
Aku masih terisak sambil duduk di trotoar. malam yang semakin larut dan aku tenggelam dalam ketakutan dan kesedihan yang tak terbendung. harus bagaimana dan berbuat apa? entahlah. ini pertama kali aku tinggal di kota, dan tempat ini asing sekali. aku tak tahu di mana jalan pulang ke rumah kak Anta.
Angin berdesir meniup tengkukku, sebuah sinar dari lampu motor menyilaukan mataku. aku terkejut melihat dia, Kak Anta tiba-tiba muncul di depanku. dia diam, membisu bagai patung. mengenakan seragam polisinya yang masih lengkap tetapi dia sendirian, tidak dengan rombongan. aku bangkit dari duduk, sementara dia terpaku, menatapku.
"Ka-kak,"
Spontan aku berlari ke arahnya, dan ku peluk tubuhnya erat-erat. ku pastikan bahwa ini bukanlah imajinasi di bawah alam sadar saat aku tenggelam dalam kesedihan dan keputus-asaan. aku yakin ini sungguhan Kak Anta, wangi tubuhnya, dada bidangnya dan tinggi badannya. ini semua adalah miliknya, dan hanya dia.
Aku terisak dalam rengkuhan dadanya, dan dia pun tenggelam menikmati aroma rambutku. Ekspresi muram membayangi wajah tampan Kak Anta, sesaat setelah aku melepaskan pelukan di tubuhnya.
"Apa yang terjadi? kenapa kamu bisa sampai jauh ke sini?"
"Kakak keliling kota sendirian? di mana rekan yang lain?"
"Aku sudah pulang satu jam yang lalu. tapi kulihat tak ada orang di rumah, hanya ada makanan yang terbuka di meja makan. aku cari kamu di sekitar rumah tapi tidak ada yang lihat, aku bolak-balik dari jalan ke rumah lagi, begitu terus untuk memastikan mungkin kamu sudah pulang atau belum. kamu ini benar-benar buat cemas."
__ADS_1
Kak Anta meminta ku untuk duduk di belakang motornya, sementara dia di depan. dia ini mungkin saja pria dingin dan agak menakutkan, tetapi aku telah melihat ekspresi kekhawatirannya yang tulus. ketika dia menjelaskan bagaimana yang dia lakukan setelah pulang dan tidak menemukan aku di rumah, aku membayangkan setiap detail yang dia katakan itu bergema di setiap sel tubuhku.
Sesudah menghidupkan mesin motor, dia memakaikan ku jaket kulit yang dia bawa dari rumah sambil melempar tatapan gelisah ke arahku.
"Sini, pegang yang erat."
Dia melingkarkan tanganku di perutnya. bisa ku rasakan dengan jelas bagaimana kerasnya otot otot perut ini berlatih setiap hari, meski tertutup seragam dan rompi, kotaknya masih bisa ku rasai.
Kak Anta mulai menjalankan motor dan mengarahkannya ke jalan raya sambil menoleh ke belakang barangkali ada kendaraan lain. padahal sepi.
Keheningan merebak sepanjang sisa perjalanan kami menuju rumah. aku sama sekali tak tahu apakah yang akan ku katakan akan meresap ke hati kak Anta atau tidak. jika dia tahu aku bertemu dengan mantan pacarku Petra, dan dialah yang membuatku tersesat sampai sini, semua karena kebodohanku yang memberinya celah.
Suara berat kak Anta terdengar dari depan, meski pun agak samar karena angin, "Kenapa bisa sampai ke sini?"
"Kenapa kakak peduli?"
__ADS_1
"Apa Maksudmu?"
"Tidak apa-apa. lupakan saja!"
Kak Anta mengulurkan tangannya menarik lagi tangan ku yang mulai kendur memeluk pinggangnya. aku kaget. "Maaf, buat kakak khawatir."
Tatapanku beralih ke sisi jalan setelah beranjak dan tidur ke punggung kak Anta yang lebar. setiap langkah yang membuat kami lebih dekat seakan mengubah irama detak jantungku, Suhu tubuh kak Anta tak pernah berubah, selalu hangat dan menenangkan.
Pada saat itu aku begitu terpengaruh akan kedekatan kami dan memutuskan ini mungkin hal yang bagus. jelas-jelas aku masih penasaran pada pengetahuan Petra tentang pernikahanku dengan Kak Anta, itu bukan satu hal yang biasa. tapi, aku sama sekali tak mau bahas itu dulu sekarang. selama tiga puluh menit berkendara untuk pulang ke rumah. aku hanya mendengar detak jantung kak Anta yang membuatku hanyut dalam imajinasi tentang kehidupan alam liar yang harus terus ku lihat sepanjang perjalanan. membuat baik aku atau perempuan manapun yang merasakan dekapan atau mendekapnya terus terpesona.
Dia memegang stang motor dengan satu tangan, sedangkan satu tangan lainnya memegang kedua tanganku yang melingkar di perutnya, memastikan agar mereka tidak renggang dan aku terjatuh.
Di balik sosoknya yang pendiam dan dingin, aku malah merasakan kehangatannya yang begitu lembut, sayup-sayup aku dengar dia bicara sendiri di depan. "Selamat malam, maaf karena membuatmu lama menunggu."
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa mampir ke sini zeyeng 🤙