
💌 HUJAN DAN KAMU 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
.
Saat pintu tertutup dan tubuh Samantha sepenuhnya keluar. Levin langsung melepaskan napas yang tertahan di dadanya. Tangannya mengepal kuat, lalu menunduk. Ia melangkah mendekat ke jendela kaca yang ada di sana.
"Aaarggghh!" Levin berteriak untuk melepaskan amarahnya, ia menarik dasinya dan menutup wajahnya dengan tangan. Ia berusaha menenangkan dirinya. Menarik napasnya sesaat.
CEKLEK!
Pintu terbuka.
"Aku rasa waktumu sudah habis, kenapa kamu kembali lagi?" Kata Levin tanpa melihat siapa yang masuk ke dalam ruangannya.
"Apa kabar Levin Horald?"
Mendengar suara itu, Levin segera membalikkan badannya dan melihat seorang pria tersenyum angkuh di sana.
"Kau?"
CEKLEK!
Pintu kembali tertutup.
"Sudah lama tidak bertemu, Levin Horald?" Jordan melangkah mendekat ke arah Levin. "Mohon maaf, saya datang tanpa memberimu kabar. Tapi aku rasa itu tidak penting, bukankah begitu?" ucap Jordan tersenyum di sana sambil mengusap dagunya.
Mendengar itu, Levin mengepalkan tangannya begitu kuat hingga buku-buku tangannya terlihat begitu jelas. Sorot matanya menajam. "Berani sekali kau menunjukkan dirimu di hadapanku." gigi Jordan saling bergesekan menahan amarah.
"Santai saja Levin. Lihat, wajahmu terlihat tegang." Jordan tersenyum mengejek. "Bukankah seharusnya kita berteman dengan baik?"
"Apa?"
Jordan menarik napas singkat. Menatap sekilas ke bawah dan kembali menatap Levin dengan penuh penghakiman. "Setelah kau menyerahkan salah satu anak buahku kepada polisi. Sepertinya aku tidak bisa diam, Levin Horald."
"Bukankah seharusnya aku yang mengatakan itu Jordan, kau sudah menjadi target polisi. Lebih baik kau menyerahkan diri."
"Hahahaha....." terdengar tawa membahana di sana. Dan sepersekian detik tawa itu hilang bersama dengan raut wajah Jordan yang kini menakutkan. "Aku tidak takut pada siapapun. Termaksud itu polisi."
Levin tersenyum. "Kau tidak pantas sebagai dokter, Jordan. Kau seperti seorang mafia berdarah dingin dan menyimpan penuh dendam. Setelah kau mencelakai keponakanku, apa kau layak disebut seorang dokter?"
"Aku melakukan itu untuk memberimu pelajaran. Berani sekali kau mendekati Alessa."
"Jangan mengalihkan pembicaraan, bukankah kalian bekerja sama untuk mencelakai Elana."
Dahi Jordan mengernyit. Sudut bibirnya melengkung ke atas. "Aku melakukan ini tanpa sepengetahuan Alessa. Tujuanku hanya satu, agar anak kecil itu tidak lagi mencari Alessa. Aku tahu siapa Alessa. Dia menyukai anak kecil dan tidak bisa menolak. Alessa bahkan mengabaikanku hanya karena anak sialan itu. Karena kedekatan itulah Alessa menyukaimu dan aku juga bisa melihat kau tertarik kepada Alessa."
Levin begitu shock mendengar perkataan Jordan. Awalnya, ia menduga bahwa teman Samantha hanya berpura-pura mengatakan Alessa menyukainya. Pandangan Levin tidak terarah, pupilnya bergerak ke sana kemari menerima kebenaran ini. Bagaimana ia menuduh Alessa terlibat dalam kecelakaan Elana. Bagaimana ia menarik semua sahamnya di rumah sakit Mitra karena begitu membenci Alessa pada saat itu. Hingga Alessa di pecat dari rumah sakit mitra. Kini kenyataannya Alessa ternyata memiliki perasaan yang sama dengannya.
__ADS_1
Levin menarik napasnya yang terbata-bata. Bahu dan dadanya ikut naik seiring napasnya.
Jordan tersenyum penuh kepedihan. "Kau tidak tahu betapa tersakitinya aku di sini. Aku sengaja melamar Alessa di acara ulang tahun Horald company. Agar kau sadar bahwa Alessa hanya mencintaiku. Tapi kenyataannya...." Jordan menunduk sejenak. Ia menahan segala rasa sakit di dalam dada. Kemudian ia menatap Levin penuh kebencian. "Tapi kenyataannya, Alessa meninggalkanku dan aku rasa itu karena KAU!" Kata Jordan meluapkan segala emosinya.
Levin hanya diam dengan pandangan kosong. Pikirannya benar-benar berkecamuk.
"Seharusnya Elana mati, tapi kenyataannya semua tidak berjalan dengan yang aku harapkan. Alessa seharusnya sudah menjadi istriku. Tapi nyatanya dia meninggalkanku....."Teriak Jordan.
"Alessa tidak bodoh, ia bisa membedakan mana pria yang benar-benar tulus mencintainya. Alessa sudah membuat keputusan yang terbaik untuk kebahagiaannya."
"Hahahahaha......" Jordan kembali tertawa. Sorot matanya begitu tajam menatap ke arah Levin dan kemudian berkata. "Tapi aku tidak pernah mengizinkan Alessa bahagia dengan lelaki manapun. Termaksud itu kau! Jika itu terjadi, aku harus melenyapkan salah satu dari kalian."
Levin tidak tahan lagi. Matanya terbakar dengan kemarahan, Ia segera melangkah ke arah Jordan,
Dan....
BRUKKK!
Satu pukulan kuat mendarat di pipi lelaki brengsek itu. Pukulan Levin membuat Jordan terjatuh. Levin menarik kerah baju Jordan dengan ke dua tangannya.
"KAU BRENGSEK! KAU MASIH BERANI MENGATAKAN ITU, SETELAH APA YANG KAU LAKUKAN KEPADA ELANA YANG TIDAK TAHU APA-APA."
Jordan merasa pusing dengan pukulan telak dari Levin.
"Mulutmu tidak pantas mengatakan itu." Rahang Levin mengencang menahan amarah.
Ini balasan kepada Jordan telah mencelakai Elana. Tak cukup hanya sekali. Levin kembali mengangkat kerah baju Jordan dan memukul wajahnya lagi. Jordan tidak membalasnya. Ia hanya tersenyum pasrah. Bibirnya berdarah dan pelipis di bawah matanya terasa keram.
"Dasar brengsek!" Levin sudah di kuasai amarah yang siap membakar Jordan hidup-hidup. Napas Levin memburu cepat. Tatapannya begitu mengintimidasi.
"Sekarang keluar! Jangan pernah menunjukkan dirimu lagi." Kata Levin berbalik dan tidak ingin melihat Jordan.
Semua diluar dugaan Levin. Ia berpikir Jordan bangkit dan langsung meninggalkan ruangannya. Namun, yang terjadi Jordan mendekat ke arahnya dan menodongkan pistolnya.
"Kau sudah mengusirku, sementara urusan kita belum selesai, Levin Horald." Jordan mengacungkan pistol di bagian pelipis Levin.
Levin sangat terkejut. "Apa yang kau lakukan?"
"Bukankah aku sudah mengatakannya, salah satu diantara kalian harus mati. Kau harus menjadi tumbal dalam drama ini." ucapnya dengan seringai iblis.
Tulang rahang Levin semakin tegas terlihat. "Aku tidak pernah takut dengan ancamanmu." Gertak Levin.
Sejenak bibir Jordan menyungging, "Benarkah? Bagiku itu semakin menarik Levin. Aku semakin menyukaimu. Bagaimana jika aku membawa Liliana ke sini. Apakah kau masih bisa bicara sombong seperti ini?"
Mendengar nama kakaknya disebut. Wajah Levin menegang. Dia ingat kejadian bagaimana Liliana pernah mengalami trauma kejadian yang membuatnya harus menjalani terapi cukup lama.
"Apa maumu?" Levin menaikkan nada bicaranya, seolah tak peduli dengan ujung pistol yang terarah padanya.
"Aku hanya ingin kau mati, Levin." Kata Jordan tersenyum sinis.
"Kau sudah gila, seharusnya kau introspeksi diri, kenapa Alessa meninggalkanmu."
DOR!!!
Pistol yang sejak tadi teracung ke arah pelipis Levin, kini bergerak beberapa derajat ke kiri, tepat mengarah ke foto keluarga ukuran besar yang ada di ruangan.
__ADS_1
Bola mata Levin terbelalak dengan helaan napas yang tertahan di dada. Ia menggeram. "Kau tidak sadar berada dimana, Jordan?"
Jordan lagi-lagi tersenyum sinis. "Aku tahu. Aku berada di perkantoran Horald company dan ruangan ini kedap suara, Levin. Jadi aku bisa menembakmu kapan saja."
Levin hanya diam, ia Lebih fokus membuat strategi untuk menjatuhkan pistol yang di tangan Jordan.
"Ayolah, jangan tegang. Ini benar-benar tidak asyik." kata Jordan terkekeh sambil menekan pistolnya ke arah pelipis Levin.
Diam. Levin tetap tak memberi respon kecuali dengan bola mata melirik ke arah Jordan.
Selepas itu suara tawa Jordan menggema di ruangan besar ini, "Ohhhh ... Aku tahu!" seru Jordan seraya menahan tawanya, "Apakah aku harus membawa Liliana ke sini. Aku ingin melihatnya meraung menangis saat kamu di tembak di depan matanya. Aku rasa itu akan menjadi pertunjukan yang menarik. Bukankah begitu?"
Dahi Levin berkerut. Tangannya mengepal kuat. Saat ini pikirannya benar-benar blank jika menyangkut kakaknya itu.
"Kau bodoh, Levin Horald. Benar-benar bodoh. Saking bodohnya hingga peluru itu ingin sekali masuk ke dalam kepalamu." Ucap Jordan tersenyum lebar, "Asal kau tahu, anak buahku sudah mengawasi rumah sakit dimana Elana dirawat. Dan anak buahku merekam pembicaraanmu dengan Alessaku. Dan video tangisan Alessa begitu jelas menyebut namamu."
Levin memejamkan matanya, napasnya sesekali bergerak naik-turun. Ia menelan salivanya begitu susah. Ia tidak bisa bayangkan betapa tersakitinya Alessa pada saat itu.
"Aku tidak terima, Alessa begitu mencintaimu. Alessa tidak pernah memikirkan bagaimana aku menderita saat ia membatalkan pernikahan ini."
"Itu sudah jalan hidupmu. Kau harus menerimanya dengan ikhlas. Kau bukan ditakdirkan untuk Alessa."
Jordan mengeraskan rahangnya karena begitu geram. "Cih...maafkan aku, sepertinya kau harus mati sekarang."
Sebelum Jordan menarik pelatuknya, dengan cepat Levin memukul tangan Jordan hingga membuat pistol Jordan terjatuh. Ia dengan cepat maju menendang pistol itu hingga masuk ke bawah kursi sofa. Kemudian Levin melakukan tendangan T nya ke arah dada dan bagian perut Jordan. Jordan tidak menangkisnya. Ia terjatuh begitu saja.
"Rasakan itu!" ucap Levin dengan seringai sinis.
Dalam keadaan marah, Jordan bangkit dan membalasnya dengan memberikan tendangan T kepada Levin. Namun, Levin berhasil menangkapnya dan pria itu terjatuh. Lagi-lagi Jordan nampak marah, matanya terus mengunci pergerakan Jordan. Pertarungan semakin seru. Kaki Levin sempat tertendang, dan beberapa kali diterjang bogem mentah oleh Jordan. Mereka sama-sama saling melepaskan tinjuan dan saling menyerang. Bahkan Jordan sempat terhempas ke lantai.
Jordan nampak marah karena melihat Levin ahli dalam bela diri taekwondo. Tendangan kaki dan tehnik tangannya begitu cepat. "Kau ingin benar-benar mati ya?" Sengit Jordan dengan sorot mata iblisnya.
"Apa aku tidak salah dengar? Kau yang akan membusuk di penjara. Aku sudah menekan tombol untuk melakukan panggilan darurat. Bersiap-siaplah! sebentar lagi polisi akan datang ke sini."
"Hahahaha.." Jordan tertawa saat mendengar perkataan Levin. "Kau pikir aku akan percaya?"
"Tunggu saja." ejek Levin.
"Aaarggghh...." Jordan begitu marah mendengar dua kalimat yang di ucapkan Levin.
Saat hendak bangkit, benar saja tiba-tiba polisi masuk ke dalam ruangan itu.
"Jangan bergerak!" Ucap polisi tegas.
Jordan mengepalkan tangannya begitu kuat, ia tidak percaya dengan tindakan yang di lakukan Levin.
"Mari ikut kami pak."
"Buat apa, aku tidak mau ikut bersama kalian. Jangan pernah bermimpi."
Levin tersenyum, "Bukankah kau tidak takut polisi?"
"Tidak, aku tidak mau ikut." tegas Jordan
Karena perlawanan yang dilakukan Jordan, akhirnya polisi memborgol tangan Jordan dan langsung membawanya keluar dari ruangan itu. Seluruh kantor heboh. Mereka terkejut saat mengetahui di kantor Horald company ada penyusup.
__ADS_1