I Love U! Suami Dadakan

I Love U! Suami Dadakan
BAB 36 - Kita Harus Berpisah!


__ADS_3

Kami mulai bisa bersikap lebih tenang, tidak hanyut dalam perasaan masing-masing. Aku pun sedikit merasa lebih lega sebab telah ku utarakan semua beban perasaan yang ada di hati ini.


Ku pandangi dia, Kak Anta yang berdiri di depanku. Matanya berkaca sebening embun di pelupuk daun, berlatar wajahnya yang tegas dan kokoh, dia menatapku dengan mata menyala-nyala, mengharap jawaban dariku.


"Aku harus bagaimana Kak Anta? kamu mau aku bagaimana?"


"Aku pilih kamu." Jawabnya pelan, "Tolong beri aku kesempatan, sampai bayi ini lahir."


Kitaran angin di ruangan menemaniku mencari keputusan yang telat. Aku terdiam, hanya terdiam. Larut dalam kebingungan yang tak berujung. Bagaimana mungkin aku menerima kehendaknya? sungguh memerlukan waktu bukan untuk memahami dan meyakini kesungguhannya juga untuk masuk ke dalam perasaannya.


"Delapan bulan itu bukan waktu yang singkat, aku tak bisa menjamin jika perasaan ini tak akan lebih besar dan lebih dalam. Aku khawatir selama delapan bulan bukan cinta mu yang tumbuh, melainkan perasaan ku padamu yang lebih dalam. Aku tak bisa membayangkan seberapa besar rasa sakit yang akan ku Terima nanti jika akhirnya kita berpisah----"


"Kita tak akan pernah berpisah!" Sergah Kak Anta.


"Kita harus berpisah! jika kakak tak bisa melepaskan masa lalu. Lebih baik kita bercerai." tegas ku.


"Bisa! Aku bisa meninggalkan bayang-bayang Isma, Karena itu beri aku waktu untuk menumbuhkan perasaan cinta untukmu."


Bagaimana aku harus memutuskan?


Aku terdiam agak lama, memikirkan betapa beratnya mendayung di antara dua karang. Begitu beratnya hingga aku harus memikirkan persoalan ini bersama dengan malam yang legam juga udara dingin yang berkitaran di ruangan.


"Ku beri waktu," Jawabku dengan nada rendah, "Tapi hanya waktu untuk kakak berpikir dan merenung, apakah sudah benar pilihan kakak untuk memilihku dan melepaskan Mbak Isma selamanya. Atau kita memang lebih baik berpisah dari sekarang."


Lantas mendengar jawaban itu, ku dapati tubuhku kembali dalam dekapannya. Dia menenggelamkan aku dalam keheningan di dadanya.


"Terima kasih Kania."


Ketika dia selesai berbisik, aku masih saja terdiam, terkesima oleh indahnya bintang dan intonasi suaranya yang berbisik lembut namun dalam, halus dan mulai berat. Dia menggosok punggung ku, sementara ilusi terus menggerayangi kepalaku. Ku sentak tanganku, dan ku dorong tubuhnya dari sisiku.


"Aku akan pergi dari rumah ini sampai kakak selesai berpikir. Sementara biar kita berpisah untuk saling merenung, apakah kita mampu hidup masing-masing? atau mungkin kita sudah terbiasa hidup bersama? apakah kakak mampu meninggalkan Mbak Isma dan mau belajar menerima ku? atau sebaliknya."


"Haruskah pergi dari rumah ini Kania? Kamu mau meninggalkan aku?"


"Aku bukannya tidak bisa melawan Mbak Isma untuk kamu kak," Jawabku, "Tapi aku tidak bisa melawan rasa cinta kamu, rasa perduli kakak ke dia."


Kak Anta memajukan posisi tubuhnya, dengan tangan bergaya layaknya seseorang yang sedang presentasi, dan bahasa tubuh yang bisa dibaca kehendaknya. Dia berkata:


"Kita kan bisa selesaikan ini sama-sama, bukan pergi solusinya."


"Lagi pula untuk apa kita tinggal satu rumah, tapi hati kakak terbagi dua."


"Aku berani bersumpah, aku bisa menjadi ayah yang baik untuk anak itu dan aku sangat mencintai nya."

__ADS_1


"Aku tidak akan ragu untuk itu kak. Kakak adalah calon ayah yang baik. Tapi hati ku ini begitu egois, aku tidak bisa bagi kamu dengan orang lain, dengan wanita lain. Mungkin orang lain bisa, tapi aku tidak bisa. Kalau memang itu kekuranganku di mata kakak, aku minta maaf."


Dalam setiap bahasa tubuhnya selalu tak ketinggalan bayangan senyum dan selorohnya setiap kali mengejekku, bayangan semua kebaikannya padaku, bayangan saat dia membantu hal kecil dalam urusanku; mengangkat jemuran, jemur pakaian, buatkan susu. Di sela-sela kesibukannya, dia masih memikirkan tentangku. di balik semua itu, aku meyakini dan berani bersumpah bahwa dia memandangku sebagai wanita dan memiliki rasa. Hanya saja, hatinya masih ragu dan menutup mata karna cinta masa lalu. Ada sebuah lagu yang amat ku sukai, yang menurutku mewakili perasaan di antara kami yang alamiah namun sulit ditebak dan dipahami ;


Bagaimana mestinya, membuatmu jatuh hati kepadaku? telah kutuliskan sejuta puisi Meyakinkanmu membalas cintaku


Haruskah ku mati karena mu? terkubur dalam kesedihan sepanjang waktu. Haruskah kurelakan hidupku? Hanya demi cinta yang mungkin bisa membunuhku


Hentikan denyut nadi jantungku tanpa kau tahu betapa suci hatiku untuk memilikimu


Adakah keikhlasan dalam palung jiwamu mengetuk ku? ajarkanmu bahasa perasaan hingga hatimu tak lagi membeku.


"Biarkan kita berpisah sementara waktu, aku akan cari tempat tinggal sementara di kota ini. Aku akan menunggu kakak. Berikan aku bukti, jika memang kita bisa bersatu lagi." Kataku,


"Tapi, jika kakak berubah pikiran, katakan padaku dan kembalikan aku pada ayah. Kita akhiri semua baik-baik."


"Jika memang begitu keinginanmu, aku mengerti. Tapi, aku tak mengizinkan kamu keluar dari rumah ini. Kamu tetap tinggal di sini, biar aku yang cari tempat sementara."


Tak ada yang bisa ku lakukan selain menuruti kehendaknya, sebab tak mudah bagiku untuk melawan perintahnya. Aku pun memaham, dalam situasi ini masih ada peduli Kak Anta padaku. Tetapi aku tidak bisa memahami apa yang ada dipikiran dan perasaannya saat ini.


Dia adalah laki-laki terbaik yang pernah ku temui, Polisi yang sederhana dan cerdas, cintanya yang begitu murni dan perasaan simpati yang besar terhadap sekitar. Namun, karena kelebihannya itulah kami menjadi begini. Aku yang mencintai dia dengan segala kelebihan dan kekurangan yang melekat pada dirinya, dan dia yang memiliki cinta begitu murni sampai tak bisa membuka mata untuk seseorang di depan.


Dia mendekat padaku, berdiri di hadapanku dengan tatapan tajam, kedua tangannya mengunci tubuhku mengokohkan bahuku. Satu buah bintang bersinar, kelipnya menyilaukan dari puncak cakrawala yang legam di kejauhan sana.


"Aku janji akan kembali padamu secepatnya, aku akan buktikan bahwa aku mampu lepas dari belenggu masa lalu dan bisa membuka hati untukmu."


Apakah kami memang harus hidup terpisah atau kami sudah terbiasa hidup bersama.


...****************...


Di siang hari yang bolong, ketika melamun sendirian di beranda sambil memandang jemuran ku yang menyendiri, tanpa pakaian Kak Anta di sampingnya. Seseorang datang mengetuk pintu depan.


"Mbak Isma? belum berangkat?" kataku setelah membuka pintu.


"Mas Reza mana?"


"Kak Anta tidak ada di sini, Mbak."


Tiba-tiba dengan gerakan tak terduga, serupa kuda yang lepas kendali, Mbak Isma memekik seraya memanjangkan leher menerawang sosok Kak Anta yang dipikirnya ada di dalam.


"Mas? Mas Reza, aku di sini Mas. Aku belum berangkat sampai kamu mau temui aku."


"Mbak?!-----"

__ADS_1


"Mbak Isma?!" Kataku dengan nada agak meninggi, menyadarkan Mbak Isma dari kegilaan yang meronta-ronta melandanya.


"Apa yang terjadi? Kamu bicara apa dengan Mas Reza?" tanyanya padaku dengan mata melotot.


"Maksud Mbak apa?"


"Mas Reza blokir semua media sosial ku, dia tidak mau angkat telpon ku, bahkan barusan nomor ponsel ku juga di blokir. Makan malam kemarin pun, Aku merasa tidak berbuat salah apa pun padanya. Padahal selama ini kami baik-baik saja."


Suasana siang yang terik mendadak jadi hening. Dia menatapku dan aku balik menatapnya. Dalam pikirku, apakah ini salah satu bukti dari Kak Anta?


"Kamu kan? kamu yang suruh Mas Reza untuk menjauhiku?"


Aku menatapnya, dia mulai terisak.


"Waktu itu aku cuma bisa minta tolong dengan Mas Reza, aku dan dia sudah mengenal dari kecil apa salahnya jika kami saling tolong menolong? aku sudah mengatakan padamu bahwa aku mengalah Kania! kenapa untuk kami dekat sebagai sahabat pun kamu tidak izinkan?"


Dia diam sejenak untuk menyeka air mata, kemudian melanjutkan.


"Kenapa? Kamu takut ya Mas Reza akan mencintai ku lagi dan meninggalkan kamu, setelah tahu kami kembali dekat?"


"Aku juga sulit, kondisi ku-----" Sahutku. Namun, sebelum aku menyelesaikan ucapan, dia langsung memotong.


"Hamil di luar nikah? iya?" Dia mengomentari keadaanku yang terbilang hina dan memalukan,


"Aku mundur, loh. Aku mengalah. Aku kenal dia sudah berpuluh tahun, kami sudah tunangan, dia janji akan menikahi ku setelah aku menyelesaikan pendidikan. Tapi, waktu aku pulang, kabar apa yang ku dapat? dia sudah menikahi orang lain."


Kami terus menyusuri waktu yang menyepi. Kami saling bicara lewat mata, sementara waktu mulut kami terkunci. Angin sepoi-sepoi berhembus lembut di teriknya suhu matahari.


"Aku tahu kalian tidak saling cinta kan? Aku kenal Mas Reza, dia tidak semudah itu berpaling hati! saat dia menatapku, aku menyadari masih ada cinta di hatinya untukku."


"Cukup Mbak! Pulanglah. Kak Anta tidak ada di sini." Aku mengacungkan telunjuk agak menyerong sedikit dari tubuh Mbak Isma.


"Kamu masih mau jadi penghalang? Karena itu sekarang boleh kan? Karunia! kali ini aku tidak akan meninggalkan Mas Reza. Aku akan memperjuangkan cinta kami yang sempat layu karena kamu. Aku tidak akan mundur."


Aku hanya diam, menerima setiap kata yang dia ucapkan. Sebab, aku tak memiliki sedikit pun ruang untuk menanggapi Mbak Isma. Hatiku sudah penuh oleh beban perasaan dan permasalahan dengan Kak Anta.


Ku pandangi dia, dia masih terisak.


"Kamu ingat kan, Kata-kata Mas Reza padaku dulu? dia mengatakan; Jangan berharap banyak padaku, aku hanya manusia biasa. maaf, mungkin kita belum berjodoh Isma."


"Aku berani bersumpah Kania, kata-kata itu pasti akan berbalik padamu! dia pasti akan mengatakannya juga di hadapanmu!"


Dia mengutukku, untuk kesalahan yang sama sekali bukanlah kesalahanku. Seharusnya, akulah yang pantas marah, bukan dia.

__ADS_1


Begitulah Mbak Isma. Dia orang yang suka mengandalkan intuisi dan membiarkan dirinya tenggelam dalam bayangan masa lalu. Selalu menurutku bisikan hatinya, yang menurutnya mutlak untuk diikuti.


Apakah ini yang disebut cinta yang murni, atau apakah ini yang disebut obsesi?


__ADS_2