
Setelah dua hari pulang ke rumah lagi, kami pun sering mendapat kunjungan dari tetangga yang mau menjenguk Rania. Ya, tentu saja dari persatuan ibu-ibu penikmat sayur pak Omar.
Sayangnya, kebersamaan Kak Anta bersama Rania tak bisa berlama-lama karena masa cuti telah berakhir dan Kak Anta harus kembali bekerja. Hari Senin tepat di hari pertama masuk kerja setelah cuti, Kak Anta pun harus meninggalkan Rania dan kembali mengabdi di kantor, memang tidak pisah yang bertahun-tahun cuma beberapa jam saja tapi Rania mungkin sudah menjalin hubungan akrab dengan Kak Anta, ayahnya. Jadi saat dia merasa Kak Anta tak ada di dekatnya, dia akan menangis kencang.
Sebelum Kak Anta meninggalkannya bekerja, Kak Anta berlama-lama memandanginya yang sedang tertidur dan tak terasa lagi-lagi harus menitikkan air mata.
Menyadari hal itu aku langsung mendekati Kak Anta, dan ku pegang punggungnya dengan lembut, "Ada apa, Kak?"
"Tidak ada, aku hanya sedikit terharu." Jawabnya sambil menyeka air mata, "Rupanya aku sudah menyandang gelar baru, menjadi seorang ayah."
Aku tersenyum simpul.
"Rania pasti bangga memiliki ayah seperti Kak Anta. Terima kasih sudah bersedia untuk menerima Rania di hidup kak Anta."
"Rania dan aku sangat bangga memiliki wanita hebat seperti kamu. Kemari---" Kak Anta kembali mengecup keningku.
Akhir-akhir ini memang sering begitu. Dia, memberikan aku sedikit sentuhan sensual yang membuatku nyaman dan bergairah setengah mati.
"Sarapan dulu, ayo Kak. Aku sudah buatkan makanan."
"Boleh, tapi Rania bagaimana? ditinggal sebentar seperti biasanya?"
"Ku rasa tidak apa-apa Kak, lagi pula Rania masih tidur sekarang. Telingaku bakal awas kalau mungkin dia menangis nanti." Kataku, "Ayo ku antar ke meja makan.
Kami berangkat bersama-sama ke belakang, tepatnya di ruang makan. Begitu ku ambilkan sarapan bagian Kak Anta dan dia menikmatinya. Seseorang datang mengetuk pintu depan, mungkin tetangga lagi yang mau jenguk Rania, Pikirku.
"Ya sebentar." Aku sedikit memekik sambil berjalan ke depan. "Siapa?"
"Aku?!" Sahutnya.
__ADS_1
Aku sedikit melotot begitu ku lihat sosok tamu yang berdiri di depan ku saat ini, "Marwah? Rambo?"
Aku terkejut bukan cuma karena Marwah yang datang ke sini, tapi juga lebih karena mereka berdua ada dalam waktu yang sama, apakah Rambo dan Marwah pergi bersama-sama ke sini?
Ku rasa begitu.
Marwah langsung memelukku, "Aku rindu sekali padamu! Maaf kemarin belum menyambut mu dengan benar, padahal itu pertemuan pertama kita setelah 8 tahun lamanya."
"Aku sedikit kepikiran tentang kamu kemarin, aku yang seharusnya minta maaf, karena belum menyapa kamu dengan benar. Langsung pulang saja, soalnya anakku sedikit rewel kemarin, makanya aku sedikit khawatir bila terlalu lama di luar." Kataku sambil mencari-cari alasan agar tak menyinggung perasaan Marwah.
"Bagaimana dengan adikmu?" Lanjut ku setelah kami saling melepas pelukan.
"Masih dirawat, aku dibantu Om gondrong kemarin. Beruntung sekali."
"Jangan panggil aku Om, aku bukan paman kamu!" Sahut Rambo sedikit ketus.
"Aku bukan bapak kamu!" Jawab Rambo lagi.
"Baik yang mulia, maafkan hamba."
Begitu Marwah berkata demikian, barulah Rambo diam. Ku perhatikan sekilas guratan di wajahnya dia tersenyum tipis sekali.
"Sudah sampai, ya?!" Ucap Kak Anta.
Dia muncul tiba-tiba dari belakang, dan aku sampai tak menyadari kehadirannya sama sekali kalau dia tidak bicara.
"Aku yang minta Rambo, antarkan sahabat kamu ke sini. Kalian kan baru bertemu lagi setelah beberapa waktu. Jadi, aku dan Rambo berencana untuk memberikan kalian waktu untuk berbincang lebih lama."
Aku langsung berbinar, ku tatap Kak Anta yang sudah siap dengan sepatu dan seragamnya.
__ADS_1
"Kak?"
"Hanya hadiah kecil untuk kalian." bisik Kak Anta.
Kak Anta ini, memang bukan pria yang luwes. Tapi bila dia sudah mencintai seseorang, dia akan memberikan apa pun dari hal kecil dan yang besar. Contohnya ini, mempertemukan aku lagi dengan Marwah. Sahabat kecil yang sudah lama tak bersua.
...****************...
Demikianlah Kak Anta dan Rambo berangkat bersama, sementara kini aku di rumah bertiga dengan Rania dan Marwah.
Marwah yang baik hati dan penyayang, begitu lembut menimang Rania.
"Sayuran di kulkas habis, aku pergi ke depan rumah sebentar tak apa kan Marwah? kebetulan ada sayur keliling, jadi tak perlu pergi ke warung."
"Boleh, kita pergi bertiga okay?" sahut Marwah. "Rania kan sudah berusia seminggu lebih, kamu sudah bisa membawanya keluar rumah untuk sekalian berjemur."
Aku sependapat pada Marwah, meski jujur aku sangat mengagumi kemampuannya soal ilmu parenting. Dia memang pandai, seperti waktu aku mengenalnya dulu.
"Kangkung satu ikat Pak, tempe juga boleh." Kataku begitu sampai di gerobak sayur pak Wawan yang masih penuh.
"Bu Anta, baru melahirkan auranya cerah sekali."
Aku tersenyum. "Terima kasih bu,"
"Terus yang menimang itu siapa?" ibu itu melirik Marwah yang ada di sampingku, dan Marwah membalasnya dengan tersenyum.
"Sahabat saya bu, namanya Marwah." kataku lagi.
"Teman?" sahut ibu itu lagi, "Hati-hati ih bu Anta, zaman sekarang jangan terlalu sering suruh teman ke rumah, apalagi terlalu dekat. Nanti jadi itu loh.... apalagi Pak Anta ganteng. Hati-hati loh ya bu." bisiknya padaku.
__ADS_1