I Love U! Suami Dadakan

I Love U! Suami Dadakan
BAB 78 - Dalam 2 Tahun


__ADS_3

Ada satu hal yang membuatku sedikit terganggu, yaitu ketika aku bangun dan membuka mata keadaan di sekitarku jauh berbeda dari biasanya.


Sudah ada Kak Anta di depanku, di samping ada beberapa ibu-ibu warung sayur juga berbaris, sementara di belakang Kak Anta ada Rambo yang menggendong Rania dan dokter Rani yang senyum tipis.


Ada apa?


"Akhirnya kamu sadar!" Kata Kak Anta.


"Kamu buat jantung Anta Reza hampir copot! tiba-tiba dapat telepon dari ketua RT kalau kamu pingsan di warung sayur. Apa yang kamu rasakan sekarang? jangan banyak pikiran, kamu sudah lelah mengurus Rania." Timpal Kak Rambo.


Dengan hati-hati dan agak gemetar, aku mengangkat tubuhku. Sampai berhasil duduk, tubuh ku tahan sebentar sehingga aroma tubuh Kak Anta yang membantuku tertangkap oleh hidungku, agar kesadaranku lekas kembali total.


"Bagaimana? masih pusing? kenapa bisa pingsan?" Lanjut Kak Anta, sambil berbisik di telingaku dan menggosok-gosok punggungku yang mulai panas. Suaranya lembut sekali, membuatku mabuk kepayang.


"Tadi waktu pilih sayur, bu Anta tiba-tiba diam terus jatuh tidak sadarkan diri. Untung Rania tadi saya yang angkat bu, jadi tidak ikut jatuh. Kami semua jadi cemas, jantung saya seperti berhenti, maklum bu pertama kali lihat orang pingsan." Bu Rahmi, istri pak Omar yang punya warung sayur bicara dengan nada bergetar.


Pingsan?

__ADS_1


Ah iya, benar. Aku ingat saat belanja sayur, penglihatan ku kabur, kepalaku serasa sangat ringan, setelah itu aku terjatuh dan tidak ingat apa apa.


Dan saat ini, Kak Anta terus menggosok punggungku. Begitu terus sampai tubuhku terasa amat hangat dan mataku mengerjap-ngerjap menahan rasa pusing yang membuat kepalaku seperti melayang-layang.


Lalu dokter Rani mendekat, berjongkok di hadapanku. Tapi, Kak Anta yang peka segera mundur dan berdiri, agar dokter Rani lekas mengambil posisi dirinya sebelumnya.


Dokter Rani tersenyum.


"Sudah tahu atau belum?" katanya.


Wajahnya yang putih dan mengkilap, agak dekat dengan wajahku. Ia berbisik lembut. Rambutnya panjang terikat rapi di belakang, sedangkan matanya terus menatapku, seperti tengah memberi isyarat bahwa ada kejutan baik di balik peristiwa dramatis yang baru terjadi padaku ini.


"Kania baik-baik saja kan Mbak? aku tidak tahu, mungkin benar dia kelelahan. Belakangan ini memang dia suka bergadang, karena Rania kadang rewel kalau aku belum pulang. Tolong beri obat terbaik Mbak, vitamin, atau apa pun." Ucap Kak Anta dengan raut muka yang bisa ku katakan saat ini, panik tak ketulungan.


"Tidak, jangan khawatir. Kania ini bukan kelelahan biasa kok. Saat ini dalam perut Kania sudah ada bayi lagi." Dokter Rani senyum lagi, baru kemudian mengalihkan lagi pandangan, menatapku.


"Sekarang kebahagiaan keluarga kecil kalian akan semakin terlengkapi, dan kelak kamu akan kembali menikmati bagaimana perjuangan mengandung dan melahirkan. Begitu pun dengan Anta Reza, dia akan kembali menikmati masa-masa menjadi seorang suami dan bapak siaga. Aku harap kamu tidak mengalami kesulitan menghadapi masa-masa awal kehamilan, jadi jangan banyak pikiran dan kerja terlalu berat, ya?!" Ungkap dokter Rani, diiringi sorot mata penghuni kamar ini. Termasuk aku yang masih bengong.

__ADS_1


"Kania hamil, begitu?" Ucap Kak Rambo dari belakang dengan mata melotot.


Dokter Rani mengangguk pelan dan tersenyum penuh keharuan.


Sementara suasana kamar yang ramai oleh orang-orang yang membantu dan menjenguk ku saat pingsan perlahan jelas dalam tatapan ku yang mulai berat menanggung kabar membahagiakan ini. Aku segera mencubit pelan tanganku untuk meyakinkan bahwa yang barusan ku dengar ini bukanlah khayalan dari alam bawah sadar ku.


Kak Anta dan dokter Rani kembali bertukar posisi. Sejenak Kak Anta menelungkupkan kepalanya di atas bahuku, lalu diangkatnya lagi dan tak lama kemudian keadaanku sudah benar-benar segar. Kami pun mulai tenang, meski perasaan terharu sudah membuncah.


"Dalam perkiraanku sepertinya sudah 2 minggu!" seru dokter Rani. "Atau kalau mau pastinya, periksa kan lagi saja ke klinik, ya?!"


Akhirnya... penantian setelah 2 tahun lamanya.


"Kak---" Kataku seraya memeluk Kak Anta lagi.


Kak Anta pun memelukku erat, sementara aku tenggelam dalam dadanya. Aku menangis begitu pun dia, menggambarkan gairah kebahagiaan yang sama hebatnya dengan yang ku miliki.


Ini merupakan momen yang sangat kami nantikan setelah 3 tahun usia pernikahan kami. Banyak hal yang terjadi, namun banyak hal pula yang patut kami syukuri. Setiap masalah yang datang, aku dan Kak Anta selalu berpikir; itu semua tak lain adalah cara Tuhan untuk menguatkan perasaan kami yang dulunya asing.

__ADS_1


Dan kini, setelah Rania berusia hampir 2,5 tahun. Aku dipercaya Tuhan lagi untuk mengandung adiknya, sungguh nikmat yang tak bisa ku dustakan.


"Terima kasih, sudah melengkapi aku dan Rania." Bisik Kak Anta. "Kita jaga anak-anak kita dengan baik; aku dan kamu. Aku pun janji, akan selalu jaga kalian seumur hidup."


__ADS_2