaha kita tidak akan mengecewakan." Ucap Levin sambil melepaskan jabatan tangan mereka.


"Anda memang luar biasa."


Levin lagi-lagi hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Silakan duduk, kita masih menunggu direktur rumah sakit Horald. Kebetulan sekali beliau baru kembali dari Jerman. Mungkin beliau sedikit terlambat."


Levin hanya tersenyum sambil mengangguk. Levin kembali berjalan menyalami tamu undangan yang lain. Selesai menjabat tangan, sembari menunggu kedatangan direktur utama rumah sakit Horald datang. Levin dan para tamu undangan nampak berbincang-bincang di sana.


EMPAT PULUH MENIT BERLALU.


Direktur Rumah sakit tak juga datang. Levin berulang kali menarik napas panjang seraya melihat jam yang ada di tangannya. Levin tak bisa berlama-lama di sini. Ada rapat penting yang harus dihadirinya di kota ini juga. Begitu juga para undangan yang lainnya. Mereka tampak gelisah. Jam sudah lewat dari tiga puluh menit seperti yang dijadwalkan.


SEMENTARA DI SISI LAIN.


Alessa menancap gas mobilnya, berlari mengejar waktu. Ia memang sengaja membawa mobilnya sendiri. Waktunya begitu mepet sekali. Ia benar-benar terlambat. Alessa kelelahan, hingga terlambat bangun. Jadwal pekerjaannya benar-benar padat semenjak ia menjabat sebagai direktur utama rumah sakit Horald.

__ADS_1


"Shiiittt...." Alessa menggeram kesal saat kemacetan terjadi di jalan. Jika dia terlambat, bisa gawat. Ini adalah acara penting rumah sakit Charlett.


"Astaga, bagaimana ini? Aku tidak bisa terlambat." Wajah Alessa mengerucut seperti ingin menangis. Ia memukul setir mobil karena kesal.


Alessa membuang napas panjang sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Bagaimana ia bisa terlambat di acara penting ini. "Ini benar-benar membuatku gila."


Tin! Tin! Tin! Tin!


Ia membunyikan klakson dengan frustasi. Alessa mendesah dengan wajah cemas. Tubuhnya miring ke kiri dan ke kanan. Mencoba melihat apa yang terjadi di ujung jalanan hingga membuatnya terjebak macet. Ia kembali menyandarkan punggungnya kesandaran kursi. Kemacetan ini membuatnya hampir gila.


⭐⭐⭐⭐⭐


Sementara itu,


Samantha begitu terkejut saat melihat Levin ada di acara peresmian gedung rumah sakit Charlett.


"Bukankah dia?"


"Kenapa dia ada di sini?"


"Apa jangan-jangan Alessa yang....." Samantha dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak mungkin Alessa mengundangnya ke acara ini. Sementara Alessa tidak pernah melibatkan diri untuk acara peresmian gedung."


Tangannya mengepal kuat menatap tajam ke arah Levin.


"Ini tidak bisa dibiarkan. Alessa tidak bisa bertemu dengan lelaki pembohong seperti Levin." Samantha menggeram kesal. "Setelah mendapat alamat, dia tidak pernah sekalipun menemui Alessa. Dasar lelaki brengsek! Dia tak bisa dipercaya." Samantha melakukan panggilan kepada seseorang. Dia bersembunyi agar Levin tak melihatnya. Setelah melakukan panggilan itu, Samantha mendekat ke arah wakil direktur dan berbisik.


"Permisi pak, tadi ibu Alessa menghubungi, anda bisa memulainya. Ibu direktur sedikit terlambat. Kita tak perlu menunggu beliau."


"Heuh?" Wakil direktur sedikit terkejut.


Pria itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Baiklah, terima kasih Samantha."


Samantha membungkukkan badannya, dan mundur beberapa langkah untuk memberikan jalan kepada wakil direktur. Ia bangun dari duduknya dan melangkah menuju podium yang telah di sediakan.


Pria itu memberikan pidato singkatnya, terkait peresmian gedung rumah sakit Charlett. Ia hanya menyampaikan rasa terima kasihnya atas kehadiran para undangan. Harapan mereka ke depannya semoga rumah sakit Charlett bisa memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat. Tak ingin lama-lama memberikan kata sambutannya. Pria itu pun mengakhiri kata sambutannya. Acara makan siang pun berlangsung tanpa harus menunggu direktur rumah sakit Charlett lagi. Para undangan sudah terlalu lama menunggu.


"Silakan menikmati jamuan makannya, tuan Horald."


"Baik. Terima kasih banyak." Jawab Levin tersenyum. "Saya tinggal dulu..."


"Ya, silakan... silakan...." wakil direktur itu mengulurkan tangannya dan mempersilakan Levin untuk menikmati hidangan yang ada.


Setelah acara makan siang sudah selesai. Levin dan asistennya pun pamit undur diri. Levin bangun dari duduknya sambil melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. Pukul 12.00 wib.


"Kami pamit undur diri." Levin kembali mengulurkan tangannya dan wakil direktur itu pun menjabatnya lagi. Lagi-lagi ia memperlakukan hal yang sama.


"Terima kasih atas kehadiran anda,tuan Horald, senang bertemu dengan anda."


"Senang rasanya bila Horald dan rumah rumah sakit Charlett bisa menjalin kerjasama."


"Saya juga berharap seperti itu pak. Tidak sia-sia saya datang ke sini. Selain mendapat pengetahuan, saya juga bisa mengunjungi rumah sakit terbesar di kota ini." sahut Levin kembali membalas dengan senyuman formal.


⭐⭐⭐⭐⭐


Kemacetan akhirnya berakhir, Alessa sudah tiba di rumah sakit Charlett. Alessa memarkir mobilnya dengan asal. Dengan gerakan cepat dan gesit, Alessa keluar dari mobilnya.

__ADS_1


"Oh..tidak, aku benar-benar terlambat." pekiknya.


Hatinya diliputi rasa panik dan resah. Ia bahkan berlari sambil mendekap tasnya, membuang napas panjang untuk menenangkan dirinya.


Tap...tap...tap...!


Alessa berlari, langkahnya begitu bergema di dalam loby rumah sakit. Sementara Levin sudah keluar dari lift. Ia melangkah dengan cepat, karena Desmon sudah menunggunya di parkiran mobil. Mendengar suara langkah kaki menggema, Levin mengernyitkan keningnya. Ia mencari sumber suara itu.


Tap...tap....tap.....


Tap...tap...


Tap....


Tiba-tiba muncul seorang wanita melangkah dari arah pembelokan dengan posisi menunduk sambil mencari handphonenya di dalam tas.


DEG!


Levin mengernyit menyadari sesuatu. Langkahnya mulai pelan dan tiba-tiba berhenti. Ia memastikan kembali penglihatannya dan....deg...deg...deg....Jantungnya memukul kencang dan sangat kencang. Napasnya semakin tertahan di dada saat menyadari wanita itu adalah Alessa. Wanita itu belum menyadari. Ia masih berjalan menunduk dengan posisi mencari handphone di dalam tas.


Levin menatapnya dengan pandangan nanar. Ia tidak salah lagi. Perlahan Levin kembali memajukan langkahnya. Napasnya keluar terbata dan benar-benar tidak stabil. Levin menarik napasnya dalam-dalam. Untuk memenuhi paru-parunya dengan oksigen. Mungkin ia akan lebih sulit bernapas lagi setelah ini.


Dan Alessa yang sudah menemukan handphonenya tiba-tiba mengangkat wajahnya dan menangkap sosok lelaki yang sedang berjalan ke arahnya dan...


DEG!


Alessa mengedip beberapa kali dan terdiam. Ia terkejut dan sangat terkejut.


"Levin?"


"Kenapa dia ada di sini?"


Pikiran Alessa saat ini benar-benar blank, ia tidak tahu harus melakukan apa. Yang jelas, Alessa ingin menghindari Levin. Dia tidak ingin bertemu dengan lelaki yang kini membencinya.


Sementara napas Levin berembus pelan dari mulut, namun tidak mengubah posisinya. Mengunci pandangannya ke arah Alessa.


"Alessa, kenapa tiba-tiba meninggalkan perumahan flower?" Ucap Levin serak dan parau. Rahangnya mengencang. Ia meremas tangannya dengan pandangan nanar.


"Heuh?" Alessa bingung.


"Aku sudah tahu kebenarannya, kau bukan pelaku penabrak Elana."


Alessa masih terdiam. Tapi detak jantungnya tak bisa diam di dalam rongga dadanya. Pandangan lurus menatap Levin.


"Maafkan aku Alessa, aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Jika ada di atas kata maaf, aku sudah melakukannya untukmu. Maukah kau memaafkan aku?"


DEG!


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel kedelapan aku 😍


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.

__ADS_1


^_^


__ADS_2